
Bab 80
Ayu tersenyum lega. Wajahnya yang manis terlihat makin manis dengan seulas senyum lega. Senyum gembira yang benar-benar terpancar dari dalam hati.
Ibu Ayu melihat Ayu keluar dari kamar dengan hati-hati. Sepertinya Ayu akan memberi kejutan pada Ardian yang sedang menunggunya.
"Selamat siang, Pak Ardian. Sori menunggu," Ayu muncul di ruang tamu dengan seulas senyum manis.
Ardian mengangkat kepalanya dan melihat Ayu yang barusan muncul. Alis matanya terangkat, matanya membesar. Diperhatikannya gadis belia di depannya yang tampak lain dari biasanya.
Kalau biasanya gadis itu selalu tampak cantik, manis, dan menawan dengan dandanan ala kadarnya, maka sekarang dia tampak jauh lebih cantik lagi, lebih manis, dan lebih menggoda. Wow!
Srrr... Ardian menahan desiran halus di hatinya melihat blus dan rok serba ketat dan minim yang dikenakan Ayu. Matanya mau tak mau tertuju pada belahan dada rendah dari blus ketat itu. Dua buah gunung kembar yang amat kenyal dan padat menyembul jelas dan kelihatan berukuran XL, siap menggoda minat setiap laki-laki normal seperti Ardian.
"Kamu... cantik sekali hari ini, Yu," Ardian tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya melihat keanggunan dan keranuman Ayu. Polesan wajahnya walaupun lengkap namun tak terlalu tebal. Blus dan rok ketat sepadan yang dikenakannya membuatnya terlihat makin menawan dan menggoda.
"Ah, masa sih, Pak?" Ayu tersipu malu sambil menundukkan wajahnya yang merona merah.
"Iya, Yu. Kita berangkat sekarang ya?" tanya Ardian lalu bangkit dari duduknya.
Ayu mengangguk. Melihat Ardian yang tak biasa berlama-lama di rumah orang pun, Ayu memakluminya. Karena itulah dia setuju untuk segera berangkat.
Ayu melihat kemunculan ibunya di ruang tamu. Dia memperhatikan sekali lagi sosok Ardian seolah ingin memastikan kalau putrinya aman bersama cowok itu.
__ADS_1
"Ini ibumu ya, Yu?" tanya Ardian memastikan walaupun tadi dia sudah berjumpa dengan wanita berusia 40-an itu saat membukakan pintu untuknya.
"Iya, Pak Ardian. Ini ibuku. Kenalan sekali lagi, Pak," Ayu mengedipkan mata pada ibunya yang sedang berdiri menatap mereka.
Ibunya maju dua langkah. Ardian pun maju dua langkah. Lalu mereka bersalaman sambil memperkenalkan diri.
"Mau jalan-jalan ke mal ya, Nak Ardian?" ibu Ayu bertanya ramah sambil terus mengulas senyum.
"Iya, Bu. Mau ngajak Ayu temani saya jalan-jalan ke mal, makan, nonton, shoping baju."
Kata-kata yang diucapkan Ardian sama dengan yang diucapkan Ayu. Karena itu ibu Ayu pun mengangguk memberi izin, "Iya, berangkatlah. Entar keburu sore."
Ardian mengangguk sopan lalu melangkah menuju pintu. Ayu mengikuti di belakangnya setelah pamit pada ibunya. "Kami berangkat dulu ya, Bu. Ibu mau dibelikan apa nanti?" Ayu teringat.
"Beres, Bu," Ayu mengedipkan sebelah mata lalu buru-buru menyusul langkah Ardian yang sudah berada di halaman rumah.
Pemuda itu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Demikian juga Ayu. Sedangkan ibunya berdiri memperhatikan di dekat pintu.
Dilihatnya mobil mewah yang kelihatan mahal itu bergerak menjauh setelah memutar arah. Wanita itu pun menghela napas panjang dan masuk ke rumah. Semoga saja Ayu bisa jaga diri, batinnya. Karena kalau melihat dandanan putrinya itu memang akan sulit bagi pria mana pun tak tergoda apalagi bila dibiarkan berdua. Semoga benar mereka hanya ke mal saja, tidak singgah ke tempat lain yang mencemaskan, harapnya.
