
Bab 109
Setelah mengatur napas, Riko pun mengutarakan maksudnya, "Bu, Nia, aku berencana menjadikan Nia sebagai istriku. Tentunya atas restu Ibu dan persetujuan Nia."
Dada Riko terasa plong setelah mengucapkan kalimat itu. Diperhatikannya reaksi Nia dan ibunya dengan hati berdebar.
Nia tampak terkejut mendengar kalimat Riko yang diucapkan langsung ke sasaran itu. Sedangkan Bu Rani pun tampak terpaku sesaat tapi kemudian senyum pun mengembang di sudut bibirnya.
Riko memberanikan diri menatap wajah Nia lekat-lekat. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban gadis pujaan hatinya itu.
Bu Rani menoleh ke samping melihat reaksi putrinya. Raut wajahnya menunjukkan rasa senang dan harapan. Dadanya plong mendengar kalimat lamaran dari Riko pada putrinya.
Diliriknya pemuda yang duduk di depannya yang selama setahun ini terus membantu dan mendukung dirinya dan putrinya. Sorot matanya memberi semangat. Seolah mendukung pemuda itu untuk terus maju tanpa rasa takut.
"Maukah kamu menjadi istriku, Nia?" tanya Riko dengan suara lembut. Namun dirasa Nia begitu tajam menusuk ke dalam hatinya.
Nia memandang Riko dengan mata terpana. Mulutnya ternganga tanpa suara. Kalimat lamaran dari Riko itu dirasakannya sangat mendadak. Begitu tiba-tiba, langsung, dan terus terang. Bagaimana mungkin dia bisa menjawabnya kalau selama ini saja dia masih menganggap Riko sebagai sahabat baik?
"Bagaimana, Nia?" Bu Rani mewakili Riko bertanya. Wajahnya menyiratkan senyum gembira yang penuh harapan.
Nia melirik ibunya sekilas. Bingung dengan jawaban yang harus dia berikan. Tepatnya dia tak tahu harus menjawab apa.
Menolak lamaran Riko? Oh, tidak. Itu pasti akan sangat mengecewakan pemuda itu. Padahal Riko sudah begitu baik, perhatian, dan memberikan banyak dukungan dan bantuan pada dirinya dan ibunya.
Menerima lamaran Riko? Oh, tidak juga. Dia sama sekali tidak ada perasaan cinta pada pemuda itu. Yang ada di hatinya hanya rasa terima kasih dan syukur karena Riko telah banyak membantu mereka selama setahun ini.
Tapi melihat wajah ibunya barusan yang demikian gembira mendengar lamaran Riko, lalu sorot mata penuh harap yang tak bisa menyembunyikan keinginan ibunya agar Nia menyetujui lamaran itu, membuat hati gadis itu bimbang.
__ADS_1
"Aku...," Nia memandang ibunya dan Riko silih berganti. Wajahnya agak pucat karena rasa kaget dilamar tiba-tiba tanpa persiapan apa-apa. Bahkan tanpa dugaan sebelumnya.
Selama ini Nia mengira Riko berbuat baik pada mereka karena benar-banar tulus sebagai sahabat. Tak disangkanya kalau pemuda itu seperti meminta imbalan darinya dengan melamarnya menjadi istri.
Apakah pantas dia mempersembahkan cinta dan mempertaruhkan masa depannya pada pemuda yang selama setahun ini terus menolongnya dan ibunya? Pantaskah pertolongan dan rasa terima kasihnya pada pemuda itu dibayarnya dengan rasa cintanya dan jaminan masa depannya?
Oh, tidak. Rasanya tidak sebanding bila dia harus membalas rasa terima kasih itu dengan mengorbankan cinta dan masa depannya. Dia sama sekali tidak mencintai Riko dan tak mau mempertaruhkan masa depannya di tangan laki-laki yang tidak dicintainya.
"Nia?" Riko menyebut nama gadis itu dengan suara penuh harap.
Nia memandang pemuda itu lagi. Lalu berpindah kembali pada ibunya. Begitulah terus-menerus selama berkali-kali.
