Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Hansen-Nia Semakin Dekat


__ADS_3

Bab 20


Nia menyisir rambutnya buru-buru lalu mengambil tas kuliahnya. Dia terlambat bangun tadi padahal harus masuk kuliah. Melihat jam di dindingnya, biasanya ini adalah jam saat dia dan Ardian berangkat kuliah. Berarti turun ke bawah nanti, dia tak sempat lagi sarapan.


Dengan cepat Nia berjalan menghampiri pintu kamar, membukanya, lalu menutupnya tergesa. Langkahnya seperti berlari ketika menuruni anak tangga.


“Bik, Bik, Ardian mana?” tanya Nia mencari-cari di dapur karena tak menemukan pemuda itu di ruang makan.


“Nak Ardian sudah mau berangkat, tuh! Cepat susul, nanti Non Nia ketinggalan!” beri tahu Bik Aini.


“Iya, Bik. Aku pergi dulu, Bik,” pamit Nia cepat sambil berjalan menuju pintu depan.


Dia melangkah keluar menuju garasi mobil. Kaget, mendapati garasi mobil yang biasa memuat mobil Ardian kosong. Apakah pemuda itu sudah berangkat tanpa dirinya? hati Nia berdebar. Kalau begitu, dia bakalan batal kuliah hari ini. Dia sendiri tak pernah menaiki taksi online selama ini, jadi merasa agak bingung.


“Tiiin… tiiin…,” suara klakson mobil di satu sisi pekarangan rumah mengagetkan Nia.


Gadis itu menoleh, dilihatnya Ardian sedang menunggunnya dengan mesin mobil menyala. Nia cepat-cepat berlari ke arahnya dan segera masuk ke dalam.


Diembuskannya napas lega saat sudah duduk di jok depan. Diliriknya Ardian sekilas, pemuda itu sedang menjalankan mobil keluar dari pekarangan rumah. Nia memakai sabuk pengaman lalu memandang ke depan.


“Kali ini saja ya kita bareng,” kata Ardian. “Nanti di kampus jangan lupa beri tahu Hansen untuk mengantar jemput kamu setiap hari.”


“Ardi!” sentak Nia. Dia tak menyangka kalimat itu akan diulangi Ardian pagi ini. Padahal malam tadi, dia berpikir Ardian mengucapkannya spontan hanya karena marah.


“Aku serius, Nia,” tegas Ardian. Suaranya kecil namun jelas.


Nia tertunduk. Kalau Ardian memang tak ingin lagi pergi pulang kuliah bareng dengannya, dia pun tak berhak memaksa. Toh mobil itu milik Ardian dan Ardian juga yang mengendarainya, jadi apa haknya memaksa?


Perjalanan ke kampus pagi itu terasa sangat sunyi dan tanpa suara setelahnya.


Ardian beberapa kali melirik Nia yang duduk di sampingnya. Dilihatnya gadis itu seperti menyesali sesuatu dan mencemaskan hal penting. Wajah gadis itu sangat murung dan sedih.

__ADS_1


Hati Ardian sedikit tersentuh melihat ekspresi wajah Nia. Tak tega rasanya dia mengerjainya. “Baiklah,” kata Ardi tiba-tiba saat mobil mereka sudah nyaris tiba di kampus. “Perginya kita boleh bareng, tapi pulangnya Hansen yang mengantarmu,” putusnya.


“Ardi…,” Nia menoleh ke samping, menatap Ardian dengan tatapan yang sulit diartikan maknanya.


Ardian tak hendak membalas tatapannya karena takut hatinya akan tersentuh lagi lalu mengubah keputusannya, tak jadi memberi Nia pelajaran. Huh! Lalu rasa kesalnya itu bagaimana harus dibayar?


“Turun!” perintah Ardian saat mobil sudah diparkir di tempat parkiran.


Nia turun dari mobil, menunggu kalau-kalau Ardian akan mengubah lagi keputusannya. Berpesan untuk pulang bareng nanti. Tapi Ardian tak mengatakannya jua, malah berjalan santai menuju anak tangga.


Nia hanya berjalan di belakangnya tanpa bicara. Benarlah, Ardian memang ingin menjauh darinya. Dia bilang tadi akan pergi kuliah bareng karena kasihan padanya saja, sedangkan pulangnya tak ingin bareng. Itu cara Ardian menjauh darinya dan mendekati cewek lain yang lebih disukainya dibandingkan Nia yang sederhana.


