
Bab 26
Ardian membuka pintu mobilnya dengan kunci otomatis. Setelah itu dia berjalan mendekat dan masuk ke dalam.
Shella pun buru-buru mengikuti langkah Ardian dengan membuka pintu sebelah kiri mobil dan masuk ke dalam. Dia duduk di jok depan bersama Ardian.
Ketika Ardian bersiap-siap menjalankan mobilnya, jendela kaca di sampingnya diketuk seseorang.
Ardian menolehkan kepala dan membuka jendela kaca, menunggu apa yang hendak dikatakan Pak Satpam yang berjaga-jaga di halaman gedung . Dia yang mengetuk jendela kaca mobil tadi.
“Pak, Bu Minarni bertanya apakah Bapak butuh supir untuk menyetir ke kota X? Soalnya jaraknya lumayan jauh, sekitar 50 km dari sini,” kata Pak Satpam.
Ardian berpikir sejenak lalu melirik Shella yang duduk di sampingnya. Gadis itu membuat gerakan dengan memperbaiki posisi duduknya setelah mengenakan sabuk pengaman.
Tampaknya dia agak kesusahan menjaga rok span hitamnya yang pendek untuk tak tersingkap di waktu duduk. Paha putihnya yang mulus semakin jelas terlihat karena dia duduk di dekat Ardian.
"Nggak usah,” jawab Ardian pendek sambil menutup jendela kaca dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman gedung.
Shella menarik napas lega. Mimik wajahnya tampak senang karena Ardian menolak mobil dikendarai supir. Apakah itu berarti, Ardian tertarik padanya dan sengaja membiarkan momen berdua tercipta dengannya? Hati Shella pun terasa berbunga-bunga dan bergairah dibuatnya.
Ardian menjalankan mobilnya dituntun Shella. Gadis itu menunjukkan jalan mana yang harus diambil Ardian saat menyetir. Jarak 50 km ke kota X lumayan jauh, Ardian harus menghabiskan waktu satu jam lebih di perjalanan bersama Shella untuk sampai di tempat tujuan.
Berkali-kali Shella menyibakkan rambut sebahunya yang lembut dan wangi saat duduk di samping Ardian.
Pemuda itu bisa mencium wangi menggoda yang ditebarkan rambut dan tubuh gadis di sampingnya.
Beberapa kali Shella memainkan jari- jemarinya yang lentik di atas pahanya yang putih mulus yang tersingkap jelas karena rok spannya yang pendek.
Walau berhati dingin dan bersikap tenang, namun tak urung konsentrasi Ardian agak terpecah juga karena Shella seperti sengaja melakukan gerakan-gerakan itu untuk menggoda Ardian.
Kadang jari-jemarinya yang lentik mengelus paha putihnya yang mulus. Kadang dadanya yang montok dibusungkan, seperti sengaja memamerkan dua bukit indah miliknya yang menantang. Apa yang tersembul di balik blus ketat tipis merah yang dikenakannya, sangat mudah dibayangkan keindahannya.
__ADS_1
Ardian merasa agak terganggu juga oleh sikap Shella itu. Dia tak bisa berkonsentrasi penuh dalam menyetir.
Berkali-kali gadis itu mengeluarkan suara desahan, seperti sedang menikmati momen yang amat mendebarkan bersama Ardian.
Walau dulu Ardian memiliki banyak teman cewek yang cantik dan seksi, namun mereka masih kalah cantik, kalah seksi, dan kalah menggiurkan dari Shella.
Entah mengapa, Ardian merasa gadis di sampingnya ini seperti memasang susuk yang membuat orang-orang di sekelilingnya terpesona olehnya. Kalau cantik dan seksi saja, tak akan sebegitu kuat daya tariknya, apalagi bagi Ardian yang terkenal dingin.
“Sudah mau sampai?” tanya Ardian membuyarkan lamunan dan khayalan Shella.
Gadis itu sedang berkhayal Ardian mencumbuinya di sepanjang perjalanan. Kenyataannya pemuda itu tak bereaksi apa-apa.
“Hah?” Shella seperti terkejut dibangunkan dari mimpi indahnya.
