Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Permintaan Ardian pada Ayu


__ADS_3

Bab 126.


"Iya, aku jadi ingat sesuatu," kata Ardian. "Ini," Ardian menyorongkan map berisi berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya ke hadapan Shella. "Tolong panggilkan Ayu sebentar, Shel. Aku mau bicara dengannya."


"Oh? Pak Ardian mau bicara dengan Ayu?" surprais Shella.


"Iya, tolong panggilkan dia ya, Shel," jawab Ardian.


"Okey, Pak," jawab Shella sambil bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang Ardian.


Ardian menunggu beberapa saat sambil melihati layar laptopnya sebelum Ayu masuk ke ruangannya.


Wajah gadis itu tampak tegang saat memasuki ruang kerja Ardian. Bibirnya pucat, matanya lelah, dan secara keseluruhan rona wajahnya menyiratkan kesedihan.


Dengan langkah hati-hati, Ayu berjalan mendekati meja kerja Ardian seusai mengetuk, mendorong, dan menutup pintu.


Langkah Ayu sudah sampai di depan meja kerja Ardian. Dia berdiri di sana dengan perasaan gugup saat Ardian mengangkat kepala menatapnya.


"Pagi, Pak Ardian," Ayu memberi salam.


"Iya, pagi, Yu. Silakan duduk," Ardian mempersilakan Ayu duduk di kursi di depan mejanya yang tadi diduduki Shella.


Dengan gemulai, Ayu pun melangkah mendekati kursi dan duduk sana. Tepat berhadapan dengan Ardian.


"Gimana keadaanmu, Yu?" Ardian bertanya dengan sorot mata penuh perhatian pada gadis di depannya.


"Baik, Pak," jawab Ayu kecil setelah menata irama jantungnya yang berdegup tak karuan.


"Sori atas kejadian kemarin ya, Yu. Aku tak tahu kalau Nia akan tiba-tiba balik dari Tanjungbalai di saat kamu sedang berada di rumahku," kata Ardian jujur.

__ADS_1


Ayu menggigit bibir. "Iya, Pak," jawab gadis itu dengan suara berat. Hatinya terasa amat sakit mengingat kejadian kemarin saat Nia, sahabat masa kecil Pak Ardian tiba-tiba balik dari Tanjungbalai dan memergoki dirinya sedang bersama dengan Ardian di ruang dapur. Walaupun hanya di ruang dapur tapi mereka kelihatan sangat dekat waktu itu layaknya sepasang kekasih.


"Kamu baik-baik saja kan, Yu? Kamu nggak marah?" tanya Ardian lagi dengan tatapan mata menyelidik.


Ayu menggeleng sambil berusaha tersenyum walaupun hatinya terasa sakit.


"Syukurlah," Ardian menghela nafas lega.


"Bapak memanggilku ada apa?" tanya Ayu dengan suara lembut.


"Oh," Ardian bagai teringat. "Aku... ingin meminta bantuanmu."


"Bantuan apa, Pak?" tanya Ayu tak mengerti.


'"Begini, Yu," Ardian mengatur nafasnya. "Aku bilang pada Nia kalau kamu adalah orang yang menggantikan tugas Bik Aini di rumahku."


"Maksud Bapak?" tanya Ayu tak mengerti.


"Oh," Ayu tercekat sesaat. "Jadi apa yang harus kulakukan, Pak, supaya bisa berpura-pura sebagai pengganti Bik Aini?" tanya Ayu lugu.


"Iya, kamu harus datang ke rumahku untuk bersih-bersih setiap hari. Pagi-pagi seperti jam masuk kantor dan sore-sore baru pulang setelah siap masak," jawab Ardian.


"Oh...," desis Ayu. "Berarti aku tak perlu lagi datang ke perusahaan, Pak? Tapi ke rumah Pak Ardian?" tanya Ayu memperjelas.


"Iya, betul sekali!" jawab Ardian. "Mulai besok kamu datang kerja ke rumahku saja dan tidak usah ke sini."


"Oh...," sekali lagi Ayu mendesis. Ekspresi wajahnya seperti agak ragu.


"Bagaimana, Yu? Bisa?" tanya Ardian.

