
Bab 113
"Aku... kalau aku ke Medan, Ibu sendiri nantinya. Tidak ada yang rawat," Nia mengutarakan ganjalan di hatinya.
Dari kalimat itu, Bu Rani mengerti kalau Nia sebenarnya sangat ingin ke Medan mencari Ardian namun terhalang dirinya. Karena itu Bu Rani pun menghela napas berat.
"Nggak apa-apa, Nia. Usah khawatirkan Ibu. Ibu sudah jauh lebih baik sekarang, sudah sembuh banyak," kata Bu Rani.
"Iya... memang sudah baikan banyak, Bu. Cuma tetap harus ada seseorang di samping Ibu untuk memasak, belanja ke pajak, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu tak mungkin melakukan itu," kata Nia.
"Oh... Ibu pikir, sementara kamu ke Medan, Ibu akan suruh Riko saja bantuin Ibu belikan nasi bungkus atau keperluan lain," usul Bu Rani.
Nia menggeleng-geleng. "Tetap tidak bisa, Bu. Siapa nanti yang akan mencuci baju, mengepel, dan lain-lain," tolak Nia.
Bu Rani pun terpaksa menghela napas berat karena masalahnya sangkut pada dirinya. Nia tak bisa meninggalkan rumah dan balik ke Medan mencari Ardian karena dirinya.
"Atau kamu ke Medan 2-3 hari saja untuk menjumpai Ardian dan menyelesaikan masalah kalian. Setelah itu kamu balik sini lagi. Selama 2-3 hari kamu pergi, Ibu akan meminta bantuan Riko membelikan makanan. Rumah biar nggak usah dibersihkan," Bu Rani mengusulkan lagi.
Nia terhenyak. Walaupun diberi usul pergi ke Medan selama 2-3 hari saja namun Nia tetap merasa berat meninggalkan ibunya seorang diri.
"Nggaklah, Bu. Ibu berjalan pun masih pakai tongkat penumpu. Harus mendapatkan perhatian lebih," kata Nia lagi.
"Ibu sudah bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah tanpa tongkat penumpu, Nia. Coba lihat," Bu Rani tiba-tiba bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Dia berdiri dengan kekuatan sendiri lalu berjalan 5 langkah ke depan tanpa bantuan tongkat penumpu hingga Nia pun tercengang dibuatnya.
"Hah? Ibu? Sejak kapan Ibu bisa berjalan sendiri begini?" tanya Nia kaget.
Bu Rani terkekeh. "Sejak 2 minggu lalu, Nia. Tapi Ibu masih rahasiakan ini ke kamu karena Ibu pikir setelah bisa berjalan bolak-balik mengitari rumah ini baru katakan padamu. Tapi karena melihatmu bimbang, terpaksa Ibu bocorkan rahasia ini," senyum Bu Rani.
__ADS_1
Nia memekik kegirangan. "Ibu...!" matanya terharu menatap ibunya yang sedang berdiri tanpa bantuan tongkat penumpu dalam jarak 5 langkah dengannya.
"Syukurlah, Bu. Nia baru tahu hal ini," katanya lalu berjalan mendekati ibunya. Nia berhenti di samping ibunya itu dan memeluknya lalu mengecup pipinya. "Nia sayang Ibu," katanya dengan sebutir air mata haru menetes di pipi.
"Nah, sekarang kamu bisa lega ke Medan," senyum ibunya.
Nia menatap ibunya. Walaupun ibunya sudah bisa berdiri sendiri dan berjalan beberapa langkah, namun dia merasa belum tepat juga meninggalkannya seorang diri di rumah.
Bu Rani menyadari kalau Nia masih bimbang. Otaknya berputar keras ketika putrinya menggandeng tangannya duduk kembali di tepi ranjang.
Beberapa menit setelah duduk, Bu Rani teringat sesuatu. "Haduh, kenapa Ibu bisa lupa hal ini!" rutuknya dengan suara keras sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari tangan.
"Ibu lupa apa?" tanya Nia ingin tahu.
Bu Rani tersenyum lagi. Dia memandang Nia yang duduk di sampingnya dengan tatapan plong seolah merasa lega telah menemukan satu cara.
"Riko maksud Ibu?" Nia memicingkan mata.
Bu Rani menggeleng. "Bukan Riko yang akan Ibu mintai bantuan, melainkan Lisa. Dia yang akan menemani Ibu dan tinggal di rumah kita. Dia juga yang akan mengerjakan pekerjaan rumah menggantikan tugasmu."
