Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian dan Shella Pulang ke Hotel


__ADS_3

Bab 73


Shella dan wanita setengah tua itu berbincang-bincang seperti tiada habisnya.


Ardian mulai tak sabar dan melirik Shella berkali-kali, memberi isyarat supaya sekretarisnya itu segera mengakhiri pembicaraan yang tak ada ujungnya dengan tetangga lama Ardian tersebut.


Shella mengerti ekspresi wajah Ardian yang sudah tak sabar. Karena itu saat lawan bicaranya hendak bertanya lebih lanjut, Shella langsung mencari cara mengakhiri pembicaraan.


"Sudah malam ya, Tante. Kayaknya kami harus balik ke hotel dulu," kata Shella sambil tak lupa menyunggingkan seulas senyum.


"Wah... sayang sekali ya, padahal masih banyak hal penting yang belum kita bicarakan. Hehe," wanita itu menjawab agak kecewa namun tak urung dia menyunggingkan seulas senyum juga.


"Ohya, kalian tinggal di hotel ya?" tanyanya ingin tahu.


"Iya, Tante," jawab Shella sopan.


"Wah... hati-hati lho kalau sepasang muda-mudi nginap di hotel apalagi belum menikah. Jangan sampai hamil sebelum nikah. Entar..."


Ardian mendelik. Dia tahu ke arah mana arah pembicaraan tetangga lamanya itu.


Melihat reaksi Ardian yang kurang berkenan mendengar ucapannya, wanita itu pun tak melanjutkan kalimatnya. Namun dia berpesan pada Shella, "Hati-hati ya, Shel, kamu begitu cantik. Nginap di hotel sama boss gini tampan, siapa yang tahan. Hihi."


Shella nyengir kuda. Ardian menahan wajahnya yang merah padam. Herannya, tak ada satu pun dari keduanya yang hendak memberi penjelasan pada wanita itu kalau mereka walaupun tinggal di hotel yang sama namun nginap di kamar yang beda.


Bagi Ardian, menjaga nama baik dan menghindari gosip adalah jauh lebih penting daripada menghemat sedikit duit dengan memesan 1 kamar.


"Kami permisi dulu, Tante," Shella bangkit dari kursinya, bermaksud mengikuti langkah Ardian yang bahkan tak sempat mengucapkan pamit pada tetangga lamanya itu.


"Iya, semoga kita bisa berjumpa lagi kapan-kapan ya, Shel. Senang sekali bisa berbincang-bincang denganmu."


"Sama-sama, Tante.'"


"Hati-hati! Ingat pesan Tante tadi," dia tersenyum.

__ADS_1


Shella membalas senyumnya lalu bergegas pergi menyusul langkah Ardian.


"Tunggu aku, Pak!" Shella berjalan tergesa-gesa menyusul langkah Ardian.


Ardian menarik napas panjang dan memandang Shella yang berjalan di sisinya.


Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang serasi yang sedang menikmati malam Minggu dengan berjalan kaki menyusuri kota Tanjungbalai.


"Besok pagi kita cari Nia di rumahnya ya, Pak?" tanya Shella memastikan.


"Iya," jawab Ardian.


Shella dan Ardian terus berjalan bersisian menuju hotel. Hari sudah mulai larut dan mereka berdua sudah merasa ngantuk. Apalagi tadi belum sempat istirahat setelah menempuh perjalanan jauh dari Medan ke Tanjungbalai.


Tak lama kemudian mereka tiba di hotel. Setelah masuk dari pintu utama, Ardian dan Shella masuk lagi ke pintu koridor menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai yang dituju.


Ardian dan Shella menginap di kamar yang berdampingan.


Ardian tak menjawab, dia membuka pintu kamarnya sendiri lalu masuk ke dalam dan menutupnya.


Shella melakukan hal yang sama. Memang apa yang dipikirkan Shella? Berharap sekamar dengan Ardian? Berharap satu ranjang dengannya? Atau berharap Ardian memeluknya dan memberinya kehangatan di malam yang dingin?