"Iya, Nia. Kenapa nggak dijawab lamaran dari Nak Riko ini?" Bu Rani menyadarkan putrinya yang masih terpana dalam kebimbangan.
"Uhuk-uhuk," Nia batuk-batuk 2 kali mengusir rasa kaget di hatinya. Dia tampak berpikir keras untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Aku... belum bisa menjawab sekarang," Nia mengeluarkan kalimat yang terlintas di benaknya dengan suara berat.
Bu Rani dan Riko tepekur. Mereka memandang Nia dengan tatapan bertanya.
"Aku butuh waktu berpikir," kata gadis itu lagi sambil memberanikan diri memandang ibunya dan Riko silih berganti.
Dia tak ingin mengecewakan mereka tapi dia juga tak bisa mengambil keputusan yang salah atau memberikan jawaban palsu yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
Melihat reaksi Nia yang terkejut dan tampak bingung memberikan jawaban, Riko pun sadar kalau dia sudah terburu-buru. Langkahnya yang tergesa-gesa ternyata salah. Dia pun merasa diri sendiri seperti memaksa seseorang memenuhi keinginannya.
Riko menunduk. Sejenak dia bisa merasakan kalau Nia kurang berkenan dengan kalimat lamarannya. Berarti gadis itu masih belum bisa membuka pintu hati untuknya walaupun Riko sudah berbuat banyak untuknya dan ibunya selama setahun ini.
__ADS_1
Kalau Nia sudah membuka pintu hati untuk Riko, pastilah reaksi wajahnya akan senang juga seperti ibunya. Bukan kaget dan pucat seperti tertekan.
Riko mengerti itu. Rasa kecewa dan sedih muncul di hatinya. Tapi dia menghibur hatinya sendiri. Nggak apa-apalah, kata ayah dan ibu kalau ditolak masih bisa mencoba lain kali. Lagipula ini Nia pun belum menolaknya, hanya meminta waktu berpikir.
Bu Rani menarik napas panjang. Dia pun bisa merasakan kalau putrinya itu belum membuka pintu hatinya untuk Riko. Mungkin Nia masih belum bisa melupakan Ardian, kata hatinya.
Melihat gerak-gerik Nia yang serba salah dan raut wajahnya yang tidak enak, Bu Rani pun berkata, "Nggak apa-apa, Nia. Nak Riko kan hanya mengutarakan maksudnya. Mengungkapkan perasaan hatinya padamu. Kamu harus bersyukur dan senang ada pria yang benar-benar
mencintaimu dan mempedulikan kita."
"Iya, Bu," jawab Nia singkat. Diangkatnya kepalanya yang tertunduk untuk menatap ibunya. Ibunya tersenyum padanya lalu mengangguk. Seperti hendak mengatakan kalau dia tak memaksa Nia menyetujui lamaran Riko walaupun dirinya sendiri sangat menyukai pemuda itu menjadi menantunya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Bu. Lain kali baru datang lagi," kata Riko setelah mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Lho, kok buru-buru pulang, Nak Riko? Kita nggak jalan-jalan lagi?" tanya Bu Rani. Dia bisa merasakan kekecewaan pemuda itu namun Bu Rani tak bisa membantunya, karena ini menyangkut kebahagiaan dan masa depan putrinya.
Menikah dengan orang yang salah atau salah memilih pasangan hidup bakal menyesal seumur hidup. Karena memilih pasangan hidup itu seperti mempertaruhkan kebahagiaan dan masa depan kita di tangannya.
Riko melirik Nia sekilas sebelum menjawab, "Iya, Bu. Masih ada tugas di rumah. Hehe."
"Oh, begitu ya? Ya nggak apa-apa. Lain kali baru datang lagi ya, Nak Riko," Bu Rani berkata dengan suara ramah sambil melempar senyum simpul.
"Baik, Bu," jawab Riko. "Aku permisi dulu ya, Bu, Nia," pamitnya sopan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar yang terletak di samping kursi yang diduduki Nia dan ibunya.
Bu Rani mengangguk. Nia juga.
* * *
__ADS_1