
Bab 29
“Ya, ampun…!” Ardian dan Ayu tersadar saat Shella berdiri di samping mereka dan berteriak keras.
Wajah Shella menampakkan ketidaksenangan walaupun masih menyisakan keterkejutan akan insiden barusan yang nyaris mencelakakan Ardian.
Melihat tubuh Ayu menimpa tubuh Ardian, bukan main panas hatinya. Apalagi dilihatnya sedari tadi Ardian dan Ayu seolah tenggelam dalam suasana romantis setelah keduanya melalui bahaya bersama.
Dengan gerakan spontan, Ayu dan Ardian bangkit dari tanah. Ayu duluan berdiri sambil merapikan baju dan rambutnya, disusul Ardian yang bangkit lalu mengibas-ngibaskan belakang bajunya yang terkena butiran-butiran pasir.
“Kau tak apa-apa, Yu?” tanya Ardian saat melihat Ayu meringis memegangi lututnya. “Sakitkah kakimu?” tanyanya.
Ayu menggeleng. Dibukanya ikat rambutnya yang mengikat rambutnya yang halus dengan panjang sebahu. Setelah dirapikannya sejenak, Ayu mengikatnya kembali dengan cepat menjadi satu.
Ardian masih tak lepas memandang apa yang gadis itu lakukan. “Sakit kakimu?” ulang Ardian melihat Ayu seperti bergegas hendak beranjak dari situ melihat kehadiran Shella.
Ayu menggeleng, “Tidak,” jawabnya. “Aku permisi dulu, Pak, masih banyak kerjaanku,” ujarnya tanpa melihat ke arah Shella juga ke arah Ardian.
Kapalanya menunduk menghindari tatapan Shella yang seperti pisau pemotong daging hendak mengoyak-ngoyak tubuhnya yang mungil.
“Yu…,” Ardian berjalan lima langkah menyusur langkah Ayu. “Yu,” panggilnya lagi lalu menahan langkah Ayu yang seperti terburu. Tangannya mencengkeram lembut lengan gadis itu yang lalu mengangkat wajah bulat telurnya memandangi dirinya.
“Kenapa, Pak?” tanya Ayu dengan suaranya yang seperti biasa, merdu merayu dan sangat sendu di telinga Ardian, namun sebaliknya seperti suara kuntilanak melengking di telinga Shella.
“Kamu terluka, Yu. Lututmu pasti sakit,” kata Ardian sambil menatapnya iba. “Jangan lanjut kerja dulu, istirahat saja.”
“Nggak bisa, Pak,” Ayu menggeleng. “Kerjaanku menumpuk, kalau kubiarkan bakal berantakan semua,” kata Ayu sambil menepiskan tangan Ardian di lengannya.
“Tapi kamu…”
“Huh!” Shella mendengus keras. Kasar dan kesal. Lalu berjalan ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Belum sempat Ardian melanjutkan kalimatnya, Shella sudah berdiri di dekat Ayu dan mendorong tubuhnya kasar. “Apa-apaan kamu, Yu? Pura-pura terluka? Pura-pura kasihan? Pura-pura lemah tapi harus tetap kuat? Hah?!”
Ardian menatap Shella bingung. Dia tak mengerti kenapa Shella harus marah pada Ayu. Bukankah seharusnya berterima kasih karena Ayu sudah menyelamatkan dirinya dari bahaya besar?
“Maksud Kak Shella?” Ayu balik bertanya. Diangkatnya kepalanya, menatap Shella dengan dua bola matanya yang bundar.
Shella sangat benci wajah itu. Wajah innocent bulat telur dengan sepasang mata bundar hidung bangir bibir mungil dan bulu mata lentik ditambah sepasang gigi seri gingsul seperti gigi kelinci yang lucu dan imut. Apalagi melihat lesung pipitnya yang amat sangat manis, membuat Shella tak berhenti mengepalkan tangannya hendak menonjok sekuatnya supaya bonyok.
“Maksudku?” suara Shella terdengar amat geram. “Kau tanya lagi maksudku? Hah? Pura-pura nggak tahu atau memang nggak tahu, Yu?!”
Ayu menatap Shella dengan pandangan yang seolah sangat bingung. Pandangannya itu, seperti seorang anak kecil tak berdosa yang tak tahu apa salahnya.
Darah Shella seperti mendidih. Sementara Ardian berdiri semakin bingung melihat adegan yang dipertontonkan Shella di depannya. Apaan-apaan Shella ini? pikirnya.