Sedari tadi selama 1 jam lebih di perjalanan, Ardian sanggup tak tergoda oleh semua gerak-gerik yang dilakukan Shella, bahkan suaranya yang manja merayu dan desahan napasnya pun tak digubris Ardian. Ardian hanya merasa agak terganggu dalam menyetir, konsentrasinya jadi terpecah karena ulah Shella itu.
“Iya… itu di depan sudah nampak proyeknya,” tunjuk Shella dengan suara kecewa. Sepertinya dia menyesal karena tak berhasil menjalankan niatnya menggenggam Ardian di sisinya.
Beberapa buruh yang sedang bekerja melempar pandang ke arah pasangan muda-mudi yang sangat tampan dan cantik itu. Mereka seperti disuguhkan pemandangan indah dan minuman segar di kala lelah dan haus.
“Wuih, bagus banget,” kata seorang dari para buruh itu.
“Barang bagus datang lagi.
“Suiiit… suiiit…"
“Hush! Itu kan Non Shella sama anaknya boss. Macam tak tahu saja kalian,” yang satu lagi menimpuk kepala 2 temannya dengan obeng. Untunglah mereka mengenakan helm proyek, sehingga timpukan itu tak begitu terasa di kepala.
“Namanya siapa, tuh?” tanya satu di antaranya.
“Tak tahu! Panggil saja Bapak!”
__ADS_1
“Bapakmu! Dia masih muda sekali, masa kita panggil Bapak? Yang benar saja, paling setengah dari umur kita.”
“Kalau nggak kita panggil Nak atau Dek saja.”
Ya ampun, ternyata bukan hanya cewek-cewek di meja resepsionis yang pintar menggosip, tapi para cowok di lapangan yang sedang bekerja pun bisa menggosip.
Siapa suruh Ardian punya wajah kelewat tampan dan Shella kelewat cantik, jadi sasaran gosip bukan salah juga. Apalagi saat melihat dandanan yang cewek demikian menggiurkan di saat menemani anak boss meninjau lokasi, bertambah hangatlah gosipnya.
Untunglah gosipnya berhenti sampai di situ. Nggak sampai cas-cis-cus apa saja yang telah terjadi di sepanjang perjalanan menuju lokasi selama satu jam lebih. Hanya mereka berdua di dalam mobil, susah percaya kalau yang cowok tak tergoda oleh makhluk menggiurkan di sampingnya.
“Selamat siang, Pak!” sapa keempat buruh yang sedang bekerja bergerombol di situ.
Ardian melirik mereka lalu mengangguk.
Beberapa saat kemudian datang seorang pria berusia 40-an, mengenakan seragam yang lain warna dengan para pekerja, namun dia juga mengenakan helm proyek. Pria itu adalah kepala proyek.
“Siang, Pak Ardian,” dia mengucapkan salam setelah dekat. “Siang, Non Shella,” katanya juga saat melihat gadis yang berdiri di samping Ardian. Dia mengenal Shella karena gadis itu sudah sering menemani Bu Siska ke sana.
Biasanya kepala proyek itu akan menjelaskan pada Bu Siska tentang perkembangan yang telah dicapai. Tahap-tahap yang telah dilalui dalam membangun proyek dan kendala apa saja yang dihadapi. Lalu Shella pun akan mencatat semua laporan dari kepala proyek.
Ardian tampak berbincang-bincang dengan kepala proyek itu. Di sampingnya, Shella memegang sebuah buku notes dan mencatat semua laporan yang didengarnya.
“Bapak mau istirahat sebentar di dalam?” tanya kepala proyek itu setelah memberikan laporan selama setengah jam kepada Ardian.
Mereka sambil berjalan sambil melihat berbagai sisi proyek yang sedang dikerjakan para buruh. Puluhan buruh ada di lokasi proyek itu dan mereka tampak sibuk. Bahkan ada yang berada di atas bangunan tinggi.
Ardian mengangguk. Dia dan Shella berjalan cukup jauh untuk sampai di dalam ruangan kantor yang memang disediakan untuk sewaktu-waktu boss atau anak boss datang.
Selain ruangan kantor, juga ada ruangan lain untuk kepala proyek dan ruangan istirahat bagi para karyawan yang lumayan adem dan sejuk. Lumayan juga karena ada sisi dari bangunan yang sedang dikerjakan itu yang sudah selesai dibangun, yaitu ruangan-ruangan itu.
* * *
__ADS_1