Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Pertemuan Tak Sengaja Riana dan Willy


__ADS_3

Bab 94


Willy memberhentikan motornya di depan kafe "Yummy-yummy". Maksudnya hendak membeli sekotak nasi ayam seperti pesanan Santi, anak gadis boss-nya.


Sehari-harinya Willy bekerja di panglong "Makmur" yang menjual pasir, semen, kerikil, batu bata, kayu, cat, paku, dan bahan-bahan bangunan lain.


Semenjak tamat SMA Willy sudah bekerja di situ. Dia tak melanjutkan kuliah karena ketiadaan biaya. Willy berasal dari keluarga sederhana dengan seorang ibu dan tiga adik perempuan.


Tadi anak gadis boss-nya di panglong berpesan pada Willy untuk dibelikan nasi ayam di kafe "Yummy-yummy" yang baru dibuka sebulan lalu. Konon nasi ayam di kafe itu sangat enak dan terkenal. Karena itulah saat Willy hendak keluar menagih piutang dari langganan, anak gadis boss-nya nitip dibelikan nasi ayam berhubung arah yang ditempuh Willy juga pas lewat sana.


Kafe yang baru dibuka sebulan lalu itu tampak ramai. Puluhan pengunjung duduk di meja tamu menikmati makan siang mereka. Tapi ada juga pengunjung yang membeli untuk dibawa pulang alias ditaruh di kotak nasi.


Willy melangkah mendekati meja tinggi tempat pengunjung memesan makanan. Ada seorang karyawan cewek yang bertugas di sana. Karyawan itu menyebutkan harga yang harus dibayar Willy untuk seporsi nasi ayam. Willy pun membayarnya dan berdiri menunggu.


Sambil menunggu pesanannya datang untuk dibawa pulang, Willy melihat-lihat ke sekeliling. Kafe itu hampir penuh oleh pengunjung. Hanya tersisa 2 meja lagi yang berukuran 1 X 1 meter untuk 4 orang.


Matanya secara tak sengaja memandang ke arah pintu masuk. Secara tak sengaja pula dia melihat seorang gadis berpakaian kantor masuk ke dalam kafe lewat pintu kaca.


Willy menajamkan mata. Sepertinya dia mengenali gadis itu. Bukankah itu Riana, teman sekelasnya Ayu sewaktu di SMP? Willy memperhatikan lagi dengan lebih teliti. Iya, betul. itu memang Riana yang satu sekolah dengannya dulu cuma tak sekelas dengannya.


Kenapa bisa kebetulan begini bertemu Riana di sini padahal malam tadi Ayu baru mengungkit namanya.Tiba-tiba Willy ingat pesan Ayu untuk tidak berbicara dengan Riana bila mereka bertemu secara tak sengaja. Willy ingat dulu Riana menaruh hati padanya. Karena itu mungkin Ayu bermimpi buruk Riana datang merebut Willy darinya.


Riana berjalan menuju arah Willy. Sepertinya dia akan memesan makanan juga di meja tinggi yang mana Willy berdiri di sampingnya.


Gawat! kata hati Willy. Riana menuju ke arah sini, dia pasti akan melihatku segera. Aduh, gimana cara menghindar supaya tak terlihat olehnya? Karena Willy ingat pesan Ayu malam tadi untuk segera menghindar bila bertemu Riana.


Willy menundukkan kepalanya dan berjalan menjauh dari meja tinggi itu. Dia pura-pura berdiri di dekat dinding kaca transparan dan memandang keluar seolah-olah sedang memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang.

__ADS_1


Riana sampai di meja tinggi itu saat Willy sudah menjauh. "Mau tanya menu di sini apa saja ya?"


Walau sudah agak jauh berdiri namun Willy mendengar suara Riana bertanya pada karyawan cewek yang duduk di belakang meja tinggi.


"Ini dia menunya, Kak," karyawan cewek itu menyodorkan pada Riana daftar menu di kafe "Yummy-yummy".


Riana melihatnya beberapa saat sebelum memesan nasi ayam dua piring karena kata teman-temannya yang pernah berkunjung ke kafe ini, nasi ayamnya paling lezat.


Riana melihat-lihat di mana kiranya ada meja kosong yang bisa didudukinya bersama Randy nanti karena dia sudah janjian dengan Randy akan makan siang bersama di kafe ini.


