
Bab 43
Malam menjelang. Para karyawan yang sudah selesai menaruh tas mereka di kamar masing-masing, melanjutkan dengan mandi dan masak. Yang tak ada kerjaan duduk-duduk di sofa ruang tamu atau di kursi halaman villa. Beberapa tampak mengobrol.
"Ayo, waktunya makan malam," seru seorang karyawan cewek yang baru selesai memasak di dapur pada gerombolan karyawan yang sedang duduk-duduk di sofa dan di halaman.
"Eh... Pak Ardian dululah kita suruh makan, masa kita dulu?" protes temannya.
"Iya juga ya," jawab yang tadi. "Kamu ke lantai 3 panggil Pak Ardian turun makanlah. Setelah dia makan baru kita makan."
"Ah, emohlah. Pak Ardian angker tuh. Takut. Hahaha," jawab karyawan cewek yang disuruh itu.
"Iya, aku juga takut manggilnya, mana tahu dia lagi tidur pula kita gangguin," balas temannya sambil tertawa juga.
"Iya, katanya Shella pun lagi tidur, mau persiapan dulu buat bergadang malam nanti," gosip satu di antara mereka.
"Iya, tak ada yang berani mendekati Pak Ardian kecuali Shella seorang," balas temannya dengan nada tak berdaya.
"Ohiya, suruh cleaning service itu saja yang panggilkan Pak Ardian," ide seseorang yang ada di situ.
Ayu yang sejak tadi di dapur membantu memasak dan mencuci piring, mendengar percakapan mereka dan tersentak saat dirinya dipanggil.
"Eh, Yu, Yu," panggil seorang di antara mereka pada Ayu.
Ayu mengangkat kepalanya dari bak cuci piring dan menoleh ke arah suara.
"Namamu Ayu kan?"
Ayu mengangguk.
"Kamu ke lantai 3 sekarang panggil Pak Ardian turun makan. Dia ada di kamarnya, kamu ketuk-ketuk saja pintunya. Ya?"
Ayu mengangguk lagi. Dilapkannya tangannya yang basah di kain lap, setelah itu dia pun berjalan menuju tangga lebar untuk ke lantai 3.
Inilah pertama kalinya dia akan bertemu dan berbicara lagi dengan Pak Ardian setelah 3 bulan. Iya, kejadian ketika Ayu menyelamatkan Ardian dari insiden kebahayaan di lapangan proyek luar kota itu adalah 3 bulan lalu. Setelah itu dia tak pernah lagi bertemu atau melihat Pak Ardian. Sampai hari ini...
__ADS_1
Langkah Ayu sampai di lantai 3. Di situ sunyi tiada karyawan lain, karena para karyawan cewek berkumpul di kamar lantai 2, di dapur, di ruang tamu, atau di halaman villa.
Ayu berjalan mendekati satu-satunya kamar yang ada di sana. Kamarnya besar, bisa memuat 10 orang. Tapi karena Ardian anak boss pemilik perusahaan sekaligus pemilik villa, dia pun diberi hak istimewa 1 orang menempati 1 kamar besar.
Ayu mengetuk pintu kamar Ardian 2 kali. Setelah itu 2 kali lagi.
Ardian yang sedang tiduran di ranjang sambil melihati hp, menyahut enggan, "Ya? Siapa? Ada apa?" suaranya agak keras supaya bisa terdengar sampai di luar pintu.
"Saya, Pak," jawab Ayu. "Bapak dipanggil turun ke lantai 1 buat makan. Masakan sudah siap."
Ardian tersentak. Bukan karena kalimat itu, melainkan karena suara yang barusan bicara itu seperti dikenalnya. Suara itu 2-3 bulan lalu sangat dirindukannya siang dan malam. Sampai kesibukannya mengurusi pekerjaan kantor yang menumpuk membuatnya perlahan-lahan melupakan kerinduannya. Dan sekarang suara itu muncul lagi, mencui sedikit demi sedikit kerinduan di hatinya.
Ardian melonjak bangun dari ranjangnya. Dia menata hatinya yang berdebar sesaat setelah mendengar suara itu. Apakah mungkin dia? pikir Ardian lalu melangkahkan kaki menuju pintu kamar.
