
Bab 56
"Awas, Yu! Lihat di belakangmu!" seruan Ardian yang keras membuat Ayu membalikkan badan menoleh ke belakang dengan cepat.
Dalam situasi ayunan yang masih bergerak, Ardian meraih bahu Ayu dan menariknya hingga tubuh Ayu terlempar menimpa tubuh Ardian yang tadi duduk berhadapan dengannya.
Ayu semakin kaget karena selain di belakangnya tidak ada apa-apa saat dia menoleh, dia pun kini sudah duduk di pangkuan Ardian. Jadi punggungnya menimpa dada Ardian yang sedang duduk sedangkan tangan Ardian yang satu melingkari lehernya dan satunya lagi melingkari dadanya.
"Pak Ardian..," Ayu hampir tak bisa bernapas saking kagetnya. Tubuhnya kini tak berjarak dengan tubuh Ardian karena Ardian memangkunya sambil memeluknya dari belakang.
Jantungnya yang berdegup kencang membuat persendiannya terasa lemas. Ayu pasrah saat tangan Ardian mulai menjelajahi 2 benda kenyal di dadanya
"Pak...," Ayu memejamkan mata saat Ardian membalikkan wajahnya untuk menghadap wajahnya sendiri. Ayu hanya berani membuka matanya sedikit mengintip apa yang dilakukan cowok tampan itu yang wajahnya amat dekat dengannya.
Ciuman hangat Ardian mendarat di bibir Ayu. Gadis itu menikmati dan meresapinya perlahan. Di atas ayunan di siang bolong sunyi tanpa ada yang melihat, Ardian berhasil melampiaskan hasratnya pada gadis itu.
Untunglah saat itu mereka hanya di atas ayunan yang ada di taman. Seandainya saja mereka ada di atas tempat tidur yang ada di dalam kamar, pastilah Ardian telah menuntaskan hasratnya yang paling terpendam pada gadis itu.
Beberapa menit mereka seperti lupa daratan dan baru tersadar dari bius kemesraan saat terdengar suara tapak-tapak kaki mendekat ke arah mereka.
Buru-buru Ayu mendorong tubuh Ardian untuk terlepas dari pangkuannya dan kembali ke tempat duduknya semula.
Ardian pun segera membetulkan posisi duduknya di ayunan sehingga kini dia dan Ayu tampak seperti sedang menaiki ayunan saja tanpa melakukan hal lain.
"Pak Ardian," seorang karyawan cewek yang suara tapak-tapak kakinya tadi terdengar, kini sudah berdiri di dekat Ardian dan Ayu.
"Ya?" Ardian menaikkan alisnya, menjawab karyawan cewek yang memanggilnya itu.
__ADS_1
"Pak Ardian apakah mau ikut kami ke bukit Kubu? Kami akan berangkat ke bukit Kubu sekarang," kata karyawan cewek itu.
Ardian menatap Ayu sejenak seperti meminta jawaban.
"Kalian semua pergi ke sanakah?" tanya Ayu.
"Iya," jawabnya.
Ayu menelan ludah. Tak berani dibayangkannya apa yang akan terjadi padanya bila dia tak ikut rombongan ke sana. Bisa-bisa di villa nanti setelah tinggal Ardian dan dirinya, bossnya itu akan melakukan hal-hal yang lebih berani padanya.
Lihat saja tadi. Di ayunan siang bolong begini saja Ardian berani mengambil untung darinya walaupun Ayu sendiri tak menolak. Tapi gadis itu tak berani membayangkan hal yang lebih jauh. Ditinggal berdua, bisa-bisa Ayu tak kuasa menolak saat Ardian menginginkan keperawanannya. Kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar bila Ardian dan Ayu tidak ikut rombongan ke bukit Kubu melainkan tetap tinggal di villa.
"Iya, aku mau ikut," jawab Ayu memupus harapan Ardian.
"Pak Ardian ikut juga?" tanya karyawan cewek itu.
Setelah kepergian karyawan cewek itu, Ardian menatap Ayu kembali. Dilihatnya wajah gadis belia itu merona merah. Pipinya jengah karena apa yang dilakukan Ardian barusan.
