Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Di Bukit Kubu dan Pasar Berastagi


__ADS_3

Bab 57


Bus pariwisata sudah sampai di depan bukit Kubu. Para karyawan perusahaan Ardian bergegas turun menyusul boss mereka yang turun duluan.


Mata Ardian masih mencari-cari sosok Ayu sesampainya di area bukit Kubu.


Ayu yang tahu Ardian sedang celingak-celinguk mencarinya spontan menepuk pundak cowok itu perlahan.


"Cari siapa, Pak?" tanya Ayu dengan suara merdu dan renyah.


Ardian menoleh dan menjawab cepat, "Ah, kamu pun, Yu. Sini, jangan jauh-jauh."


Ayu tertawa kecil memamerkan gigi-gigi gingsulnya yang menggemaskan.


Ardian menggandeng tangan Ayu seperti menggandeng tangan seorang pacar. Tentu saja hati Ayu berbunga-bunga dibuatnya. Sekarang Ayu benar-benar bangga berjalan di sisi Ardian dan di depan orang banyak.


"Kita duduk di sana saja, Yu," Ardian menunjuk satu tempat yang agak lapang di hamparan rerumputan hijau yang ada di atas bukit Kubu.


Ardian sengaja memilih tempat yang agak tersendiri supaya bisa berdua saja dengan Ayu, jauh dari rombongan karyawan perusahaan yang membentuk beberapa kelompok kerumunan di bukit Kubu.


"Iya, Pak," Ayu mengikuti langkah kaki Ardian menuju tempat yang dimaksud. Setelah sampai mereka berdua duduk di atas hamparan rumput hijau beralaskan tikar yang disewa.


"Nyaman di sini ya, Pak," kata Ayu.


"Iya, adem dan sejuk," balas Ardian.


Mereka duduk di situ sambil memandang kejauhan. Rombongan karyawan terpecah menjadi beberapa kelompok dan duduk beralaskan tikar di beberapa tempat yang ada di bukit Kubu.


"Yu," Ardian memulai pembicaraan di antara mereka berdua.


"iya, Pak?" Ayu menunggu.


"Apa impianmu?"


"Impianku?"


"Iya."


Ayu berpikir sebentar sebelum menjawab dengan senyum sumringah. "Membahagiakan orangtua, membahagiakan diri sendiri, menikah dengan laki-laki yang dicintai dan mencintai, melahirkan 2 pasang anak, membesarkan mereka dengan kasih sayang, mendidik dengan benar supaya menjadi orang berguna."


"Ohya? Cuma itukah impianmu? Kedengaran sangat sederhana, Yu," reaksi Ardian.


"Iya, Pak. Kedengaran sangat sederhana tapi sangat bermakna," balas Ayu.

__ADS_1


"Kamu tidak ada impian lainkah? Misalnya memiliki sebuah perusahaan, membangun sebuah rumah sakit atau sekolah, atau yang sejenis itu?"


Ayu menggeleng. "Tidak, Pak. Aku tidak biasa memikirkan orang lain. Aku hanya berpikir untuk membahagiakan diri sendiri dan orang-orang yang terdekat saja."


"Bagus juga, Yu. Aku akan mendukungmu," Ardian tiba-tiba merangkul pundak Ayu dari samping seperti sedang menyemangatinya.


"Pak Ardian mendukung Ayu gimana caranya?" tanya Ayu tertarik.


"Mendukung mewujudkan impianmu."


"Iya, gimana caranya, Pak?" Ayu semakin ingin tahu.


"Nggg...," Ardian agak kebingungan mencari kalimat yang tepat. "Ya misalnya membantumu membahagiakan orangtuamu. Apa yang bisa membuat mereka bahagia, katakan biar kuwujudkan."


"Hahaha," Ayu tertawa lebar.


"Kenapa tertawa, Yu?"


Ayu tersenyum. "Nggak kenapa, Pak. Cuma lucu saja Pak Ardian belum kenal orangtua Ayu tapi bilang mau membahagiakan mereka."


"Oh, kalau begitu secepatnya kamu kenalkan aku.dengan orangtuamu. Papa mamamu masih ada kan?"


Ayu tercekat. "Cuma ada mamaku, Pak. Papaku tak tahu entah ke mana rimbanya sedari aku kecil."


"Oh, maaf," sesal Ardian.


Mereka menyelesaikan pembicaraan dengan topik tersebut sampai di situ. Selanjutnya Ayu dan Ardian menikmati kesejukan di bukit Kubu dengan membaringkan badan berdampingan di atas tikar.


