
Bab 51
Tidak ada tempat yang tersisa untuk Ayu di kamar itu. Bahkan lantai pun penuh bertumpuk tas para karyawan cewek yang tidur di dalam kamar.
Jadi aku harus tidur di mana? pekik Ayu dalam hati.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3.30 dini hari. Paling Ayu hanya punya waktu tidur 3 jam saja. Telat bangun nanti pasti akan diomeli Shella.
Tak ada lagi waktu berpikir lama karena sebentar lagi bakal pagi. Kalau tidak sekarang tidur, kapan lagi? Tapi di mana dia harus tidur?
Dalam sekejap Ayu teringat lantai 3 villa. Iya, dia sudah pernah ke lantai 3 villa itu saat disuruh memanggil Ardian turun makan malam tadi. Di samping kamar Ardian ada tempat kosong yang lapang. Biarlah aku tidur di sana saja, pikir Ayu dalam keadaan terdesak. Daripada tidur di lantai bawah di atas sofa ruang tamu, bakal terganggu nanti karena pagi-pagi bakal ada yang bangun dan berisik di dapur.
Berpikir demikian, Ayu pun berjalan meninggalkan kamar lantai 2 dan menuju tangga ke lantai 3. Setelah sampai, Ayu berjalan beberapa langkah untuk duduk di samping dinding kamar. Ya, aku tidur di sini saja, bisik Ayu dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi Ayu pun duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding sementara kepalanya bersandar ke samping pada dinding kamar yang ditempati Ardian.
Hanya butuh waktu 5 menit bagi Ayu untuk langsung tertidur setelah memejamkan mata karena dia memang sudah lelah.
Ayu tidur sambil mendekap kedua lututnya dalam posisi duduk di lantai. Sebentar saja dia sudah terlelap ke alam mimpi.
Rasanya dia sudah tidur lama sekali ketika lamat-lamat dia mendengar suara panggilan di dekat telinganya.
"Yu, Yu, Ayu," suara itu terus bergema di telinganya, membuat Ayu perlahan membuka matanya.
__ADS_1
Ayu butuh waktu beberapa detik untuk mengenali wajah di depannya sesaat setelah dia menguakkan matanya yang terpejam.
Pak Ardian, bisik Ayu dalam hati setelah dia mengenali wajah itu dalam keadaan ngantuk.
"Yu, kok kamu tidur di sini?" tanya Ardian yang berjongkok di depan Ayu. Gadis itu baru terjaga dari tidurnya yang dalam kondisi duduk.
"Aku...," Ayu melihat sekelilingnya. Dia butuh waktu beberapa detik untuk mengingat kembali kenapa sampai tidur di situ. Perlahan dia berhasil mengingatnya. "Kamarnya penuh, Pak. Tak ada tempat lagi."
"Iyakah?" Ardian mengerutkan kening.
Sebenarnya hari masih belum pagi karena masih pukul 3.30 dini hari. Ardian yang tidur beberapa saat setelah lewat tengah malam alias setelah tibanya Tahun Baru 1 Januari 2021, terjaga karena kebelet pipis. Dia keluar dari kamar tadi dan bermaksud menuju toilet yang di luar kamar. Tak disangka melihat Ayu sedang tidur di lantai dalam posisi duduk, badan bersandar pada dinding sedangkan kepala miring ke samping bersandar pada dinding kamar.
"Jadi terpaksa kamu tidur di sini?" tanya Ardian penasaran.
Ardian berpikir sesaat sebelum menyarankan, "Kamu tidur di kamarku saja, Yu, di sini dingin sekali."
"Pak Ardian...?" Ayu membelalakkan mata seolah salah dengar.
"Iya, tidur di kamarku. Tapi jangan berpikir yang bukan-bukan. Maksudku, supaya kamu bisa bangun dalam keadaan fit pagi ini, kalau tidak bakal membeku duluan di sini sebelum pagi," jelas Ardian.