"Lisa?" Nia mengerutkan kening. "Lisa yang mana, Bu?" tanya Nia penasaran.
"Anaknya teman Bu Wenny. Setahun lalu ibunya Lisa meninggal sehingga Lisa menjadi sebatang kara di dunia ini. Bu Wenny pernah membawa Lisa berkunjung ke rumah kita puluhan kali saat kamu di Medan selama 3 tahun," cerita Bu Rani.
"Anaknya teman Bu Wenny?" Nia agak bingung.
"Iya, Nia. Tapi teman Bu Wenny itu meninggal setahun lalu sehingga Lisa pun tinggal seorang diri di rumahnya. Dia lebih tua 2 tahun darimu dan saat kamu di Medan itu, Lisa sering main ke rumah kita. Ibu bahkan menyetujui permintaannya untuk diterima sebagai anak angkat."
__ADS_1
"Oh...," Nia mendesis. Dia baru tahu ibunya punya anak angkat yang namanya Lisa.
"Nah, Lisa pernah bilang ke Ibu dia kesepian tinggal seorang diri di rumahnya. Walaupun dia ngajar setengah hari di sekolah, tapi tetap merasa kesepian setelah pulang ngajar. Karena itu waktu ayahmu meninggal setahun lalu, Lisa bilang dia bersedia tinggal bersama Ibu. Sekolah tempat dia ngajar pun nggak jauh dari rumah kita," cerita Bu Rani.
"Oh...," Nia tampak tepekur mendengar cerita ibunya.
"Tapi kamu keburu pulang ke rumah dan menemani Ibu sehingga Ibu katakan pada Bu Wenny untuk menelepon Lisa memberitahukan kepulanganmu ke rumah jadi Lisa pun batal menemani Ibu. Sampai sekarang Lisa tak pernah lagi datang ke rumah."
"Oh, pantas saja aku tidak tahu soal Lisa karena dia tak pernah mengunjungi Ibu lagi," kata Nia.
"Iya, Nia. Ibu lupa menceritakan hal ini padamu karena setiap hari kan kita disibukkan upaya penyembuhanku. Apalagi Riko juga sering sekali datang dan mengajak kita jalan-jalan sampai Ibu lupa menceritakan hal ini kepadamu."
"Iya, nggak apa-apa, Bu. Jadi maksud Ibu bagaimana?" tanya Nia ingin tahu.
"Ya Ibu akan meminta bantuan Bu Wenny menelepon Lisa dan mengatakan padanya untuk menemani Ibu selama kamu di Medan menyelesaikan masalahmu. Barangkali kamu juga harus menyelesaikan kuliahmu yang tinggal 1 tahun lagi."
"Oh, apa Lisa bersedia menemani Ibu nantinya?" Nia ragu.
"Ibu rasa kemungkinan besar dia mau. Karena Lisa pernah bilang kalau Ibu butuh bantuannya tinggal bilang saja. Dia pun merasa kesepian tinggal di rumah sendirian. Kalau Ibu minta dia tinggal di rumah kita sementara ini pasti dia akan sangat senang."
Nia manggut-manggut. Dia mengerti penjelasan ibunya soal Lisa. Tampaknya kalau Lisa bersedia tinggal di rumah mereka menemani ibunya buat sementara waktu, maka Nia punya kesempatan balik ke Medan mencari Ardian, melanjutkan hubungan mereka yang sempat terputus selama setahun ini. Bahkan kalau mungkin melanjutkan kuliahnya yang tinggal setahun lagi.
Lalu bagaimana dengan Riko? pikir Nia seketika. Sosok Riko tiba-tiba muncul di benaknya, termasuk lamarannya yang belum juga dia setujui atau dia tolak. Riko sedang menunggu jawabannya. Besok atau lusa dia harus memberikan jawaban itu.
"Bagaimana soal Riko, Bu? Apa yang harus kukatakan padanya?" Nia meminta pendapat ibunya.
"Soal Riko, untuk sementara jangan disentuh dulu. Selesaikan saja dulu masalahmu dengan Ardian. Perjelas hubungan kamu dengan Ardian mau dilanjutkan atau gimana. Ibu akan meminta Riko menunggu jawabanmu setelah kamu selesai mengurus masalahmu dengan Ardian dan pulang dari Medan. Ibu berharap semua yang terbaik untukmu. Tak masalah bagi Ibu kamu mau memilih Riko atau Ardian nantinya," pungkas Bu Rani.
__ADS_1
* * *