"Senangnya bisa begini ya, Yu," kata Ardian yang tidur telentang di atas tikar hingga bisa memandang langit.


"Iya, Pak. Ayu juga senang," jawabnya.


Keduanya betul-betul menikmati momen indah bersama tepatnya berdua di bukit Kubu.


Dua jam rombongan berada di sana, setelah itu mereka berangkat menuju pasar Berastagi yang menjual buah-buahan dan sayur-sayuran segar dengan menaiki bus pariwisata.


"Kita makan jagung di sana dulu, Yu," Ardian mengajak Ayu berjalan menuju satu tempat seperti warung atau kantin yang mana ada banyak orang duduk di sana makan jagung.


"Kamu mau jagung panggang atau rebus?" tanya Ardian setelah mereka duduk di sebuah bangku.


"Jagung panggang saja, Pak," jawab Ayu.


Ardian memesan 2 jagung panggang rasa manis pedas pada si penjual jagung.

__ADS_1


"Kenapa Pak Ardian selalu ikut pesanan Ayu? Waktu di kolam renang juga Pak Ardian makan nasi goreng bareng Ayu," tanya Ayu bernada seperti protes padahal hatinya senang.


"Karena aku suka," Ardian mengedipkan sebelah mata.


Ayu lagi-lagi tak mampu menahan tawanya dan langsung memamerkan gigi-gigi gingsulnya.


"Enak sekali, Pak!" seru Ayu takjub saat jagung panggang itu mampir di lidahnya.


"Kamu belum pernah makan jagung panggangkah?" Ardian penasaran.


Ayu menggeleng. "Cuma pernah jagung rebus."


"Oh, nanti apa yang kamu belum pernah makan, aku akan mengajakmu," janji Ardian.


"Benarkah, Pak?" mata Ayu berbinar menatap wajah tampan sangat di sampingnya yang duduk menyamping.


"Iya, aku janji," tegas Ardian.


Ayu merasa hatinya berbunga-bunga. Dirinya sungguh terharu dibuat pemuda kaya-raya bak pangeran berkuda putih itu.


Inikah berkah yang didapatnya setelah menolong pemuda itu tempo hari? Tindakannya yang berani dan spontanitas saat Ardian hampir mengalami kecelakaan serius dalam insiden di lapangan proyek luar kota telah telah menuai hasil. Buah dari kebaikan.


Satu jam rombongan berada di pasar Berastagi. Ardian membelikan Ayu beberapa macam buah dan sayur untuk dibawa pulang.


"Untuk orang rumah," kata Ardian sambil menyodorkan beberapa bungkusan berisi bermacam-macam buah dan sayur.


"Terima kasih, Pak," jawab Ayu. "Bapak sendiri nggak beli?" tanyanya.


Ohiya, aku jugalah, jeruk satu kilo ya, Bu," kata Ardian pada si penjual buah yang menggelar barang dagangannya di lapak-lapak yang dialasi terpal di atas meja kayu.


Ardian menerima jeruk pesanannya dan membayar semua sayur dan buah yang dibelinya baik untuk Ayu maupun untuk dirinya sendiri.


Setelah itu mereka berjalan bersisian melihat-lihat souvenir, baju, dan sebagainya yang dijual di pasar Berastagi.


"Yu, kamu mau baju ini? Biar aku belikan," tawar Ardian lagi ketika langkah mereka sampai di depan kios baju yang memajang banyak baju bergambar pemandangan tempat wisata seperti Berastagi, Danau Toba, dan lain-lain.


Ayu mengangguk. Dia suka memakai baju dari bahan yang lembut dan bakal sejuk di badan itu. Bisa dipakainya sebagai baju tidur.


Ardian membelikan Ayu beberapa potong baju bergambar tempat wisata. Tak lupa juga dia membelikan beberapa bentuk souvenir seperti gantungan kunci, boneka kecil, dan lain-lain yang ada di kios lain.


Selesai mengitari pasar Berastagi, Ardian mengajak Ayu menaiki sado yang ditarik oleh kuda. Pengendara sado duduk di belakang kuda yang menarik sado yang berjalan. Sedangkan Ardian dan Ayu duduk berdampingan sebagai penumpang di belakang pengendara sado.


Begitulah hari yang indah itu dilewati Ardian dan Ayu bersama para karyawan perusahaan Ardian di Berastagi.

__ADS_1


Rencananya besok mereka akan mengunjungi beberapa tempat wisata lagi seperti Tahura, Mikie Holiday, dan lain-lain.


* * *


__ADS_2