
Bab 120
Mendengar penjelasan Nia, Ardian pun bernapas lega. "Syukurlah kamu sudah kembali, Nia," katanya.
"Iya, Ardi. Maksudku memang mau menumpang di rumah ini sambil melanjutkan kuliahku yang tinggal 1 tahun lagi. Boleh kan, Ardi?" Nia menatap Ardian lekat.
"Tentu saja boleh, Nia," jawab Ardian cepat. "Aku senang sekali kamu sudah kembali," Ardian menggapai pundak Nia lalu memeluknya erat.
Beberapa menit, Nia berada di pelukan Ardian yang duduk di sampingnya. Dia balas merangkul pinggang Ardian sambil menyandarkan kepalanya di bahu bidang cowok itu. Sesaat, keduanya melepaskan rindu yang terpendam sekian lama.
Sepertinya Nia akan jatuh tertidur dalam dekapan Ardian kalau saja benaknya tidak tiba-tiba teringat sesuatu. Atau tepatnya seseorang.
Sontak Nia melepaskan rangkulan Ardian dan membetulkan posisi duduknya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi, Ardi," kata Nia.
"Pertanyaan?" Ardian membelalakkan mata.
Nia mengangguk. "Iya, gadis yang ada di dapur bersamamu tadi. Siapa, Ardi?" tanya Nia dengan sorot mata penasaran.
Ardian meneguk ludah. Nia mengingatkannya akan Ayu yang ada di dapur. Ayu yang sempat bersamanya tadi sebelum kemunculan Nia. Padahal sebelumnya Ardian tak memperhatikan siapa pun juga kecuali Ayu. Tapi semenjak kemunculan Nia, Ayu seolah terlupakan begitu saja. Entah bagaimana posisi Ayu sebenarnya di hati Ardian? Ardian sendiri pun tak tahu.
Setelah berpikir beberapa saat untuk mencari kalimat yang tepat, Ardian baru menjawab. "Oh, itu Ayu, Nia, pekerja di perusahaan yang kusuruh memasak untukku tadi. Pas dia siap masak kamu datang," Ardian menatap Nia dengan sorot mata yang seolah berharap Nia tak bertanya lagi tentang Ayu.
Namun harapan Ardian tak terwujud, karena Nia menatap Ardian dengan sorot mata yang tetap penasaran. Seolah meminta Ardian menjelaskan lebih lanjut.
__ADS_1
Melihat tampang Nia yang kurang puas akan penjelasannya, Ardian pun menggigit bibir sebelum menarik napas panjang. "Bik Aini sudah lama pulang kampung dan lama tak balik, Nia," kata Ardian. "Jadi untuk sementara cleaning service dari kantor perusahaan kupindahkan ke sini untuk mengurus rumah dan memasak untukku," sambungnya.
"Oh...," Nia pun menghela napas lega. "Maksudmu, Ayu yang di dapur itu adalah cleaning service di kantormu yang menggantikan tugas Bik Aini di rumah ini?" tanya Nia mencoba mengerti siapa Ayu itu.
"Iya... eh... bukan... aduh!" Ardian jadi bingung memilih antara mengiyakan atau menidakkan. Soalnya Ayu memang cleaning service di kantornya, tapi yang dipindahkan ke rumah villa Ardian untuk menggantikan tugas Bik Aini adalah rekan kerja Ayu, bukan Ayu.
Ardian hanya kebetulan saja membawa Ayu berkunjung ke villanya hari ini yang pas pula Nia datang dari Tanjungbalai. Kalau saja Ardian tahu Nia bakal datang atau balik lagi ke villanya hari ini, tak bakalan Ardian mengajak Ayu ke berkunjung.
"Ah, itu tak penting dibahas, Nia," kilah Ardian mencoba mengalihkan pertanyaan gadis itu. "Kamu kan baru balik ke rumah ini, kita bahas yang lain sajalah."
"Iya, Ardi," angguk Nia. "Jadi Bik Aini pulang kampung belum balik lagi ya?" tanya Nia lagi seolah merasa ada yang masih menggantung antara Bik Aini dan cleaning service yang menggantikannya.
