Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Teman Semasa SMA


__ADS_3

Bab 33


Bu Rani dan Nia duduk di ruang makan. Nia sudah memasak bubur untuk ibunya dengan lauk ikan teri dan telur asin. Bu Rani melahap sarapan paginya dengan tergesa, seolah perutnya sudah sangat lapar.


"Biar Nia bantu Ibu," kata Nia saat melihat ibunya agak kecapekan menyendok bubur di mangkuk.


Bu Rani pun membiarkan Nia menyuapinya sesendok demi sesendok bubur ke dalam mulutnya.


Selesai makan, Nia mencuci mangkuk dan duduk sebentar di kursi makan menemani Bu Rani.


"Sebentar lagi Nia harus ke pajak, Bu. Membeli beberapa kebutuhan kita yang sudah habis," katanya.


Bu Rani terbatuk-batuk. "Uhuk-uhuk-uhuk. Simpanan uang kita masih cukup, Nia?" tanya Bu Rani dengan suara lemah.


"Masih, Bu. Nia irit memakainya," jawab Nia berusaha tersenyum. Walaupun sebenarnya simpanan mereka sudah hampir habis.


Uang simpanan yang ditabung dari hasil keringat almarhum papa Nia selama ini, dalam setengah tahun belakangan terus-menerus diambil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bayangkan, bila uang simpanan terus-menerus diambil tanpa pernah ditabung kembali, berapa pun banyaknya akan habis juga.


Selama setengah tahun ini Nia tak bisa keluar rumah kerja karena ibunya yang sakit tak mungkin ditinggal seharian di rumah tanpa ada yang mengurus. Kalau ditinggal sebentar untuk ke pajak ya bisalah. Karena itulah mereka terpaksa menggunakan uang simpanan almarhum papa Nia untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.


"Nak Ardian bagaimana kabarnya, Nia? Kenapa sudah berbulan-bulan tak pernah lagi telepon ke sini?" tanya Bu Rani.


Nia menelan ludah, tak tahu menjawab apa. Memang selama 2 bulan terakhir Ardian sama sekali tak pernah lagi menghubunginya. Padahal sewaktu Nia baru balik ke Tanjungbalai, cowok itu masih rajin meneleponnya lewat WA. Kalaupun tidak, Ardian akan mengirimkan chat menanyakan kabar Nia dan ibunya di Tanjungbalai.


Namun semenjak 2 bulan lalu, chat dan panggilan dari Ardian sama sekali terhenti. Apakah karena Ardian mulai bosan menanyakan kabarnya?


Nia kadang berpikir hendak menyapa Ardian duluan, namun 2 bulan lalu Nia dengar dari cowok itu kalau dia akan mulai menangani perusahaan. Jadi pasti sangat sibuk sampai tak punya waktu menghubungi Nia. Atau pun kalau ada waktu, itu pastilah waktu untuk istirahat karena sudah lelah bekerja. Nia tak pernah berani mengusik cowok itu karena dia tahu jelas temperamennya Ardian.


"Ardi sibuk di kantor, Ma," kata Nia asal menebak. Hatinya agak sedih saat mengucapkan kalimat itu. Benaknya pun berpikir, apakah sedemikian sibuknya cowok itu sampai tak punya waktu sama sekali untuk menanyakan kabarnya selama 2 bulan ini?


"Kamu nggak telepon tanya kabarnya, Nia?" saran Bu Rani. "Mana tahu dia sedang menunggu teleponmu?"

__ADS_1


Nia tersenyum getir. "Nggak usahlah, Bu. Nia tak mau mengganggu, mungkin dia lagi sibuk sekali karena kan harus ngantor tiap hari. Mengurus perusahaan papanya yang besar, bukan hal mudah, Bu," jawab Nia menjelaskan.


"Jangan sampai Nak Ardian disambar orang atau terpikat pada gadis lain, Nia, karena Nak Ardian pemuda yang baik dan Ibu pun sudah kenal baik dengannya dulu. Dia teman masa kecilmu. Kalian kenal akrab dan sudah memahami satu sama lain. Sayang kalau terputus begitu saja," kata Bu Rani panjang lebar.


Setelah berkata begitu, Bu Rani merasa dadanya capek. Lihatlah, untuk bicara agak panjang lebar sedikit saja dia sudah merasa lelah, bagaimana mungkin Nia meninggalkan ibunya itu, tak merawat atau tak mengurusnya.


"Nia ke pajak sebentar ya, Bu. Ibu mau istirahat di kamar?" tanya Nia mengalihkan pembicaraan soal Ardian.


Bu Rani mengangguk. Nia pun kembali memapah ibunya untuk masuk ke dalam kamar tidur.


Nia membantu ibunya berbaring di ranjang lalu berkata, "Nia tinggal sebentar ya, Bu."


Bu Rani mengangguk. Dia melihat tubuh putrinya itu menghilang dari pandangan di balik pintu kamar.


