Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Dua Sahabat Masa Kecil yang Kembali Bersama


__ADS_3

Bab 123


"Iya, besok dia datang lagi," jawab Ardian setelah berpikir beberapa saat.


Nia menarik napas panjang dan menahannya. Tak bisa dibayangkannya kalau setiap hari dia harus berhadapan dengan seorang gadis yang dia curigai memiliki hubungan khusus dengan Ardian. Gadis itu akan datang lagi besok. Dia akan datang ke villa Ardian ini besok lusa dan seterusnya. Ups!


Ardian seolah bisa menebak apa yang dipikirkan Nia itu ketika melihat ekspresi wajahnya. Dia berjalan mendekati Nia dan memeluk pundaknya. "Usah pikirkan hal lain yang tak penting, Nia. Kita bicara saja soal kamu selama di Tanjungbalai. Pasti sangat sulit bagimu ya?"


Nia mengikuti langkah kaki Ardian yang menuntunnya kembali ke ruang tamu dengan rangkulan di pundak. "Iya, Ardi. Benar-benar sulit. Aku nyaris tak bisa bertahan lagi. Untung ada Riko...," kalimat Nia tertahan. Dia melirik Ardian yang berjalan di sampingnya


Ekspresi wajah Ardian agak berubah saat Nia menyebut nama Riko. Dia seolah merasa tak nyaman mendengar Nia memuji nama pemuda itu. Apakah Riko memang benar-benar sangat baik pada Nia sampai gadis itu terus memujinya sedari tadi? Pemuda itu seolah menjadi malaikat penolong bagi Nia di saat-saat sulit. Bukan dirinya.


"Jadi kamu kenapa harus menjual hp-mu sama dia? Bukankah lebih baik kamu menghubungiku saja lewat hp yang kubelikan itu?" tanya Ardian seolah ingin mengingatkan Nia akan asal-usul hp itu yang merupakan pemberiannya tapi malah dijual kepada orang lain.


Sebenarnya tak masalah bagi Ardian hp itu mau diapakan Nia. Tapi dia merasa tak puas karena gara-gara hp Nia yang dijual ke Riko itu jadi menimbulkan banyak salah paham antara dirinya dengan gadis itu. Apalagi karena hp itu pula, Nia sampai dekat dengan Riko. Sampai bisa ke tepi sungai Asahan bersama. Pastilah sehari-harinya hubungan mereka sangat dekat. Apakah Nia tersentuh oleh kebaikan Riko itu dan bersimpati padanya? Ardian terus bertanya-tanya dalam hati.


"Aku menunggumu lama tak meneleponku, Ardi. Aku tahu kamu pasti marah karena aku tiba-tiba pulang ke Tanjungbalai waktu itu," kata Nia. "Jadi aku tak berani menghubungimu."


Mereka sudah tiba di ruang tamu dan duduk di sana lagi.


"Sini, Nia," Ardian menggapai pundak Nia lewat rangkulan yang melingkari belakang lehernya.


Nia membiarkan Ardian memeluknya. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu bidang laki-laki yang selama setahun ini dirinduinya. Laki-laki itu membelai rambut panjangnya sementara mereka bersandar di sofa.


"Maafkan aku, Nia," kata-kata itu akhirnya terucap juga dari mulut Ardian. Dia merasa menyesal kenapa waktu itu bisa kesal begitu saja pada Nia gara-gara ditinggal pulang ke Tanjungbalai Padahal gadis itu pulang pun karena hendak merawat ibunya yang sakit.

__ADS_1


"Maaf untuk apa, Ardi?" tanya Nia lembut. Kepalanya masih bersandar lepas di bahu Ardian.


"Maaf, karena telah mengabaikanmu. Karena aku tak bisa terima kamu meninggalkanku tiba-tiba. Jadi lama tidak menghubungimu," jawab Ardian.


"Iya, nggak apa-apa, Ardi. Aku bisa mengerti dan tidak menyalahkanmu," balas Nia. Seulas senyum lega terukir di bibirnya.


"Jadi sekarang kamu tidak punya hp?" tanya Ardian. "Mau beli hp baru saja atau beli kembali hp-mu dari..."


"Dari Riko," sambung Nia. Dia menarik kepalanya dari bahu Ardian lalu menatap cowok itu.


