
Bab 107
Tanjungbalai, Asahan. Di rumah Riko pada suatu malam.
Ibu Riko berjalan mendekati anaknya. Dia mengutarakan suatu maksud yang sudah lama dipendamnya dalam hati. "Rik, sudah hampir setahun kamu dekat dengan Nia. Kamu tidak merencanakan sesuatukah?" tanya ibunya memulai pembicaraan.
Riko memandang ibunya. Mereka baru selesai makan malam. Dia dan ayah ibunya duduk di sofa ruang tamu. Setelah ibu Riko selesai mencuci piring, dia mendekati putra semata wayangnya itu dan duduk di sampingnya.
"Merencanakan apa? Maksud Ibu rencana apa?" tanya Riko tak mengerti.
"Maksud Ibu, tak mungkin kan kamu dan Nia tetap begini-begini saja? Kalian harus ada perkembangan. Kalau tidak, sia-sia waktumu selama setahun ini," kata ibunya.
"Perkembangan apa, Bu?" Riko masih bingung. Dia menatap ibunya tak mengerti.
"Ya, perkembangan dari hubungan pacaran menjadi menikah," ibunya menyungging seulas senyum misteri.
"Hah?" Riko terlonjak. "Pacaran? Menikah?" Riko pun mulai mengerti. "Maksud Ibu aku harus pacaran dengan Nia lalu menikah?" tanyanya surprais.
"Lha, bukankah kamu sudah pacaran dengannya selama setahun ini?" ibunya balik bertanya heran.
"Waduh... Bu, selama setahun ini aku tak pacaran dengan Nia. Kami hanya berteman biasa saja," Riko menjelaskan.
"Lha, kok bilang masih berteman saja, Rik? Kan selama setahun ini kamu selalu rajin berkunjung ke rumahnya? Membawa banyak barang kebutuhan dia dan ibunya. Lalu juga sering pergi jalan-jalan dengan ibunya," kata ibunya.
"Iya, Bu. Hanya sebatas itu. Tapi kami tidak pacaran kok. Tidak ada pernyataan khusus kalau kami itu pacaran. Nia menerimaku sebagai sahabat yang menolong dirinya dan ibunya. Dia selalu mengucapkan terima kasih atas pemberian kita. Katanya nanti kalau ibunya sudah baikan dan tidak duduk di kursi roda lagi, dia akan bekerja dan membayar utang-utangnya ke kita," jelas Riko panjang lebar.
"Aduh!" ibunya kaget. "Jangan sampai Nia membayar utangnya ke kamu, Rik. Bisa berabe. Entar sia-sia dong usaha anak Ibu selama setahun ini," kata ibunya dengan tampang sedih.
__ADS_1
"Jadi, aku harus bagaimana, Bu?" tanya Riko. Bingung melihat reaksi ibunya.
"Ya, kamu langsung utarakan niatmu melamarnya jadi istrimu, Rik. Beres kan?" ibunya memberi pengarahan sambil membesarkan bola mata.
"Hah?" Riko terpelongo. "Ibu jangan buat Nia kagetlah, Bu. Kami status pacaran saja belum, masa mau melamarnya jadi istri? Ada-ada saja Ibu ini."
"Ibu nggak mengada-ada, Rik. Ibu serius. Ibu rasa Nia cocok untukmu dan kamu juga sudah lama menyukainya kan? Selama setahun ini kamu sudah begitu dekat dengannya dan berbuat banyak untuknya dan ibunya. Katamu, ibunya juga menyukaimu dan Nia pun selalu bersikap baik padamu. Ya cocoklah kalian dinikahkan saja," nyerocos ibunya Riko dengan penuh semangat.
"Maunya sih begitu, Bu. Tapi Nia-nya kurasa nggak maulah," kata Riko pesimis.
"Kok nggak mau? Emang apa kurangnya dirimu, anakku yang ganteng? Kalau dia menolakmu, emang dia bisa sama siapa lagi?" ibunya membelalakan mata.
"Iya tuh, Rik. Kamu lamar saja Nia jadi istrimu. Ayah sudah tak sabar lagi ingin punya menantu. Apalagi ibumu, lebih tak sabar lagi ingin menimang cucu," timpal ayah Riko yang diam saja sedari tadi.
"Nah, ayahmu saja setuju. Masa kamu masih bimbang? Ayo berusaha! Berjuang supaya bisa menjadikan Nia istrimu," ibu Riko memberi semangat.
