
Bab 42
Shella berjalan mendekati villa yang berada di depannya. Setelah sampai, dimasukkannya kunci ke lubang pintu. Pintu pun terbuka. Begitu juga dengan 2 villa yang lain, Shella melakukan hal yang sama.
Ardian yang berdiri di belakang Shella mengikuti langkah Shella memasuki villa. Di belakang mereka, rombongan para karyawan mengikuti dengan bergerombol. Tampaknya mereka sudah ingin cepat-cepat masuk ke dalam villa untuk meletakkan barang-barang atau tas bawaan mereka dan beristirahat.
Para karyawan itu memilih sendiri satu dari 3 villa yang ingin ditempati. Mereka membagi rombongan menjadi 3 kelompok yang masing-masing menempati 1 villa.
"Kamar Pak Ardian di lantai 3," kata Shella seperti tahu betul denah villa itu. Tak heran Shella tahu karena tahun lalu pas tanggal 31 Desember juga dia pernah ke villa ini bersama Bu Siska dan para karyawan.
Villa yang akan ditempati Ardian bersama para karyawan memiliki 2 kamar. Satu kamar bisa memuat 10 orang. Begitu juga dengan 2 villa yang lain. Dengan demikian 5 kamar memuat 50 orang karyawan dan 1 kamar lagi khusus memuat Ardian sebagai pemilik villa.
Kamar Ardian di lantai 3, sementara kamar para karyawan di lantai 2. Tampaknya Ardian akan bisa tidur nyenyak malam nanti tanpa diganggu suara berisik para karyawan.
Ardian melangkah menaiki tangga sesampainya di dalam villa. Dia mengikuti langkah Shella yang berjalan di depannya. Sesampainya di depan pintu kamar lantai 3, Shella menguakkannya sehingga Ardian bisa melangkah masuk.
"Wah, nyaman sekali kamar ini," kata Ardian sambil berjalan mendekati sofa yang ada di dalam kamar dan duduk di situ. "Hah... leganya," napas panjang Ardian.
"Isi dalam tas Bapak mau dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam lemari?" tanya Shella.
Ardian melirik tasnya. "Nanti aku susun sendiri saja, Shel," jawabnya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya, Pak. Mau taruh tas dan barang-barangku ke dalam kamar lantai 2," pamit Shella.
"Kamu gabung dengan mereka?" tanya Ardian.
"Iya, Pak," jawab Shella. Gabung 1 kamar 10 orang cewek semua. Dan kamar yang di sebelah villa ini juga ditempati masing-masing 2 kamar untuk cowok, dan 2 kamar untuk cewek," jelasnya.
"Ooh...," Ardian manggut-manggut.
"Ohya, Pak. Kamar dan villa ini setiap sudutnya sudah dibersihkan oleh penjaga di sini sebelum kedatangan kita. Jadi Bapak jangan takut debu. Hehe."
__ADS_1
"Memang tak berdebu kok. Sudah bersih dan rapi semua," kata Ardian sambil memandang sekelilingnya.
"Iya, Pak, aku permisi dulu," kata Shella sambil membalikkan badan dan berjalan pergi.
Sekeluarnya Shella, Ardian mengambil baju dan handuk untuk ditukar dengan baju yang sedang dikenakannya. Dia berencana mandi dan ganti baju supaya lebih bersih dan nyenyak tidur malam nanti.
Para karyawan yang sudah masuk ke dalam 3 villa, masing-masing menuju kamar yang mana untuk cowok di lantai 3 dan untuk cewek di lantai 2.
Shella sudah masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar sudah ramai para karyawan wanita yang menyusun tas dan barang-barang mereka.
"Kak Shel," seseorang memanggilnya ketika Shella sedang menyusun tasnya di tempat tidur paling sudut. Masing-masing tempat tidur memuat 3 orang dan di kamar itu ada 3 tempat tidur. Terpaksa yang 1 orang lagi harus tidur di lantai beralaskan tikar.
Shella menoleh. Dilihatnya wajah manis Ayu dengan bola mata bundar dan bulu mata lentik sedang memandangnya.
"Yu?" Shella agak terperanjat, tak menyangka akan sekamar dengan Ayu. "Kamu kok milih kamar ini juga?" tanya Shella. Ada nada curiga di suaranya.
