
Bab 36
Sepulangnya Nia, Riko segera mengutak-atik hp Nia yang sekarang menjadi miliknya. Hatinya penasaran ingin melihat aplikasi apa saja yang dipakai gadis pujaan hatinya itu. Barangkali dengan mengamati kegiatan Nia di berbagai aplikasi hp-nya, Riko bisa mengetahui lebih banyak tentang aktivitas gadis itu. Mengetahui lebih banyak rahasianya.
Ada berbagai aplikasi media sosial yang diunduh gadis itu di hp-nya, seperti: facebook, instagram dan lain-lain, namun dia tak pernah aktif di sana. Satu-satunya yang dipakai Nia adalah aplikasi whatsapp di mana Riko menemukan banyak chatting-an antara Nia dengan seorang cowok bernama Ardian.
Riko berusaha mengingat-ingat siapa Ardian ini karena teman sekolah mereka tak ada yang namanya Ardian. Pantas saja Riko tak kenal, karena Ardian waktu berusia kanak-kanak sudah pindah ke Medan.
Setelah membaca semua chatting-an Nia dengan Ardian di WA selama berbulan-bulan, Riko menyimpulkan kalau Ardian ini adalah seseorang yang sangat dekat dengan Nia saat Nia kuliah di Medan. Bahkan setelah membaca lebih banyak, Riko pun tahu selama di Medan Nia tinggal di rumah cowok ini. Mereka satu kampus dan Ardian adalah teman masa kecil Nia. Pantas saja Riko tak mengenalnya.
"Nia itu gadis yang baik dan sopan, Rik. Ibu mau dia jadi menantu Ibu, coba dekatilah dia," kata ibunya.Riko saat Riko sedang duduk di kursi makan menyantap makan malam bersama ayah dan ibunya.
"Oh, iyakah? Siapa Nia itu?" tanya ayahnya Riko sambil makan.
"Teman semasa SMA, Yah," jawab Riko.
"Sudah saatnya kamu memiliki pacar, Rik. Ibu ingin punya menantu dan cucu secepatmya."
"Ah, Ibu ini. Belum tentu Nia mau sama Riko, Bu. Kayaknya malah dia sudah punya pacar waktu kuliah di Medan."
"Ah, masa?" tak percaya ibunya Riko.
"Iya, Bu. Riko tak punya keberanian mendekati Nia. Kayaknya Riko tak masuk kategori tipe pria yang dia sukai. Apalagi Riko tidak kuliah dan nggak punya pekerjaan."
"Lha, itu bisa diatur, Rik. Kalau kamu jadian dengan Nia, ayahmu akan memberikan kalian modal usaha. Kita kan punya rumah satu lagi yang bisa digunakan untuk berjualan. Kamu saja yang nggak mau waktu Ibu suruh kamu berjualan di sana. Maunya lihat hp saja terus."
Ibunya Riko dari dulu sudah berusaha agar Riko mau berbisnis, tapi anaknya itu selalu menolak. Barangkali dengan adanya Nia yang disukai Riko sejak SMA akan mengubah pemikirannya menjadi mau, karena dengan adanya seorang istri bisa memicu semangat dan rasa tanggung jawab seorang pria.
"Riko nggak tahu gimana cara dekati Nia, Bu. Riko kan belum pernah pacaran karena nggak ada gadis lain yang Riko sukai selain Nia."
"Gampang saja caranya, Rik. Besok sore kamu ke rumahnya jalan-jalan. Jangan lupa bawa oleh-oleh. Biar Ibu yang sediakan semuanya untuk kamu bawa ke sana. Ibunya kan lagi sakit, bilang kamu ke sana hendak menjenguk ibunya. Sekalian bawakan dia makanan seperti susu, roti, biskuit, buah, dan lain-lain."
"Ah, masa Riko harus berkunjung ke rumahnya, Bu? Malulah."
"Loh, kok malu? Kamu kan tak berbuat salah, Rik, malah berbuat baik, kok malu pula?"
"Entar dikiranya Riko ada maksud tersembunyi, Bu."
"Ya memanglah kamu ada maksud tersembunyi, mendekati dia. Apa salah dan malu mendekati gadis yang disukai? Nggak kan?"
Riko diam tak berkutik. Dia sudah selesai makan malam.
__ADS_1
"Ayolah, Rik, dengar kata-kata Ibu ya? Besok kamu ke rumah Nia antarkan buah tangan menjenguk ibunya."
