
Bab 95
Riana menyepak kerikil kecil dekat kakinya. Dia kesal karena Willy buru-buru pergi. Pemuda itu pergi tanpa memberikan reaksi atas kalimat terakhirnya.
Willy yang disangka Riana tak mendengar teriakannya ternyata mendengar. Apa kata Riana tadi? pikir Willy. Dia bertemu Ayu kemarin? Di mana? Apakah berarti kemarin Ayu keluar rumah lalu bertemu Riana? Apa yang mereka perbincangkan?
Masih banyak pertanyaan yang menggantung di hati Willy namun dia memutuskan untuk tak ambil pusing karena sudah dipesan oleh Ayu. Secara tak langsung Ayu pasti tak ingin Willy tahu apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Riana.
"Kenapa, Sayang? Kok marah-marah?" entah sejak kapan Randy berdiri di samping Riana. Pacar Riana itu tiba di depan kafe semenit lalu. Dia heran melihat Riana sepertinya barusan memanggil seseorang tapi tak digubris.
"Oh, kamu sudah datang, Ran," Riana baru ingat kalau malam tadi dia dan Randy janjian makan siang di kafe ini. Bahkan tadi dia sudah memesan nasi ayam 2 piring waktu di dalam. Sekarang nasi ayamnya entah sudah datang atau belum.
"Tuh Willy langsung pergi sebelum mendengar certaku," beri tahu Riana lalu tangannya memegang Randy.
"Itu tadi Willy-kah? Yang kamu bilang kemarin? Pacar Ayu?" Randy menatap Riana surprais.
"Iya, sudah pergi sama motornya," jawab Riana. "Yuk kita masuk ke dalam dulu," Riana menggandeng tangan Randy dan berjalan menuju pintu masuk kafe.
"Aku sudah memesan nasi ayam 2 piring tadi. Itu meja kita," Riana menunjuk meja tempat tadi dia duduk. Randy dan dia berjalan ke arah sana dan duduk di situ.
"Nasi ayamnya belum datang," kata Riana saat melihat meja segi empat berukuran 1 X 1 meter yang mereka duduki masih kosong tanpa sajian makanan.
"Nggak apa-apa, aku belum lapar," balas Randy. "Emang tadi kamu melihat Wily di depan? Kamu sempat bicara dengannya?" tanya Randy ingin tahu.
"Iya, tadi dia di kafe ini pesan makanan untuk dibawa pulang. Dia berjalan keluar dari pintu dan aku mengejarnya. Sempat aku bicara dengannya tapi hanya beberapa kata karena dia buru-buru pergi. Katanya harus kerja lagi tapi kayaknya bukan itu alasan utama," Riana berpikir. "Sepertinya dia tak ingin bicara denganku makanya buru-buru pergi. Iya, betul, dia menghindariku!" cetus Riana.
"Ohya? Kok begitu? Emang kamu dan dia pernah bermusuhan? Maksudku dulu?" Randy ingin tahu.
__ADS_1
"Ya nggaklah, Ran. Walaupun aku suka dia tapi dia tak mau sama aku namun hubungan kami baik-baik saja," jawab Riana.
"Lalu?" Randy mengerutkan kening.
"Ya, lalu tak ada alasan baginya dong menghindariku," pungkas Riana. "Kecuali... kecuali...," Riana tampak berpikir.
'Kecuali apa, Riana?" tunggu Randy.
"Kecuali dia menghindariku karena pesan Ayu! Iya, betul! Dia pasti menghindariku karena pesan Ayu," tebak Riana.
"Kamu yakin?" Willy menatapnya. Mereka duduk berhadapan.
"Iya, Ran. Aku yakin sekali Ayu melarangnya bicara denganku. Karena kalau Willy bicara denganku, rahasianya akan terbongkar. Aku tahu betul sifat asli Ayu. Walaupun depannya tampak polos dan baik, namun dalamnya licik. Dia selalu berhati-hati dan banyak rencana!" cerita Riana dengan nada gemas.