Memang sangat normal bila Shella menginginkan itu. Karena boss-nya itu sangat tampan dan masih muda. Ardian juga memiliki tubuh atletis yang tinggi dan kekar. Dia tampak sangat cool, jantan, dan menawan di mata para gadis. Siapa yang tahan tak tergoda untuk berduaan dengannya di tempat yang jauh, di malam yang dingin, dan di kamar hotel yang mewah?


Shella masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap untuk tidur setelah mengganti baju. Sementara Ardian di kamarnya langsung naik ke atas tempat tidur setelah mencuci tangan dan kakinya.


Malam itu dilewati Shella dan Ardian di kamar masing-masing. Ardian sebentar saja sudah jatuh tertidur karena capeknya, sementara Shella masih belum bisa memejamkan mata dan membolak-balik badannya di atas tempat tidur bersprei putih. Setelah agak lama, Shella baru bisa jatuh tertidur sampai matahari terbit keesokan paginya.


Ardian membuka matanya. Hari telah pagi. Malam tadi Ardian benar-benar tidur dengan nyenyak hingga pagi ini ketika bangun tubuhnya terasa segar.


Hal pertama yang dilakukan Ardian ketika bangkit dari tempat tidur adalah menyambar hp android-nya yang tergeletak di atas meja bundar di depan sofa kamar.


Setelah hp itu berada di tangannya, Ardian segera menelepon Shella. Maksudnya membangunkan gadis itu juga dan menyuruhnya lebih cepat bersiap-siap, mandi, berdandan, berkemas, atau apa namanya karena Ardian tak mau lama menunggunya seperti kemarin.

__ADS_1


Shella yang masih tidur nyenyak pun terbangun mendengar deringan hp-nya yang ditaruhnya di dekat tempat tidur. Dengan enggan Shella meraih hp itu dan melihat panggilan masuk dari Ardian.


"Iya, Pak Ardian," jawab Shella dengan suara ngantuk.


"Sudah bangun, Shel?" tanya Ardian.


"Iya, barusan, Pak," jawab Shella lagi.


"Baguslah. Cepat mandi dan berkemas. Jangan lama-lama karena aku tak mau menunggumu seperti kemarin. Kamu yang harus sudah siap duluan dan menungguku di lobby. Okey?"


"Waduh... iyalah, Pak. Aku usahakan lebih cepat," kata Shella.


Ardian menutup hp android-nya dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersalin pakaian. Dia harus tampil dengan baik hari ini karena orang yang akan ditemuinya adalah Nia, kekasih hatinya yang sudah setengah tahun lebih tak bertemu.


Sementara Ardian di kamarnya mandi dan bersalin pakaian, Shella juga melakukan hal yang sama. Kali ini Shella berusaha melakukan semuanya dengan cepat. Dia harus menepati janjinya untuk tak membuat Ardian menunggu.


Ardian duluan siap dan keluar dari kamar. Saat dia hendak berjalan menyusuri koridor hotel menuju lift, Shella membuka pintu kamarnya dan keluar juga dari sana.


"Wah, Pak, kita sama-sama siapnya nih," senyum Shella cerah setelah menutup pintu kamar.


"Iya, syukurlah sudah siap," Ardian menghela napas lega karena itu artinya dia dapat lebih cepat berangkat ke rumah Nia bersama Shella. Rasanya sudah tak sabar lagi berjumpa sang kekasih hati.


"Kita sarapan pagi di bawah saja," kata Ardian. "Paket harga kamarnya termasuk breakfast kan?"


"Iya, Pak," jawab Shella.


Dia dan Ardian berjalan beriiringan menyusuri koridor hotel yang di kiri kanannya adalah kamar-kamar para tamu. Setelah sampai di depan lift, mereka masuk dan menekan tombol lantai dasar. Hari masih pagi, sekitar pukul 8.


Sesampainya di bawah, Shella dan Ardian berjalan menyusuri koridor menuju bagian belakang hotel di mana terdapat resto lumayan luas untuk para tamu yang menginap di hotel itu.


Ardian dan Shella masuk ke dalam, mengambil piring dan mulai menyendok bermacam-macam lauk yang tersedia di atas meja panjang yang disusun keliling. Mereka menyendok lauk itu dari tempat masing-masing sebelum membawanya ke meja yang ada di dalam resto. Ardian dan Shella sarapan di sana.


* * *

__ADS_1


__ADS_2