Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu Sampai di Rumah


__ADS_3

Bab 31


Willy menghentikan sepeda motornya di depan rumah Ayu. Rumah itu tampak sederhana, terbuat dari papan dan luasnya hanya sekitar 6 X 10 meter.


Ketika mesin motor terdengar di halaman rumah, seseorang membuka pintu dari dalam dan muncul di ambang pintu.


“Selamat malam, Bu,” ucap Willy sopan saat orang yang membuka pintu itu menyambut kepulangan Ayu.


Dia seorang perempuan, mengenakan gaun tidur, tubuhnya kurus, rambutnya terurai, dan umurnya sekitar 40 tahun. Walaupun demikian, sisa-sisa kecantikannya masih membekas di wajahnya, walaupun tampak pucat tak terawat.


Orang yang disapa sopan oleh Willy itu menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil. “Masuk dulu, Nak Willy?” tawarnya setelah Ayu melompat turun dari sepeda motor dan berjalan menuju pintu.


Willy tak menjawab, dia menatap punggung Ayu yang menghilang di balik pintu. Merasa Ayu agak cuek padanya hari ini, Willy pun menolak tawaran perempuan itu.


“Mmm…, lain kali saja, Bu. Kayaknya Ayu sudah lelah hari ini. Saya permisi pulang dulu, Bu. Selamat malam.”


Perempuan itu pun mengangguk, “Hati-hati di jalan, Nak Willy,” pesannya.


Setelah motor Willy menderu meninggalkan halaman rumah, perempuan itu menutup pintu dan berjalan masuk. Dia melangkah menuju ruang dapur tempat di mana Ayu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Menunggu Ayu selesai mandi, perempuan itu mengambil piring dan menyendok nasi dari periuk yang ada di atas meja. Dibukanya tudung saji dan disusunnya lauk sederhana yang siang tadi dimasaknya untuk kedua anaknya, Ayu dan Anjar.


Di kamar mandi, Ayu membersihkan badannya dengan belasan gayung air yang diguyurkannya ke sekujur tubuhnya yang lelah. Tubuh itu tampak putih mulus tanpa sehelai benang pun.


Tangan Ayu yang halus dengan jari-jari lentik mengambil sabun wajah dan mengusapkannya ke wajahnya yang bulat telur. Setelah itu beralih ke sabun cair yang dipencetnya lalu diusapkannya membaluri sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Usapan tangan Ayu perlahan turun dari leher ke bahu setelah itu berlanjut ke depan dadanya di mana terdapat dua bukit indah montok miliknya yang amat menantang dan mengundang selera.


Dibalurkannya cukup banyak sabun cair di telapak tangannya ke area tersebut hingga wanginya tercium sangat. Telapak tangannya yang berjari-jari lentik memainkan kedua bukit kenyal miliknya, membelainya, mengusapnya, dan meremasnya disertai pejaman mata dan gigitan kecil di bibir.


Ayu mendesah lalu menjilati bibir ranumnya yang basah, menikmati permainan yang dilakukannya sendiri. Berulang-ulang dilakukannya hingga dirasakannya ada yang berdenyut di sela-sela kedua pahanya di mana kemudian keluar cairan kental putih bening dari situ, dari dalam mahkota paling berharga miliknya yang belum pernah disentuh pria.


Ah… Ayu mendesah. Entah mengapa, bayangan cowok yang siang tadi ditolongnya muncul di benaknya. Wajah tampan dan cool milik Ardian tak bisa dilupakannya begitu saja.


Teringat olehnya, bagaimana tadi dia tak sengaja mendekap Ardian. Dan bagaimana Ardian tak sengaja mendekapnya dalam posisi keduanya terbaring di atas tanah. Lalu saling menatap dengan penuh selera, menyimpan sejuta arti di hati masing-masing yang hanya keduanya bisa mengerti.


Usapan tangan Ayu beranjak dari dada ke bagian pundak lalu punggung dan turun ke bagian paha. Betis dan telapak kakinya juga tak luput dari belaian sabun cair wangi yang menyebarkan aroma lemon kesukaannya.


“Sudah, Yu? Jangan lama-lama, nanti masuk angin,” kata perempuan yang tadi membuka pintu dan sekarang sedang duduk di kursi makan, menunggu Ayu selesai mandi untuk selanjutnya melahap makanan yang disajikannya di atas meja.


