
Bab 75
"Kita ke sana, Pak?" Shella memandang Ardian.
"Nggak, pulang saja," Ardian bangkit dari duduknya.
"Hei, tunggu aku, Pak!" Shella mengejar Ardian yang sudah melangkah pergi.
Ardian terus berjalan tanpa menghiraukan Shella yang mengejar di belakangnya. Bahkan dia tak lagi memandang ke arah Nia di kejauhan.
Ardian masuk ke dalam mobil. Dia merasa sia-sia saja telah datang ke Tanjungbalai mencari sahabat masa kecilnya itu. Keinginannya saat ini adalah segera balik ke Medan dan melupakan semua pemandangan yang sangat mengecewakan hatinya hari ini.
"Lho, Pak? Kok buru-buru mau pergi? Kita kan belum dekati Nia dan dengar penjelasannya?" protes Shella yang sudah masuk ke dalam mobil juga dan duduk di samping Ardian.
"Minta penjelasan apa, Shel? Sudah jelas dari bahasa tubuh mereka semuanya senang. Ketiganya rukun dan harmonis. Aku saja yang terlalu berharap," ketus Ardian.
"Senang, rukun, dan harmonis bukan berarti Nia.pacaran dengan cowok itu. Kenapa Bapak tak mau dekati dan tanya langsung?"
"Nggak penting!" Ardian menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dia membawa mobilnya kembali ke hotel dan maksudnya akan segera check out sebelum tengah hari. Ardian ingin balik ke Medan secepatnya.
"Ternyata Pak Ardian tidak sungguh-sungguh mau menjumpai Nia," ucap Shella kecewa. Dipandanginya cowok di sampingnya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Ardian tak mengerti.
"Kalau Pak Ardian benar-benar mau menjumpai Nia, pasti tidak pergi begitu saja hanya karena melihat Nia bersama cowok lain. Pikirkan, Pak. Belum tentu itu pacarnya karena mereka kan bertiga. Lagian kalau berdua pun bisa saja mereka hanya teman."
"Tidakkah kamu ingat apa yang dikatakan Tante yang bicara denganmu malam tadi?" tanya Ardian.
"Iya, Pak. Ingat dong. Katanya Riko itu pacarnya Nia. Tapi itu kan katanya Tante itu. Sedangkan kata Nia apa, Pak? Bapak sudah tanya sendiri?" jawab Shella gemas.
"Tak usah tanya lagi. Semuanya sudah jelas. Melihat dengan mata kepala sendiri itu sudah jadi bukti yang menguatkan!" ketus Ardian.
"Pak, kadang apa yang kita lihat itu tidak seperti apa yang kita pikirkan! Mana tahu ada alasan di balik itu yang Bapak tidak tahu? Itulah kenapa kita sering salah paham karena manusia itu mengira apa yang dilihatnya itu sama seperti yang dia pikirkan!"
Ardian terdiam. Walaupun Shella rada-rada tengil namun ternyata dia cukup bijak juga. Pepatahnya, "Jangan menilai segala sesuatu itu hanya dari kulit luarnya saja Kadang seseorang itu punya kesulitan tersendiri yang tidak bisa kita pahami."
__ADS_1
"Bapak balik dan jumpai Nia ya?" bujuk Shella
"Nggak!" Ardian membuang muka.
"Pak!" Shella hampir menjerit.
Ardian melesatkan mobilnya tiba-tiba, menambah kecepatan sehingga Shella pun terdiam saking kagetnya.
Mereka tak lagi bicara sampai mobil tiba di tempat parkiran hotel. Ardian menutup pintu mobilnya diikut Shella. Dengan cepat dia berjalan memasuki hotel dan menuju kamarnya. Hari ini sungguh seperti mimpi buruk baginya hingga dia ingin segera melewatinya.
Sementara itu di pihak Riko, Nia, dan ibunya, ketiganya tampak senang dan tenang menikmati suasana sejuk pagi hari di tepi sungai Asahan.
Riko tak bosan-bosannya mencuri pandang dan tersenyum pada Nia. Hatinya terasa berbunga-bunga. Dia yakin Nia adalah pasangan hidup yang diinginkannya karena di samping sejak SMA sudah memujanya, sampai kini pun hatinya selalu bahagia berada di dekatnya. Sungguh dia sangat takut bila Nia menjauh darinya atau tak menerima cintanya. Bisa ambruk dunianya.
