
Bab 69
Hp android Shella berbunyi lagi. Panggilan dari hp Ardian masuk ke WA-nya.
"Lama sekali, Shel?" terdengar suara Ardian di seberang sana.
"Iya, Pak. Sori agak lama karena tadi membereskan barang," alasan Shella.
"Cepatlah! Lima menit lagi kamu tak ke sini, aku tinggal!" ancam Ardian yang merasa sudah lebih dari 10 menit menunggu Shella di mobil.
"Iya, Pak. Aku segera ke sana sekarang juga," kata Shella buru-buru lalu menutup hp-nya.
"Gara-gara bicara denganmu jadi telat nih, Yu," omel Shella sambil berjalan meninggalkan mejanya dengan membawa tas tangan. "Kamu bawa tas travel-ku ini ke lantai bawah ya, Yu," kata Shella.
Ayu memegang tas travel Shella dan bersiap-siap mengikuti langkah Shella meninggalkan ruang kerjanya menuju lantai bawah.
Setelah menuruni tangga, Shella dan Ayu mendekati pintu masuk utama. Tampak di kejauhan mobil Ardian sudah menunggu di depan pintu.
"Sudah, sudah, sampai di sini saja," Shella menyuruh Ayu berhenti membawa tasnya. "Letakkan di lantai biar aku yang bawa ke luar pintu," sambungnya.
Ayu menuruti perintah Shella. Dia tak bisa melanjutkan niatnya membawa tas Shella ke mobil Ardian dan melihat cowok itu karena Shella melarangnya keluar dari pintu.
Shella pun mengambil sendiri tas travel-nya yang diletakkan Ayu di lantai dekat pintu masuk utama. Dia menentengnya sendiri menuju mobil Ardian yang sedang parkir.
Dibukanya pintu mobil di jok depan. Dia akan duduk berdampingan dengan Ardian yang menyetir.
__ADS_1
"Taruh saja tas besarmu di jok belakang, Shel," ujar Ardian.
"Iya, Pak," jawab Shella lalu bergerak beberapa langkah membuka pintu jok belakang dan meletakkan tas travel-nya ke sana. Setelah itu dia menutup pintu dan berjalan kembali ke depan untuk masuk ke mobil dan duduk di samping Ardian.
"Sudah semuanya kan?" tanya Ardian sebelum menjalankan mobilnya.
"Sudah, Pak," jawab Shella.
Ardian pun menjalankan mobilnya keluar dari gedung perusahaan dan menuju jalur luar kota. Dia akan menyetir selama 4-5 jam untuk bisa sampai di Tanjungbalai.
Sepeninggal Ardian dan Shella, Ayu melangkah meninggalkan pintu utama dan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sambil membereskan meja dan mencuci piring kotor, Ayu melamun. Tak disangkanya sama sekali kalau Ardian akan menyimpan kemarahan terhadap dirinya selama beberapa hari ini hanya karena dia memecahkan bingkai foto yang ada gambar Ardian dengan sahabat masa kecilnya di masa kanak-kanak.
Kalau benar Ardian sangat peduli pada Nia, kenapa dia bersikap begitu baik pada Ayu selama di Berastagi? Bahkan Ardian sangat mengistimewakannya dirinya dan memperlakukannya bak cinderella selama di sana. Ardian sempat begitu dekat dan mesra padanya selama beberapa hari itu. Ayu tak mungkin melupakan hal itu. Momen di Berastagi itu sangat berarti dan berkesan baginya.
Untuk pertama kalinya Ayu merasa sangat bangga dan bahagia diperlakukan Ardian seperti itu. Namun sekarang, semuanya berbalik 180 derajat hanya karena kesalahan sepele yang tak disengaja Ayu namun efeknya sangat besar bagi Ardian. Ah, seandainya saja Ayu tahu, dia tak akan seceroboh itu.
