Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Insiden Ciuman Pertama Nia di Kamar Ardian


__ADS_3

Bab 12


Nia terbangun ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi. Memang agak telat bangunnya tapi masih pagi. Begitu bangun, dia tak langsung bangkit dari ranjang seperti biasanya, melainkan duduk di tepi ranjang seperti melamunkan sesuatu.


Betul, dia lagi memikirkan tugas yang diberikan Tante Siska kepadanya, mengubah Ardian! Bagaimana cara mengubah pemuda itu sampai memiliki sifat, sikap, karakter, dan emosi seperti yang diinginkan semua orang di rumah ini?


Dia bukan seorang psikolog, motivator, pesulap, apalagi seorang mentalis yang mampu menghipnotis pasiennya sampai membaca pikiran mereka. Dia hanya gadis biasa dari rumah sederhana. Hanya saja catatan tambahan, dia memang sahabat masa kecil dari orang yang harus diubahnya.


Untuk mengubah seseorang yang tak sederhana seperti Ardian, tidak bisa dengan cara menasihati, memberi saran, perintah, atau larangan. Ardian seorang yang rumit dan sensitif, pikirannya tidak gampang, tidak semudah itu mengubahnya seperti mengubah perilaku anak kecil yang penurut.


Untuk mengubahnya, terlebih dahulu Nia harus bisa masuk ke dalam hatinya, menjadi orang yang penting baginya, hingga Ardian mau melihat dirinya lebih cermat. Lalu, biasanya orang akan meniru tindakan-tindakan dan sifat dari orang yang diidolainya atau disukainya.


Jadi, kalau misalnya Ardian menyukainya, bisa jadi dia akan mengidentifikasikan dirinya supaya bisa sama seperti Nia dalam artian meniru non fisiknya.


Betul! Itulah cara yang tepat, pikir Nia. Dia akan menunjukkan rasa kasih sayang, perhatian, kepedulian, kesabaran, kelembutan, kebaikan, dan semua yang positif di hadapan pemuda itu. Dia akan menghadapinya dengan semua cara itu sehingga Ardian bisa melihatnya, merasakannya, memikirkannya, menyadari ternyata sikap seperti Nialah yang lebih baik, lalu menirunya nanti.


Nia mengangguk-angguk sendiri, setuju dengan jalan pikirannya itu. Dengan satu tekad dan semangat, dia berjalan keluar dari kamar menuju kamar Ardian.


Diketuknya pintu kamar Ardian yang masih terkunci dari dalam. Nia tak tahu pemuda itu semalam ada bangun untuk makan malam ataukah tidak karena dia sudah tertidur pulas di kamarnya sendiri.


“Tuk-tuk-tuk,” tiga kali diketuknya pintu kamar itu.


Tak ada sahutan.


“Tuk-tuk-tuk,” diketuknya lagi tiga kali.


Menunggu sesaat, masih belum ada sahutan.


“Tuk-tuk-tuk,” kali ini agak keras Nia mengetuk pintu itu. Mengetuk dan mengetuk lagi sampai diulanginya terus enam tujuh kali.

__ADS_1


Busyet! Ardian ini tidurnya kok pulas sekali, jangan-jangan harus digedor-gedor pintunya baru bisa bangun. Atau barangkali dia sudah bangun pagi-pagi tadi dan keluar rumah? Ah, tak mungkin. Kalau melihat dari sifatnya yang suka bangun kesiangan, tampaknya memang tak mungkin.


Nia menaikkan tangannya lagi, hendak mengetuk untuk kesekian kali. Kali ini, belum juga niatnya terlaksana, pintu sudah dibuka dari dalam. Seraut wajah ngantuk dengan mata masih meram melek memandang Nia sambil mengerutkan kening.


“Iya! Iya! Ada apa sih dari tadi gangguin terus?” tanya Ardian dengan wajah masam.


“Ada apa? Ya bangunin kamu! Sudah pukul 7 pagi, lho. Saatnya untuk bangun, mandi, sarapan, lalu kerja.”


