
Bab 77
Ayu sudah selesai mengepel lantai 1. Dia sedang membilas sapu pelnya di kamar mandi saat hp android-nya berbunyi.
Dengan tergesa Ayu mengelap tangannya yang basah lalu mengeluarkan hp android-nya dari dalam saku bajunya.
Pak Ardian, bisik Ayu dalam hati.
"Iya, Pak?" jawab Ayu dengan suara kecil dan hati-hati.
"Yu? Ayu?" tanya suara di seberang sana. Seolah sangsi karena sudah setahun tak menghubungi padahal baru seminggu.
"Iya, Pak Ardian. Ini Ayu. Ada apa ya, Pak?" ulang Ayu sambil lebih mendekatkan hp ke telinganya.
"Oh, syukurlah. Kamu bisa ke ruanganku sebentar, Yu?" tanya Ardian.
"Sekarang, Pak?" balas Ayu.
"Iya," jawab Ardian.
"Ok, Pak," Ayu menutup hp android-nya dan memasukkan kembali ke saku baju. Ditaruhnya ember dan sapu pelnya di dekat pintu kamar mandi bagian luar lalu dia pun bergegas menuju ruang kerja Ardian.
Ayu sudah sampai di depan pintu ruangan Ardian. Dia mengetuk 2 kali sebelum menguakkan pintu itu dan melangkah masuk.
Ardian melihat kedatangan Ayu yang tampak was-was. Dia seolah takut Ardian akan memarahinya, karena itu wajahnya agak pucat.
Ardian bisa melihat ketakutan di wajah Ayu. Dia tak tahu bagaimana harus memulai kembali percakapan yang ramah dengan Ayu seperti di waktu lalu setelah Ayu memecahkan bingkai foto dirinya dengan Nia.
Untuk menyikapi suasana yang tegang antara dirinya dengan gadis itu, Ardian mencoba menghadirkan seulas senyum kecil.
"Duduk di sini, Yu," Ardian menunjuk kursi di depan meja kerjanya.
Ayu melihat kursi itu dan tampak ragu, namun Ardian meyakinkannya dengan mengangguk kecil. "Duduk di sini, Yu," ulangnya.
Karena sudah dipersilakan 2 kali oleh Ardian, Ayu pun memberanikan diri duduk di depan Ardian. Dia duduk di kursi yang biasanya diduduki Shella.
__ADS_1
Setelah Ayu duduk dan melipat 2 tangannya di depan perut, Ardian pun bertanya, "Gimana kabarmu akhir-akhir ini, Yu? Baik-baik sajakah?"
Ayu menarik napas lega. Ardian bertanya kabarnya. Bahkan dia bertanya dengan ramah dan penuh perhatian. Berarti Pak Ardian tak marah lagi dan akan bersikap baik lagi padanya seperti dulu.
"A-a-ku baik-baik saja, Pak," jawab Ayu terpatah.
Ayu tak berpura-pura takut atau gugup. Dia benar-benar takut seandainya Ardian tak mempedulikannya lagi maka dia akan menjadi bukan siapa-siapa di sini, di perusahaan ini. Dia hanya akan menjadi seorang cleaning service yang dipandang remeh bahkan di-bully oleh karyawan lain yang merasa kedudukannya lebih tinggi. Seperti yang dialaminya tadi, ketiga resepsionis cewek di dekat pintu masuk mem-bully-nya.
"Syukurlah,Yu," Ardian bernapas lega. "Tapi... wajahmu agak pucat," Ardian berterus terang.
"Ah, masa, Pak? Mungkin agak lelah," kilah Ayu.
"Kamu kurang tidur ya?" tanya Ardian.
"Nggak, Pak," geleng Ayu cepat. Wajahnya memerah.
"Oh, tidak ya," ucap Ardian kecil.
Keduanya terdiam sejenak. Mungkin Ardian merasa grogi memulai kembali setelah disadarinya sikapnya yang dingin pada Ayu belakangan ini. Padahal sebelumnya dia baik sekali padanya. Bahkan sempat memberi harapan pada gadis belia itu terutama saat mereka di Berastagi.
"Oh, aku... maksudku mau mengajakmu jalan-jalan," ungkap Ardian terus terang.
"Hah?" Ayu terbengong.
"Ehm... iya, mengajakmu jalan-jalan, Yu," ulang Ardian.
"Jalan-jalan? Ke mana Pak?" tanya Ayu polos.
"Ya, ke mana saja. Ke mal, nonton, makan, shoping baju, keliling kota..."
