Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Hp Bekas Nia Dibeli Riko


__ADS_3

Bab 35


"Kamu... aku... kamu... kok bisa di sini?" Riko gelagapan sambil bangkit dari ranjangnya.


"Ada hal penting," jawab Nia yang berdiri di luar pintu kamar. "Bisa kita bicara di luar saja, Riko?" pinta Nia.


Riko mengangguk. "Tunggu aku ya," kata Riko.


"Aku tunggu di bawah, ruang tamu," balas Nia. "Cepat ya, Riko, aku buru-buru."


"I-iya," Riko mengangguk.


Nia membalikkan badan dan berjalan menuruni tangga ke lantai 2. Dia berjalan lagi menuju ruang tamu dan duduk di sofa dengan perasaan gelisah. Ibu di rumah pasti sedang menunggu kepulanganku, batin Nia.


Suara tapak-tapak kaki terdengar menuruni anak tangga. Riko segera muncul di ujung tangga. Dia sudah mengganti baju singletnya tadi dengan kaos oblong supaya kelihatan lebih sopan.


"Ada apa Nia?" Riko berjalan mendekati Nia dan duduk di sofa juga, di depan Nia.


"Aku mau minta tolong kamu beli hp-ku, Riko," jawab Nia langsung. Dia memang tak bisa bertele-tele atau memboroskan waktu karena ibunya di rumah tak bisa ditinggal lama.


"Hp? Maksudmu?" Riko mengerutkan kening.


"Aku butuh duit, Riko," kata Nia terus terang. "Sakit ibuku semakin parah, jadi aku berencana membawanya berobat ke dokter spesialis di rumah sakit," jelas Nia


"Oh, maksudmu... kamu kekurangan biaya untuk berobat?" tebak Riko.

__ADS_1


Nia menggigit bibir, "Iya," jawabnya jujur.


"Mana hp-mu, Nia?" tanya Riko.


"Ini," Nia menyodorkan hp di tangannya. Hp pemberian Ardian 3 tahun lalu yang hari ini terpaksa dia jual demi hal yang lebih penting.


Riko menerima hp yang disodorkan Nia ke hadapannya. Dilihat-lihatnya sebentar hp itu. Layarnya masih bagus, casing-nya juga masih mulus. Tampaknya Nia orang yang sangat pintar merawat benda hingga hp itu masih terlihat baru.


"Hp-nya waktu beli 2,5 juta, Riko. Aku dibelikan temanku yang di Medan waktu kami jalan-jalan ke mal," terang Nia.


"Jadi kamu mau jual berapa?" tanya Riko sambil menghidupkan hp itu. Belasan detik kemudian muncul berbagai macam aplikasi di layar hp. Riko melihatnya sekilas dan menyentuh juga menggeser-geser layar tersebut dengan jari tangannya.


"Terserah kamu mau beli berapa?" kata Nia sambil menelan ludah. Dia memang tak tahu berapa harga hp bekas yang hendak djualnya itu.


Sebenarnya, Riko tidak pernah membeli hp bekas. Hp-nya sudah ada 3 dan itu keluaran terbaru dari merk terkenal juga yang mahal harganya. Dia sama sekali tak suka hp bekas atau barang bekas.


Tapi demi gadis di depannya, Riko berkata, "Aku beli 2,4 juta saja ya. Potong seratus ribu."


Nia membelalakkan mata. Benarkah hp bekas di tangan Riko itu seharga begitu? Berarti tak rugi banyak walau sudah 3 tahun digunakan, pikir Nia lugu.


Sebenarnya hp bekas yang sudah keluaran lama seperti yang ditawarkan Nia kalau dijual paling laku 1 juta. Riko jelas tahu itu karena tiap hari kerjanya beli hp dan utak-atik hp. Namun, Nia sama sekali tak tahu dan mengira memang segitu harganya.


"Benar kamu mau beli harga segitu?" tanya Nia. Sekilas berkelabat bayangan ibunya yang mendapat pengobatan di rumah sakit, di tangan dokter spesialis. Alangkah lega hati Nia membayangkan itu.


Riko mengangguk sambil tersenyum, "Iya, Nia," jawabnya.

