Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ulah Ayu di Ruang Dapur


__ADS_3

Bab 130


Kamu harus memasak untukku tiap hari," jawab Ardian lalu matanya yang berbinar pun melesatkan tawa.


"Hah?" Nia terperanjat. Mula-mula wajahnya tampak bingung, tapi setelah itu dia pun ikut tertawa.


"Kamu mau kan memasak untukku tiap hari, Nia?" tanya Ardian.


"Tentu saja, Ardi," jawab Nia tanpa berpikir panjang.


Keduanya sama-sama tersenyum. Lalu melanjutkan makan siang dengan hati senang.


Tanpa mereka sadari, Ayu tiba-tiba muncul di ruang dapur. Tentu saja Ayu kaget mendapati Ardian sedang makan siang bersama Nia. Ayu tak menyangka sama sekali kalau Ardian bakal pulang makan siang ini. Apalagi sampai sudah disiapin segala oleh Nia.


Dadanya berdebar dan seperti terbakar melihat kemesraan Ardian dan Nia di meja makan. Ardian tampak menikmati masakan Nia. Dia makan dengan lahap. Di depan Ardian, Nia juga menunjukkan wajah yang gembira. Kedua insan itu tampak cocok dan nyaman satu sama lain.


"Hei... Yu, kamu di sini?" Nia yang pertama kali menyadari kehadiran Ayu di ruang dapur segera menyapa. Matanya melirik Ayu yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Ardian yang sedang melahap nasinya mengangkat kepalanya sejenak menatap Ayu yang namanya disebut Nia. Sedetik, pandangan Ardian dan Ayu bertemu. Detik berikutnya, Ardian segera menyadari ekspresi wajah Ayu yang kurang senang seperti menahan rasa cemburu dan geram.


"Yu?" Ardian ikut menyapa Ayu dengan tatapan mata yang mencoba menenangkan.


Namun wajah Ayu tetap secemberut jeruk purut.


"Yu, kamu mau makan bersama kami?" tawar Nia yang malah dirasakan Ayu seperti sebuah sindiran.


Ayu melengos tanpa menjawab. Dia berjalan ke bak cuci piring setelah melewati meja makan yang diisi Nia dan Ardian.

__ADS_1


Ayu mulai mencuci kuali dan perkakas masak lain yang dipakai Nia untuk memasak tadi. Sebenarnya, itu bisa dilakukannya setelah Ardian dan Nia siap makan. Sekalian dengan piring-piring yang dipakai mereka. Namun Ayu sengaja masuk ke ruang dapur berpura-pura hendak melakukan pekerjaannya karena dia tak suka melihat kerukunan Ardian dan Nia yang tampak akrab dan senang di meja makan.


Tadi dia sudah mengetahui kepulangan Ardian ke rumah dari mobil yang diparkir di halaman. Ayu tak menyangka Ardian akan pulang makan siang karena sehari-harinya dia selalu makan siang di kantor atau di kafe yang terdekat. Ayu tahu hal itu karena sebagai cleaning service di kantor Ardian, dia senantiasa memantau apa saja yang dilakukan cowok itu.


Nia dan Ardian yang melihat gelagat Ayu yang kurang senang cuma bisa saling melempar pandang lalu sama-sama melanjutkan kembali makannya.


Serasa ada yang kurang beres dengan mood Ayu, gadis itu mencuci perkakas masak di bak cuci piring dengan kasar. Seperti sengaja menimbulkan suara-suara berdebam kecil dari perkakas masak itu yang digerakkannya dengan kasar hingga saling menyentuh dan menghasilkan bunyi berisik yang dirasakan Ardian dan Nia cukup mengganggu.


Tampaknya Ayu sengaja membuat suasana nyaman dan riang di antara Ardian dan Nia yang sedang makan siang terusik. Mungkin dengan begitu hatinya akan lebih lega dan puas bisa melampiaskan kekesalannya. Dan penyesalannya karena tidak memasak untuk Ardian tadi walaupun sudah diminta oleh Nia.


Wajah Ardian yang tampak sangat menikmati masakan Nia itu membuat Ayu jengkel. Kalau dibandingkan dengan masakannya sendiri, masakan siapa yang lebih lezat bagi Ardian?


