Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Pertemuan dengan Teman SMP Ayu di Cinema


__ADS_3

Bab 83


"Kita mau ke mana lagi sekarang, Pak?" Ayu memandang Ardian yang berjalan di sisinya. Satu tangannya memegang plastik berisi dua gaun yang dibelikan Ardian di butik mewah. Satunya lagi memegang kantongan dari karton berisi hp andorid yang dibelikan Ardian juga. Kedua kantongan itu memiliki merk yang tercetak di depannya. Merk butik dan toko seluler ternama.


"Ke cinema, Yu. Mau nonton kita," Ardian mengedipkan sebelah mata lalu menggandeng tangan Ayu.


Gadis belia itu agak kaget digandeng tiba-tiba. Baru sekarang Ardian menggandeng tangannya lagi semenjak mereka masuk ke mal.


Mereka menaiki lift menuju lantai paling atas di mana terdapat cinema yang memutar film-film baru. Rencananya Ardian akan membawa Ayu nonton film cinta yang ceritanya romantis.


Mereka berjalan cukup jauh sekeluarnya dari lift menuju kawasan cinema. Kawasan itu dibatasi pintu masuk dari kaca. Ada sofa dan meja untuk duduk-duduk sambil mengemil makanan ringan sebelum film yang ditunggu tayang. Jadi setelah membeli karcis mereka boleh duduk menunggu di situ.


Ardian dan Ayu sudah masuk ke dalam cinema. Mereka melewati pintu kaca yang dijaga Pak Satpam. Melihat Ayu menenteng kantongan berisi barang belanjaan, Pak Satpam mempersilakannya untuk menaruh barang-barangnya itu di lemari yang ada di kawasan cinema.


Para pengunjung cinema tidak diperkenankan membawa masuk barang belanjaan, apalagi makanan dan minuman ringan. Tidak sama seperti tempo dulu. Jadi mereka harus menitipkannya di lemari dan diberi nomor tanda bukti penitipan.


Ayu menyerahkan barang-barang belanjaannya untuk disimpan Pak Satpam lalu menerima nomor tanda bukti penitipan.


Dia baru saja hendak mengikuti Ardian mengantre karcis di loket saat bahunya tiba-tiba ditepuk seseorang dari belakang.


"A-Yu!" panggil orang itu yang ternyata seorang gadis muda juga seperti dirinya.


Ayu menoleh. Ditatapnya wajah orang yang menepuk pundaknya itu dan dikenalinya langsung. Dia adalah teman sekelas Ayu di SMP.


"Ayu kan?" tanyanya sekali lagi sambil memicingkan mata. Seolah tak percaya sosok yang berdiri di depannya adalah teman SMP-nya.

__ADS_1


"Kamu... Riana?" Ayu menyebut namanya juga. Sikap Ayu biasa saja, tidak terkejut apalagi heboh seperti teman SMP-nya itu.


"Iya! Aku Riana, Yu. Kamu masih ingat kan?" tanya temannya itu.


"Ingat, Riana," jawab Ayu pendek.


Mana mungkin Ayu bisa melupakan Riana, orang yang dulu sering menyindirnya. Riana dulu memandang rendah Ayu karena dia berasal dari keluarga sederhana, tidak seperti Riana, anak orang kaya.


Riana sering menyindir dan mengata-ngatai Ayu karena kecantikannya yang membuat banyak teman sekelas cowok menaruh perhatian padanya. Jelas saja Riana iri karena walaupun dia juga cantik dan anak orang kaya namun kalah bersaing mendapatkan perhatian dari lawan jenis. Bahkan dalam hal prestasi belajar saja Riana kalah banyak dari Ayu yang menjadi bintang kelas.


"Wah, sampai pangling aku. Kamu sekarang kok lain sekali, Yu. Lihat dandananmu begitu modis. Nggak sama kayak dulu," Riana tersenyum pada Ayu sambil memperhatikan Ayu dari atas kepala sampai ke ujung kaki.


"Biasa saja, Riana," jawab Ayu risih karena dipandangi Riana terus.