"Iyalah, Bu. Entar akan Riko coba melamar Nia jadi istri. Mana tahu dia mau. Tapi kalau dia nggak mau gimana pula, Bu?" tanya Riko polos.
"Iya, coba saja, Nak," kata ayahnya. "Kalau mau ya syukur sekali. Kalau nggak mau ya kamu bersabar saja lain kali baru coba lagi. Mana tahu dia belum siap dan perlu waktu untuk berpikir," nasihat ayahnya.
"Iya, betul itu, Rik. Betul kata ayahmu. Kalau diterima, Ibu dan Ayah akan sangat senang. Kalau ditolak pun masih bisa mencoba lain kali," setuju ibunya.
Riko memandang ibu dan ayahnya yang menatapnya penuh harap. "Baiklah, akan Riko usahakan memenuhi harapan Ayah dan Ibu," katanya.
Ayah dan ibunya tersenyum senang. "Jadi kapan rencananya kamu akan melamar Nia, Nak?" tanya ibunya tak sabar.
"Ya secepatnyalah. Entar sekali lagi aku ke rumahnya, aku akan melamar dia," janji Riko.
__ADS_1
Ayah dan ibunya pun melonjak kegirangan seperti anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan permen.
Riko cuma bisa senyum nyengir melihat reaksi dan tingkah laku ayah ibunya itu.
"Kira-kira kalau Riko mau menikah nanti kita buat kamar pengantinnya Riko dan Nia di mana, Pak?" ibunya mengerling senang pada ayahnya.
"Ya di kamar Riko yang sekaranglah. Tapi kayaknya kamar Riko yang sekarang harus dirombak lagi supaya lebih besar. Kalau tidak kan tak cukup luas untuk Nia dan Riko berdua di dalam. Apalagi kalau sudah punya anak nanti bakal kesempitan deh kamarnya," jawab ayahnya.
Ibu dan ayahnya Riko pun tertawa senang. Mereka sedang berkhayal Riko dan Nia menikah lalu Nia melahirkan anak-anak Riko. Rumah mereka yang besar dan bertingkat pun ramai oleh suara anak-anak.
Padahal kenyataannya, Riko belum mengajukan lamaran pada Nia. Jangankan melamar, pacaran saja belum. Tapi Riko berkata dalam hati akan mengikuti anjuran ayah ibunya untuk segera meminang Nia menjadi istrinya. Mumpung saat ini Nia dan ibunya lagi dekat dengan Riko.
Setiap hari pintu rumah Nia selalu terbuka untuk Riko. Bahkan 2 orang pemilik rumah itu selalu menyambut kedatangan Riko dengan salam hangat dan senang. Jadi besar kemungkinannya kalau Riko akan berhasil melamar Nia. Dilihat dari situasi kondisi sekarang, peluang Riko memenangkan hati Nia cukup besar. Hanya tinggal mengajukan lamaran dan menunggu lamarannya diterima.
"Riko kan belum melamar Nia, Yah, Bu. Belum tahu juga lamarannya diterima atau tidak. Jangan senang begitu dulu dong," protes Riko yang melihat ayah ibunya tertawa-tawa senang.
"Ohiya, belum ya?" ibunya Riko pun seperti tersadar. Begitu juga ayahnya. Mereka saling berpandangan lalu terkekeh geli.
"Jangan buat kami kecewa dong, Rik. Kamu harus berhasil membawa Nia masuk ke keluarga kita. Menjadi menantu Ayah. Ayah suka dia karena dengar dari cerita ibumu Nia anak yang baik dan berbakti pada orangtua. Buktinya selama setahun ini dia merawat ibunya yang sakit," kata ayahnya.
"Iya tuh. Ohya, bagaimana perkembangan kesehatan ibunya Nia?" ibu Riko bagai teringat.
"Nah, ini baru betul. Syukurlah sudah membaik dengan sangat cepat. Bahkan kami sudah mencoba melatih ibu Nia bangkit dari kursi roda dan berjalan beberapa langkah," cerita Riko.
"Oh, syukurah. Jadi ibunya Nia sudah mulai bisa berjalan lagi, Rik?" tanya ibunya Riko.
"Iya, Bu. Lumayan sudah bisa beberapa langkah dengan tongkat penumpu. Lama-lama tak perlu bantuan tongkat lagi," jelas Riko.
__ADS_1
Ayah dan ibu Riko pun saling memandang lalu sama-sama manggut-manggut.
* * *