
Bab 61
Tiga hari berlalu. Tibalah hari yang dinantikan Ayu untuk bekerja di perusahaan.
Pagi-pagi sekali Willy sudah menjemput Ayu di rumahnya. Ayu pun sudah bersiap-siap berangkat.
"Berangkat dulu ya, Bu," kata Ayu pamitan pada ibunya.
"Iya, Yu," jawab ibu Ayu.
Ayu keluar dari pintu rumah dan berjalan beberapa langkah untuk naik ke atas boncengan Willy. Dia sudah memakai helm.
Sebelumnya Willy tidak banyak bertanya pada Ayu kenapa pacarnya itu dipindahkan dari proyek luar kota ke perusahaan. Dia hanya melaksanakan apa pesan atau perintah gadis itu, yaitu mengantar jemputnya kerja ke perusahaan untuk selanjutnya, bukan ke proyek lagi.
Motor yang dikendarai Willy membelah jalan raya yang mulai ramai di pagi pukul 07.30. Diperkirakan dia akan sampai di perusahaan Ardian sekitar pukul 08.00 pagi.
"Berhenti di sini saja,Wil," kata Ayu buru-buru saat mereka sudah hampir sampai di perusahaan.
Mendapat perintah yang tiba-tiba seperti itu, Willy langsung memberhentikan sepeda motornya di sisi jalan.
"Kenapa, Yu? Kan belum sampai?" kali ini Willy bertanya.
Memang masih sekitar 20 meter lagi mereka baru sampai di depan pintu gerbang perusahaan. Lalu dari pintu gerbang masih harus berjalan masuk sampai ke pintu utama kantor perusahaan.
"Nggak apa-apa, Wil, di sini saja," kata Ayu lalu melompat turun dari sepeda motor dan membuka helmnya untuk diserahkan pada Willy. "Aku mau jalan kaki sedikit supaya sehat," alasan Ayu.
"Oh," Willy hanya mengangguk dan percaya pada kata-kata Ayu.
__ADS_1
Pemuda itu melihat punggung Ayu yang menjauh saat dia berjalan 20 meter ke depan. Setelah punggung gadis itu menghilang dari pandangan, Willy pun membalikkan motornya untuk kembali ke arah semula. Rencananya dia akan langsung pergi kerja ke sebuah panglong tempatnya mencari duit selama ini.
Langkah Ayu sudah sampai di depan pintu gerbang perusahaan. Pak Satpam yang belum pernah melihat Ayu sebelumnya memandang ke arahnya. Ayu pun memberi salam dan memperkenalkan diri.
"Oh, Non cleaning service baru di kantor ini ya? Iya, iya, silakan masuk!" kata Pak Satpam sambil tersenyum ramah di pagi yang sejuk.
Ayu balas tersenyum dan permisi dengan sopan sebelum melangkah memasuki lokasi perusahaan.
Sesampainya di depan pintu utama, Ayu berhenti sejenak. Tampaknya dia agak minder harus melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang besar yang sudah terbuka untuknya.
Namun dengan memberanikan diri dan membulatkan tekad, Ayu pun masuk setelah menarik dan mengembuskan napas panjang. Aku harus berhasil di sini juga, bekerja dengan baik, kata hatinya.
Yang pertama dilihat Ayu adalah meja resepsionis yang masih kosong. Berarti Ayu yang paling cepat sampai di kantor setelah Pak Satpam yang di depan tadi. Masih pukul 8 kurang 10 menit.
Ayu berjalan ke bagian belakang perusahaan untuk mencari toilet. Di sana dia akan mengambil alat-alat kebersihan seperti sapu, serokan sampah, sapu pel, ember, untuk memulai tugasnya membersihkan seluruh ruangan kantor. Tentunya harus disertai dengan air dan sabun juga untuk mengepel nanti.
Ayu sudah sampai di bagian belakang perusahaan dan menemukan apa yang dicari. Dengan semangat dia mengambil semua alat kebersihan itu untuk digunakannya sekarang.