Nia mengambil uang simpanan di laci lemari yang tinggal sedikit. Entah bagaimana lagi dia dan ibunya harus melanjutkan hidup kalau terus begini? Ah, biarlah, usah dipikirkan terlalu banyak. Selagi masih bernapas, selalu ada harapan, tekad Nia memberi semangat pada dirinya sendiri.


Nia berjalan keluar dari rumah papan yang didirikan di atas hamparan air sungai Asahan itu. Rumah sederhana yang terletak di ujung gang.


Karena ibunya tak bisa ditinggal lama-lama sendirian di rumah, Nia pun berjalan agak tergesa-gesa supaya bisa segera sampai di pajak, membeli segala keperluan dan bergegas pulang ke rumah.


Nia sudah sampai di pajak sekarang. Dengan mengirit waktu, dia membeli satu per satu bahan masakan yang kurang, seperti bawang, tomat, cabai, dan jahe. Lalu beberapa macam lauk seperti ikan yang bisa disimpan di freezeer untuk waktu agak lama. Nia membeli sekilo ikan dencis yang berjumlah belasan ekor. Lalu dia juga membeli sayur mayur untuk disimpan beberapa hari di kulkas.


Setelah membeli semuanya, Nia bermaksud hendak segera pulang. Namun tiba-tiba dia ingat kecap dan garam di rumah hampir habis. Ah, sekalian saja beli, pikirnya lalu berjalan memasuki sebuah kedai sembako yang terletak di sekitaran pajak.


Nia masuk ke dalam dan berkata pada ibu penjual di kedai itu. "Kecap asin sebotol kecil dan garam sebungkus ya, Bu."


Sementara ibu yang menunggui kedai mengambil pesanan, Nia menunggu dengan gelisah karena terpikirkan ibunya sendirian di rumah pasti sedang menunggunya.


"Nia...!" suara seorang cowok tiba-tiba terdengar di samping telinganya.


Nia menoleh ke samping dan agak kaget mendapati seseorang yang dikenalnya sedang berdiri di sampingnya sambil menatapnya dengan bola mata yang membesar. Tampaknya dia baru keluar dari ruangan dalam kedai itu.

__ADS_1


Cowok itu lumayan tinggi dan atletis. Wajahnya juga lumayan ganteng walaupun tidak seganteng Ardian.


"Riko?" dalam sekejap Nia bisa mengenali cowok itu yang ternyata adalah bekas teman sekolahnya dulu. Mereka sekelas di SMA dan duduk berdekatan di barisan depan.


"Iya, aku Riko, teman sekelasmu dulu. Tak disangka bisa ketemu lagi setelah 3 tahun. Kudengar kabarnya kamu kuliah di Medan setamat SMA. Kenapa bisa di sini, Nia? Kuliahmu sudah selesai?"


"Belum," jawab Nia sambil berusaha tersenyum. "Aku sedang balik ke sini menjaga ibuku yang sakit," jelas Nia. "Kamu sendiri kok bisa di sini, Riko?" tanya Nia.


"Ya di sini karena ini rumahku. Masa kamu nggak tahu, Nia? Padahal kita sudah berteman 3 tahun di SMA, loh." terang Riko sambil tertawa kecil.


"Iya... aku nggak tahu, Riko. Sori... sori...," jawab Nia agak malu.


"Ya nggak apa-apa. Kamu sedang belanja ya? Ohya, ini ibuku," Riko mengenalkan ibu penjaga kedai yang sudah mengambilkan barang pesanan Nia dan menaruhnya di atas kaca etalase kedai.


"Selamat pagi, Bu. Salam kenal. Saya Nia," katanya sambil mengulurkan tangan.


Ibu penjaga kedai menyalami tangan Nia. Dia tersenyum penuh arti dan menatap Nia dengan mata berbinar. "Nak Nia ya? Anakku Riko sering cerita tentang kamu dulu," katanya.


"Ah, iyakah?" Nia agak tersentak mendengar bocoran rahasia yang diungkapkan ibu Riko.


"Iya loh, dia suka sekali cerita tentang kamu dulu. Bahkan hingga kini..."


"Ibu... jangan bocorin rahasia Riko, dong," kata cowok itu sambil menahan semburat merah di pipinya.


Ah, ibu ini, desis hati Riko. Bisa-bisa ketahuan rahasianya selama bertahun-tahun ini, kalau semenjak SMA Riko sudah sangat menyukai Nia namun tak berani mengungkapkan perasaannya yang terpendam diam-diam.


Bahkan setamat SMA Riko pernah mencari Nia ke rumahnya, tapi ibunya bilang Nia sedang kuliah di Medan. Hingga Riko memendam kerinduan yang tiada tara. Tak disangka hari ini Riko bisa bertemu tak sengaja dengan Nia di sini, di rumahnya.


Cerita baru antara dirinya dan Nia akan dimulai hari ini dan berawal dari sini.


Ditunggu kelanjutannya ya... 😁

__ADS_1


* * *


__ADS_2