
Bab 45
Shella mengetuk pintu kamar Ardian 2 kali dan membukanya sebelum terdengar sahutan dari dalam. Yah... memang suka-suka saja Shella ini.
Ardian yang sedang duduk santai di ranjang dengan badan bersandar pada dinding melihat kedatangan Shella dengan alis bertaut.
"Pak, aku mau bicara," kata Shella langsung ketika langkahnya sampai di dekat Ardian.
"Iya, bicara apa, Shel?" tanya Ardian mengalihkan perhatiannya dari hp ke Shella dengan tatapan ingin tahu karena gadis itu kelihatan serius.
"Bicara mengenai acara old and new sebentar lagi, Pak. Para karyawan ingin Bapak bergabung nanti. Mau kan, Pak?" tanya Shella to the point saja.
"Apa harus?" Ardian mengerutkan kening. Rasanya dia lebih nyaman berada di kamar seorang diri sambil melihati hp-nya daripada berbaur di taman bersama para karyawan.
"Iya, seharusnya begitu, Pak," jawab Shella. "Jauh-jauh Bapak kemari bersama kami masa cuma mau lihatin hp? Di rumah juga bisa, Pak!" seruduk Shella seperti agak kesal. Makjang, lupa dia sedang berbicara dengan siapa.
"Lha, kan kamu yang ajak aku ke sini, Shel? Jadi aku terpaksa ikutlah," balas Ardian kaget.
"Loh, kok terpaksa kata Bapak? Bukankah Pak Ardian sudah ikhlas hari itu setuju ikut kami tanpa merasa terpaksa?" balas Shella bernada sengit. Seperti mau ajak berantam.
"Kata siapa?" Ardian membelalakkan matanya, menatap Shella surprais.
"Ya katakulah, Pak. Setelah si Ayu ikut, Bapak pun ikhlas ikut," kata Shella cepat.
"Apaaa? Apa katamu barusan?" Ardian merasa kurang jelas mendengar kalimat Shella yang terakhir karena diucapkannya dengan sangat cepat.
Shella tercekat. "Ya nggak siapa-siapa," ralat Shella setelah merasa kelepasan bicara. Nggak boleh terlalu jujur dan terus terang pikirnya, siapa tahu Ardian nggak suka mendengarnya.
"Nggak siapa-siapa, apaan sih maksudmu? Nggak ngerti aku," Ardian melihati kembali hp-nya dengan tampang kesal.
"Para karyawan minta aku menyampaikan pada Bapak, mereka ingin sekali Pak Ardian bisa ikut bergabung bersama kami nanti," Shella mengulangi maksudnya dengan kalimat lain dan nada yang lebih sopan.
Kali ini mimik Ardian tampak lebih rileks, tidak ketat lagi seperti tadi saat Shella menyampaikan maksudnya dengan kasar dan nada memaksa.
"Oh," Ardian bereaksi pendek.
__ADS_1
"Bapak mau?" tanya Shella hati-hati.
Ardian menarik napas panjang dan mengembuskannya sebelum menjawab, "Ya nanti aku turun."
Senyum lega mengembang di bibir Shella. "Kalau begitu aku bilang sama mereka Pak Ardian setuju bergabung ya?" tanya Shella memperjelas.
Ardian mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Aku permisi dulu, Pak," kata Shella tanpa meghilangkan senyum di bibirnya.
Ardian melihat sekilas kepergian Shella dari kamarnya, setelah itu dia kembali menekuni hp-nya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Shella turun kembali ke lantai 1. Para karyawan cewek yang tadi duduk mengobrol di meja makan sehabis makan sudah bubar. Tampaknya mereka sudah berpindah tempat ke taman, tempat acara old and new akan diadakan sebentar lagi.
Shella hanya mendapati Ayu seorang diri di dapur sedang membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor.
"Kamu sudah selesai makan, Yu?" tanya Shella.
Ayu melihat kedatangan Shella dan menjawab pertanyaannya, "Sudah, Kak."
"Kerjaanku masih banyak, Kak," jawab Ayu.
"Ya kamu ikut gabung kalau kerjaan sudah selesai," tawar Shella.
"Iya lihatlah nanti, Kak," balas Ayu sambil kembali menekuni pekerjaannya di dapur.