"Kebetulan terpilih kamar yang sama dengan Kak Shella," kata Ayu.
"Waduh, tempat tidur kami kayaknya sudah muat 3 orang semua. Kamu terpaksa tidur di lantai deh nanti," kata Shella bernada menyesal.
"Wah, nggak ada kasur berlebih, Yu. Yang ada cuma tikar. Ini, di sini, mau?" Shella menyambar satu tikar berukuran kecil dan tipis untuk diberikannya pada Ayu.
"Tipis sekali tikarnya, Kak Shel," kata Ayu setelah membuka tikar itu.
"Oh, kalau mau tikar yang tebal, kamu pindah ke villa sebelah saja. Kayaknya di sana ada deh," kata Shella.
"Tapi sana pasti sudah penuh terisi juga, Kak," kata Ayu.
"Ya siapa suruh kamu pilih kamar yang salah," Shella menaikkan bahu sambil mengembangkan dua telapak tangan yang artinya tidak tahu atau apa boleh buat.
"Baiklah, Kak Shel," kata Ayu akhirnya.
__ADS_1
Ayu menaruh tasnya di tepi kamar dekat dinding. Setelah itu dia pun keluar dari kamar dan turun ke lantai 1. Tampaknya dia harus mulai membantu kesibukan di dapur di mana tampak beberapa karyawan cewek mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak buat makan malam bersama nanti. Ada sate ayam yang siap dipanggang juga malam nanti, menemani acara old and new yang diisi dengan bergadang dan nyanyi bersama.
"Hai, nggak pernah nampak kamu sebelumnya?" sapa seorang karyawan cewek yang melihat Ayu datang ke dapur itu dan membantu pekerjaan mereka.
"Iya, aku cleaning service yang bekerja di proyek yang di luar kota," jawab Ayu sambil tersenyum.
"Oh, kamu bukan karyawan bagian kantor perusahaan toh?" reaksi si karyawan cewek.
"Bukan, Kak," jawab Ayu.
"Sini, kamu bantu goreng ayam yang ada di dalam kotak ini," katanya pada Ayu. "Sementara aku masak nasi."
Setelah berkata begitu, si karyawan cewek pun mendekati kaleng sedang berisi beras yang dibawanya dari rumah. Dia mengambil beras 5 muk dari situ dan memasukkannya ke dalam wadah rice cooker. Dicucinya beras 5 muk yang cukup untuk dimakan 10 orang itu malam nanti.
Ayu memanaskan kuali di atas kompor, menaruh minyak goreng secukupnya, dan mulai menggoreng potongan-potongan ayam dalam kotak yang dibawa para karyawan dari rumah. Tentunya mereka membeli itu semua dengan uang kas perusahaan.
Masing-masing karyawan dibagi tugas, ada yang bertugas membeli beras sekian kilo dan membawanya ke villa. Ada yang bertugas membeli ayam, membuat sate, membeli minyak goreng, kecap, garam, atau bumbu masakan lainnya. Semua itu setelah dibeli harus dibawa ke villa oleh masing-masing yang ditugaskan.
"Pak Ardian tidur di kamar paling atas ya?" tanya seorang karyawan cewek pada temannya.
"Iya, Pak Ardian diberi 1 kamar khusus yang ditempatinya seorang diri padahal kamarnya itu bisa muat 10 orang. Haha."
"Wah, nggak adil nih. Masa kita 10 orang 1 kamar harus bersempit-sempit ria sementara Pak Ardian enak-enakan tidur lapang di dalam 1 kamar?"
"Namanya juga anak boss dan pemilik villa. Ya pantaslah 1 kamar khusus."
"Iya juga ya."
"Hush, menggosip jangan keras-keras, entar kedengaran Pak Ardian gajimu diturunkan baru tahu rasa," seorang teman mereka datang mendekat, memberi peringatan dengan nada bercanda.
Mereka bertiga tertawa sambil melanjutkan tugas memasak di dapur.
__ADS_1
Ayu hanya melakukan pekerjaannya sambil memasang telinganya mendengar gosip yang dilontarkan ketiga karyawan cewek itu.
* * *