Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season-2 Postingan Ayu di Media Sosial


__ADS_3

Bab 132


Hari sudah sore saat Ardian dan Nia pulang dari kampus. Sepertinya Ardian tak bakal balik ke kantor lagi karena sebentar lagi jam pulang karyawan.


Ayu yang sedari tadi menunggu Ardian pulang sambil beres-beres rumah merasa gelisah. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa Ardian lama sekali belum juga balik dari kampus. Sepertinya mereka bukan ke kampus saja tapi juga raun-raun entah ke mana. Wah, berarti Ardian membawa Nia jalan-jalan dong.


Hati Ayu pun terasa panas memikirkan kemungkinan itu. Apalagi memikirkan Ardian dan Ayu yang bersenang-senang berdua di luar sementara dia berberes-beres di rumah. Rasanya sungguh tak adil. Eh... bukannya itu memang tugas Ayu?


Saat Ardian dan Nia masuk ke dalam villa, Ayu sedang ada di ruang tamu. Matanya memandang pada Nia dengan penuh rasa iri dan benci. Apalagi saat dia melihat wajah Ardian dan Nia yang tampak gembira. Rasanya dia benar-benar tak sanggup menahannya.


Karena itu Ayu pun berkata, "Wah, Pak Ardian baru pulang sekarang? Nggak mungkin balik ke kantor lagi dong, Pak."


Ardian dan Nia berhenti tertawa padahal tadinya mereka sedang bercanda saat turun dari mobil dan berjalan memasuki villa. Tak mereka sadari kalau Ayu ada di ruang tamu dan memergoki kesenangan mereka. Sudah pasti dada Ayu terasa panas seperti ada bara api yang membakar.


"Iya... nggak balik kantor lagi, Yu karena sudah kesorean," jawab Ardian yang sudah masuk ke ruang tamu bersama Nia.


"Daftar ke kampusnya lama ya, Kak Nia sampai Pak Ardian terpaksa bolos ke kantor sore ini?" tanya Ayu yang lebih mirip menyindir daripada bertanya.


"Emangnya kenapa, Yu?" tanya Ardian heran. Dia juga tak tahan untuk diam saja melihat Ayu yang menginterogasi Nia dengan pandangan mata menyudutkan sementara Nia-nya hanya diam diperlakukan begitu.


"Ya kan nanya saja, Pak. Kok harus sampai bolos balik ke kantor gara-gara ke kampus ngurus kuliahnya Kak Nia," terang Ayu dengan nada suara yang tak segan-segan.


Sikap Ayu kali ini dirasakan Ardian benar-benar tak bisa ditolerir lagi. Ardian benar-benar ingin marah tapi masih ditahannya supaya jangan sampai terjadi pertengakaran di antara dirinya dengan Ayu di tengah-tengah suasana yang mulai memanas.


"Pak Ardian tiba-tiba ingin minum jus terong Belanda, Yu, jadi kami singgah sebentar ke kafe yang di dekat kampus. Sekalian makan lagi karena setelah urusan di kampus beres kami merasa lapar lagi," beri tahu Nia.

__ADS_1


"Owh," Ayu bereaksi kecil mendengar penjelasan Nia.


"Pak Ardian nggak bakalan sering-sering bolos ke kantor gara-gara mengurus kuliahku, Yu. Karena urusanku di kampus sudah selesai," lanjut Nia.


"Nggak ada hubungannya denganmu, Yu," Ardian menimpali.


"Iya, memang nggak ada hubungannya denganku, Pak. Cuma aku sebagai bawahan yang baik harus mengingatkan Pak Ardian saat Pak Ardian lalai dan lupa sama pekerjaan," alasan Ayu.


"Oh, kalau begitu terima kasih ya, Yu. Kamu sangat perhatian pada tugas-tugas yang harus dilakukan Pak Ardian," ucap Nia.


Ardian menghela nafas panjang. "Sebenarnya sore ini aku punya waktu luang juga, Yu, karena siang tadi semua pekerjaan di kantor sudah kubereskan sebelum pulang ke rumah makan siang," kata Ardian. "Jadi menemani Nia ke kampus sore ini tidak mengganggu pekerjaanku sama sekali."