Shella berjalan meninggalkan dapur. Dia menuju pintu depan villa lalu keluar dari sana. Disusurinya jejak belasan langkah untuk sampai di taman, tempat di mana para karyawan sudah berkumpul sehabis makan malam tadi. Mereka duduk-duduk mengobrol di bangku taman dan di ayunan. Ada juga yang tampak sedang sibuk membuat persiapan tempat memanggang sate. Beberapa potong kayu disiapkan di situ untuk membuat api unggun.
Jumlah mereka sekarang hanya kurang sedikit dari jumlah yang berangkat dengan bus pariwisata siang tadi, karena para karyawan di 2 villa yang di samping villa yang ditempati Ardian juga sudah ikut bergabung. Hanya belasan yang memilih untuk tidur saja di dalam kamar sehabis makan alias tidak ikut bergadang.
"Gimana, Shel? Pak Ardian akan turun bergabung dengan kita?" tanya seorang di antara mereka yang tadi makan bersama Shella begitu melihat kedatangan Shella di taman.
Shella mengacungkan jari jempolnya. "Iya, sip!" jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Berarti setuju ya? Wah, teman-teman, pengumuman-pengumuman!" seru karyawan cewek yang tadi bertanya pada Shella.
__ADS_1
Beberapa karyawan di sekitar situ yang mendengar seruannya langsung menoleh. Ada yang berjalan mendekat.
"Pengumuman apaan?" celetuk seseorang yang mendekat.
"Pengumumannya, sebentar lagi Pak Ardian akan turun bergabung dengan kita. Senang nggak?"
"Wow...!" reaksi mereka surprais.
"Wow, sebentar lagi pangeran tampan berkuda putih akan hadir di pesta para kurcaci. Hahaha," seru orang yang bertanya tadi.
"Iya. Hahaha. Pangeran tampan berkuda putih datang ke pesta mencari putri cinderella. Hayo, mana sepatu kaca kalian? Persiapkan baik-baik!" canda temannya.
"Haha. Nggak ada sepatu kaca, pakai sepatu biasa saja. Ini bisa nggak?" seorang di antara mereka mengacungkan sepatu tumit tingginya.
"Waduh, masa suruh Pak Ardian pegang dan simpan sepatu tumit tinggimu yang berdebu itu. Mana mau dia?" tawa temannya.
Mereka pun tertawa bersamaan, membuat suasana taman itu jadi terasa meriah, ramai, dan riuh rendah.
"Sudah ah, jangan bicara dan tertawa keras-keras, entar kedengaran sampai ke telinga Pak Ardian. Kamarnya kan dekat balkon lantai 3, bisa mengawasi kita dari atas. Mana tahu suara kita kedengaran?" seorang di antara mereka mengingatkan dengan suara yang nggak terlalu keras.
Betul juga katanya, karena hari sudah semakin malam ditambah suasana di sekitar villa jauh dari hiruk-pikuk kendaraan, suara yang keras akan bisa terdengar membahana.
Jelasnya, suara para karyawan baik cowok maupun cewek dari perusahaan yang dipimpin Ardian bisa terdengar oleh penghuni-penghuni lain di villa sekitaran situ karena jumlah mereka sangat banyak. Suara percakapan, senda-gurau, dan canda-tawa mereka terdengar cukup bising di malam menjelang old and new.
Sementara itu, Ardian di kamarnya sedang bersiap-siap untuk turun bergabung dengan para karyawan perusahaannya seperti permintaan Shella tadi yang mewakili semua orang.
Ardian memasukkan hp-nya ke dalam saku celana ponggolnya yang berpadan dengan kaos oblong tebal untuk mengusir dinginnya malam di Berastagi.
Tampak bulu-bulu kakinya yang memenuhi betis dan bawah lututnya karena celana ponggol yang dipakai Ardian tidak menutupi seluruh kakinya seperti biasa. Tidak seperti sehari-harinya dia memakai celana panjang ke kantor hingga tersembunyi bulu-bulu kakinya.
Bagian pelipis Ardian juga ditumbuhi jambang tipis yang menambah pesona seorang Ardian yang macho. Soal ketampanan, Ardian berada di atas para pria tampan lainnya hingga pantaslah dengan predikat sebagai anak boss perusahaan dia dijuluki para karyawan cewek di perusahaannya sebagai pangeran tampan berkuda putih.
Sekarang pangeran tampan berkuda putih akan turun mencari putri cinderellanya. Siapakah gadis yang beruntung menjadi putri cinderellanya Ardian di malam old and new?
* * *
__ADS_1