__ADS_1


"Iya..., tentu saja bisa, Pak," jawab Ayu pendek. Pikirannya agak bingung karena disuruh Ardian untuk berpura-pura menggantikan tugas Bik Aini sementara Bik Aini belum balik ke rumah Ardian. Jadi, dia harus melakukan semua tugas Bik Aini di rumah Ardian termasuk memasak?


"Betul, Yu. Kamu mau kan membantuku? Soalnya aku sudah telanjur bilang sama Nia kalau kamu akan datang ke rumah tiap hari untuk bersih-bersih dan memasak," jelas Ardian.


"Iya, bisa, Pak," jawab Ayu setelah terdiam beberapa detik.


"Syukurlah," Ardian bernafas lega. "Jadi mulai besok kamu datang kerja ke rumahku saja ya, Yu, bukan ke kantor," pesan Ardian.


"Iya, Pak," jawab Ayu. "Aku akan datang ke rumah Pak Ardian besok pagi pukul tujuh. Apakah sempat memasak untuk Pak Ardian nanti kalau aku datang pukul tujuh?" tanya Ayu meminta persetujuan.


"Kalau nggak sempat ya datang setengah jam lebih awal lagi. Semua bahan masakan ada di kulkas. Sudah dibelikan Dina," jawab Ardian sambil menyebutkan nama rekan kerja Ayu yang semenjak Bik Aini pulang kampung, dianya pindah dari kantor ke rumah Ardian untuk menggantikan tugas Bik Aini.


Tapi karena kemarin hari Minggu Dina libur dan kebetulan pula Nia memergoki Ardian berduaan dengan Ayu di dapur jadi terpaksa Ardian mengatakan pada Nia kalau Ayu adalah pengganti sementara Bik Aini yang hari Minggu juga datang kerja dan hari Senin libur.


Terpaksa karena itu Ardian harus memikirkan cara supaya Ayu benar-benar terlihat seperti pengganti Bik Aini di rumah Ardian, bukan seperti teman wanita Ardian yang dibawa ke rumah sementara Nia belum balik dari Tanjungbalai.


"Baiklah, Pak Ardian. Besok pukul setengah tujuh aku akan datang ke rumah Bapak," kata Ayu.


"Okey, Yu, aku senang kamu mau membantuku," kata Ardian.


Ayu tersenyum kecut. Dibayangkannya mulai besok dia harus kerja di rumah Ardian yang berarti setiap hari akan bertemu Nia, sahabat masa kecilnya Ardian yang merupakan gadis yang paling spesial di hati Ardian.


Ayu agak takut dan cemas akan hal itu. Dia tak mungkin bisa membawa diri dengan baik di hadapan Nia, gadis lembut yang menjadi saingannya dalam mendapatkan hati Ardian.


Jujur, Ayu merasa cemburu saat kemarin melihat Ardian memeluk Nia. Hati Ayu bagai ditusuk ribuan jarum melihat dalam sekejap cowok muda tampan yang sebelumnya sedang memeluknya dari belakang tiba-tiba berpindah memeluk gadis lain. Dalam sekejap dia harus rela menyerahkan Ardian pada Nia seolah mengembalikan barang yang hanya pinjaman sesaat pada pemilik aslinya.


Karena hal itu, Ayu sampai menangis semalaman. Di tengah perjalanan pulang dia tak kuasa membendung air matanya yang tumpah ruah keluar karena hatinya begitu sakit melihat Ardian memeluk gadis lain bahkan cowok itu kelihatan sangat mengasihi gadis itu. Sangat merindukannya.


Walaupun Ayu tak bisa terima kenyataan itu, tapi dia memang harus belajar menerimanya. Kenyataan itu membuat Ayu terbangun dari mimpi panjangnya yang indah dan berbunga-bunga. Bahkan setelah terbangun, dia seolah dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih buruk, berpura-pura di depan gadis yang menjadi saingan cintanya. Bahkan bila nanti dia melihat gadis itu berpelukan dengan cowok yang dicintainyai, Ayu harus rela dan pura-pura menutup sebelah mata.

__ADS_1


Sanggupkah dia melakukan hal itu sementara hatinya pasti akan semakin perih serasa diiris-iris? Lalu, bagaimana dia harus bersikap di hadapan Nia? Apakah dia harus berpura-pura baik dan ramah pada sahabat masa kecil Ardian itu sedangkan sebenarnya hati Ayu terasa sangat sakit dan dongkol gara-gara gadis itu?


* * *


__ADS_2