"Iya, dari Riko," kata Ardian. "Kamu akan mengambil kembali hp-mu darinya? Biar kubayar dua kali lipat dari harga yang dibayarkannya ke kamu waktu itu. Sebagai tanda terima kasih karena dia telah menolongmu."


Nia terpana. Walaupun mungkin kalimat Ardian tepat, tapi nada suaranya seperti mengandung sesuatu rasa yang lain. Seperti rasa cemburu dan marah. Nia bahkan merasa ucapan dari Ardian itu seperti menyindir. Menyindir dirinya ataukah menyindir Riko? Padahal seandainya saja cowok itu tahu betapa sulitnya keadaan Nia saat itu yang sedang terdesak membutuhkan duit, pasti dia akan berpikir dua kali sebelum marah, kesal, atau sinis.


"Oh, maksudmu?" Ardian balik menatap Nia dengan tak mengerti.


Nia mengatur napasnya.."Maksudku... maksudku Riko tulus menolongku waktu itu. Dia tidak berpikir untuk mendapatkan balasan dua kali lipat dari pertolongannya itu."


"Wow!" tiba-tiba saja Ardian berseru. "Tentu saja dia tidak mengharapkan balasan dua kali lipat, Nia, karena yang diharapkannya adalah balasan cinta darimu."


Nia tercekat. Ardian sedang menatapnya dengan sorot mata yang agak dingin, seolah menyalahkan Nia yang terlalu polos mempercayai kebaikan orang lain itu tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.


"Dia... Riko maksudku, menolongku karena kami teman semasa SMA, Ardi. Dia tidak mengharapkan balasan apa pun," Nia berusaha menjelaskan dengan suara lembut untuk menghilangkan rasa cemburu dan prasangka Ardian terhadap dirinya dan Riko.


"Oh, syukurlah kalau dia memang tulus menolongmu, Nia, tanpa mengharapkan balasan apa pun," kata Ardian akhirnya dengan suara yang lebih lembut. Dia bisa melihat kejujuran di mata Nia. Gadis itu memang terlalu polos, tidak menaruh prasangka apa-apa pada cowok lain yang baik padanya. Dalam hal ini Riko.

__ADS_1


"Iya, Ardi. Riko memang tulus menolongku," jawab Nia lagi.


"Iyalah, kita bicara hal lain saja, Nia. Usah singgung nama Riko lagi," pinta Ardian seperti memohon pada Nia supaya gadis itu bisa mengerti perasaannya.


Jelas Ardian cemburu memikirkan selama setahun ini Riko selalu ada di samping Nia. Menolong dan menemani gadis itu di saat dia dalam kesulitan. Sedangkan Ardian sendiri bukan saja tak ada di sampingnya dan mengabaikannya, malah juga asyik berduaan dengan gadis lain yaitu Ayu. Oh, salahkah dirinya karena ketidaktahuannya gara-gara rasa marah dan kesal gadis itu pulang kampung tiba-tiba.


Tapi sekarang gadis itu sudah kembali ke sisinya. Mereka bisa memperbaiki apa yang keliru dan memulai kembali lembaran baru. Soal Ayu dan Riko yang menjadi penghalang keduanya, Ardian bertekad dalam hati akan mengesampingkan itu semua.


"Iya, Ardi. Bagaimana kabar papa dan mamamu, Om Wisnu dan Tante Siska?"


"Masih tinggal di luar negeri, Nia. Tampaknya belum akan kembali dalam waktu dekat. Jadi aku terpaksa harus mengurus perusahaan sendiri."


"Oh, tapi kamu sanggup mengurusnya juga selama setahun ini, Ardi. Kamu hebat," puji Nia.


"Tidak juga, Nia," Ardian tersenyum tipis. Mereka lebih suka papa dan Tante Siska daripada aku."


"Ah, masa sih, Ardi?" Nia seolah tak percaya.


"Iya, barangkali mereka melihatku kurang hendak berbaur. Atau barangkali kurang ramah seperti papa dan Tante Siska."


"Oh. Tapi sebenarnya kamu baik kan, Ardi. Mereka hanya kurang mengerti dirimu."


"Iya, Nia," jawab Ardian.


* * *

__ADS_1


__ADS_2