"Tapi, Pak Ardian. Tak mungkin...," Ayu tak tahu harus bagaimana melanjutkan kalimatnya, karena dia tak menyangka sama sekali Ardian akan menyarankan ide aneh seperti itu. Tak bisa dibayangkan oleh Ayu dirinya terpaksa tidur di kamar Ardian.
Merasa Ayu salah mengartikan maksudnya, Ardian buru-buru menjelaskan. "Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan, Yu. Aku tidak bermaksud ngapa-ngapain kamu di dalam kamar. Maksudku, walaupun satu kamar tapi kita tidak satu ranjang. Kamu tidur di ranjang yang di ujung kanan, aku yang di ujung kiri. Karena di dalam kamarku ada 2 ranjang yang letaknya berjauhan dari ujung ke ujung."
__ADS_1
Ayu melebarkan matanya mendengar penjelasan Ardian. Dia berusaha mencerna kalimat-kalimat Ardian dalam kondisi setengah ngantuk.
"Ayo, Yu, kalau kamu ragu, kita jangan tutup pintu kamarnya," yakin Ardian. "Tak mungkin kamu tidur di sini sampai pagi," lanjutnya.
Ayu yang dalam keadaan ngantuk pun mengikuti anjuran Ardian. Dia berjalan masuk ke dalam kamar besar yang ditempati Ardian seorang diri. Memang di situ ada 2 buah ranjang besar yang letaknya berjauhan dari ujung ke ujung.
"Kamu tidur di sini, Yu," kata Ardian sambil menunjuk ranjang di sebelah kanan ketika mereka masuk dari pintu kamar. "Aku di sana," lanjut Ardian lagi sambil menunjuk ranjang di sebelah kiri.
Ayu pun hanya menuruti kata-kata Ardian. Dia berjalan beberapa langkah untuk sampai di ranjang sebelah kanan dan mulai membaringkan badannya di sana. Tampaknya dia tak bisa berlama-lama melayani Ardian bicara atau berpikir panjang lagi karena matanya benar-benar masih ngantuk. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya selain melanjutkan tidurnya sekarang.
Ayu buru-buru mengambil selimut tebal yang ada di ranjang itu lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dari leher sampai kaki. Rasanya nyaman sekali tidur di dalam kamar besar ini di atas ranjang empuk ditemani bantal guling dan dihangatkan selimut tebal. Nggak seperti tadi tidur dalam posisi duduk di lantai sambil memeluk dua lutut dan badan bersandar pada dinding. Dingin sekali, menggigil di tengah lelapnya tidur sampai seluruh persendiannya serasa beku.
Ardian bernapas lega melihat Ayu sudah jatuh tertidur di bawah selimut tebal. Dia melangkah keluar menuju toilet sebentar. Setelah itu Ardian pun masuk kembali ke dalam kamarnya dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka setengah.
Jadi bila kebetulan ada orang yang naik ke lantai 3 yang sunyi dan melongok ke dalam kamar, mereka bisa melihat 2 orang berlainan jenis yang tidur dalam satu kamar tapi di ranjang yang berbeda bahkan berjauhan dari ujung ke ujung. Mereka tidak melakukan apa-apa kecuali hanya tidur.
Iya, Ayu hanya menumpang tidur di kamar Ardian sampai pagi menjelang. Kalau tidak, seluruh tulang di tubuhnya bakal remuk karena menahan dinginnya udara malam di Berastagi. Letak Berastagi yang di pegunungan memang membuatnya terkenal sebagai tempat wisata yang dingin.
Ardian yang sudah berbaring di ranjangnya melihat Ayu dari kejauhan. Dia tersenyum lega karena bisa memberikan Ayu tempat tidur yang nyaman. Hatinya senang bisa menolong gadis itu.
Ayu sendiri bahkan tak sempat berpikir panjang saat menuruti saran tidur di kamar Ardian. Dia hanya berpikir untuk segera melanjutkan tidurnya yang lelap sebelum pagi menjelang, kalau tidak tidur bagaimana mungkin dia bisa bangun dengan tubuh segar dan fit saat sang mentari terbit di pagi hari?
* * *
__ADS_1