Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Perkenalan Nia dengan Hansen


__ADS_3

Bab 17


“Hai…,” sebuah suara menyapa di sampingnya saat Nia sedang asyik melihat jari-jarinya sambil melamun.


Nia mengangkat kepalanya, menoleh ke samping. Dilihatnya, seorang mahasiswa cowok barusan duduk di kursi yang ada di sampingnya sambil melempar seulas senyum.


Cowok itu berkacamata minus, tapi raut wajahnya kelihatan tampan, putih bersih, dan mulus. Tampang innocent, pendapat Nia begitu melihatnya.


“Hai juga,” balas Nia sambil melempar seulas senyum ramah.


“Perkenalkan, aku Hansen,” katanya, menyodorkan telapak tangan yang membuka ke arah Nia.


Nia tampak berpikir sebentar sebelum menyambut uluran tangannya, “Hansen, aku Nia,” katanya.


Hansen terpana. Setiap kali dia berkenalan dengan seseorang, baik itu cowok maupun cewek, mereka hanya akan menyebut namanya sendiri, tak pernah mengulang menyebut nama orang yang mengenalkan diri duluan. Tadi gadis itu bilang, “Hansen, aku Nia.” Kesan pertama, membuat terpana.


Hansen menyalami tangan Nia. Dirasanya tangan gadis itu lumayan lembut dan harum. Diperhatikannya wajah Nia yang tampak jelita di tengah-tengah rambut panjangnya yang terurai. Rambut itu pun kelihatan begitu lembut dan menggoda.


“Ehm-ehm,” Hansen menarik tangannya saat tersadar agak lama memegang tangan Nia saat bersalaman tadi. “Maaf, pertama kali berkenalan, jadi agak gugup,” katanya.


Nia menggeleng. “Nggak, kok, biasa saja,” senyum Nia.


Hansen duduk di samping Nia, tak beranjak dari tempat duduknya sampai lonceng masuk berbunyi. Sebelumnya, mereka bercakap-cakap tentang hal yang umum, semisal Hansen menanyakan Nia tinggal di mana, SMA-nya dulu di mana, ke kampus dengan siapa, dan beberapa pertanyaan lain.


Nia menjawab dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. Nia sendiri tak menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Hansen, karena dia merasa itu tak berkaitan dengannya. Barangkali dia akan bertanya pada Hansen nanti kalau ada yang tidak dimengertinya mengenai mata kuliah atau kampus mereka.


Mata kuliah pertama adalah Pengantar Ilmu Ekonomi I karena mereka mengambil Fakultas Ekonomi. Dosen yang masuk adalah seorang wanita cantik berkacamata minus, barangkali berusia sekitar 30-an.


Nia mendengarkan penjelasan dosen itu dengan penuh perhatian. Tak sedikit pun dia hendak melewatkannya karena tak ingin menyia-nyiakan uang kuliah yang sudah dibayarkan Om Wisnu.


Pengantar Ilmu Ekonomi I 3 les, setelah itu lonceng istirahat.


“Kamu salin semua penjelasan dosen tadi?” tanya Hansen ingin tahu, melongok melihat buku catatan Nia yang tampak penuh corat-coret tulisan.


“Iya, Hansen, tak ada satu pun yang kulewatkan,” kata Nia. Kepalanya menunduk memperhatikan buku catatannya.


“Wah, salinanmu banyak sekali,” Hansen mengulurkan tangannya, memegang buku catatan Nia dan berusaha menghitung lembar demi lembar yang terisi oleh tulisan Nia. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam…”


“Kamu mau pinjam?” Nia mengangkat kepalanya tiba-tiba, menoleh ke samping.


Terkejut, Nia memandangnya tiba-tiba dengan satu tawaran, Hansen celingak-celinguk.


“Kamu mau pinjamkan aku?” tanya Hansen tak percaya.


“Iya, tapi salinnya di sini sekarang, jangan dibawa pulang karena malam nanti aku mau membacanya dan mempelajarinya,” kata Nia.


“Wah, berarti aku nggak dapat istirahat, dong?” kata Hansen. “Sebentar lagi juga mata kuliah berikutnya. Masa aku diforsir begitu?” protes Hansen seolah keberatan.


Nia terdiam, menimang-nimang sebentar. “Ya sudahlah, pinjamkan ke kamu saja, tapi harus balikkan besok, ya!” pesannya.


“Nah, gitu, dong!” seru Hansen senang.


Nia menyimpan pulpennya ke dalam kotak pensil di dalam tas.


Melihat gerak-gerik Nia, Hansen berkata, “Nggak usah disimpan dulu, sebentar lagi kan masuk mata kuliah lain dan harus mencatat lagi dengan pulpen itu.”