"Iya," jawab Ardian. "Kebetulan tadi Ayu memasak 2 piring nasi goreng, ayo kita makan," Ardian menarik tangan Nia supaya bangkit dari sofa. Ardian pun jadi bingung harus bagaimana mengatasi keadaan yang serba salah.
"Dua piring? Untuk kitakah?" tanya Nia surprais.
Nia pun bangkit dari sofa dan berjalan mengikuti langkah kaki Ardian kembali ke dapur.
Saat mereka sampai, Ayu tampak duduk di kursi makan sambil matanya memandang hampa pada 2 piring nasi goreng yang sudah siap dimasaknya. Dia duduk bengong seorang diri seperti tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Padahal keadaan di bak cuci piring masih berantakan dengan kuali, piring, mangkuk, dan lain-lain yang belum dicuci atau dibereskan sehabis masak.
"Lho, Yu, kok masih duduk bengong?" suara Ardian yang baru tiba terasa menyentakkan Ayu yang duduk terpaku.
Ayu terlonjak kaget dan sontak bangkit dari kursi. Dia memutar badannya menghadap Ardian dan Nia yang berdiri berdampingan sambil melihatnya. Sesaat, Ayu menangkap tangan Ardian menggandeng pergelangan tangan Nia. Lagi-lagi Ayu tercengang. Dia berpikir mungkin sedang bermimpi, karena itu dicubitnya tangannya sendiri dan ternyata sakit. Berarti ini nyata.
"Pak... Pak Ardian...," Ayu hanya bisa menyebut nama Ardian tapi tak tahu harus mengucapkan apa.
__ADS_1
"Iya, Yu?" Ardian menatapnya dengan mata tajam seolah sedang menodong Ayu supaya tak bicara banyak yang bisa membuka rahasia kedekatan mereka selama ini.
Mata tajam mengandung perintah sekaligus iba yang seperti memohon agar Ayu bisa mengendalikan situasi yang sedang berlangsung, jangan sampai timbul keributan atau masalah lain yang mungkin bisa membuat Ardian membencinya kelak. Ayu seperti diminta untuk bersikap yang benar meredakan ketegangan atau kecurigaan Nia supaya Ardian tidak marah padanya atau malah mendinginkannya nanti.
Ardian yang mengerti kebingungan Ayu sengaja melirik ke arah bak cuci piring di mana peralatan masak masih berserakan dan belum dicuci.
Ayu pun mengikuti arah lirikan mata Ardian dan seolah baru tersadar akan dapur yang belum dibereskannya sehabis masak tadi walaupun 2 piring nasi goreng di atas meja juga belum disentuh.
"Kami mau makan nasi goreng di atas meja, Yu. Kamu bereskan dapurnya sekarang atau nanti?" tanya Ardian.
"Sekarang, Pak!" jawab Ayu cepat. Dia segera berjalan ke belakang bak cuci piring dan bersiap-siap mencuci kuali, piring, mangkuk, dan lain-lain.
Ardian bernapas lega. Tampaknya Ayu mengerti maksud tatapan matanya yang tajam, yang seolah menodong, memerintah, atau memohon.
"Ayo, Nia," Ardian menuntun tangan Nia menuju meja makan.
Nia berdiri sejenak berpaling pada Ayu yang sedang berdiri membelakangi mereka sambil mencuci piring.
"Ayo, duduklah," Ardian yang sudah duduk duluan segera menarik tangan Nia untuk duduk di sampingnya.
Nia pun duduk di samping Ardian sambil tersenyum simpul.
Dia tak ingin curiga pada Ardian atau Ayu walaupun perasaannya membisikkan ada sesuatu yang disembunyikan di antara Ardian dengan gadis yang dibilangnya cleaning service di kantor yang menggantikan tugas Bik Aini. Nia merasa ada yang janggal atau selisih antara pemandangan yang dilihatnya di dapur tadi, reaksi Ardian dan Ayu yang kaget saat melihat kedatangannya, tatapan mata Ayu yang penuh gejolak saat menatapnya, dengan penjelasan Ardian di ruang tamu.
Apalagi barusan Nia juga melihat Ayu seperti duduk terbengong di kursi makan seolah baru menerima pukulan telak. Ayu tak mirip sama sekali dengan seorang cleaning service yang tahu tugasnya di villa Ardian ini.
__ADS_1
* * *