Ardian menatap Nia tak mengerti. Untuk apa pula gadis ini membangunkannya pagi-pagi? Padahal dia tahu Ardian paling tak suka diganggu waktu tidur. Lagipula, kalau alasannya hanya itu, bangun agak siang pun tak mengapa. Karena dia tak merasa ada pekerjaan penting yang harus dilakukannya sebagai seorang mahasiswa yang sedang menikmati liburan. Dia sendiri tak perlu membantu papa mamanya mengurus pekerjaan di kantor, jadi buat apa bangun pagi-pagi?


“Ayo, pergi mandi Ardi, lalu sarapan di bawah. Malam tadi kamu tak bangun kan untuk makan malam?” tanya Nia. “Pasti sekarang perutmu sudah lapar. Lagipula, tak baik melewatkan satu kali waktu makan, bisa-bisa terkena penyakit maag nanti,” kata Nia bagai seorang dokter.


Ardian melengos, membalikkan badan menuju ranjangnya, kemudian menjatuhkan badannya kembali ke atas tempat tidur.


“Lho, kok malah tidur lagi?” Nia berjalan masuk. Baru kali ini dia melihat kamar Ardian. Kamar Ardian lebih besar dua kali lipat dari kamar Nia, dan ada kamar mandi di dalam kamar tidurnya.


Diedarkannya pandangannya ke sekeliling kamar, seolah ingin merekam dalam ingatan dan menilainya. Dari tatanan kamar seseorang, bukankah kita akan bisa membaca karakter orang tersebut?


“Ayo, bangun!” Nia berjalan ke samping ranjang Ardian, mencoba menyingkirkan bantal besar yang menutupi wajah pemuda itu. “Ayo, bangun, Ardi! Saatnya untuk mandi, sarapan, kerja…”


Ardian menahan tarikan tangan Nia di bantalnya, menggeleng-gelengkan kepala bagaikan anak kecil yang masih enggan bangun dari tidur nyenyaknya.


“Ayo, bangun…!” perintah Nia. Suaranya kali ini terdengar cukup keras dan galak layaknya seorang ibu yang tengah membangunkan anaknya. “Bangun, dong! Bangun! Bangun!”


Alhasil, terjadi adegan tarik-menarik bantal antara Nia dan Ardian. Yang satu menarik, satunya lagi mempertahankan.


Merasa Ardian tak mau mengalah, Nia mulai kesal dan duduk di samping ranjang itu, mengeluarkan seluruh tenaganya supaya bisa menang melawan pertahanan Ardian.


“Uh! Uh!” ditariknya bantal itu sekuat tenaga. Dan… ups! Tiba-tiba saja Ardian melepas tangannya dan bantal itu pun tersingkir dari wajahnya. Namun, karena tenaga Nia yang dikeluarkan sekuat-kuatnya tadi, membuat bantal itu terlempar jauh ke belakang Nia, dan jatuh di dekat pintu masuk.

__ADS_1


Nia ternganga. Bukan karena bantal itu yang terlempar kuat ke belakangnya, melainkan karena kedua tangan Ardian yang tiba-tiba menarik kedua lengannya hingga tubuhnya nyaris jatuh menimpa dada Ardian. Wajah Nia berhadapan dengan wajah Ardian. Jarak mereka begitu dekat, hanya sekitar 10 sentimeter tanpa sekat. Mata mereka saling beradu, lama, dalam, dan sarat makna.


Nia tak tahu harus berbuat apa, kedua mata Ardian menatapnya tajam, sedangkan kedua bola mata Nia hanya sanggup memutar-mutar melihat wajah di depannya.


Diperhatikannya wajah itu semakin tampan kalau dilihat dari dekat begini. Mata, hidung, mulut, bibir, dan bentuk wajah Ardian nyaris tanpa cela. Sangat pantas dia diberi predikat laki-laki macho dambaan para wanita cantik.


Satu menit lebih mereka berada dalam posisi seperti itu. Nia tak tahu harus berbuat apa, kedua tangan Ardian memegang erat dua lengannya hingga gerakannya terkunci. Napas Ardian menyapu permukaan wajah Nia, demikian pula napas Nia yang tertahan menyapu wajah Ardian.