Setelah berkata begitu, Ardian dan Nia melirik Ayu untuk melihat reaksinya.


Ayu melengos lalu berkata, "Aku sudah boleh pulang sekarang kan, Pak Ardian? Kerjaanku sudah beres. Makan malam juga sudah kusediakan."


"Nggak, dijemput teman," jawab Ayu cepat lalu melangkah keluar dari pintu utama dan berjalan menyusuri taman atau pekarangan rumah sampai tiba di pintu gerbang.


Sesampainya di luar gerbang Ayu berjalan ke samping kanan puluhan langkah sebelum berhenti dan mengeluarkan hp dari dalam tasnya.


Ayu mencari sebuah nomor yaitu nomor Willy. Begitu panggilan terjawab, Ayu segera berkata, "Sudah mau datang belum, Wil? Ini aku sudah berada di luar villanya Pak Ardian."


"Wah, cepat sekali sudah pulang, Yu. Biasanya jam 6 sore. Ini masih jam 5," kata Willy di seberang sana.


"Jadi kamu bisa jemput atau nggak? Ini aku sudah ada di luar gerbang nungguin kamu. Kalau nggak bisa ya sudah aku naik ojek online saja," kata Ayu ketus.

__ADS_1


"Masih setengah jam lagi baru pulang. Tapi ya nggak apa-apa biar aku minta izin pulang lebih cepat untuk menjemputmu," balas Willy. "Tunggu sebentar ya, Yu. Aku minta izin pulang sekarang. Cuma butuh waktu setengah jam juga dari sini ke rumahnya Pak Ardian. Karena jam pulang kerja jalanan macet, Yu."


"Ya sudah, aku tunggu kamu di sini sekitar 20 meter ke arah kanan dari gerbang villanya Pak Ardian," kata Ayu lalu memutuskan pembicaraan. Dia segera mencari-cari tempat untuk duduk menunggu di sekitaran situ dan dia menemukan sebuah batu semen untuk diduduki di samping villa orang lain yang ada di kompleks pervilaan tersebut.


Ayu berjalan ke sana dan duduk dengan posisi kedua kaki menyilang dengan tas tangannya di atas paha dan hp android di genggaman kedua tangannya. Sambil menunggu kedatangan Willy, Ayu pun duduk dan bermain media sosial.


Ayu membuka akun Facebook-nya dan meng-update status yang bunyinya begini:


"Sungguh pedih jadi selingkuhan boss. Begitu pacar boss balik dari kampung, akunya ditepis begitu saja, dibuang, ditiup pergi kayak angin lalu."


Spontan postingan Ayu itu dalam beberapa menit di-like, diberi emoticon nangis/sedih, emoticon kaget, dan dikomentari ratusan teman di dunia mayanya yang entah dia add dari mana sampai 3.000-an jumlahnya.


Walaupun Ayu memakai nama asli di akun Facebook-nya namun dia tidak meng-add pacarnya sendiri, Willy ataupun Ardian. Ada teman di Facebook-nya itu yang dulunya teman sekolah tapi ada juga yang hanya teman dari media sosial yang sama sekali tak dikenalnya atau tidak pernah bertemu.


Komennya bermacam-macam namun khas komen dari cewek yang suka menggunakan kalimat-kalimat pedas.


"Kasihaaan... jangan mau kalah sama pacar boss dong. Katanya kamu lebih cantik dan seksi daripada dia. Mana buktinya?"


"Iya tuh. Pacar boss nggak ada apa-apanya dibanding kamu, Yu. Kurus gitu. Body-nya nggak ada bentuk. Kalah jauhlah."


"Betul, Yu. Seharusnya kamu yang dipilih boss bukannya pacarnya itu. Dia kan cuma sahabat masa kecil boss-mu. Cuma itu saja. Nggak lebih."


"Ayolah, semangat, Yu. Kami mendukungmu mendapatkan boss-mu itu. Tendang saja pacarnya. Boss-mu sudah jelas lebih cinta kamu."


"Usaha, Yu. Jangan patah semangat. Go-go-go (ale-ale-ale)."

__ADS_1


Ayu pun sibuk membalas komen dari para teman dunia mayanya. Sampai ratusan komen dia balas sebelum Willy datang menjemputnya.


* * *


__ADS_2