Bertahun-tahun Ayu pacaran dengan Willy, pacarnya itu tak berani berbuat lancang padanya. Paling hanya menggandeng tangannya, memeluknya, atau mengecup pipinya. Ardian termasuk berani padahal dia dan Ayu baru kenal beberapa bulan.
"Kau marah?" tanya Ardian melihat Ayu diam mematung.
"Pak," Ayu menangkis pertanyaan Ardian. "Ayu bukan cewek murahan. Ayu juga bukan orang yang sengaja memanfaatkan fisik untuk menjebak lawan jenis terutama Bapak."
"Ya? Jadi?" Ardian menunggu lanjutan perkataan Ayu.
"Tadi itu... aku ikhlas. Ayu... Ayu... ikhlas karena Ayu suka Pak Ardian!" setelah berkata begitu Ayu langsung bangkit dari duduknya, turun dari ayunan, dan melangkah terburu-buru meninggalkan taman dengan wajah merah.
__ADS_1
Ardian melihat kepergian Ayu sekejap. Kejap berikutnya Ardian ikut bangkit dari duduknya, turun dari ayunan, dan meninggalkan taman.
"Kak Shella," Ayu sudah sampai di dekat rombongan yang bersiap-siap berangkat ke bukit Kubu dengan bus pariwisata. Bus yang membawa mereka datang di Brastagi kemarin.
Shella yang berdiri di antara kerumunan karyawan melihat kedatangan Ayu dan mendengar panggilannya, namun sekretaris Ardian itu bukan saja tak menjawab, malah membuang muka dengan wajah tak senang.
Sepertinya dia merasa amat menyesal telah mengajak Ayu ikut ke Brastagi tempo hari. Cleaning service itu pandai memanfaatkan situasi dan mengambil keuntungan dari kondisinya yang tampak memprihatinkan di mata Ardian. Seandainya saja Shella tahu perkembangannya akan begini, dia tak akan sudi mengajak Ayu ikut serta.
Ardian yang menyusul langkah Ayu sekarang sudah sampai juga di dekat rombongan.
"Bagaimana? Kita mau berangkat sekarang?" tanyanya.
Para karyawan yang ditanya hanya mengangguk dan menjawab kecil, "Iya, Pak."
Entah apa yang terjadi. Barangkali mereka agak kecewa atau sesal juga menyadari boss mereka yang kaya raya dan sangat tampan itu ternyata bisa suka sampai sebegitu dekatnya dengan seorang gadis cleaning service. Seperti tidak ada gadis lain saja yang lebih pantas.
Ardian dan Ayu naik ke atas bus bersama para karyawan. Shella yang kemarin duduk di samping Ardian sekarang juga mengambil tempat duduk yang sama. Sedangkan Ayu terpaksa duduk di belakang seperti tempat duduknya kemarin sewaktu datang ke Brastagi.
Selama dalam perjalanan ke bukit Kubu, para karyawan lebih banyak diam tak terlibat percakapan apalagi sampai terlihat riang bernyanyi-nyanyi seperti kemarin.
"Setelah ke bukit Kubu kita mau ke mana lagi?" tanya Ardian pada Shella yang diam membisu di sampingnya.
"Ke pasar," jawab Shella pendek. Tak ada semangat sama sekali di nada suaranya. Terdengar seperti orang yang malas bicara.
Ardian menghela napas panjang. Sepertinya dia mulai menyadari kelainan sikap para karyawan perusahaan padanya semenjak dia berani terang-terangan menunjukkan kedekatan dan perhatiannya pada Ayu, gadis cleaning service yang semula mereka pandang sebelah mata.
Di samping itu, mereka menganggap keikutsertaan Ardian bersama rombongan mereka seharusnya dimanfaatkan sebagai momen untuk lebih dekat dengan para karyawan perusahaan alias mereka sendiri. Namun Ardian terkesan tak begitu peduli atau menganggap kehadiran mereka nihil. Ardian dianggap hanya memperhatikan Ayu seorang dan menghabiskan waktu terlalu banyak dengan gadis itu. Bahkan dia tak bersedia dekat-dekat dengan para karyawan tapi mau dekat-dekat dengan gadis cleaning service itu. Pantaslah mereka sesal dan kecewa pada sang pemilik perusahaan
__ADS_1
* * *