Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2- Tebakan Shella


__ADS_3

Bab 125


"Hari Senin dia libur," jawab Ardian sekenanya setelah terdiam sejenak.


Nia mengerutkan kening. "Maksudmu, Ardi? Ayu libur tiap hari Senin-kah?" tanyanya penasaran.


Ardian mengangguk. Antara bingung dan samar. Kepalanya tiba-tiba pusing. "Iya, Nia. Itu sama sekali tidak penting. Bagaimana kalau kita bicarakan lain hal saja?" kilahnya.


Ardian merasa gerah bila Nia terus-menerus bertanya soal Ayu. Apalagi bila pertanyaan yang diajukan gadis itu dirasa menjebak, Ardian pun tak tahu harus menjawab apa nanti. Karena itulah dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh, kamu akan segera berangkat ke kantorkah?" tanya Nia.


"Iya," jawab Ardian. "Tapi... sebenarnya tidak ngantor pun nggak apa-apa. Aku bisa menemanimu seharian. Bukankah sudah lama kita tak bertemu dan sudah lama juga aku tak menemanimu atau membawamu jalan-jalan?"


Nia tersenyum. "Tak usah sampai bolos kerja demi untuk menemaniku jalan-jalan, Ardi. Aku malah merasa tak enak jika pekerjaanmu terbengkalai gara-gara aku. Berangkatlah ke kantor bila kamu ingin berangkat sekarang. Biar aku sendirian di rumah."


"Oh, iyakah? Sebentar lagi kalau begitu. Kamu nggak ada rencana ke kampuskah hari ini, Nia? Biar aku mengantarkanmu ke kampus dulu sebelum ngantor," tawar Ardian.


"Oh, kurasa besok saja, Ardi. Masih ada berberapa hal yang harus kubenahi sebelum mulai kuliah lagi," jawab Nia.


"Baiklah kalau begitu," balas Ardian. "Besok baru aku antarkan kamu ke kampus ya, Nia. Sekarang aku mau berangkat ke kantor dulu. Aku akan pulang lebih cepat."


Nia mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya, berangkatlah, Ardi. Hati-hati di jalan. Selesaikan dulu semua pekerjaanmu di kantor. Jangan buru-buru pulang. Aku toh nggak ke mana-mana. Hanya di rumah saja menunggumu."

__ADS_1


"Baiklah, Nia. Aku berangkat sekarang ya," pamit Ardian sambil bangkit dari duduknya.


Nia mengangguk. Dia bangkit dari duduknya juga dan mengantar keberangkatan Ardian sampai di ambang pintu. Dilihatnya cowok itu mengambil mobilnya yang di garasi dan menyetirnya hingga keluar dari villa. Setelah itu, Nia pun berbalik lagi ke ruang dapur dan membereskan piring-piring yang tergeletak di atas meja.


Sementara itu, Ardian melajukan mobilnya perlahan membelah jalan raya yang lumayan ramai di Senin pagi.


Pikirannya melayang-layang ke berbagai hal tepatnya ke beberapa momen yang dialaminya sejak kemarin sampai pagi ini. Mulai dari Ayu yang datang ke rumahnya untuk pertama kali, sampai ke Nia yang tiba-tiba balik dari Tanjungbalai dan memergoki dirinya sedang berasyik-masyuk bersama Ayu walaupun di dapur.


Ah, rasa sesal membuncah di hatinya karena dalam semalam entah sudah berapa kali dia berbohong pada Nia mengenai Ayu. Sebelumnya dia tak pernah melakukan hal itu alias berbohong pada sahabat masa kecilnya itu. Tapi sekarang, gara-gara seorang gadis cleaning service di kantor, dia pun dengan lancarnya menciptakan kebohongan demi kebohongan. Dia tak sempat memikirkan akibat apa yang akan diterimanya nanti bila kebohongannya terkuak. Kedatangan Nia yang mendadak terasa amat mengejutkan dirinya dan membuatnya tak siap hingga mau tak mau dia harus mencari akal untuk menutupi segala celah itu kalau tidak hubungannya dengan gadis itu bakal terancam gara-gara kesalahpahaman yang terus terjadi selama setahun ini.


Ardian memarkirkan mobilnya di depan gedung perkantoran yang tampak sudah ramai dengan para karyawan yang berdatangan.