Ayu memulai pekerjaannya dengan menyapu lantai kantor. Saat dia bekerja, para karyawan mulai datang dan masuk ke ruangannya masing-masing. Tapi belum nampak Shella dan Pak Ardian. Jam berapa ya kira-kira Pak Ardian masuk? pikir Ayu.
Kira-kira setengah jam sudah Ayu bekerja dan matanya asyik melirik ke pintu masuk utama untuk mengenali wajah para karyawan. Sebenarnya itu tak ada hubungannya dengannya di hari pertama kerja, namun karena rasa penasarannya membuat dia terus memperhatikan para karyawan yang datang.
Seandainya saja dulu aku menamatkan SMA atau melanjutkan kuliah, pasti akan bisa bekerja sebagai karyawan kantor juga yang berpakaian rapi dan duduk di belakang meja, sesal hati Ayu.
Apa mau dikata, karena ketiadaan biaya dan demi meringankan beban ibunya, Ayu terpaksa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Setelah bekerja, Ayu membantu ibunya membiayai sekolah Anjas, adik laki-laki satu-satunya.
Sedangkan ayah Ayu tak tahu ke mana rimbanya. Dia melalaikan taggung jawab sebagai seorang kepala keluarga dengan meninggalkan istri dan dua anak yang masih kecil saat itu. Setelah itu, ibu Ayu harus bekerja mengambil cucian dari tetangga untuk membiayai hidup dan sekolah mereka.
__ADS_1
Ayu sudah sampai di dekat meja resepsionis. Saat dia menyapu di sana, dilihatnya Shella datang dari arah pintu masuk dan berjalan ke arahnya.
"Selamat pagi, Kak Shel," spontan Ayu menyapa Shella duluan saat Shella mendekat.
"Pagi ya, Yu. Cuma mau bilang besok kamu datang lebih cepat 1 jam, supaya waktu kami atau para karyawan datang, kamu sudah siap nyapu," kata Shella.
"Oh, berarti pukul 7 pagi aku masuk kerja, Kak?" tanya Shrlla memperjelas.
"Iya," jawab Shella. "Soalnya biasanya juga saat aku datang, cleaning service yang di sini sudah selesai nyapu dan lagi ngepel."
"Oh... Iya, Kak. Siap laksanakan!" jawab Ayu.
"Habis nyapu ini kamu ke ruangan kantorku, banyak yang mau kujelaskan padamu," kata Shella.
"Iya, Kak," jawab Ayu.
Ketiga resepsionis cewek yang ada di belakang meja mereka dan dari tadi menguping pembicaraan antara Shella dan Ayu saling melempar senyum dan bahasa isyarat. Seperti sedang menyinyiri sikap Shella yang sok ngatur layaknya atasan. Padahal dia sendiri datang paling telat di antara semua karyawan kantor. Yang belum datang cuma Ardian.
Shella sudah selesai menyapu bagian lobby perusahaan dan bersiap-siap menuju ruang kerja Shella.
"Kak, boleh tanya ruang kerja Kak Shella di mana ya?" Ayu bertanya pada seorang resepsionis cewek yang ada di meja resepsionis.
"Di lantai 2," jawab seorang di antaranya. "Kamu jalan lurus saja dari tangga lalu belok kiri. Cari ruangan yang pintunya ada tulisan sekretaris."
"Oh, iya, Kak, terima kasih," balas Ayu.
Ayu membawa sapu dan serokan sampahnya untuk dibawa ikut serta ke lantai 2. Setelah menaiki tangga dia pun sampai di sana. Ditaruhnya alat-alat kebersihan yang di tangannya ke satu sisi dari dinding tembok lalu berjalan lurus ke depan kemudan berbelok ke kiri seperti petunjuk dari resepsionis tadi.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia menemukan ruang yang dicarinya. Di depan pintu ruang kerja itu ada tulisan di plat yang ditempel di dinding, "Secretary". Ayu pun mengetuk pintu itu 2 kali sebelum memegang gagang pintu, memutar, lalu mendorongnya. Dilihatnya, Shella sedang duduk di belakang meja sambil memandangi wajahnya di cermin rias bergagang.
* * *