Mobil yang dikendarai Ardian meluncur mulus di jalan raya setelah keluar dari gang rumah Ayu. Ardian menyetirnya perlahan sambil beberapa kali mencuri pandang pada Ayu yang duduk di sampingnya.
Dilihatnya wajah gadis belia itu terlihat senang. Matanya yang bulat, besar, terang, dan bercahaya sangat mengagumkan setiap pria. Termasuk Ardian yang tak henti-hentinya mengagumi kecantikan Ayu hari ini. Apalagi Ardian juga mengenali Ayu sebagai seorang gadis yang berkarakter baik dan berdedikasi tinggi pada pekerjaan.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan ini tidak mengganggumu kan?" tanya Ardian memancing bahan pembicaraan.
"Mengganggu gimana, Pak?" tanya Ayu polos.
"Ya... misalnya sebenarnya kamu ingin istirahat di rumah saja hari Minggu karena kan sudah lelah kerja seharian selama enam hari. Terus besoknya harus mulai kerja lagi," terang Ardian.
"Nggak kok, Pak," Ayu menggeleng. "Aku malah senang diajak Pak Ardian jalan-jalan," jujurnya.
Ups! Kenapa pula dia bisa membocorkan rahasia dengan terus terang begini? Memalukan! Ayu menunduk sedikit karena jengah.
Ardian tertawa kecil. Dia senang jawaban Ayu seperti itu. Ayu memang selalu tahu apa yang diinginkannya. Gadis belia itu pintar sekali mengambil dan menyenangkan hati orang.
Ardian lupa bertanya apakah sebelumnya.Ayu sudah ada rencana alias janji dengan orang lain tepatnya cowok lain untuk pergi berdua seperti ini? Mana tahu Ardian mengganggu rencana mereka? Ardian sama sekali tak terpikirkan hal itu karena mengira Ayu masih sendirian alias belum punya gandengan.
Seandainya saja cowok itu tahu kalau demi bisa pergi berdua dengan boss-nya hari ini, Ayu telah membatalkan rencananya dengan Willy yang mana mereka sudah janjian hari Minggu lalu untuk ke tempat wisata yang baru dibuka di luar kota. Pembatalan rencana itu tentu saja msmbuat Willy sang pacar sangat kecewa. Ayu tidak memberikan alasan apa pun, hanya membatalkan saja disertai larangan berkunjung ke rumahnya hari ini.
Walaupun kecewa dan heran, namun Willy tak berani bertanya apa alasannya pada gadis yang amat dicintainya itu. Willy memahami sifat Ayu yang tak suka dikekang atau ditentang, apalagi dicurigai dan diinterogasi. Bisa marah nanti dia.
Karena itulah Willy terpaksa baik-baik berada di rumah seperti pesan Ayu. Cowok itu bahkan diingatkan Ayu untuk tidak keluyuran ke mana-mana. Gadis itu berkata jika Willy keluyuran dia pikir hendak mencari pacar lain. Spontan saja Willy kaget bukan kepalang menerima keraguan itu. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan sekaligus menghindari sanksi yang mungkin diberikan Ayu, Willy pun menuruti pesan gadisnya itu.
Ternyata gadis yang dipacarinya selama bertahun-tahun ini dan enggan pernah dicurigainya itu memutarbalikkan fakta. Dia bersenang-senang dengan cowok lain sekarang sementara pacarnya di rumah. Sebagai seorang laki-laki, Willy terlalu polos dan percaya pada perempuan secerdik Ayu. Cintanya yang tak terbatas pada Ayu telah membuat Willy percaya sepenuh hati pada gadis itu yang dikiranya tak akan mungkin tega berbohong padanya. Tapi apa mau dikata, ternyata gadis itu tega. Itulah kelemahan atau kekurangan gadis yang tampak nyaris sempurna dalam hal fisik itu. Hatinya tak berperasaan pada orang yang sangat mengasihinya.
* * *
__ADS_1