__ADS_1


Dipandanginya wajah lega dan bahagia gadis yang duduk di depannya. Tak ada yang lebih membahagiakan hati Riko selain melihat gadis itu bisa menampakkan wajah lega dan tersenyum lepas. Seolah baru terlepas dari beban berat yang menghimpitnya sekian lama.


"Kamu tak nyesal, Riko, beli hp-ku dengan harga segitu?" Nia memastikan.


Riko menggeleng. "Kalau masih ada 2 di rumahmu pun aku beli," jawabnya serius.


"Hahaha," Nia tak mampu menahan tawa. "Mana ada lagilah hp di rumahku, Riko. Ini hp-ku satu-satunya. Terpaksa kujual demi pengobatan ibuku," jujur Nia.


"Iya, tunggu sebentar ya, aku ambilkan duitnya di kamarku," kata Riko.


Nia mengangguk dengan wajah yang menampakkan kelegaan.


Riko pun berjalan menuju tangga ke lantai 3. Dimasukinya kamar tidurnya dan dikeluarkannya dompetnya dari dalam laci meja. Dompet itu penuh berisi uang seratus ribuan. Lalu ada banyak kartu ATM di dalam. Terakhir, di satu sisi dompet itu terselip foto Nia yang sedang tersenyum dari jarak beberapa meter titik pengambilan foto. Foto Nia memakai seragam sekolah olahraga sambil melihati keranjang basket.


Riko mengambil foto Nia itu diam-diam saat pelajaran Olahraga di sekolah 5 tahun lalu. Nia sedang memperhatikan keranjang basket yang menjadi sasaran tumpuan bola basket yang dimasukkan siswa-siswi. Karena itu dia tak sadar ketika Riko memotretnya diam-diam menggunakan hp android.


Sudah 5 tahun foto Nia itu disimpannya di dompet setelah mencucinya di toko fotokopi. Di kala rindu, terutama ketika Nia di Medan kuliah, Riko sering memandangi foto itu.


Riko sering mengeluarkan foto itu dari dalam dompetnya, memeganginya, menatapinya, dan mendekapinya sampai dia tertidur di ranjang dibuai mimpi. Berharap suatu ketika akan bisa bertemu kembali dengan gadis di foto itu di dunia nyata dan mengungkapkan perasaan cintanya yang terpendam sekian lama.


Nia melihat kedatangan Riko dari ujung tangga sambil tangannya memegang segepok uang seratus ribuan. Tak pernah Nia merasa sesenang itu sebelumnya melihat yang namanya uang. Padahal sewaktu di Medan bersama Ardian, sudah sering Nia melihat Ardian mengeluarkan uang bergepok-gepok untuk berbelanja baju, celana, sepatu, tas, hp, dan lain-lain saat mereka jalan-jalan ke mal atau pusat perbelanjaan. Tiap kali itu perasaan Nia biasa saja. Hanya merasa sayang Ardian memboroskan banyak duit untuk membeli semua itu yang menurut Nia sangat mahal. Bahkan perasaannya saat dibelikan Ardian banyak baju mahal pun tak selega atau sesenang sekarang, di saat Riko membayar hp bekasnya untuk membiayai pengobatan ibunya.


"Terima kasih, Riko, kamu adalah dewa penolongku," kata Nia dengan mata berkaca-kaca. Nyaris dia menitikkan air mata saat menerima duit 2,4 juta itu dari tangan Riko.


"Iya, Nia. Cepat bawalah ibumu berobat. Cari dokter spesialis yang terbaik. Jangan merasa sayang membayar biaya dokter atau membeli obat mahal. Kalau ada yang kurang, kamu tak perlu menjual hp lagi atau barang-barang lain milikmu. Datang saja kepadaku, aku akan menolongmu," kata Riko.

__ADS_1


Ucapan Riko itu seperti sebuah janji, dirasakan Nia bagaikan embun pagi yang amat menyejukkan hati. Tak sanggup lagi Nia menahan gejolak di hatinya hingga dia pun menitikkan air mata haru. "Iya, Riko," kata Nia.


* * *


__ADS_2