
Bab 91
"Jadi Pak Ardian membalas budimu dengan mengajakmu jalan-jalan dan membelikanmu semua ini," kesimpulan ibu Ayu.
"Barangkali, Bu," jawab Ayu yang sekaligus memupus kesangsian di hati ibunya.
Sebelumnya, ibu Ayu cemas jika boss-nya Ayu bersikap baik dan membelikan Ayu banyak barang karena ada udang di balik batu alias ada maksud tersembunyi. Misalnya ingin mengambil keuntungan dari putrinya. Sekarang setelah mendengar cerita Ayu, ibunya baru percaya.
Ya, sudah pasti Pak Ardian hanya bermaksud membalas budi Ayu, pikir ibunya polos. Sama sekali tak terpikirkan olehnya bila Ardian memang menyukai putrinya itu dan sedang melakukan pendekatan. Karena dia tak percaya ada anak orang kaya sangat tampan dan tinggi bisa menyukai putrinya yang merupakan anak orang susah bahkan rumahnya pun sangat sederhana. Lalu Ayu pun karyawan di perusahaan miliknya yang bertugas sebagai cleaning service. Manalah disangka olehnya Ardian bisa menyukai Ayu.
"Ayo, Bu, kita buka barang-barang belanjaan yang dibelikan Pak Ardian. Ohya, Anjas mana, Bu? Mau kukasih lihat juga tas, sepatu, dan baju-baju yang kupilihkan untuknya," kata Ayu.
"Adikmu sudah tidur di kamarnya sejak tadi. Dia banyak PR sekolah yang harus dikumpulkan besok. Sehabis mengerjakan PR, makan, mandi, langsung tidur," beri tahu ibunya.
"Oh, kalau begitu besok saja kita buka belanjaannya. Lagian sekarang sudah malam," pungkas Ayu.
"Iya, Yu. Ibu juga sudah mau bobok sekarang. Sudah ngantuk. Hoaaam...!" ibunya menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tidur dululah, Bu. Biar aku yang bereskan sisa makanan di atas meja," kata Ayu.
Ibunya mengangguk Dengan segera dia membaringkan diri di atas tempat tidur dan memejamkan mata.
Ayu bangkit dari duduknya di tepi ranjang, memberi tempat yang lebih leluasa bagi ibunya. Tempat tidur Ayu adalah tilam yang ditaruh di atas lantai. Sedangkan ibunya tidur di tilam yang ditaruh di atas rangka tempat tidur besi. Begitulah gambaran sederhana kamar tidur Ayu dan ibunya yang hanya berukuran 4 X 4 meter. Sedangkan kamar Anjas berada di samping dengan ukuran 4 X 5 meter. Adiknya menaruh meja belajar dan buku pelajaran di dalam kamarnya, di samping ranjang kayu yang beralaskan tilam juga.
__ADS_1
Ayu melihat ibunya mulai tertidur, karena itu dia pun keluar dari kamar dan berjalan ke ruang dapur. Dia membuka tudung saji meja. Masih ada sisa sepiring nasi dengan lauk tempe dan telur goreng. Merasa sayang tak dimakan, Ayu pun duduk d kursi makan dan mulai melahap masakan ibunya.
Makanan sederhana yang dimasak ibunya selalu dirasa Ayu sangat enak karena dimasak dengan kasih sayang. Rasanya tidak kalah dengan makanan-makanan lezat yang tadi dilahapnya di kafe bersama Ardian.
Tampaknya dia akan langsung menghabiskan makanannya dengan lezat kalau saja pikirannya tidak tiba-tiba teringat Riana. Spontan nafsu makannya hilang.
Ayu menghabiskan tiga suapan terakhir di atas piring dengan pikiran yang melayang pada Riana. Duh... kenapa bisa tiba-tiba teringat pertengkaran sengitnya dengan Riana tadi. Padahal begitu sampai di rumah dia sudah melupakannya.
Dipikir-pikir soal pertengkaran sengit dengan Riana tadi, hati Ayu tiba-tiba sedih. Perasaannya emosi. Kesenangannya hari ini dikacaukan oleh teman masa SMP-nya itu. Dari dulu Riana memang selalu iri dan tak puas padanya. Riana juga selalu berusaha mengacaukan kebahagiaannya. Tenyata hal yang dialaminya waktu SMP itu tidak berubah sampai sekarang.
