Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Gadis Cleaning Service


__ADS_3

Bab 27


Ardian duduk di kursi sofa dalam ruangan kantor yang ada di bangunan proyek yang sedang dikerjakan.


Shella duduk di sampingnya. Sementara kepala proyek setelah mengantar Ardian dan Shella masuk, permisi keluar melanjutkan tugasnya.


“Ini berkas-berkas dan laporan mengenai proyek ini,” kata Shella sambil meraih map yang diletakkan di atas meja oleh kepala proyek tadi sebelum keluar ruangan.


Ardian menerima map yang diberikan Shella lalu membukanya, membacanya, dan membolak-baliknya.


Sekali-sekali Ardian menarik dasi panjang yang terasa membelit di lehernya. Kemeja putih yang dikenakannya terasa mencekik di leher karena kancingnya harus dikancing sampai atas.


“Gerah ya, Pak?’ tanya Shella.


“Mm-mm,” Ardian mengangguk.


“Butuh bantuan, Pak?” tanya Shella sekonyong-konyong.


Ardian mengernyitkan alis sebelum mengalihkan pandangannya dari atas berkas ke Shella yang duduk di sampingnya. Maksud Shella apa?


Shella menggeser duduknya hingga agak merapat ke posisi duduk Ardian. Tanpa dikomando atau tanpa disetujui Ardian, kedua tangannya bergerak menyentuh dasi Ardian, membukanya, lalu membuka kancing leher kemeja Ardian hingga agak longgar.


Ardian terkesiap sejenak karena dirasanya tindakan Shella itu amat tiba-tiba dan tanpa sempat dihalau olehnya.


Tangan Shella yang mulus bergerak-gerak di depan mata Ardian membuka kancing kedua dari atas, kancing ketiga, kancing keempat. Dan sebelum Shella melanjutkan niatnya membuka seluruh kancing, Ardian buru-buru berkata, “Nggak sampai gerah banget, kan ada AC.”


Shella menghentikan gerakannya dan menarik tangannya. Dengan gemulai dia bangkit dari duduknya dan berjalan memutar hingga berada di belakang sofa atau di belakang Ardian.


Mau apa lagi ini Shella? pikir Ardian. Tak urung Ardian merasa gelisah juga ditinggal berdua dengan Shella yang kelihatan liar dan tak bisa diam.


Sebelum Ardian sempat menebak maksud Shella mengambil posisi di belakang kepalanya, tangan Shella yang gemulai sudah singgah di pundaknya dan memiji-mijit pundaknya dengan gerakan-gerakan teratur.


Pijitan dari Shella itu dirasakan Ardian lumayan menghilangkan penat dan kaku di lehernya yang dirasakannya saat menyetir tadi. Tak terasa Ardian hampir dininabobokkan oleh pijitan-pijitan Shella yang nyaman itu.


“Tuk-tuk-tuk,” pintu ruangan diketuk dari luar.


Ardian buru-buru mengancing kembali kemejanya yang tampak terbuka. Jangan sampai timbul salah sangka dari orang yang masuk ke ruangan itu melihat kemejanya yang terbuka, apalagi saat itu dia sedang berdua saja dengan seorang sekretaris cantik.

__ADS_1


“Sudah, ada yang ketuk pintu,” kata Ardian pada Shella yang berdiri di belakangnya atau di belakang sofa yang diduduki Ardian.


Sebelum Ardian sempat mengenakan dasinya kembali, si pengetuk pintu sudah menguakkan pintu dan masuk ke dalam.


Dia seorang gadis muda berusia 16-an berpakaian cleaning service.


Ardian memperhatikan gadis muda yang melangkah masuk dengan sopan itu. Gerakannya amat lembut dan langkah-langkah kakinya juga gemulai seperti seorang penari. Dia kelihatan sangat lembah lembut di mata Ardian.


Sekilas, Ardian bisa melihat dan menilai, wajahnya yang belia terlihat segar. Bagaikan buah ranum yang sangat manis dan menggoda, hingga memancing niat orang memetik dan mengunyahnya.


“Pak, saya disuruh menanyakan pada Bapak, apakah Bapak minum kopi? Susu? Teh? Atau apa?” ucapnya sopan.


Ardian membelalakkan matanya. Bola matanya membesar dan cuping hidungnya melebar. Konon, itu adalah pertanda seseorang jika merasa tertarik pada sesuatu yang sedang dihadapinya.


Iya, gadis itu terlihat sangat menarik! Walaupun berpakaian cleaning service tanpa polesan apa-apa apalagi minyak wangi seperti Shella, namun dia kelihatan sangat cantik, menarik, dan segar.


“Kamu mau minum apa?” tanya Ardian pada Shella yang berdiri mematung di belakang sofa.


