Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Insiden di Lapangan


__ADS_3

Bab 28


“Kita pulang sekarang?” tanya Shella setelah dia dan Ardian makan siang di ruangan kantor itu.


Mereka mencicipi mie instan yang dimasak dengan telur mata sapi. Siapa lagi yang memasaknya kalau bukan Ayu. Karena di dapur cuma ada stok mie instan dan telur ayam, jadi Ardian dan Shella pun disajikan makanan itu.


“Sekarang?” tanya Ardian balik, seolah masih betah berada di situ.


Barusan dia merasakan betapa enaknya mie instan dengan telur mata sapi yang dimasak Ayu. Sepertinya masakan Bik Aini di rumah yang selama ini dicicipinya pun kalah. Atau karena hati Ardian yang mulai mengagumi Ayu, sampai-sampai ikut berpengaruh ke lidahnya walaupun cuma mie instan dan telur mata sapi.


Ada beberapa alasan Ardian terpesona pada Ayu. Pertama, karena dia melihat di usia yang begitu belia, 16 tahun, Ayu sudah harus bekerja sebagai cleaning service. Apakah itu demi mencari duit atau pengalaman kerja saja, Ardian kurang tahu. Cuma dia merasa agak kagum. Kedua, selain cantik dan menarik, Ayu juga tampak sopan dan baik. Ketiga, suaranya yang merdu merayu, membuat hati Ardian sedikit bergetar.


“Kapan-kapan kita ke sini lagi,” kata Shella seolah tahu Ardian masih enggan pulang.


Ucapan yang diucapkan Shella itu, seperti sebuah janji seorang ibu kepada anaknya supaya mau pulang dari jalan-jalannya di tempat bermain anak-anak.


“Iya, baiklah, kita pulang sekarang,” kata Ardian sambil bangkit dari duduknya.


Tampaknya Ayu tak akan muncul lagi di ambang pintu seperti beberapa kali tadi. Nggak mungkin kan seorang cleaning service sampai harus mengantar kepulangan boss-nya?


Ardian dan Shella berjalan keluar dari ruangan kantor itu dengan membawa tas masing-masing. Ardian berjalan di depan, Shella mengikut di belakangnya.


Mereka berdua kelihatan serasi sebagai sepasang kekasih. Yang prianya tampan tinggi kekar dan rapi, yang wanitanya cantik seksi menggoda dan fashionable. Namun keduanya bukan kekasih, bahkan berjalan pun tak bergandengan tangan. Yang pria berjalan di depan seolah tak peduli pada sosok cantik yang mengikut di belakangnya.


Langkah Ardian dan Shella sampai di tengah lapangan. Sejenak, Ardian berhenti ketika telepon genggamnya berbunyi.

__ADS_1


“Bentar, Shel,” katanya sambil mengeluarkan hp-nya dari saku celananya dan melihat panggilan masuk. Ternyata dari papanya.


Ardian menerima panggilan itu. Dia berbicara dengan papanya di dekat sebuah gundukan pasir di mana bagian atasnya ada beberapa buruh yang sedang sibuk bekerja. Mereka berdiri di ketinggian.


Shella berjalan menjauhi Ardian. Dia mencari tempat berteduh karena merasa kegerahan dengan cuaca terik di atas kepalanya.


Shella mencari tempat berteduh di tempat yang agak sejuk saat merasa Ardian berbicara agak lama dengan papanya di hp.


“Aku akan mengurus semuanya dengan baik, Pa. Iya, iya, kami lagi di proyek sekarang. Aku dan Shella. Barusan selesai meninjau dan akan pulang sekarang. Iya, Pa. Aku ingat. Iya, iya,” Ardian terus-menerus mengiyakan ucapan papanya di seberang sana sementara sinar matahari semakin terik menyinari kepalanya.


Tanpa disadari Ardian, dia sedang berdiri di bawah para pekerja yang berada di ketinggian. Para pekerja itu sedang sibuk bekerja mengangkut pasir dan sebagainya dengan alat berat sampai tak menyadari kehadiran Ardian di situ.


Di kalimat terakhir saat Ardian hendak memutus pembicaraan dengan papanya, sesuatu yang tampaknya sangat berat terjatuh dari atas. Terjatuh dari tempat yang sangat tinggi hingga kalau mengenai seseorang yang pas ada di bawahnya, orang itu bakal luka berat atau bisa-bisa bernasib buruk.