Tiba-tiba, Ardian melepas sebelah tangannya yang sedang memegang legan Nia. Digunakannya tangan yang terlepas itu untuk mendekap belakang punggung Nia dan membalikkan badannya hingga kini tubuh Nia jatuh telentang di tepi ranjang. Ardian menyanggah tubuhnya sendiri dengan siku tangan sehingga wajahnya kini berada di atas wajah Nia. Tanpa sempat berontak, Ardian mencuri ciuman pertama Nia.


Merasa Ardian mengambil untung darinya, Nia berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Ardian hingga menjauh darinya. Ardian tak menyangka tenaga Nia akan sekuat itu, lebih kuat daripada saat menarik bantal besarnya tadi hingga terlempar ke belakang.


Setelah tubuh Ardian berhasil didorongnya, Nia bangkit dari ranjang dan spontan menampar wajah Ardian. “Kurang ajar!” katanya.


Ardian cuma terkejut sebentar ditampar seperti itu, setelah itu dia menatap Nia dengan tatapan menang. “Tidak sakit,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Merasa malu, Nia pun membalikkan badan dan berjalan keluar dari kamar.


Sepeninggal gadis itu, Ardian memegang pipinya yang tadi ditampar Nia. Dimainkannya lidahnya yang di dalam mulut untuk merasakan sakit akibat tamparan itu. Sakitnya terasa manis bagi Ardian. Dia rela ditampar gadis itu karena mencuri ciuman pertamanya. Dia rela Nia menjadi orang pertama di dunia ini yang pernah menamparnya.


Nia keluar ari kamar dengan dada rasa emosi. Baru kali ini dia begitu marah sampai bisa menampar seseorang. Sebelumnya, jangankan menyakiti atau memukul orang lain, memukul seekor cicak pun dia tak pernah.


Nia masuk ke kamarnya sendiri, berjalan ke meja rias, mengambil kertas tisu dan menghapus bekas ciuman Ardian di bibirnya. Dihapusnya dan dihapusnya lagi berkali-kali namun bekas itu seolah tak mau hilang padahal tidak ada bekas apa pun di situ kecuali mungkin rasa sedikit sakit yang ditinggalkannya karena Ardian mengulum bibirnya cukup kuat tadi.


Karena tak bisa menahan emosinya, air mata Nia pun mengalir turun membasahi pipinya. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk di sana sambil terisak. Dadanya berguncang. Ah, kenapa dia harus menangis seperti ini? Hanya sebuah ciuman di bibir, kenapa dia marah sampai sebegitunya? Bencikah dia pada Ardian hingga tak merelakan ciuman pertamanya diambil pemuda itu? Kalau dia suka, pasti dia akan merasa senang.


Sebenarnya, bukan soal suka atau tidak suka, bukan juga karena Nia membenci Ardian hingga tak rela pemuda itu menciumnya. Melainkan karena Nia merasa harga dirinya seolah terinjak bila pemuda itu berlaku kurang ajar padanya. Mencium tiba-tiba seperti mencuri, itu memaksa namanya.


Ah, aku tak boleh menangis, pikir Nia setelah melap matanya dengan kertas tisu. Belum juga memulai tugas yang diberikan Tante Siska. Kalau menangis di awal itu menyerah namanya. Bisa-bisa tugasnya terbengkalai, tak pernah dilaksanakan, atau gagal. Bila itu terjadi, pasti akan mengecewakan harapan ibunya di kampung halaman. Bukankah tujuan utamanya ke sini adalah menuntut ilmu di perguruan tinggi supaya kelak bisa mendapat pekerjaan bagus dengan gaji tinggi hingga bisa menaikkan derajat ekonomi keluarganya?

__ADS_1


Berpikir demikian, Nia cepat-cepat bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Dihampirinya lagi kamar Ardian yang tampak tertutup rapat. Ardian pasti masih di dalam, pikirnya.


* * *


__ADS_2