
Bab 124
Ardian membuka matanya saat sinar mentari pagi menerobos lewat jendela kamarnya. Pukul 7 lewat.
Dengan sekali hentak, Ardian bangkit dari baringnya dan duduk di tepi ranjang. Sekilas, kejadian kemarin melintas di benaknya. Ayu, Nia, Ayu, Nia. Dua nama itu yang bermain-main di benaknya pagi ini.
Hari ini episode baru akan dimulai dalam hidupnya. Episode baru yang tak sama lagi seperti episode-episode sebelumnya karena Nia sudah kembali. Sahabat masa kecilnya itu sudah kembali dan dia akan masuk di antara hubungan dirinya dan Ayu.
Tapi kalau dikilas balik, sebenarnya siapa yang masuk ke dalam hubungan siapa? Bukankah pertama-tama Ardian dengan Nia dulu lalu tiba-tiba Ayu muncul mengisi kekosongan di hati Ardian saat Nia tiba-tiba pulang ke Tanjungbalai? Dan sekarang Nia sudah kembali ke tengah-tengah Ardian dan Ayu untuk mengambil kembali tempat di hati Ardian yang sempat diisi Ayu semenjak ditinggalkannya setahun lalu. Sanggupkah dia?
Ah, kenapa aku jadi memikirkan mereka berdua pagi-pagi begini? Ardian menggeleng-gelengkan dan mengetuk-ngetuk kepalanya seolah ingin mengusir pikiran yang mengusiknya sedari bangun.
Di mana Nia sekarang? Apakah dia sudah bangun? Ardian bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Selepas membersihkan diri dan berpakaian rapi stelan kemeja dan celana panjang untuk ke kantor, Ardian keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga. Jam segini seharusnya Nia sudah bangun dan pasti sudah ada di dapur, pikir Ardian sambil menuruni anak tangga.
Benar saja, sesampainya di bawah dia menuju ke ruang dapur dan menemukan Nia sedang menyendok nasi goreng dari kuali ke atas piring.
"Wah, pagi sekali. Masak nih?" Ardian berjalan mendekati gadis itu yang tampak sudah rapi dengan stelan kaos dan celana jeans.
Didekatinya gadis itu yang sedang menghadap kompor dan kuali lalu dipeluknya dari belakang.
"Hmmm... calon istri yang baik," goda Ardian sambil menempelkan bibirnya di telinga gadis itu.
"Terima kasih, Ardi. Selamat pagi. Latihan dulu sebelum menjadi istri yang baik. Hehe," balas Nia sambil terkekeh. Dia mengedikkan bahunya, menghindarkan pipinya dari kecupan bibir Ardian yang sembarang singgah.
"Ke sanalah, Ardi. Pagi-pagi kok menggoda," Nia mendorong bahu Ardian untuk menjauh darinya. Setelah itu dia membawa piring-piring berisi nasi goreng ke atas meja.
Ardian mengikut di belakangnya dan duduk di belakang meja.
__ADS_1
"Ini punyamu, Ardi," Nia menyorongkan satu piring ke hadapan Ardian dan satu piring lagi ke hadapannya.
"Wow, tampaknya lezat sekali!" wajah Ardian seketika berseri-seri. Rasanya gimana gitu pagi-pagi bangun, mandi, berpakaian rapi, turun ke bawah sudah dimasakkan nasi goreng yang tampak lezat oleh gadis yang dicinta.
Perasaan Ardian saat menatap sepiring nasi goreng di depannya yang dimasakkan Nia berbeda dengan saat menatap sepiring nasi goreng yang dimasakkan Ayu.
Nasi goreng yang dimasak Ayu tercium dan terlihat sangat harum dan lezat, menggoda selera siapa pun untuk mencicipinya segera. Sedangkan nasi goreng yang dimasak Nia tercium dan terlihat sangat wangi dan lembut, beraromakan kasih sayang karena dimasak dengan hati tulus dan penuh cinta.
"Iya, Ardi. Aku merasa kamu suka nasi goreng. Selama ini kupikir nasi goreng yang dimasak Bik Aini paling enak, ternyata yang dimasak Ayu kemarin lebih enak. Jadi pagi ini aku ingin memasak nasi goreng untukmu juga," kata Nia.
"Ohya? Kenapa sampai berpikir begitu, Nia?" tanya Ardian sambil tersenyum heran.
"Iya, jelas, Ardi. Aku tak boleh kalah sama Bik Aini dan Ayu dalam soal memasak nasi goreng untukmu," jujur Nia. "Semoga hasilnya tidak mengecewakan."
"Hmmm... kucoba ya?" Ardian melirik Nia sejenak sebelum mencicipi nasi goreng di depannya.
Pemuda itu tampak mengunyah dan merasai nasi goreng yang dibuat Nia. Setelah itu dia melempar pandang disertai seulas senyum aneh pada gadis itu.