"Jadi apa rencanamu? Apa yang akan kamu lakukan ke depannya untuk membongkar rahasia Ayu pada Willy?" tanya Randy setengah hati.
Apa sih untungnya mengurusi masalah Ayu dengan Willy? Randy tak habis pikir. Padahal jika saja pacar Riana itu tahu yang namanya cewek itu memang begitulah.
"Iya, aku harus cari tahu di mana Willy kerja. Kalau bisa aku pun mau tahu di mana Ayu bekerja," penasaran Riana.
"Ya sudah, itu nanti baru dibicarakan, sekarang kita makan dulu," kata Randy menyadarkan Riana akan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Saking serunya menggunjingi Ayu, Riana sampai tak menyadari pelayan sudah mengantarkan pesanan nasi ayam mereka yang 2 piring.
"Wah, sudah datang ya," Riana melihat nasi ayam yang tersaji di depannya. Dia bersiap-siap melahapnya dengan memperbaiki posisi duduknya.
"Minumnya mana?" tanya Randy.
__ADS_1
"Ups! Aku lupa pesan minum ya," sadar Riana. "Bentar ya, aku ke sana dulu pesan," kata Riana sambil bangkit dan menuju meja tinggi tempat pemesanan makanan.
Randy melihat Riana pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia menunggu pacarnya itu balik ke meja lagi baru mereka sama-sama makan.
Riana sudah kembali ke meja. Dia duduk di hadapan Randy lalu mereka pun sama-sama melahap nasi ayam.
Sementara itu, Willy mengendarai sepeda motornya dengan berbagai pertanyaan di benaknya perihal Ayu yang entah ke mana kemarin dan mungkin bertemu Riana seperti kata Riana tadi.
Hati Willy mulai disisipi keraguan. Sebenarnya, apa yang Ayu lakukan kemarin? Kenapa Riana bilang bertemu Ayu dengan nada kalimat yang seolah-olah ingin memberitahukan Willy sesuatu?
Sepertinya Riana ingin memberitahukan suatu rahasia padanya dengan bilang bertemu Ayu kemarin dengan cara berteriak. Kalau bukan hal yang penting tentang Ayu, Riana tak mungkin bisa sampai berteriak begitu.
Lalu siapa yang harus aku percaya? Ayu yang bilang bermimpi buruk Riana merebut Willy dari sisinya, ataukah Riana yang bilang bertemu Ayu kemarin?
Ah, pusing... pusing..! Begitu beratnya ternyata mencintai Ayu. Beban yang harus ditanggung Willy sungguh berat dengan tetap bertahan mencintai Ayu selama bertahun-tahun ini kalau gadis itu tak jujur padanya. Apalagi Ayu yang sesuka hatinya memperlakukan Willy di saat dia sedang marah atau sedih. Tapi itulah namanya cinta. Cinta buta Willy pada Ayu sejak SMP sampai sekarang.
Willy sudah tiba kembali di panglong "Makmur" tempatnya bekerja selama 2 tahun ini. Dia memarkirkan motornya di tempat yang biasa lalu membuka helm-nya dan berjalan menuju kantor kecil yang ada di bagian dalam panglong.
Dibukanya pintu kayu ruang kantor berukuran 4 X 5 meter itu lalu masuk ke dalam menjumpai Santi, anak gadis boss-nya alias putri pemilik panglong yang duduk di belakang meja.
Santi sedang menghitung bon-bon yang bertaburan di atas meja kerjanya saat Willy berjalan mendekatinya.
"Ini, San, nasi ayamnya," kata Willy sambil menaruh bungkusan plastik berisi nasi ayam itu di bagian samping meja kerja Santi.
Gadis berusia 17 tahun yang sebaya dengan Ayu namun lebih ramping dan tampak lembut itu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Willy. Sebenarnya tadi dia sudah tahu Willy masuk namun dia pura-pura menundukkan kepala menekuni pekerjaannya.
Cowok lebih tua 1 tahun darinya yang diam-diam ditaksirnya ini hendak beranjak pergi setelah menaruh pesanan Santi di atas meja.
__ADS_1
* * *