Mereka masuk ke ruang kerjanya masing-masing untuk memulai tugas rutin sehari-hari yang sudah ditetapkan. Sementara Ardian menaiki lift ke lantai atas tempat ruang kerjanya berada.


Tak lama setelah dia duduk di belakang mejanya, pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Shella masuk sambil membawa berkas-berkas map di tangannya. Dia berjalan melenggang lenggok menuju meja kerja Ardian.


"Iya, pagi," jawab Ardian pendek. Tanpa banyak bicara dia membuka map yang disorongkan Shella ke hadapannya dan membaca berkas-berkas yang terselip di situ.


"Pak Ardian hari ini agak lain," timpuk Shella sekenanya.


Ardian mengernyitkan alis. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Shella sekilas. "Maksudmu?" mau tak mau Ardian bertanya juga karena penasaran dibilang Shella agak lain hari ini. Oh, apakah Shella ini paranormal yang bisa membaca mimik wajah seseorang bahkan jika itu hanya perubahan sedikit saja Shella pun bisa mengetahuinya?


"Iya... agak lain dari biasanya, Pak," jawab Shella sambil tersenyum miaterius. "Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dalam 1-2 hari ini hingga aku merasa Pak Ardian agak lain."

__ADS_1


"Ohya? Kamu merasa demikian, Shel?" tanya Ardian takjub.


"Iya, Pak. Di satu sisi, walaupun mimik wajah Pak Ardian terlihat sangat lega pagi ini namun seperti ada satu beban yang mengimpit yang membuat Pak Ardian tak bisa tersenyum atau tertawa lepas. Apakah itu, Pak Ardian? Kalau boleh tahu?" tanya Shella penasaran.


"Apanya apa, Shel?" Ardian mengerutkan kening. Tak mengerti.


"Iya, apa yang telah terjadi kemarin dan pagi ini sampai Pak Ardian terlihat lain?" Shella mengulangi pertanyaannya dengan raut wajah usil dan binar mata nakal.


"Emangnya apa yang terjadi, Shel?" Apa yag terjadi menurutmu?" Ardian balik bertanya.


"Iya, mana kutahulah, Pak. Makanya Pak Ardian kasih tahu aku dong supaya akunya tidak bertanya-tanya terus," desak Shella tak sabar sambil terus menghadirkan seulas senyum.


"Hmmm... Kamu tahu pun buat apa, Shel? Ini bukan urusanmu," kata Ardian sambil melanjutkan kembali tugasnya melihati berkas-berkas di mejanya.


"Apakah... kemarin Pak Ardian membawa Ayu ke rumah Bapak?" tebak Shella sekonyong-konyong.


Ardian terhenyak. Bagaimana Shella bisa tahu? Kenapa tebakannya tepat sekali? Tak mungkin bisa tepat begini. Pasti seseorang sudah memberitahunya. Mungkinkah Ayu? Tapi, untuk apa Ayu memberitahu Shella? Jangan-jangan pagi-pagi tadi Shella sudah menginterogasi Ayu jadi tahu hal ini.


"Siapa yang kasih tahu kamu, Shel? Ayu-kah?" tak urung Ardian penasaran juga.


Shella tersenyum tipis. "Iyalah, Pak. Bapak pikir aku ini paranormal apa? Mana mungkin bisa menebak dengan tepat begini, Pak Ardian," akhirnya Shella berterus terang.


"Oh, pagi-pagi nggak ada kerjaan lainkah, Shel? Kok Ayu-nya sudah diinterogasi pagi-pagi?" sindir Ardian.

__ADS_1


"Ya iyalah, Pak. Sebelum Pak Ardian datang kan tadi Ayu bersih-bersih ruangan Bapak ini. Ya pas aku masuk dan lihat Ayu-nya juga lain. Kebetulan hari Sabtu lalu aku sudah tahu Pak Ardian berencana membawa Ayu ke rumah hari Minggu. Lalu pagi tadi kulihat wajah Ayu kok lain. Kelihatan sedih. Bukankah seharusnya senang, Pak? Pasti ada sesuatu yang tak beres telah terjadi kemarin makanya rencana tak berjalan sesuai harapannya. Iya kan, Pak Ardian?" berondong Shella.


* * *


__ADS_2