Berjam-jam Ayu membereskan pekerjaannya hingga semuanya tampak rapi dan bersih. Walau apa pun yang terjadi, Ayu tetap seorang pekerja yang berdedikasi yang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
"Aku pulang dulu ya, Yu," kata teman Ayu yang sama-sama berprofesi sebagai cleaning service di perusahaan Ardian.
Kantor perusahaan Ardian mulai sepi karena para karyawan sudah pulang selepas jam kantor. Tinggal Ayu, temannya, dan 1-2 satpam yang masih bertugas.
Setelah temannya ini pulang, tinggal Ayu di dalam kantor. Ayu mengangguk dan membiarkan temannya pulang duluan.
__ADS_1
Ayu masih beres-beres sebentar sebelum bersiap-siap untuk pulang juga. Dia harus berjalan keluar dari gedung perusahaan dan berbelok ke kiri 50 langkah lagi karena Willy yang menjemputnya setiap hari menunggu di sana.
Ayu berpesan pada Willy, pacarnya itu untuk memberhentikan sepeda motornya agak jauh dari gedung perusahaan. Bahkan Ayu tak mengizinkan Willy menunggu pas di depan pintu gerbang karena takut sekali-sekali bisa tepergok Ardian atau karyawan lain yang banyak gosip. Akan berabe kalau Ardian tahu selama ini ternyata Ayu sudah punya pacar dan pacarnya yang mengantarjemputnya setiap hari. Pikir Ardian Ayu naik angkot atau ojek online.
Karena itulah Willy harus tiba terlebih dahulu di tempat biasa dia menunggu sampai Ayu cabut dari kantor dan berjalan menuju dirinya untuk dibonceng pulang.
Keluar dari pintu masuk utama, Ayu berjalan puluhan langkah untuk sampai di pintu gerbang. Setelah pamit pada satpam yang berjaga di situ, Ayu berbelok ke kiri dan berjalan 50 langkah lagi untuk sampai di tempat Willy biasa menunggu.
Ayu sudah sampai di dekat Willy yang duduk di atas sepeda motornya. Begitu melihat kedatangan Ayu, wajah Willy pun mengembangkan senyum lega. Senang dan bahagianya hati Willy bisa melihat Ayu. Setiap kali dia berada di dekat Ayu, hatinya terasa tenang dan nyaman. Apalagi bila berjalan berdua bareng gadis itu di mal atau bioskop, dirinya selalu merasa bangga.
"Lelahkah, Yu?" itu pertanyaan yang selalu diajukan Willy pada Ayu setiap mengantarnya pulang. Dan biasanya Ayu hanya akan mengiyakan, "Mm-mm."
Willy menyerahkan helm pada Ayu untuk dipakai gadis itu lalu dia naik ke atas sepeda motor dan Ayu duduk di belakangnya.
Ini malam Minggu. Willy barusan gajian hari ini. Karena itu dalam hatinya sangat ingin mengajak Ayu jalan-jalan ke mal atau nonton di bioskop. Tapi tampaknya Ayu sudah lelah dengan pekerjaannya seharian.
"Yu, malam ini nggak usah makan di rumah ya, aku traktir kamu makan di mal. Kita ke kafe dan makan di sana saja," Willy memberanikan diri mengajak pacarnya itu jalan-jalan ke mal di malam Minggu.
Ayu tak menjawab. Sebenarnya dia sudah lelah dan ingin segera pulang ke rumah istirahat. Namun mendengar tawaran tulus dari Willy dan keinginan pemuda itu untuk membawanya jalan-jalan di malam Minggu, hati Ayu sedikit terenyuh Selama ini Willy selalu bersikap baik padanya dan sangat telaten memperhatikannya, tidak pernah mengasarinya apalagi memarahinya, Ayu pun sedikit ingin menuruti ajakan pemuda itu.
"Mau ya, Yu?" tanya Willy yang duduk di depan Ayu sambil menjalankan motornya perlahan membelah jalan raya yang sangat ramai oleh berbagai jenis kendaraan di malam Minggu. Kerlap-kerlip lampu malam di sepanjang jalan menambah pesona kota mereka yang besar.
* * *
l
__ADS_1