Dibukanya pintu itu perlahan dan matanya pun membesar setelah tahu siapa yang berdiri di balik pintu.
Ayu balas menatap sosok tinggi kekar di depannya. Matanya yang bundar besar dan indah membiaskan kerinduan yang terpendam selama 3 bulan.
"A-Yu," Ardian menyebut nama itu perlahan dengan bibirnya yang terkuak. Sementara matanya tak bisa lepas memandang sosok di depannya.
Sekejap mereka berdiri mematung dan saling memandang. Kejap berikutnya mereka sama-sama tertawa. Tawa mereka terdengar lepas dan bahagia.
"Kamu ikut juga ternyata. Hahaha," Ardian terlebih dahulu bicara.
"Hahaha. Iya, Pak. Aku memang ikut karena diajak Kak Shella untuk beres-beres dan bersih-bersih," balas Ayu dengan suara renyah dan senyum lebar.
"Baguslah kamu ikut, Yu," kata Ardian, jujur dari hatinya.
"Iya, Pak. Kalau nggak ikut nanti berantakan semua. Hahaha," jawab Ayu asal-asalan.
"Ehm," Ardian mendehem lalu mengerling ke arah Ayu.
"Iya, Pak. Bapak diminta turun untuk makan. Kami semua menunggu Pak Ardian makan dulu, setelah itu baru kami makan," beri tahu Ayu.
"Iya, Yu, aku akan segera turun," jawab Ardian.
__ADS_1
Ardian sudah selesai mandi tadi dan bersalin pakaian kaos berkancing di depan dengan celana ponggol selutut
"Iya, Pak, kalau begitu aku turun dulu," kata Ayu.
"Iya, Yu. Nanti aku menyusul," jawab Ardian.
Ayu tersenyum dan membalikkan badan pergi dari situ. Sementara Ardian masih berdiri di ambang pintu memandang punggung Ayu yang menjauh.
Ardian berjalan ke dalam kamar sebentar. Didekatinya ranjangnya dan diraihnya hp android-nya yang tergeletak di atas ranjang. Hp itu dimasukkannya ke dalam saku celananya. Setelah itu dia pun berjalan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga yang lebar.
"Pak Ardian datang tuh," bisik seorang karyawan cewek yang ada di dapur saat melihat kedatangan Ardian di ruang dapur.
Para karyawan yang kesemuanya cewek di situ mengambil sikap lebih sopan dan resmi begitu melihat kehadiran Ardian.
"Selamat malam, Pak. Makanannya sudah siap. Bapak mau makan sekarang?" tanya seorang di antara mereka.
Ardian mengangguk. "Iya."
Di sana, Ardian tak bisa bicara banyak atau sembarang memandang sekeliling dapur mencari sosok Ayu, karena bisa-bisa nanti gelagatnya diketahui dan dicurigai. Karena itu Ardian hanya menyahut pendek, bersikap dingin, lalu duduk di belakang meja bersiap-siap makan.
"Yu, sendokkan nasi untuk Pak Ardian," kata seorang karyawan cewek pada Ayu yang sedang berdiri mengelap piring di dekat rak piring.
Ayu menghentikan pekerjaannya sesaat, mengambil sebuah piring keramik berukuran besar, setelah itu dia menyendok nasi dengan centong nasi dari dalam rice cooker ke atas piring besar.
Dibawanya nasi yang sudah diambilnya ke arah Ardian yang sedang duduk di dekat meja.
"Ini nasinya, Pak. Silakan dimakan," kata Ayu dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Ardian yang menyadari kehadiran Ayu di dekatnya hanya bereaksi memandang sekilas untuk menghindari kecurigaan, setelah itu dia beralih memandang nasi dan lauk yang tersaji di depannya.
Ayu kembali ke tempatnya semula, melanjutkan pekerjaannya mengelap piring-piring basah yang tadi dicucinya di bak cuci piring.
Matanya berkali-kali melirik Ardian yang sedang makan di belakang meja dalam jarak sekitar 6 meter dari tempatnya berdiri.
Tak ada yang memperhatikan Ayu sedang ngapain, karena para karyawan cewek di dapur itu pun melakukan hal yang sama, yaitu diam-diam mencuri pandang pada anak boss mereka yang sedang makan sambil mengagumi ketampanannya.
__ADS_1
* * *