Nia memang tak sesensual atau semontok Ayu. Tapi dia lemah lembut dan gemulai sebagai seorang wanita. Sifatnya yang keibuan dan tenang selalu mampu membuat adem sekitarnya dan menenangkan orang-orang di sisinya. Dia seperti seorang gadis yang tanpa ambisi besar kecuali hanya ingin hidup tenang dan bahagia.
Sebenarnya sifat Riko yang perhatian dan penyayang lumayan cocok buat Nia, namun gadis itu tak bisa menghadirkan rasa cinta di hatinya buat Riko. Tak tahu kenapa. Di benaknya masih sering terlintas bayangan Ardian dan terpikir sedang apakah cowok itu di Medan? Apakah begitu sibuknya sampai tak punya waktu untuk menjenguknya? Dan terutama lagi, apakah Ardian sudah melupakannya?
Bu Rani semenjak Riko dekat dengan Nia, menunjukkan perkembangan dalam hal kesehatan. Adanya Riko di samping Nia seperti memberi kekuatan dan hiburan bagi ibu Nia itu. Apalagi dia pun menyukai sikap Riko yang sopan dan perhatian.
Alangkah baiknya bila Nia mau bersama atau jadian dengan Riko, pikir Bu Rani. Tapi yang akan menjalani kehidupan rumah tangga itu nanti adalah putrinya, bukan dirinya. Jadi putrinya itulah yang berhak memilih dan memutuskan.
Kembali lagi ke pihak Ardian dan Shella, Ardian di kamarnya seperti cacing kepanasan yang disiram air mendidih. Hatinya gelisah, pikirannya tak tenang, perasaannya gusar. Kalau tahu begini dia tak akan datang ke Tanjungbalai mencari Nia. Hanya kekecewaan yang didapatnya. Tapi setidaknya dengan begini dia sudah tahu dan bisa mengambil keputusan ke depannya.
Di saat yang menjengkelkan seperti ini tiba-tiba Ardian teringat Ayu. Entah kenapa bayangan gadis yang selalu membangkitkan libido dan gairahnya itu muncul di benaknya. Ardian berpikir alangkah baiknya jika saat ini Ayu ada di dekatnya. Mungkin dia akan memeluk gadis itu dan menumpahkan segala keresahannya.
Ardian hanya mendekam di kamarnya sampai menjelang tengah hari. Saat jam hampir menunjukkan batas terakhir untuk check-out, dia baru keluar dari kamarnya.
Ternyata Shella sudah menunggunya di lobby hotel. Gadis itu sudah bersiap-siap untuk pulang ke Medan. Dia tak ingin lagi memaksa Ardian menjumpai Nia atau tinggal lebih lama karena melihat cowok itu pun hatinya seperti tidak ada lagi di sini. Seperti ada sesuatu atau seseorang yang menariknya pulang ke Medan. Sesuatu atau seseorang yang membuat konsentrasinya terpecah sehingga dia tak bisa fokus menjalankan tujuan utamanya ke Tanjungbalai ini.
Melihat Ardian keluar dari pintu koridor, Shella spontan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati cowok itu. Dia bersiap-siap check-out di meja resepsionis dengan menyerahkan kartu pintu kamarnya. Ardian juga akan menyerahkan kartu pintu kamarnya sehingga mereka bisa segera keluar dari hotel itu dan balik ke Medan.
"Sudah, Pak? Tak ada lagi yang ketinggalan?" tanya Shella sebelum mereka melangkah meninggalkan hotel.
"Iya," jawab Ardian.
__ADS_1
Ardian dan Shella keluar dari pintu utama menuju tempat parkiran. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka kembali ke Medan.
* * *
Halo... terima kasih sudah mengunjungi/membaca novel "Saat Cinta Harus Memilih". Boleh juga dong kunjungi/baca 4 novel author yang lain supaya ada "cling-cling" masuk ke rekening author tiap pagi yang membuat semangat 😀:
Gadis-gadis Broken Home
Misteri Pemutus Cinta Raven
Cinta Pemutus Rantai Dendam
Cinta Tak Masuk Akal (belum dikontrak-sudah nunggu hampir 4 bulan hiks-hiks)
🙏😊
__ADS_1
* * *