“Tadi, setelah menyelamatkan Pak Ardian, bukannya cepat-cepat berdiri malahan asyik banget kelihatannya memeluk terus Pak Ardian?”
Ayu tercekat. Ditatapnya Shella dengan tatapan yang semakin tak mengerti.
“Shel, kamu kenapa?” kali ini Ardian angkat bicara. Didekatinya Shella dan ditariknya tangan Shella menjauh dari Ayu.
Ardian merasa sudah saatnya dia harus meredakan ketegangan yang diciptakan Shella. Ardian merasa Shella terlalu berlebihan menuduh Ayu yang bukan-bukan.
“Aku tidak salah, Pak!” Shella mengibaskan tangannya yang ditarik Ardian. “Dia itu memang wanita penggoda yang tampilannya seperti makhluk tak berdosa. Bapak jangan tertipu olehnya!”
“Kamu bicara apa, Shel?” Ardian mengecilkan nada suaranya, seperti malu kedengaran Ayu. “Dia sudah menyelamatkan nyawaku. Aku berutang budi padanya. Seharusnya kamu berterima kasih padanya, Shel, bukan malah menuduhnya yang bukan-bukan.”
“Pak, aku tidak pernah salah menilai orang. Bapak jangan terlalu lugu. Dia ini tipe wanita licik ular berbisa yang akan melilit di tubuh Bapak nantinya!”
“Aduh, semakin bingung aku!” seru Ardian.
“Bapak sudah tertipu oleh penampilan luarnya! Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja, Pak. Bisa-bisa di dalam hatinya racun berbisa. Bapak harus hati-hati!”
__ADS_1
Ayu menatap Shella dengan mata berkaca-kaca. Air matanya yang sedari tadi ditahannya jatuh sudah. Mengalir turun seperti mata air dari pegunungan.
Menyadari Ayu yang sudah mulai menangis, Ardian segera memberi peringatan pada Shella, “Selanjutnya, kamu jangan bicara apa-apa lagi sampai kita pulang ke kantor, Shel. Catat! Ini perintah!”
Setelah berkata begitu, Ardian berjalan menjauhi Shella dan mendekati Ayu.
“Yu, sori ya, Yu, bukan maksud Kak Shella untuk menyakitimu. Dia hanya terkejut. Atau apalah namanya. Aku mewakilinya meminta maaf. Dan juga, terima kasih sudah menyelamatkanku tadi.”
Ayu mengangkat kepalanya menatap Ardian yang jauh lebih tinggi darinya. Sebelum Ayu sempat menghapus air mata di pipinya, Ardian sudah menggerakkan tangannya menyentuh pipi Ayu dan menghapus air mata gadis itu dengan telapak tangannya.
“Jangan nangis lagi, Yu. Nanti aku kasih tahu kepala proyek untuk memberimu cuti beberapa hari karena insiden hari ini sudah membuatmu terkejut. Juga karena kakimu sepertinya terluka saat berlari dengan kencang tadi,” kata Ardian.
“Tidak apa-apa, Pak,” kata Ayu sambil berusaha tersenyum. Sepasang matanya yang bundar indah dan bersinar menatap Ardian lembut.
Ardian merasa lega karena Ayu tidak marah. “Kamu istirahat saja ya, tak usah kerja lagi hari ini. Nanti aku suruh kepala proyek cari gantinya kamu selama beberapa hari,” kata Ardian.
“Iya, Pak, makasih,” kata Ayu. “Tapi aku masih sanggup bekerja, Pak. Nggak-apa. Kakiku tidak luka, hanya lecet sedikit saja. Nggak apa-apa, Pak, bukan masalah besar.”
“Betul, Yu?” tanya Ardian memastikan sambil melihati lutut Ayu.
“Iya, betul, Pak,” jawab Ayu dengan senyumnya yang termanis.
“Kalau begitu… kalau begitu…,” Ardian tak tahu harus berucap apa.
“Kalau begitu, aku balik kerja saja, Pak. Permisi, Pak Ardian, aku balik sekarang. Bapak hati-hati bawa mobilnya pulang. Jangan bertengkar dengan Kak Shella di tengah perjalanan. Hati-hati ya, Pak,” pesan Ayu lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Ardian.
Melihat sosok tubuh Ayu yang mungil mulai menjauh darinya, Ardian merasa seolah ada sesuatu yang melekat di hatinya yang harus dengan berat dilepaskan.
Oh, apa yang terjadi dengan diriku? pekik Ardian dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti berusaha terbangun dari mimpi.
* * *
__ADS_1