Perempuan itu menoleh ke samping, melihat anak gadisnya yang melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Walaupun dulu perempuan itu juga cantik, namun kecantikan putrinya itu melebihinya, karena kata perempuan itu, wajah Ayu adalah perpaduan antara wajah ibunya yang cantik dan bapaknya yang ganteng.


“Lama sekali, Yu, mandinya,” kata perempuan itu.


“Iya, Bu, aku sisiran sebentar setelah itu makan,” kata Ayu sambil berjalan ke kamar tidurnya dan mengambil sisir untuk menyisiri rambutnya yang panjang.


Di depan cermin, saat Ayu menatap wajahnya sendiri di situ, bayangan wajah Ardian kembali muncul. Kali ini, bayangan wajah itu seolah-olah ada di dalam cermin dan sedang tersenyum padanya.


Oh, apa yang terjadi padaku? Apakah aku jatuh hati padanya? kata hati Ayu.


Membayangkan wajah Ardian membuat hati Ayu berdebar, apalagi saat dia teringat bagaimana tadi tubuhnya dan tubuh cowok tampan itu tanpa sekat. Mereka berdua berdempet amat rapat sampai dua benda kenyal padat milik Ayu yang menggiurkan menimpa dada bidang cowok itu.

__ADS_1


Ayu merasa yakin, malam ini dia tak bakalan bisa tidur membayangkan cowok itu. Walaupun kelelahan yang amat sangat mendera tubuhnya, namun pikrannya masih sangat segar dan bersemangat.


Ayu bergegas keluar dari kamar setelah selesai menyisiri rambutnya. Saat dia berjalan menuju dapur, disempatkannya melongokkan kepalanya sejenak ke dalam kamar tidur yang di samping kamarnya. Kamar itu ditempati adiknya, Anjar, yang tampak sedang memainkan gadgetnya.


“Kamu nggak belajar, Njar?” tanya Ayu sambil melihat adiknya melalui kawat nyamuk pintu kamar yang dipasangi sehelai kain, namun di atas kain itu bisa melongok ke dalam.


“Oh, Kak Ayu sudah pulang,” kata cowok remaja itu sambil buru-buru menyingkirkan hp android-nya yang setengah tahun lalu dibelikan Ayu dari gajinya yang disisihkan sedikit demi sedikit.


Hanya untuk membeli hp android seharga 1,5 juta, Ayu harus bekerja berbulan-bulan dan menyisihkan sedikit demi sedikit dari situ untuk bisa mencukupi. Namun Ayu senang bisa membelikan Anjar hp android, karena adiknya itu adalah kesayangan satu-satunya Ayu selain ibunya.


“Iya, Kak, aku belajar sekarang,” sahut Anjar sambil mengambil buku-buku pelajarannya dan mulai membukanya.


Ayu melanjutkan langkah menuju dapur dan duduk di kursi makan, di samping perempuan yang tadi membukakan pintu.


Perempuan itu adalah ibu kandungnya yang melahirkannya ke dunia, membesarkan dirinya dan adiknya dengan susah payah sebagai orangtua tunggal setelah ditinggal pergi suaminya yang tak bertanggung jawab.


Sampai sekarang, perempuan itu tak tahu di mana rimbanya ayah dari kedua anaknya. Karena dia pergi meninggalkan mereka bertiga sepuluh tahun lalu. Barangkali suaminya itu terpikat pada wanita lain sampai tega meninggakan keluarga.


“Makan dulu, Yu,” kata perempuan itu sambil menggeser kursi di sampingnya supaya pas diduduki putrinya.


Ayu duduk di situ dan mulai melahap nasi bersama lauk di atas meja. Karena perutnya sudah lapar, semua makanan yang di atas meja pun habis disantapnya.


Walaupun nafsu makannya besar, namun tubuh Ayu tetap tak bisa gemuk, hanya kelihatan agak montok dan padat. Tubuhnya tampak ideal di mata setiap orang, terutama di mata kaum adam, karena pinggangnya berbentuk gitar spanyol, dadanya montok menyembulkan dua bukit indah yang kelihatan padat dan kenyal, ditunjang paha putih mulus dan betis jenjang yang kesemuanya mengundang selera.


* * *

__ADS_1


__ADS_2