Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Malam Old and New di Taman


__ADS_3

Bab 49


"Tampaknya kita harus segera bergabung dengan mereka di sana, Pak," kata Ayu saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.


Ardian turut melihat jam dinding lalu menghela napas berat. Sejujurnya dia memang kurang suka berbaur dengan para karyawannya karena sebagai atasan selama 3 bulan ini Ardian tidak akrab dengan mereka.


"Aku benar-benar malas ke sana, Yu," jujur Ardian dengan perasaan enggan.


"Kenapa, Pak? Bapak tidak suka karyawan sendirikah?" tanya Ayu.


"Bukan begitu, cuma aku..."


"Cuma apa, Pak?" Ayu menunggu Ardian melanjutkan ucapannya, tapi Ardian kemudian diam.


"Oh, Bapak tak suka dengan keramaian ya?" tebak Ayu.


"Nggak begitu juga," jawab Ardian. "Waktu kuliah dulu aku biasa beramai-ramai dengan teman-teman kuliahku. Mereka sering ke rumah atau jalan-jalan bareng."


"Oh," Ayu berpikir sebentar lalu mengangguk. "Aku mengerti sekarang, Pak Ardian tak begitu suka berkumpul dengan orang-orang yang tak begitu dekat. Iya kan, Pak?"


Ardian tersenyum tipis.


"Apakah aku termasuk orang yang dekat dengan Bapak?" tanya Ayu tiba-tiba.


"Kamu?" Ardian menunjuk Ayu dengan jari telunjuknya.


Ayu mengangguk. "Iya, Pak. Aku. Apakah aku sudah termasuk orang yang dekat dengan Bapak?" ulang Ayu lagi.


"Barangkali," jawab Ardian menghiasi bibirnya lagi dengan seulas senyum tipis.


Ayu tersenyim lega. "Kalau begitu begini saja. Aku ikut Pak Ardian ke taman. Aku temani Bapak ke sana bergabung dengan rombongan."


"Kamu mau ke sana juga?" tanya Ardian.


"Iya, Pak. Temani Bapak supaya Pak Ardian merasa nyaman dan tak rikuh karena ada seseorang yang dekat dengan Bapak menemani," jawab Ayu bernegosiasi.


"Benar?" Ardian tak percaya.


"Iyalah, Pak. Kita sekarang ke sana," ajak Ayu.

__ADS_1


Ardian merasa semangat kini karena ada Ayu yang akan menemaninya ke taman bergabung dengan para karyawan merayakan malam old and new. Sejujurnya, Ardian merasa Ayu begitu dekat di hatinya. Saat Ayu menolongnya dari bahaya insiden di lapangan proyek luar kota, setelahnya juga Ardian merasa Ayu selalu ada di hatinya.


"Ayo, Yu," ajak Ardian juga.


Ardian dan Ayu melangkah meninggalkan ruang tamu. Mereka berjalan keluar dari dalam villa dan menuju ke arah taman yang mana sudah ramai dan riuh diisi para karyawan perusahaan Ardian yang totalnya sekitar 50 orang.


"Eh... Pak Ardian datang!" seru seorang karyawan cewek yang ada di taman saat melihat kehadiran Ardian.


"Selamat malam, Pak!"


"Selamat malam, Pak!"


"Selamat malam, Pak!"


Begitulah terus terdengar suara sapaan dari para karyawan yang ada di situ yang kebetulan melihat kehadiran Ardian atau berada di dekat Ardian.


"Iya, selamat malam!" Ardian mengangguk membalas sapaan mereka. Sementara Ayu yang datang bersama dan berdiri di samping Ardian malah tak ada yang memperhatikan apalagi menyapa.


"Pak Ardian!" Shella tiba-tiba saja sudah muncul di depan Ardian. Wajahnya membiaskan senyum cerah yang penuh semangat.


"Iya, Shel," sahut Ardian kecil.


"Yu? Kamu kok bisa sama-sama Pak Ardian?" tanyanya curiga.


"Kami kebetulan datang bersamaan, Shel," ucap Ardian cepat sebelum Ayu sempat menjawab.


"Iya, Kak Shella, kami kebetulan saja datang sama-sama," kata Ayu.


Beberapa karyawan yang berada di sekitar Ayu dan Ardian menyaksikan percakapan antara Shella, Ayu, dan Ardian. Sementara beberapa lagi memilih untuk kembali ke tempatnya semula atau bergabung dengan kelompok yang lebih ramai.