"Ya lainlah pokoknya sekarang. Kamu pasti sudah dapat kerja yang bagus sekarang. Kelihatannya sudah naik status sosialmu sekarang ya," Riana mengedipkan sebelah mata. Tak peduli jika kata-katanya itu mungkin menyinggung perasaan Ayu.


Apa mau dikata, dirinya tidak mendapatkan pekerjaan yang mapan karena tak mampu menamatkan SMA dikarenakan ketiadaan biaya. Lalu status sosialnya sampai detik ini pun masih sama seperti dulu. Riana pasti akan memandang remeh padanya lagi seperti dulu. Ini hanya karena Ayu memakai baju modis dan berdandan lengkap, Riana mengiranya sudah mapan.


"Kamu kerja apa sekarang, Yu?" tanya Riana ingin tahu.


"Aku... kerja..."


"Sudah, Riana?' seorang cowok seusia Ardian tiba-tiba muncul di antara Ayu dan Riana.


"Oh, ini ada temanku, Ayu," Riana memberi isyarat pada cowok muda yang baru muncul itu.

__ADS_1


Cowok itu menatap Ayu sekilas. Cantik, bisik hatinya. Jauh lebih cantik daripada Riana. Namun tentu saja itu tak dikatakannya di depan Riana.


"Yu, ini pacarku Randy," Riana tersenyum manis pada Ayu. "Di mana pacarmu, Yu? Ohya, masih tetap dengan Willy kan?" tanya Riana langsung.


Srrr... hati Ayu berdesir. Dilihatnya ke arah Ardian melangkah tadi. Cowok itu sedang mengantre karcis dan sekarang sudah berada di antrean ke-2 dari depan. Berarti sebentar lagi karcisnya akan terbeli dan Ardian akan segera balik ke tempat Ayu menunggu.


"Mana Willy, Yu? Gimana kabarnya? Seingatku kamu sudah pacaran dengannya sejak kelas I SMP kan?" Riana memberondong Ayu dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan tidak sabar. Soalnya yang Riana tahu, Willy juga berasal dari keluarga sederhana seperti Ayu. Apakah mungkin sekarang dia sudah mapan?


Ayu tak tahu harus menjawab yang mana dulu. Dia harus bisa menjawab dengan cepat untuk menyelesaikan segala pertanyaan mengenai Willy sebelum Ardian balik ke tempatnya. Kalau tidak, Ardian pasti akan sangat heran karena sebelumnya tak pernah mendengar nama Willy disebut Ayu Apalagi Riana tahu Willy itu pacarnya Ayu.


Gawat! Rahasiaku bisa terbongkar! jerit Ayu dalam hati. Duh... kenapa bisa bertemu secara tak sengaja dengan Riana di sini. Teman SMP yang tahu rahasianya Ayu yang memiliki pacar bernama Willy. Sungguh pertemuan yang tidak sesuai dengan situasi kondisi saat mana dia sedang bersama Ardian.


"Kok diam, Yu? Gimana kabar Willy? Kamu datang ke sini bersamanya kan?" Riana semakin penasaran. Dia menatap Ayu penuh selidik.


Sedangkan pacarnya yang bernama Randy hanya diam saja di samping Riana namun matanya berkali-kali melirik bagian dada Ayu yang montok, menonjol padat dan kenyal. Dua bukit kembar milik Ayu yang menggoda itu muncul seperempat di balik blus ketat merahnya yang berbelah dada rendah di tengah. Randy meneguk ludah tanpa sepengetahuan Riana.


"Aku...," Ayu benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Apalagi di saat mendesak seperti ini kala Ardian akan segera balik ke sisinya dan mendengar pembicaraan mereka. Pasti dia akan sangat heran dan bertanya pada Ayu siapa Willy itu.


Tampaknya Ayu tak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan Riana, karena kemunculan Ardian di sampingnya cukup menjawab rasa penasaran Riana.


Ardian sudah selesai membeli dua lembar karcis dan sekarang dia berdiri di samping Ayu.


"Siapa, Yu?" tanya Ardian sambil matanya melirik Riana dan Randy yang berdiri berhadapan dengan Ayu.


Riana terhenyak. Matanya membesar menatap cowok muda sangat tampan yang baru muncul di samping Ayu.

__ADS_1


* * *


__ADS_2