Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Riana Membongkar Rahasia Ayu pada Willy


__ADS_3

Bab 102


Urusan Santi dengan Willy sudah selesai. Willy menatap Riana yang duduk di depan Santi lalu bertanya, "Kamu mencariku buat apa?"


Riana menjawab cepat, "Ada hal penting yang mau kusampaikan padamu, Wil," Riana bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Willy.


Willy melirik Santi yang duduk di belakang meja. Kebetulan, Santi juga sedang menatapnya dan menatap Riana . Rasa penasaran timbul di hatinya melihat tampang Riana yang serius.


"Iya, ada apa?" tanya Willy langsung. Sesaat dia lupa pesan Ayu padanya untuk tak berbicara banyak dengan Riana bahkan kalau bisa menghindarinya.


Namun karena Riana yang sudah mencarinya sampai ke tempat kerja ditambah menunggunya selama satu setengah jam, Willy pun merasa setidaknya harus mendengar apa yang ingin disampaikan Riana. Mana tahu itu hal penting yang mesti diketahuinya.


"Aku ingin bicara soal Ayu!" kata Riana dengan suara tegas hingga membuat Willy tersentak. Begitu juga Santi yang duduk di belakang meja.


Willy lagi-lagi melirik Santi. Gadis itu pura-pura menunduk mengamati giro-giro yang berhasil ditagih Willy, namun sebenarnya telinganya dipasang untuk mencuri dengar.


"Kita bicara di luar saja," kata Willy pada Riana. "San, sori mengganggu tadi. Kami keluar dulu ya," pamit Willy.


Santi mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil diiringi senyum tipis.


Willy pun melangkah keluar dari ruangan Santi, diikuti Riana.


"Kita bicara di sini saja, Wil, kata Riana menahan langkah Willy saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang kerja Santi.


Willy pun berdiri di dekat pintu bersama Riana. Sementara Santi yang melihat Willy dan Riana keluar dari ruangannya bangkit untuk ke toilet. Namun sebelum dia sempat membuka pintu, terdengar suara percakapan samar antara Willy dan Riana di depan ruang kerjanya. Sepertinya mereka berdiri di depan pintu ini, bisik hati Santi.


Tak jadi membuka pintu atau keluar ruangan untuk ke toilet, Santi malah berdiri di dekat pintu bagian dalam menguping percakapan Willy dengan Riana.


"Aku melihat Ayu hari Minggu lalu, Wil!" beri tahu Riana dengan suara cukup keras yang membuat Willy lagi-lagi tersentak.

__ADS_1


"Kamu melihatnya, Riana? Di mana?" Willy memicingkan mata. Apakah ini berarti hari Minggu lalu Ayu diam-diam keluar rumah tanpa ingin ditemani olehnya? pikir Willy.


"Di mal! Aku melihatnya di mal bersama seorang cowok!" seru Riana.


Willy terperanjat. Dia menatap Riana tak percaya. Memicingkan mata seolah menaruh rasa curiga kalau-kalau Riana berdusta.


"Jangan sembarang bicara, Riana. Mungkin kamu salah lihat atau salah mengenali orang," Willy memperingatkan.


"Jelas tidak, Wil!" kata Riana pasti. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ayu bersama seorang cowok yang sangat tampan, tinggi, dan kaya!"


Dug! Jantung Willy berdetak keras. "Kamu salah mengenali orang, Riana," katanya."


"Tidak, Wil. Aku bicara langsung dengan Ayu. Itu memang Ayu. Dia bahkan masih mengingatku adalah Riana, teman masa SMP-nya," Riana meyakinkan.


Willy terpaku. Hatinya mulai ragu. Benarkah Ayu bersama cowok lain jalan-jalan ke mal hari Minggu lalu? Lalu, siapa cowok itu? Temannyakah? Atau teman lamanya? Kepala Willy tiba-tiba pusing.


"Kamu tahu siapa cowok itu, Wil?" Riana memancing keingintahuan Willy dengan nada serius.


"Boss-nya Ayu!" jawab Riana keras.


Willy terhenyak. "Boss-nya Ayu? Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.


"Ya boss-nya Ayu-lah. Nggak tahu boss bagian apa, tapi kayaknya itu boss atau anak bosa pemilik perusahaan kalau kulihat dari fisik, sikap, karakter, dan tampilannya," jawab Riana.