Oh, itu dia, masih ada sisa 2 meja kosong di situ. Dengan menghela napas lega Riana berjalan menuju meja itu dan duduk di sana. Sementara Willy yang tahu Riana sudah duduk di belakang meja, berjalan balik menuju meja tinggi tempat pemesanan makanan.


"Pesananku sudah siap, Dek?" tanyanya pada karyawan cewek yang menunggui meja itu.


"Oh, tadi Abang pesan nasi ayam 1 kotak ya?" tanyanya.


"Ini, kebetulan baru siap," dia meraih sekotak nasi ayam yang masih hangat dan dimasukkannya ke dalam kantongan plastik ber-merk kafe "Yummy-yummy".


Willy menerima bungkusan berisi nasi ayam itu dan bermaksud segera pergi. Dia ingin meninggalkan kafe itu secepat mungkin supaya tak bertemu atau berpapasan dengan Riana.Tentunya dia harus berjalan cepat sambil menyembunyikan atau menundukkan wajah supaya Riana tak melihatnya. Namun mujur tak dapat ditolak untung tak bisa diraih.


Riana yang sedang duduk menunggu di meja sedari tadi mengedarkan pandangan ke setiap sudut kafe. Dia ingin melihat lebih teliti desain kafe itu dan pengunjung-pengunjungnya.


Tak disangka, matanya tiba-tiba melihat sosok seorang pemuda yang sangat familiar baginya. Walaupun pemuda itu berjalan ke arah pintu keluar sambil menundukkan wajah namun Riana mengenalinya. Tak mungkin dia tak bisa mengenali Willy yang dulu sangat disukai olehnya. Pemuda itu menolaknya walaupun Riana mengejar-ngejarnya.


"Hei, Willy! Willy!" panggil Riana spontan saat pemuda itu berjalan melewati tempat duduk Riana.


"Wil! Willy!" Riana terus memanggilnya namun pemuda itu seolah tak mendengar dan terus berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


Lho, apa Willy tak mendengar panggilanku? pikir Riana heran. Barangkali karena suasana kafe yang sangat ramai dan lumayan bising jadi Willy tak bisa mendengar panggilan Riana.


Aduh, Willy malah keluar dari pintu kaca dan menuju sepeda motornya yang diparkir di halaman kafe.


Tak ada cara lain, Riana pun bangkit mengejarnya dengan berjalan cepat keluar dari pintu kaca. "Wil! Willy! Ini aku, Riana!"


Riana sudah berhasil menyusul Willy dan sekarang berdiri di samping sepeda motornya. "Wil, kamu masih ingat aku kan? Aku Riana, teman satu sekolah denganmu. Aku sekelas dengan Ayu dulu. Kamu ingat kan Wil?" Riana bicara dengan suara keras supaya bisa mengalahkan suara bising kendaraan yang berlalu lalang.


Mau tak mau Willy terpaksa mengangkat kepalanya menatap Riana karena gadis itu sudah memanggilnya berkali-kali dan mengajaknya bicara. Kalau tak membalasnya akan dirasa sangat aneh. Aku akan bicara dengannya seperlunya saja, kata Willy dalam hati.


"Oh... Riana?" Willy pura-pura teringat.


"Betul, Wil. Aku Riana! Syukurlah kamu masih ingat aku. Gimana kabarmu?" Riana tersenyum senang sambil matanya tak lepas memandang Willy.


"Iya, baik," jawab Willy lalu memakai helm-nya dan bersiap-siap menjalankan motornya.


"Lho, Wil. Kamu sudah mau pergi? Ngobrol dulu dong sebentar," tahan Riana.


"Aku harus kerja. Sori buru-buru," Willy menghidupkan mesin motornya.


"Setidaknya kasih tahu dulu dong di mana kamu kerja? Kalau aku di kantor ekspedisi "Lintas Jaya Pulau" yang di dekat sini," Riana menunjuk ke arah kanan.


Willy hanya melihat sekilas arah yang ditunjuk Riana, setelah itu dia mulai menjalankan motornya.


"Eh, Wil. Aku bertemu dengan Ayu kemarin!" teriak Riana saat motor Willy bergerak menjauh. Entah Willy mendengarnya atau tidak Riana nggak tahu karena pemuda itu sudah pergi meninggalkan halaman kafe, meninggalkan Riana yang masih penasaran seorang diri.


* * *

__ADS_1


__ADS_2