Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Berkunjung ke Rumah Ayu


__ADS_3

Bab 79


Minggu siang yang dijanjikan.


Mobil Ardian parkir di halaman rumah Ayu. Dia melangkah turun setelah memastikan itu memang rumah Ayu seperti yang tertulis di kertas. Alamat rumah yang diminta Ardian seminggu lalu supaya dia bisa berkunjung ke sini dan membawa Ayu jalan-jalan.


"Tok-tok-tok," Ardian mengetuk pintu rumah Ayu tiga kali sembari memanggil namanya, "Yu... Ayu...!"


Tak terdengar sahutan dari dalam. Ardian menunggu sebentar lagi sebelum mengetuk dan memanggil ulang, "Ayu...!"


Bunyi-bunyi tapak kaki terdengar di belakang pintu lalu pintu pun dibuka dari dalam.


Ardian mengatur napas sesaat sebelum mengucapkan salam pada wanita berusia 40-an yang membuka pintu. "Selamat siang, Bu. Saya Ardian, mau mencari Ayu. Apakah Ayu ada di rumah, Bu?"


Wanita berusia 40-an yang ternyata ibu Ayu itu membelalakkan mata menatap Ardian. Dia terpesona pada sosok muda berwajah sangat tampan dan bertubuh tinggi atletis yang sedang menatapnya. Sosok muda yang berdiri di depannya ini bukan saja sangat tampan dan tinggi, tapi juga sopan dan menyenangkan. Itulah kesan pertama ibu Ayu terhadap Ardian.


"Iya. Selamat siang juga. Kamu mau bertemu Ayu ya, Nak... Ardian?" sambut wanita itu yang memperhatikan Ardian dengan seulas senyum ramah.


"Iya, Bu. Ayu-nya ada, Bu?" tanya Ardian dengan suara lembut dan sopan.


Tumben, Ardian sanggup bersikap sopan di hadapan ibu Ayu, padahal biasanya dia tak begitu peduli atau malah bersikap ketus pada orang yang belum dikenalnya.


"Ada, Nak. Kamu temannya ya? Masuklah," ibu Ayu menguakkan pintu lebih lebar. Walaupun agak heran ada seorang cowok tampan dan tinggi mencari anak gadisnya, namun dia tetap mempersilakannya masuk karena yang bersangkutan datang bertamu dengan sopan.


Ibu Ayu menyingkirkan rasa herannya karena ada cowok lain yang datang ke rumahnya mencari Ayu selain Willy. Karena wanita itu jelas tahu Willy adalah pacar anaknya yang mengantarjemputnya sehari-hari. Bahkan dia mengenalnya betul karena sudah berpacaran dengan anaknya semenjak SMA.

__ADS_1


Willy juga sopan, baik, dan tampan. Namun kalau dibandingkan dengan pemuda yang bernama Ardian ini, dia masih kalah jauh baik dalam segi fisik maupun latar belakang. Lihat saja, kendaraan yang dibawanya bertamu ke rumah Ayu pun mobil mewah yang tampak sangat mahal harganya.


Namun, tidak boleh menilai orang terlalu cepat hanya melihat dari kulit luarnya saja. Masih harus menyelami dulu sendiri orang tersebut supaya bisa mengenalnya dan memahaminya lebih dalam. Belum tentu isi dalamnya juga sebagus kulit luarnya kan?


Ardian melangkah memasuki rumah petak yang tampak sangat sederhana itu. Setidaknya bagi Ardian yang sudah terbiasa tinggal di villa besar mewah dengan segala fasilitas mahal dan isi dalam yang juga eksklusif.


Namun kalau mengingat kembali masa kecilnya sebelum berusia 10 tahun ke atas, Ardian pernah tinggal di rumah petak sederhana seperti ini juga sewaktu di Tanjungbalai. Itulah rumah masa kecilnya yang bersebelahan dengan rumah Nia yang terletak di ujung gang kawasan S. Dengki. Di bawah lantai rumahnya adalah sungai Asahan. Ujung gang itu juga adalah tepi sungai Asahan yang terkenal. Nia dan Ardian sering berenang bersama di sungai itu.


"Silakan duduk, Nak Ardian," ibu Ayu mempersilakan Ardian duduk di kursi yang ada di ruang tamu. "Sebentar ya, Nak. Aku panggilkan Ayu dulu," senyumnya lalu bergegas ke belakang.