Nia berjalan memasuki kelas dengan lesu. Hansen yang sudah datang sedari tadi melihat sikap Nia yang tak semangat.


“Ada apa, Nia?” tanyanya ketika Nia menjatuhkan diri di kursi samping.


“Nggak apa-apa, Hansen,” Nia berusaha tersenyum.


“Iya,” jawab Nia pendek, merasa tak ada alasannya berbohong atau tak membiarkan Hansen tahu.


“Jadi, apa hukuman buatmu karena sudah pulang telat?” tanya Hansen penasaran.


“Hahaha,” mau tak mau Nia tertawa.


Rasanya geli juga mendengar keputusan Ardian yang dirasa Nia kekanak-kanakan. Hanya karena pulang telat 1 kali, Ardian langsung memutuskan tak mau lagi pulang bareng.


“Kok ketawa, Nia? Ada yang lucu, ya?” tanya Hansen dengan mimik tak berdosa.


Seandainya saja dia tahu, gara-gara dia mengajak Nia ke toko buku dan telat mengantar gadis itu pulang, Nia dan Ardian hampir bertengkar. Kalau saja malam tadi Nia meladeni Ardian lebih jauh, bisa-bisa terjadi pertengkaran hebat.


“Ya sudahlah, nggak apa-apa, kita konsentrasi belajar saja, Hansen,” kata Nia bersamaan dengan lonceng masuk yang berbunyi.

__ADS_1


Hansen tak bertanya lagi. Mereka juga tak menyinggung hal itu lagi. Les demi les mata kuliah mereka lewati seperti biasanya, sampai tiba saatnya lonceng pulang.


Hansen menunggu Nia keluar kelas duluan seperti biasanya. Hatinya agak gelisah juga menunggu kedatangan Ardian yang biasanya akan masuk ke kelas mereka menjemput Nia.


Tapi kali ini rasanya sudah telat, Ardian belum juga muncul. Dilihatnya, Nia pun sudah membereskan barang-barangnya dan hanya menunggu untuk pulang saja.


“Kok lama?” tanya Hansen sambil melirik ke arah pintu. Mengikuti arah pandangan gadis itu yang sedari tadi entah sudah berapa puluh kali melirik ke arah pintu.


Nia tak menjawab. Hatinya sangat gelisah. Ardian belum juga datang menjemputnya. Apakah Ardian serius, tak hendak pulang bareng dengannya?


“Lama sekali Ardian,” ulang Hansen.


Namun, lagi-lagi Nia tak menjawab. Gadis itu seolah lupa masih ada Hansen yang duduk di sampingnya.


Dilihatnya jam di dinding kelas. Sudah 20 menit Nia menunggu. Kelas pun sudah sunyi, hanya tinggal dia dan Hansen.


“Aku pulang naik taksi online saja,” kata Nia akhirnya. Diambilnya hp android dari dalam tasnya dan dicarinya aplikasi taksi online.


“Oh, Ardian tak pulang bareng kamu, ya? Kalau begitu, biar aku yang mengantarmu pulang saja, Nia,” tawar Hansen sambil tangannya mencegah Nia memanggil taksi online.


“Nggak usah, Hansen, aku bisa pulang sendiri,” tolak Nia. Dia merasa tak enak pada Hansen karena rumah mereka tak searah.


“Nggak apa-apa, Nia. Aku senggang dan senang mengantarmu pulang. Lagipula, tak ada juga temanku. Hanya kamu teman baikku dan sudah sepantasnya saling membantu,” alasan Hansen.


Karena Hansen bersikeras, Nia pun menerima tawaran itu. Mereka bangkit dari kursi dan berjalan keluar kelas.


Seperti semalam, Nia dan Ardian berjalan berdampingan menuju mobil Hansen. Kali ini, Hansen tak berani lagi mengajak Nia ke mana-mana, dia berkehendak mengantar pulang gadis itu secepatnya sampai di rumah supaya tidak lagi dimarahi Ardian dan mendapat hukuman.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Ardian, mereka bercakap-cakap. Dari percakapan mereka, Hansen kemudian tahu untuk hari-hari selanjutnya Nia bakal tak pulang bareng Ardian.


Itu artinya, kesempatan baginya untuk mengantar pulang Nia terbuka lebar dan waktu untuk bersama gadis yang disukainya itu semakin banyak. Hati Hansen pun bersorak riang, seolah ada lagu-lagu indah yang tengah bersenandung di dalamnya.

__ADS_1


* * *


__ADS_2