Karena didesak ibunya, akhirnya Riko setuju untuk menjenguk ibunya Nia besok dengan membawa buah tangan.
Keesokan sorenya pukul 3, Riko memberanikan diri datang ke rumah Nia seorang diri. Hatinya berdebar terus hingga dirinya sampai di depan rumah Nia.
"Permisi...," panggilnya di depan pintu setelah memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Nia.
"Permisi..," ulangnya sekali lagi sebelum gadis yang dikunjunginya itu keluar dari dalam rumah menjumpai dirinya.
"Riko?" Nia membelalakkan mata, agak surprais mendapat kunjungan tiba-tiba.
Riko bernapas lega melihat kemunculan Nia di ambang pintu walaupun detak jantungnya masih berdegup kencang.
"Iya, Nia. Selamat sore. Aku datang hendak mengunjungi ibumu," kata Riko.
"Oh, silakan masuk, Riko," Nia memberi jalan masuk pada Riko sambil tersenyum simpul.
"Ibumu sudah diantar ke dokter spesialis?" tanya Riko setelah duduk di ruang tamu.
"Sudah. Kemarin aku bawa ibuku ke rumah sakit sepulangnya dari rumahmu. Walau lumayan banyak pasiennya, tapi setelah menunggu 1 jam, ibuku diperiksa."
"Apa kata dokter?"
"Loh, yang kamu kunjungi itu dokter spesialis atau ahli terapi?" Riko mengernyitkan dahi.
"Hahaha," Nia tertawa mendengar kelakar Riko. "Doktermya hanya memberi vitamin.dan obat batuk, Rik. Selebihnya harus usahaku sendiri untuk menyembuhkan ibuku."
"Oh..., " Riko manggut-manggut. "Jadi di mana ibumu, Nia? Kok nggak nampak?"
"Ada di dalam kamar. Lagi tidur."
"Oh, nggak usah diganggu kalau begitu. Aku ada bawakan ini," Riko menyodorkan 2 plastik asoy berisi buah tangan yang dibawanya dari rumah. "Ini titipan ibuku untuk ibumu," kata Riko.
"Wah, ibumu baik sekali. Terima kasih ya, Riko," kata Nia.
"Ada tamukah, Nia?" terdengar suara Bu Rani dari dalam kamar tidur. Dia terbangun karena mendengar suara cakap-cakap putrinya dengan seseorang di ruang tamu.
"Iya, Bu," Nia bangkit dari duduknya. "Bentar ya, Rik," katanya lalu meninggalkan Riko sejenak, mendatangi ibunya di kamar tidur.
"Ada siapa, Nia?" tanya Bu Rani setelah Nia masuk ke dalam menjumpai dirinya.
__ADS_1
"Teman semasa SMA Nia, Bu. Namanya Riko."
"Riko?"
"Iya, Bu. Riko."
"Sepertinya Ibu kenal orangnya dari namanya."
"Ibu kenal Riko?"
Bu Rani berpikir-pikir sejenak, setelah itu menjawab, "Iya, Ibu ingat sekarang. Riko ini orang yang mencarimu beberapa kali waktu kamu kuliah di Medan."
"Ah, masa?" Nia tak percaya. "Dia pernah datang ke rumah, Bu?"
"Pernah, beberapa kali."
"Kok Ibu nggak pernah cerita? Nia nggak tahu, Bu."
"Ibu lupa, Nak. Kayaknya dia ada perhatian sama kamu, Nia."
Nia tercekat.
"Waktu itu dia datang mencarimu seperti menahan rindu."
"Belum tentu, Bu," Nia membantah. "Barangkali Riko ada keperluan lain mencari Nia."
"Bantu Ibu bangkit, Nia," kata Bu Rani sambil mengulurkan tangan ke hadapan putrinya.
"Ibu mau ke mana?" tanya Nia.
"Ke ruang tamu menemui Nak Riko. Sudah lama tak melihatnya."
Nia membantu ibunya bangkit dari ranjang lalu memapahnya selangkah demi selangkah mendekati pintu kamar.
Sekeluarnya Bu Rani dari dalam kamar, dia menuju ruang tamu dengan dipapah Nia. Riko sedang menunggu di sana.
Riko menyambut kedatangan Bu Rani dengan mengucapkan salam dan menganggukkan kepala pertanda hormat.
Bu Rani didudukkan Nia di kursi ruang tamu, lalu Nia sendiri mengambil tempat di sampingnya.
Dan terjadilah pembicaraan antara mereka bertiga.
__ADS_1
* * *