"Oh, begitu ya?" reaksi Shella dengan nada penasaran.


"Iya. Jadi acaranya apa sekarang?" tanya Ardian mengalihkan pembicaraan.


"Oh, sekarang lagi acara memanggang sate, Pak. Pak Ardian mau ke sana lihat?" tawar Shella sambil menunjuk ke satu arah, tempat di mana paling ramai karyawan berkumpul.


Ardian memandang Ayu seolah menanti jawaban. Shella pun jadi ikut-ikutan memandang Ayu.


"Ayo kita ke sana, Pak Ardian dan Kak Shella," ajak Ayu setuju.

__ADS_1


Ketiganya pun berjalan beberapa langkah menuju tempat yang dimaksud.


Seperti tadi, para karyawan menyapa dan mengucapkan salam saat melihat kehadiran Ardian. Mereka memberi tempat supaya Ardian bisa duduk di sana dengan lapang. Kebanyakan memang duduk di atas batu yang berhadapan dengan tempat memanggang sate. Mereka tampak bercakap-cakap dengan ramai tadi sebelum kehadiran Ardian.


"Lanjutkan cerita kalian, usah pedulikan aku," kata Ardian diplomatis.


Mendapat izin seperti itu, para karyawan pun melanjutkan kembali obrolan meraka yang sempat terhenti karena kehadiran Ardian. Mereka berbincang-bincang kembali sambil memanggang sate walaupun suara mereka agak dikecilkan dibandingkan tadi. Namun lama kelamaan mereka bersuara riuh dan ramai lagi saat sate-sate sudah selesai dipanggang dan saatnya untuk dimakan beramai-ramai.


"Pak Ardian mau satenya?" tanya Shella yang duduk di atas batu di samping kanan Ardian. Sementara Ayu juga duduk di samping Ardian tapi di sebelah kiri. Jadi Ardian duduk di atas batu diapit Ayu di sebelah kiri dan Shella di sebelah kanan.


"Iya, boleh juga," jawab Ardian.


Shella mengambil sate-sate yang sudah selesai dipanggang dari tempat panggang sate lalu menyerahkannya pada Ardian. "Ini, Pak," katanya.


Ardian menerima 5 tusuk sate ayam yang sudah selesai dipanggang dari tangan Shella dan memegangnya di tangan.


Shella kembali mengambil 5 tusuk sate untuk dirinya sendiri. Saat dia menoleh, dilihatnya Ardian sedang menawarkan sate di tangannya pada Ayu.


"Untukmu 2, Yu?" tawar Ardian.


Ayu tersenyum dan menerima 2 tusuk sate dari Ardian. Shella yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghela napas.


"Yu, kalau mau sate lagi ambil sendiri di sana!" tunjuk Shella ke tempat panggang sate.


Ayu terhenyak sesaat. "Nggak lagi, Kak, sudah cukup 2 ini," jawabnya dengan senyum manis.


Dalam hati Shella merutuk. Enak saja si Ayu ini makan sate yang diambilkannya untuk Ardian tadi. Ayu kan bisa ambil sendiri. Huh! Padahal sudah lupa tadi waktu mau makan malam di dapur pun Shella malah menyuruh Ayu mengambilkan nasi putih untuknya dari rice cooker. Satu-satu nih ceritanya.


"Enak satenya, Yu?" tanya Ardian sambil melempar senyum pada Ayu.yang duduk di samping kirinya yang barusan menghabiskan sate pemberian Ardian. Sementara Shella yang duduk di.samping kanan Ardian malah diacukan dan dianggap tak ada. Jelas saja Shella bertambah kesal.


"Iya, Pak Ardian, satenya enak sekali. Sampai mau tambo loh, Pak," jawab Ayu dengan nada seloroh dan suara manja merayu hingga membuat bulu kuduk Shella merinding.


"Kalau begitu ini lagi untukmu, aku sudah cukup makan 2 tadi," kata Ardian pada Ayu sambil menyodorkan sisa 1 tusuk sate di tangannya.


Ayu cekikikan geli lalu menerima lagi sate terakhir dari tangan Ardian. Sementara Shella yang duduk di samping kanan Ardian menggemeratukkan gigi melihat pemandangan mesra Ayu dan Ardian.


Ardian dan Ayu di mata Shella dan mata siapa pun yang memandang, seperti 2 insan yang sedang memadu cinta alias pacaran.


Akankah itu jadi kenyataan? 😍

__ADS_1


* * *


__ADS_2