Ayu membelalakkan mata. Rasanya sulit mencerna kata-kata Ardian barusan. Soalnya belakangan ini sikap Ardian sangat dingin padanya. Mana mungkin bisa berubah secepat ini? Berbalik 180 derajat dalam 1-2 hari.
"Mau kan, Yu?" Ardian mengulangi pertanyaannya.
"A-a-a-i-iya, Pak," jawab Ayu semakin terpatah. Apa yang dibilang Pak Ardian barusan? Mengajaknya jalan-jalan?
__ADS_1
Ardian bernapas lega. "Syukurlah, Yu. Kamu nggak marah padaku kan?"
"Marah, Pak?" Ayu mengernyitkan alis. ""Bapak marah padaku?"
"Waduh, kamu kok kelihatan bingung sekali, Yu. Bukan aku yang marah padamu, tapi kamu yang marah padaku," Ardian memutarbalilkkan fakta.
Ayu terpelongo.
Melihat reaksi Ayu, Ardian merasa tak tega. Tiba-tiba dia merasa menyesal telah bersikap dingin pada Ayu belakangan ini setelah Ayu memecahkan bingkai foto dirinya dengan Nia.
Sebenarnya, bingkai foto itu pecah pun gara-gara Ardian yang terus memaksa Ayu. Ardian memaksa mencium pipi Ayu saat itu sehingga Ayu terpaksa mundur dan tangannya tak sengaja menyapu bingkai foto Nia dan Ardian di meja kerjanya Ardian.
"Kalau begitu, hari Minggu ini kita pergi jalan-jalan. Aku akan menjemputmu di rumahmu. Tolong tuliskan alamatmu di sini, Yu," Ardian menyodorkan selembar kertas berikut sebatang pulpen pada Ayu yang duduk di depannya.
Sejenak, Ayu terdiam bimbang. Pak Ardian minta alamat rumahnya dan mau menjemputnya. Berarti Pak Ardian akan bertandang ke rumahnyakah? Hari Minggu inikah? Ya, ampun! Ayu menjerit kaget dalam hati. Kenapa tiba-tiba begini?
"Tuliskan alamat rumahmu di sini, Yu," pinta Ardian. "Minggu siang aku akan datang mengunjungimu. Sekalian berkenalan dengan ibumu."
"Oh," walaupun masih kaget, Ayu menuliskan juga alamat rumahnya di kertas yang disodorkan Ardian.
Ardian memperhatikan Ayu yang sedang menulis dan gerakan tangannya saat menari-narikan pulpen di atas kertas.
Cantik, manis, ayu, dan gemulai, bisik hati Ardian. Sintal, montok, sensual, dan menggiurkan, sudah pasti menjadi milik Ayu. Cowok yang setia pada pasangannya pun bukan tak mungkin akan tergoda oleh makhluk di depannya ini. Apalagi Ardian yang pernah diselamatkan olehnya dan mengetahui kebaikan karakter juga kerajinan Ayu plus dedikasinya pada pekerjaan. Ayu bekerja untuk meringankan beban ibunya setelah ditinggalkan ayahnya.
"Ini, Pak," Ayu sudah selesai menuliskan alamatnya di kertas dan menyodorkan pada Ardian. "Rumahku jelek, Pak. Apa sebaiknya aku saja yang menemui Bapak?" tawar Ayu.
Menemuiku gimana?" tanya Ardian tak mengerti. Dia melihat tulisan Ayu di kertas yang sekarang dipegangnya. Cantik. Tulisan Ayu cantik, rapi, dan gemulai seperti orangnya. Diam-diam Ardian berdecak kagum. Walaupun Ayu tidak tamat SMA, namun tulisannya tidak kalah dengan anak kuliahan. Satu keistimewaan lagi dari Ayu yang diketahui Ardian yang membuat Ardian terpesona dan mengaguminya berkali-kali.
Ohya, waktu perkenalan pertama Ardian dan Ayu di ruangan kantor proyek luar kota, Ayu juga memasakkan mie instan untuk Ardian dan Shella yang dirasa Ardian enak luar biasa. Memasak mie instan pun harus ada tekniknya. Kalau terlalu lama dimasak jadi lembek dan kurang enak. Kalau terlalu cepat dimasak masih keras dan kurang enak juga. Ayu pintar memasaknya di timer yang pas.
"Aku yang akan datang ke kantor ini menemui Pak Ardian," jawab Ayu.
Ardian tepekur. Tawaran yang aneh dari Ayu. Akankah Ardian menerimanya?
* * *
__ADS_1