“Nggak apa-apa, disimpan saja dulu biar nggak tercecer ke lantai nanti,” ujar Nia.


“Oh…,” Hansen merasa, Nia orang yang rajin, peduli, ramah, dan teliti. Baik juga


tentunya, kalau tidak, gadis itu tak akan meminjamkan catatannya di hari pertama berkenalan.

__ADS_1


“Ayo, kita keluar kelas jalan-jalan sebentar,” ajak Hansen.


“Keluar kelas? Mau ke mana?” tanya Nia.


“Ke koridor juga boleh, jalan-jalan sambil menyegarkan pikiran,” kata Hansen.


Nia menemani Hansen keluar dari kelas dan berjalan-jalan di koridor. Mereka berhenti di balkon lantai 2, melihat ke bawah dan ke gedung-gedung fakultas lain di seberangnya.


“Luas sekali kampus ini, Hansen,” kata Nia.


“Kampus kita, Nia,” balas Hansen.


“Iya, kampus kita,” senyum Nia.


Mata Nia memandang jauh ke depan, melihat kerumunan mahasiswa yang masih tampak ramai mondar-mandir di sekeliling kampus maupun di koridor. Ternyata gambaran kampus itu seperti ini dan kuliah itu rasanya begini, kata hati Nia.


“Kamu sudah sarapan?” tanya Hansen.


“Sudah tadi di rumah,” jawab Nia.


“Memangnya kamu belum sarapan, ya?”


“He-eh. Sudah juga, sih. Cuma merasa lapar lagi sekarang. Yuk, kita cari jajanan di bawah, mau nggak?” ajak Hansen.


“Lonceng masuk masih lama, ya?”


“Iya, cukup waktunya untuk cari jajanan di bawah."


“Ayolah,” putus Nia.


Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor lantai 2, menyeruak kerumunan dan keramaian.


Nia bisa merasakan, Hansen itu seorang laki-laki yang perhatian, lembut, dan penyayang. Cocok sekali dengan tipe laki-laki kesukaannya.


Langkah mereka sampai di luar gedung. Hansen mendekati seorang penjual mie goreng, memesan 2 porsi, untuk dirinya sendiri dan untuk Nia.


“Lho, kok pesan 2 porsi? Aku sudah makan, Hansen, ” kata Nia.


“Nggak apa-apa, Nia, mie gorengnya porsi kecil saja. Makan lagi sedikit tak mengapa, tak akan membuatmu gemuk, malah menambah gizi biar kamu tambah pintar,” seloroh Hansen.


“Pintar? Kok kamu tahu aku pintar?” goda Nia.


“Iya, dari caramu menyalin penjelasan guru, dari gerak-gerikmu, tulisanmu, kata-katamu, pandanganmu…”


“Wah, wah, ternyata kamu sudah menilaiku sedemikian jauh,” tawa Nia. “Aku kalah, deh!”


“Orang pintar susah dikalahkan,” Hansen mengedipkan sebelah mata.


Nia tertawa lagi. Begitu mudahnya Hansen membuat dia tertawa. Hatinya terasa nyaman berada di dekat Hansen, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan sedikit pun seperti saat bersama Ardian yang mudah emosian.


Walaupun sikap Ardian sudah agak sabar akhir-akhir ini, namun Nia masih merasa selalu harus berhati-hati padanya, takut salah bicara memancing emosinya. Lagipula, Hansen ini seperti seseorang yang sudah dikenalnya lama, mengerti dirinya.


Dengan santainya, Nia duduk di samping Hansen, di kursi pemilik jajanan mie goreng itu yang dagangannya sedang dicicipi sepasang insan yang baru berkenalan tersebut namun sudah tampak akrab.


“Enak nggak mie gorengnya?” tanya Hansen.


“Wow, enak sekali!” puji Nia sambil menunjukkan jari jempolnya.


“Tambah lagi, ya?” tawar Hansen.


“Nggak, Hansen, cukup satu porsi. Kenyang aku. Lagian, sudah mau lonceng masuk, bukan? Nanti kita terlambat.”

__ADS_1


Hansen menyelesaikan makanannya bersama Nia. Setelah selesai, dia membayar ke abang penjual mie goreng 2 piring yang disantap mereka.


“Makasih, Hansen, sudah ditraktir,” kata Nia bangkit dari duduknya. “Besok aku yang traktir kamu,” janjinya.


“Hmmm… Betul ya besok kamu yang traktir?” pertegas Hansen.


Sebenarnya, bukan perkara traktir yang penting baginya, melainkan bila gadis itu berkata besok dia yang traktir, berarti dia masih ingin melanjutkan pertemanan dengan Hansen bahkan bersama dengannya makan bareng.