Riana menyebut-nyebut nama Willy. Dia penasaran sekali melihat Ayu tidak bersama Willy. Dia juga iri dan tak puas melihat Ayu jalan bersama boss-nya yang ternyata jauh lebih tampan daripada Willy. Padahal dulu Riana naksir Willy namun kakak kelasnya itu malah memilih Ayu. Bukan main sebalnya Riana. Willy tidak pandang harta. Walaupun Riana berasal dari keluarga kaya dan Ayu dari keluarga sederhana, namun Willy tetap cinta berat sama Ayu.
Willy... Riana... Willy... Riana... Kedua nama itu melintas di benaknya. Riana menanyakan kabar Willy dan dia heran Ayu bersama boss-nya. Terus, kalau begitu Riana pasti akan berusaha mencari tahu tentang Willy dan hubungan Ayu dengan boss-nya itu. Wah, bisa-bisa Riana ketemu Willy nanti dan mengatakan pada Wily kalau dia melihat Ayu jalan bersama boss-nya yang masih muda yang bernama Ardian.
Apa yang harus kulakukan? pikir Ayu gelisah. Sewaktu-waktu Riana bisa ketemu Willy kalau dia mencari tahu dan setelah ketemu pasti akan membocorkan rahasianya pada Willy karena Riana senang melihat Ayu sengsara.
Sebenarnya yang ditakutkan Ayu bukan Willy yang bakal tahu rahasianya lalu memarahinya karena Willy tak akan pernah bisa memarahi apalagi menyakiti Ayu yang sangat dicintainya. Ayu juga tak takut hati Willy terluka mengetahui perselingkuhannya karena dia sama sekali tak peduli pada perasaan pacarnya itu.
Yang Ayu takutkan hanyalah Ardian yang akan kecewa padanya karena Ayu tak jujur padanya. Lalu Ardian akan menjauhinya dan tak peduli lagi padanya. Suatu hal yang sangat menyakitkan bagi Ayu bila Ardian nanti mencampakkannya karena kesalahan Ayu.
Tidak, aku harus cari akal, kata hati Ayu. Aku harus cari akal supaya Willy tak pernah tahu perselingkuhanku dengan Ardian dan Ardian juga tak pernah tahu aku sudah punya pacar.
Setelah berpikir sepuluh menit, Ayu pun bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar untuk mengambil hp android-nya.
__ADS_1
Ibunya sudah tertidur pulas di kamar. Ayu membawa hp android-nya keluar dari kamar dan berjalan kembali ke ruang dapur. Dengan rencana yang tersusun di otak, Ayu mengetik kata-kata sapaan pada Willy lewat WA.
"Sudah tidur, Wil?"
Di rumah Willy, cowok yang sedang berbaring di ranjangnya dengan hati galau mendengar suara pesan masuk. Segera diraihnya hp-nya yang tergeletak di samping ranjang. Hatinya spontan memekik lega mendapat sapaan chat dari Ayu, sang pacar.
"Belum, Yu. Kamu juga belum tidur?" balasnya cepat.
"Iya, sama. Ada yang mau kukatakan sama kamu, Wil. dengar baik-baik ya," ketik Ayu.
"Iya, ada apa, Yu?" balas Willy dengan hati berdebar.
"Kamu masih ingat Riana?" Ayu mulai menjalankan rencananya.
"Riana? Iya, masih. Kenapa, Yu?" jawab Willy hati-hati.
"Aku tiba-tiba teringat dia. Bahkan aku mimpi buruk semalam dia datang merebut kamu dariku," bohong Ayu.
"Hah? Kok mimpimu seperti itu, Yu? Aku pada Riana tak ada perasaan apa-apa. Sampai kapan pun aku akan tetap setia padamu," ketik Willy.
Ayu tersenyum puas dan licik. Pengakuan cinta berat dan pernyataan setia sampai kapan pun dari Willy sangat berarti baginya.
* * *
__ADS_1