Ardian hanya sempat terpana sekejap melihat kelebat bayangan seseorang tiba-tiba berlari dari kejauhan. Bayangan itu menubruknya dengan sangat cepat hingga tubuhnya tersingkir cukup jauh dari tempatnya berdiri.


“Pak Ardian!” orang itu menubruk Ardian dengan sangat cepat dan keras hingga tubuh Ardian pun jatuh telentang di atas tanah. Bersamaan itu benda berat yang sedang diangkut ke atas dengan alat berat dan jatuh tiba-tiba pun sampai ke tanah menghentak dengan keras.


“Buuum…!” suaranya membuat Ardian bergidik. Keras sekali!


Ardian melongo. Benda berat itu jatuh pas di tempatnya berdiri tadi. Menimpa keras tanah yang dipijaknya saat berbicara dengan papanya selama beberapa menit.


Belum sempat Ardian sadar dari keterkejutannya, tubuh Ayu yang berada di atasnya meringis kesakitan.


Ardian tersadar. Ayu barusan menyelamatkan nyawanya! Setidaknya menyelamatkannya dari luka berat. Ayulah yang barusan menubruknya dengan keras hingga tubuhnya terlempar dari tempatnya berdiri tadi. Sedetik saja Ayu terlambat, nyawa Ardian taruhannya.

__ADS_1


Kebetulan tadi Ayu berhenti sejenak setelah membuang sampah di luar. Dia barusan hendak balik ke dalam bangunan saat tak sengaja matanya melihat Ardian dan Shella yang berjalan keluar dari dalam bangunan. Entah kenapa, Ayu tak hendak melanjutkan langkahnya kembali ke dalam bangunan, tapi berhenti sejenak memandang ke arah Ardian dan Shella.


Dari jauh dia mengamati Ardian yang berdiri di bawah para pekerja yang bekerja di ketinggian. Sebenarnya, Ayu sudah agak khawatir melihat Ardian berdiri di situ apalagi tanpa memakai helm proyek. Ayu melihat ada bahaya yang mengintai Ardian. Dan ternyata firasatnya benar.


Saat itu dia merasa perasaannya semakin kacau dan sedang berjalan mendekati Ardian untuk memberinya peringatan. Tapi sebelum langkahnya sampai, dia melihat benda berat terjatuh dari ketinggian, hingga Ayu pun mengambil tindakan spontan, berlari cepat ke arah Ardian dan dengan sekuat tenaga menubruk tubuh tinggi kekar itu hingga tersingkir cukup jauh.


“Kamu…,” ucap Ardian terpana. Tubuhnya masih jatuh telentang di atas tanah, sementara tubuh Ayu yang mungil menimpa seluruh tubuhnya.


Wajah Ayu berada begitu dekat dengan wajahnya, hingga Ardian dapat melihat dengan jelas seluruh kecantikan yang terpatri di situ.


Ardian merasa ada dua buah benda padat kenyal yang menjanjikan kenikmatan yang menimpa dadanya hingga membuat jantungnya yang tadi tersentak berdegup cepat. Bibir mungil merah merona nan menggoda milik Ayu berada dekat sekali dengan bibirnya.


Sesaat, Ardian merasa ada yang berdenyut-denyut di bawah dirinya.


“Pak Ardian…,” Ayu mengucapkan nama itu dengan suaranya yang merdu dan lembut hingga membuat napas Ardian terhenti sesaat.


“Yu…,” Ardian hanya mampu mengucapkan nama Ayu dengan suara lemah, seolah tak berdaya menggerakkan anggota tubuhnya padahal tubuh Ayu cukup mungil untuk disingkirkan olehnya. Tapi entah kenapa, Ardian seolah enggan menyingkirkannya dengan masih membiarkan tubuh Ayu yang padat menimpa tubuhnya.


“Pak Ardian baik-baik saja?” tanya Ayu dengan suara lega, namun ada nada manja di situ.


“Terima kasih, Yu, kau telah menolongku,” Ardian mencoba menggerakkan tangannya menyentuh lengan Ayu. Untuk pertama kalinya Ardian merasa betapa halus dan lembutnya kulit Ayu saat tersentuh oleh telapak tangannya.


“Yang penting Pak Ardian selamat, Ayu sudah senang,” kata Ayu sambil kedua matanya yang bundar menatap sendu wajah Ardian yang berada di bawah wajahnya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2