“Iya, iya, tapi besok kita cari jajanan yang lain lagi. Besoknya lagi kamu yang traktir, besoknya kemudian aku, demikian seterusnya,” canda Nia sambil tertawa, tak sadar kalau kata-katanya itu dijadikan Hansen seperti sebuah janji, gadis itu akan terus bersamanya.


Saat berjalan berdua, Hansen menyadari ada sepercik mie goreng kecil yang menyinggahi sudut bibir gadis itu. “Tunggu bentar,” katanya hingga Nia pun menghentikan langkahnya sekejap dengan heran.


Hansen mengeluarkan selembar tisu dari dalam saku bajunya, mengarahkannya ke wajah Nia dan dengan hati-hati melap sisa mie goreng itu yang melekat di sudut bibir Nia. “Nah, sudah,” katanya setelah membersihkan.


Nia terpaku, tak menyangka cowok itu akan melap sudut bibirnya dengan tisu. Walaupun itu dilakukan dengan sopan dan hati-hati, namun tak urung Nia tercekat juga.


“Ayo, kita jalan,” senyum Hansen.


Nia pun tersenyum, walaupun kali ini agak dipaksakan.


Lonceng masuk berbunyi bersamaan dengan langkah mereka yang sampai di dalam kelas. Duduk kembali seperti semula, Nia dan Hansen menunggu dosen berikutnya masuk.


Seolah melupakan kejadian tadi, Nia dan Hansen kembali berbincang dengan semangat disertai canda-tawa. Entah mengapa, Nia begitu mudah tertawa bila sedang bersama Hansen. Apalagi cowok itu juga pintar memancing tawanya dengan cerita-cerita lucu dan tawanya sendiri yang begitu lepas.


“Seru sekali berteman denganmu, Hansen,” puji Nia jujur.


“Seru? Hmmm… Cuma itu, Nia? Tidak ada pujian lain?” pancing Hansen menggoda.


“Iya, seru!” Nia mengangguk-angguk.


Mereka kemudian berhenti berbincang saat dosen mata kuliah berikutnya masuk dan mulai mengajar. Lagi-lagi, Nia memperhatikan dengan telaten dan menyalin sendiri penjelasan sang dosen.


Kali ini, Hansen berlomba dengan Nia menyalin penjelasan dosen itu, sehingga ketika dosen itu selesai mengajar, jumlah lembar catatannya tidak kalah dari Nia.


“Wah, ternyata kamu bisa menyalin sendiri juga dengan cepat,” kata Nia ketika lonceng pulang berbunyi.


“Iya, dong! Setelah melihatmu, aku menirumu,” balas Hansen jujur.


Kata-katanya itu terasa amat menyenangkan hati Nia. Selama beberapa jam bersama Hansen, entah sudah berapa kali Hansen mengucapkan kata-kata bernada pujian yang membuat hati Nia terasa segar dan berbunga.


Untuk sekejap, Nia seolah melupakan Ardian yang tak pernah memberinya pujian apalagi menyenangkan hatinya dengan kata-kata manis.


“Aku antar kamu pulang, Nia?” tawar Hansen. “Aku ada mobil sendiri,” katanya.


Nia teringat Ardian tiba-tiba lalu menggeleng, “Nggak usah, Hansen, aku datang dan pulang bersama teman tadi. Kami tinggal serumah.”


“Oh...,” desis Hansen. Memang tadi Hansen bertanya Nia datang ke kampus dengan siapa, katanya dengan teman yang dia tumpangi rumahnya selama di Medan. Pikir Hansen, itu pastilah teman cewek, putri dari teman baik ibunya barangkali. Kalau tidak, masa mengizinkan Nia tinggal di rumahnya?


Atau Nia kost di rumahnya? tebak Hansen.


Tak pernah terbayangkan oleh Hansen, kalau tiba-tiba datang seorang cowok tinggi kekar memasuki kelasnya dan langsung mendekati Nia, itu adalah teman yang dimaksud.


“Sudah selesai, Nia?” tanya Ardian sambil melihati Nia yang membereskan peralatan tulis dan buku-bukunya ke dalam tas.


“Iya, Ardi. Kita pulang sekarang, ya?” ujar Nia.


Karena sibuk membereskan barang-barangnya, Nia tak melihat perubahan mimik wajah Hansen yang masih ada di dekat situ. Mimik terkejut melihat kehadiran Ardian.


Nia bangkit dari duduknya, melihat-lihat ke bawah kursi kalau-kalau ada yang tercecer. Merasa semua sudah masuk ke dalam tasnya, dia pun bergegas mengikuti langkah kaki Ardian yang sudah menjauh. Dia masih sempat menoleh sejenak melambaikan tangan pada Hansen yang berdiri terpelongo.


* * *

__ADS_1


__ADS_2