"Gimana, Ardi? Gimana rasanya?" tanya Nia penasaran.
Ardian senyum-senyum dikulum sebelum menjawab, sementara Nia menunggu tak sabar.
"Tidak ada rasa," jawab Ardian.
"Hah?! Tidak ada rasa?" tanya Nia cepat. Hatinya berasa cemas. "Maksudmu, nasi goreng yang kumasak tidak ada rasa apa-apa, Ardi? Waduh, apa aku lupa memasukkan garam atau apa ya? Atau bumbunya yang kurang? Aduh, kenapa bisa tak ada rasa?" gelisah Nia. "Sori ya, Ardi. Aku memang tak sepintar Bik Aini atau Ayu dalam memasak. Terutama memasak nasi goreng kesukaanmu. Sori, Ardi," Nia merasa bersalah.
"Ya ampun, Nia. Bukan itu maksudku," sela Ardian cepat. "Aku kan belum menyelesaikan ucapanku. Dengar dulu baik-baik, Sayang. Maksudku, tidak ada rasa, semua nasi goreng yang pernah kumakan dulu jadi tidak ada rasanya sama sekali setelah aku memakan nasi goreng buatanmu."
__ADS_1
"Hah?" sekali lagi Nia terpelongo. "Maksudmu apa, Ardi?" tanya Nia tak mengerti.
"Maksudku ya, rasa yang kamu berikan bisa menghapus semua rasa yang pernah kucicipi dulu. Semua rasa yang pernah singgah di lidahku, maksudku di hatiku jadi lenyap tak berbekas setelah kamu kembali dan memberiku rasa yang baru. Inilah rasa yang sebenarnya, Nia. Rasa yang kamu berikan akan menjadi satu-satunya rasa yang tetap tinggal di hatiku. Hanya kamu yang akan bertahan," kata Ardian sambil menyorongkan satu tangannya ke depan untuk menyentuh telapak tangan Nia yang menopang di atas meja.
"Kamu... aku...," Nia tak kuasa menahan rasa haru di hatinya mendengar kata-kata Ardian. Walau dia seolah tak bisa percaya akan kata-kata Ardian barusan, tapi setidaknya kata-kata itu sudah menyejukkan hatinya. Membuatnya lega dan percaya kalau hati Ardian masih bersamanya setelah setahun dia tinggalkan. Siapa pun itu, termasuk Ayu yang dicurigainya kemarin, seolah ditegaskan Ardian, bukan apa-apa lagi setelah Nia kembali.
"Terima kasih, Ardi. Ayo dimakan nasi gorengnya kalau memang sangat berasa bagimu," balas Nia sambil tersenyum lega.
"Tentu saja, Sayang," Ardian menarik kembali tangannya dan meneruskan melahap nasi goreng buatan Nia.
Nia juga melakukan hal yang sama. Sekali-sekali dia melirik Ardian yang sedang mencicipi nasi goreng buatannya. Dilihatnya pemuda itu memang terkesan sangat menikmati sarapannya itu. Dia melahapnya dengan penuh perasaan seolah-olah larut bersama apa yang dilahapnya itu tanpa mengindahkan sekelilingnya. Ardian benar-benar hanya menikmati nasi goreng buatannya.
Nia tersenyum lega. Sejenak dia melupakan nasi goreng buatan Ayu apalagi buatan Bik Aini. Di pikirannya, Ardian lebih menyukai nasi goreng buatannya. Iya, itu pasti Tapi itu hanya sekejap melintas di benaknya. Kejap berikutnya, bayangan wajah dan tubuh Ayu yang demikian cantik, manis, sintal, menggoda, dan menggugah selera kembali muncul di benaknya.
Tidak mungkin. Tidak mungkin Ardian tidak punya rasa apa-apa ke Ayu, bisik hati Nia. Pemandangan Ardian dan Ayu yang berdua di dapur kemarin masih terasa sangat mengusik ketenangannya. Hatinya kembali gelisah.
"Ayu akan datang kerja hari ini, Ardi? Jam berapa biasanya dia datang?" tanya Nia.
Ardian terperangah pas di saat dia menyelesaikan suapan terakhir di mulutnya.
"Ayu?" Ardian mengerutkan kening.
"Iya, Ardi. Ayu. Bukankah katamu dia pengganti sementara Bik Aini di rumah ini? Jadi berarti hari ini dia akan datang juga untuk bersih-bersih rumah?" tanya Nia dengan suara penasaran.
Ardian terhenyak. Dia baru sadar kalau ternyata dia sudah berbohong pada Nia yang sangat mempercayainya selama ini dengan mengatakan Ayu adalah orang yang menggantikan sementara tugas Bik Aini di rumah ini padahal Ayu adalah cleaning service di kantornya yang selama setahun ini menjalin hubungan khusus dengannya sekaligus menggantikan tempat Nia di hati Ardian semenjak gadis itu meninggalkannya.
* * *
__ADS_1