“Aku kopi susu,” kata Shella.


“Aku air putih saja,” kata Ardian sambil mengangguk. Dilemparkankannya seulas senyum ramah pada gadis cleaning service itu.


Saat bayangannya menghilang di balik pintu, Ardian masih menatap ke sana, seolah-olah bayangan gadis itu lebih menarik daripada sosok nyata Shella yang ada di sampingnya.


Iya, Shella sudah mengambil tempat di samping Ardian. Dia duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan menghela napas lega.


Gaya Shella yang sesuka hatinya itu memperlakukan Ardian seolah bukan boss-nya, melainkan sahabat dekat.


Walaupun Ardian rada kheki, namun dia tahu sifat Shella memang seperti itu. Biarlah dia sesuka hatinya karena toh umur mereka hampir sebaya. Ardian tak keberatan.


Beberapa saat lamanya Ardian dan Shella hanya membungkam dengan pikiran masing-masing. Ardian mengisi keheningan dengan membaca berkas-berkas di map yang ada di tangannya, sedangkan Shella berselonjoran di sofa, di samping Ardian.


“Tuk-tuk-tuk,” pintu ruangan diketuk lagi.


Kali ini Ardian menyahut, “Masuk.”


Gadis cleaning service itu muncul lagi. Kali ini dia membawa nampan di tangannya. Dibawanya nampan berisi 2 gelas minuman itu ke hadapan Ardian dan Shella.

__ADS_1


Dia meletakkan gelas berisi kopi susu di hadapan Shella, dan gelas berisi air putih di hadapan Ardian. Ketika dia melakukan gerak-gerik itu, mata Ardian tak lepas memandang gerakan-gerakannya. Ardian mencuri lihat diam-diam perawakan gadis itu.


“Siapa namamu?” tanya Shella sekonyong-konyong saat menyadari Ardian menatap gadis itu.


“Ayu, Bu,” jawabnya sopan dengan suara yang membuat Shella merinding, karena suaranya itu terdengar merdu merayu.


“Berapa umurmu?’ tanya Shella lagi, seolah mewakili Ardian bertanya tentang identitas gadis itu.


“Enam belas tahun, Bu.”


“Oh,, masih 16 tahun, toh? Masih anak-anak. Ohya, panggil aku Kak Shella saja, karena umurku tak jauh darimu, baru 22 tahun. Pak Ardian berapa umurnya?” tanya Shella sambil memandang ke samping.


“Aku?’ Ardian menunjuk hidungnya.


“Iya,” ucap Shella penasaran.


“Dua puluh,” jawab Ardian.


“Iya, dengar, kan, Yu, Pak Ardian baru berumur 20 tahun. Masih muda sekali. Tampan, kaya, dan bisa menjadi pangeran impian bagi gadis-gadis muda sepertimu,” sindir Shella.


Ayu terkejut karena tak menyangka Shella akan berkata begitu. Dia mengangkat kepala sedikit, mencuri lihat reaksi Ardian.


Ardian yang merasa malu disindir seperti itu, spontan membuang tatapannya dari wajah Ayu dan melihat kembali berkas-berkas di map yang dipegangnya.


“Kok begitu, sih, ngomongnya, Shel?” tanya Ardian kikuk.


“Habisnya aku melihat kalian berdua cocok," sindir Shella. Ada nada geram di suaranya.


Siapa yang tak geram melihat dari pertama kali gadis remaja itu menampakkan wajah sampai sekarang, Ardian tak bosan-bosan memandangnya. Padahal gadis itu tak bersolek sama sekali, tak memakai minyak wangi, tapi mampu mencuri perhatian Ardian.


Sedangkan Shella yang merasa jauh lebih cantik dan seksi dibandingkan gadis cleaning service itu malah diacuhkan Ardian sedari pertama kali bertemu.


“Gimana, Yu? Sudah puas informasi mengenai Pak Ardian?” sewot Shellla. “Apa mau tahu juga, Pak Ardian sudah punya pacar atau belum? Atau tipe gadis bagaimana yang jadi idamannya Pak Ardian? Apa yang seperti dirimu, Yu?"


“Saya permisi dulu, Kak Shella, Pak Ardian,” ucap Ayu gugup sambil buru-buru mundur beberapa langkah dan berbalik cepat tanpa berani melihat ke arah Shella dan Ardian lagi.


Emangnya kenapa kalau cleaning service? Cleaning service juga manusia. Cleaning service juga bisa menjelma putri cinderella yang mencuri hati pangeran tampan berkuda putih. Dan Ardian adalah pangeran tampan yang bakal dicuri hatinya oleh putri cinderella.

__ADS_1


* * *


__ADS_2