Ardian cepat-cepat menyelesaikan makannya, begitu juga Nia. Entah kenapa, keduanya tidak menegur Ayu walaupun apa yang dilakukan Ayu itu terasa mengusik ketenangan mereka. Nia dan Ardian memilih untuk mengalah dengan tidak berkata apa-apa.


"Kapan rencananya ke kampus, Nia?" begitu Ayu mendengar Ardian bertanya pada Nia setelah mereka berdua selesai makan.


"Besok Ardi," jawab Nia singkat.


"Sore ini?" Nia mengerutkan kening.


"Iya, lebih cepat lebih baik," jawab Ardian.


"Tapi kamu kan harus masuk kantor lagi siang ini?" sangsi Nia.


"Nggak apa-apa," jawab Ardian. "Kita ke kampus sebentar lagi ya urus kelanjutan kuliahmu."


"Iya, Ardi," angguk Nia. Dia bisa merasakan adanya nada yang ditekan dalam kalimat Ardian. Cowok itu seperti menahan rasa kesal karena ulah Ayu yang mengganggu ketenangan mereka dalam menikmati makan siang.

__ADS_1


Ardian bangkit dari duduknya. Dia berbalik dan berjalan ke bak cuci piring tempat di mana Ayu sedang berdiri sambil mengeringkan perkakas masak yang baru dicucinya.


"Sebentar, Yu," kata Ardian yang melangkah ke samping Ayu. Meminta sedikit tempat untuk berdiri mencuci tangannya.


Ayu menggeser tubuhnya sedikit sehingga Ardian bisa menaruh tangannya di bawah kran air yang mengalir.


Entah disengaja atau tidak, Ayu mengambil botol berisi sabun cair pencuci tangan dan dituangkannya ke telapak tangan Ardian yang berada di bawah kran. Tindakan Ayu itu dilihat oleh Nia yang memperhatikan gerak-gerik Ardian dan Ayu sedari tadi.


Srrr... darah Nia berdesir melihat apa yang dilakukan Ayu itu. Sepertinya Ayu sengaja melakukan hal itu pada Ardian untuk menunjukkan perhatiannya tanpa peduli Nia melihatnya atau tidak. Dia bahkan tak peduli bila Nia melihat gerakannya itu lalu merasa curiga.


Ardian sendiri tak menyangka Ayu akan berbuat seperti itu. Tapi karena itu gerakan spontan Ayu maka Ardian pun secara refleks menerima tuangan sabun cair itu di telapak tangannya.


"Thanks, Yu," kata Ardian lalu membilas tangannya di bawah kran air.


Ayu tersenyum tipis. Dia melirik Ardian sekejap. Sengaja matanya menghunjam pada lirikan mata cowok itu yang tampak agak kaget. Ayu juga melirik Nia yang sedang duduk di kursi makan memperhatikan mereka dari jarak tiga meter.


Ayu melempar senyum licik yang dipenuhi kemenangan. Dia merasa menang dan senang walaupun cuma untuk sekejap.


Ardian berbalik lagi ke meja makan menghampiri Nia tapi dia tidak duduk kembali di sana. Dia hanya berkata, " Kutunggu kamu di ruang tamu, Nia. Kamu sediakan dulu semua yang perlu dibawa ke kampus nanti."


"Iya, Ardi," jawab Nia sambil mengangguk.


Ardian beranjak keluar dari ruang dapur. Seperginya Ardian, Nia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke bak cuci piring untuk mencuci tangannya sendiri.


"Sedikit, Yu," kata Nia pada Ayu yang seperti enggan memberi tempat pada Nia untuk berdiri di situ.


"Ops...!" Ayu pura-pura tersadar dan menggeser tubuhnya sedikit sambil menyibakkan rambutnya dengan sebelah tangan. Gerakan Ayu itu dirasa Nia sangat sombong, seperti sengaja memancing rasa kesal Nia dengan menunjukkan betapa cantik dan manisnya dia sampai tak tertandingi oleh Nia.

__ADS_1


Nia mencuci tangannya dengan sabun cair yang diambilnya sendiri dari dalam botol. Ayu tentu saja tidak menuangkan untuknya seperti yang dilakukannya pada Ardian tadi.


* * *


__ADS_2