"Yu, ada yang mencarimu tuh, namanya Ardian," wanita itu masuk ke dalam kamar, melihat putrinya yang masih sibuk merias wajahnya.


Tadi dia sempat heran di kamar melihat putrinya berpakaian sangat anggun dan seksi. Apalagi melihat Ayu sibuk berdandan lalu mematut-matut dirinya di depan cermin. Tak biasanya Ayu begitu. Sehari-harinya dia lebih suka berpakaian sederhana tanpa polesan apa-apa. Kalaupun keluar jalan-jalan bersama Willy, hanya akan memakai lipstik tipis dan berdandan ala kadarnya saja. Ini kok istimewa luar biasa. Bahkan pakai minyak wangi segala.


Wanita itu menahan napas melihat putrinya yang biasanya tampil sederhana dengan dandanan ala kadarnya sekarang tampil beda dengan dandanan bak bintang film yang hendak pergi ke lokasi syuting.


"Kok begini kamu dandannya hari ini, Yu?" ibunya tak mampu menahan rasa ingin tahunya melihat perubahan drastis dalam berpakaian dan berdandan putri satu-satunya itu.


"Emang kenapa, Bu?" Ayu membalikkan badan menatap ibunya.


"Lain sekali dandananmu hari ini. Lagian tadi kamu bilang mau keluar jalan-jalan sama yang di depan itu. Kok Ibu belum pernah melihatnya sebelum ini? Willy tahu nggak, Yu? Willy kenal dia juga?" ibu Ayu terus menginterogasi putrinya.


"Jangan sebut nama Willy di depan Pak Ardian, Bu. Tolong, Ibu bisa mengerti posisi Ayu yang serba sulit ini kan?" Ayu memohon dengan tatapan mata memelas ke wajah ibunya.


"Sulit? Maksudmu, Yu?" ibunya tak mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Yang di depan itu Pak Ardian, Bu. Boss-ku. Anaknya big boss, pemilik perusahaan tempat Ayu bekerja. Dia meminta Ayu menemaninya jalan-jalan hari ini karena suntuk. Nggak mungkin kan Ayu menolaknya, Bu?" gadis itu memasang mimik wajah tak berdaya, seperti merasa terpaksa.


"Kenapa harus kamu yang diajak, Yu? Dia tak punya teman cewek lainkah?" ibunya masih heran.


"Nggak tahu, Bu. Barangkali karena Ayu yang dirasa cocok oleh Pak Ardian," Ayu mengangkat bahu.


"Lalu kalian mau ke mana? Kalau ketahuan Willy gimana?" ibunya.masih sangsi.


"Cuma jalan-jalan ke mal, Bu. Katanya mau makan, nonton, shoping baju," jelas Ayu menirukan kata-kata yang diucapkan Ardian seminggu lalu.


"Kalian berdua saja perginya, Yu?" ibunya menyelidik. "Tidak bareng teman-temannya yang lainkah?"


Ayu mengangguk. "Iya, Bu. Hanya berdua saja."


Ibunya menarik napas panjang. Rasanya memang agak berat mengizinkan putrinya pergi berdua saja dengan laki-laki yang baru dikenalnya hari ini. Ibunya sulit percaya pada laki-laki lain selain pada Willy, pacar Ayu yang sudah dikenalnya selama ini.


"Boleh ya, Bu, Ayu pergi jalan-jalan sama Pak Ardian?" pinta gadis itu dengan sorot mata penuh harap.


"Tapi kenapa harus berdandan seperti ini?" ibunya memperhatikan pakaian yang dikenakan putrinya itu berikut riasan wajahnya yang agak berlebihan dari biasanya.


"Ibu... sekali-sekali berdandan begini kan nggak apa-apa, Bu. Soalnya Ayu mau pergi sama Pak Ardian naik mobil mewah. Sama boss memang harus bisa menyesuaikan diri dong, Bu. Supaya cocok situasi kondisinya. Klop gitu lho, Bu. Boleh ya, Bu?" pinta Ayu sekali lagi.


Setelah berpikir belasan detik, ibunya mengangguk diringi sebuah helaan napas panjang.


* * *

__ADS_1


__ADS_2