""Kamu yakin?" Willy tampak lemas mendengar kata-kata Riana. Dia merasa tak punya kemampuan berdiri tegak. Tubuhnya bersandar pada dinding ruangan Santi.


"Iya lho, Wil. Yakin sekali. Ayu sendiri yang mengenalkan cowok itu pada aku dan Randy, pacarku. Katanya pada kami, itu boss-nya, namanya Ardian. Ayu memanggilnya Pak Ardian.


"Pak Ardian?" suara Willy hampir hilang di balik kerongkongan.

__ADS_1


"Iya, Pak Ardian. Kami sama-sama nonton di cinema yang ada di dalam mal. Pak Ardian membeli 2 karcis untuk dirinya dan Ayu. Kulihat mereka duduk mesra di sofa saat menunggu film tayang. Ohya, pacarmu itu bahkan aengaja berpakaian seksi sekali untuk dilihat Pak Ardian sampai menyembul jelas belahan dadanya. Ups!" setelah mengatakan itu, Riana pura-pura mengatupkan bibir dengan jari tangan.


Willy meneguk ludah dan membelalakkan mata. Apa kata Riana? Ayu berpakaian seksi saat keluar bersama boss-nya? Lalu, jam berapa mereka pulang? Dan ke mana mereka singgah sehabis nonton? Jangan-jangan...


Tidak! Ayu bukan gadis seperti itu. Willy menggeleng-geleng sendiri. Dia gadis baik-baik. Bila bepergian berdua dengannya, selalu berpakaian ala kadarnya alias tidak berlebihan.


"Wah, kamu pasti belum pernah melihat Ayu berdandan seperti itu ya, Wil?" kata Riana seperti mengejek. "Pacarmu itu berdandan modis bak bintang film. Kamu pasti belum pernah juga melihatnya merias wajah seperti itu. Sangat mirip pacar atau istri anak orang kaya," Riana menambah-nambahi ceritanya sampai lengkap untuk memanas-manasi hati Willy.


"Apakah benar semua yang kamu katakan ini?" tanya Willy dengan sorot mata tajam namun suara lemah.


Riana menaikkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas, seperti bersiap-siap untuk bersumpah.


"Sudahlah... aku percaya," ucap Willy sedih.


Riana tersenyum puas. Dia senang telah berhasil menghasut Willy dan ini bakal meretakkan hubungan Willy dengan Ayu. Hatinya sama sekali tak merasa kasihan pada Willy padahal cowok itu pernah ditaksirnya dulu.


"Ada lagi yang mau kamu katakan Riana?" tanya Willy yang bersandar lemas di dinding kayu ruangan Santi.


"Mmmm... kayaknya sudah semua. Aku sudah menyampaikan semua yang kutahu padamu. Jadi, bagaimana langkahmu selanjutnya? Apakah kamu akan memutuskan Ayu?" Riana ingin tahu.


Willy tercekat. Memutuskan Ayu? Tidak! Itu adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukannya karena dia tak akan mampu berpisah dengan Ayu. Selama ini dia yang selalu takut Ayu memutuskan hubungan mereka, jadi tak mungkin dia memutuskan Ayu walau apa pun alasannya karena dia sangat mencintai gadis itu.


"Kamu tidak akan memutuskannya ya?" Riana bertanya tak sabar.


"Aku ingin sendiri, Riana. Kamu boleh pergi sekarang," kata Willy.


Melihat ekspresi wajah Willy yang demikian terpukul, Riana tiba-tiba merasa tak tega. Hatinya bertanya, apakah salah dia meyampaikan hal besar yang dilihatnya itu pada Willy walaupun itu sangat menyakitkan bagi cowok itu?


Kalau dia tak mengatakannya, Willy selanjutnya akan terus tertipu oleh Ayu yang tak jujur. Mempercayai kesetiaan Ayu dengan lugu dan polos. Sungguh kasihan Willy dibohongi, pikir Riana.

__ADS_1


Ya, lebih baik kukatakan memang, jawab hatinya sendiri. Padahal Riana tak tahu kalau memutuskan jodoh orang adalah dosa besar. Lebih baik tak mengatakan yang sebenarnya daripada memutuskan jodoh orang, itulah prinsipnya.


* * *'


__ADS_2