Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Nia Sampai di Rumah Ardian


__ADS_3

Bab 117


Ardian dan Ayu sudah sampai di ruang dapur. Ayu melihat peralatan memasak di sana sangat lengkap. Ada yang digantung di dinding dan ada juga yang diletakkan di dekat kompor.


"Aku masak nasinya dulu ya, Pak, setelah itu baru goreng," kata Ayu.


"Iya, Yu. Silakan lakukan pekerjaanmu. Bahan masakannya semua ada di kulkas," balas Ardian lalu duduk di kursi makan.


Ayu mengambil baskom rice rooker dan menaruh beras ke situ. Beras itu diambilnya dari tempat beras yang ada di sekitaran bak cuci piring. Setelah mencuci berasnya, Ayu pun memasukkan baskom rice cooker ke tempatnya.


Sementara menunggu beras matang menjadi nasi, Ayu mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng dari kulkas. Bawang, tomat, mentimun, cabai rawit, telur ayam.


Ayu memotong-motong bahan itu dan menaruhnya di mangkuk. Setelah itu dia mengambil kuali dan menggoreng kerupuk. Kerupuk yang belum digoreng tadi dia ambil dari toples plastik besar.


Sementara Ayu sibuk dengan pekerjaannya, Ardian duduk di kursi makan sambil memperhatikan punggung gadis itu yang membelakangi meja dan kursi tempatnya duduk.


Dari belakang, tubuh gadis itu terlihat sangat menawan dengan bentuk pinggul seperti gitar spanyol.


Ardian tersenyum melihat tubuh Ayu yang bergerak ke sana ke mari menyusul gerakan tangannya yang mengerjakan ini dan itu.


Ardian tak ingin mengganggu Ayu memasak. Namun kadangkala dia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati gadis itu untuk melihat apa yang sedang dikerjakannya. Lalu duduk kembali di tempatnya sambil mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja seperti sedang menunggu.


Ardian menikmati momen berdua dengan Ayu di dapur. Dia memang sengaja tak mau melihat gadget karena kalau melihati gadget saja, dia tak bisa melihat Ayu memasak. Nasi goreng dan mie instan buatan gadis itu sangat enak dan pernah dicicipinya dulu.


Ardian duduk di kursi makan dan menunggu Ayu selesai memasak nasi goreng dengan sikap seperti seorang anak yang sedang menunggu ibunya selesai masak dan menghidangkan nasi untuknya.


Tak terasa sudah sepuluh tahun Ardian kehilangan ibu kandungnya. Pikirannya pun melayang kepada ibu kandungnya dan tentu saja kepada rumah sederhana di kampung halamannya dulu. Rumah itu terletak pas di samping rumah Nia.


Di dapur rumah itu, Ardian kecil sering duduk menunggui ibunya selesai masak. Bila sudah selesai, ibunya akan menghidangkan nasi dan lauk untuknya. Sungguh kenangan indah yang tak terlupakan.

__ADS_1


Ayu yang merasa Ardian tak bersuara di belakangnya pun menoleh sekilas. Dia melihat pemuda itu sedang duduk melamun.


"Sebentar lagi nasi gorengnya siap, Pak," kata Ayu sambil melempar senyum manis yang disambut Ardian dengan tatapan ke wajahnya.


Ardian bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati gadis itu yang sedang menggoreng nasi lalu tiba-tiba memeluk punggungnya dari belakang.


Walaupun kaget, Ayu tetap melanjutkan pekerjaannya memasak. Dia harus membagi perhatiannya antara menggoreng nasi dan menyikapi pelukan Ardian itu.


Sementara itu di depan villa. Nia yang sudah sampai di Medan dengan kereta api kini berdiri di depan gerbang villa. Nia baru turun dari becak motor yang mengantarnya dari stasiun kereta api ke villa Ardian.


Sambil menarik napas panjang dan tersenyum lega, Nia berjalan mendekati gerbang.


"Wak... Wak Amat...!" panggil Nia saat melongok ke dalam dan melihat Wak Amat sedang sibuk mengurusi bunga-bunga di taman.


Wak Amat yang dipanggil menoleh. Dia melangkah mendekati gerbang untuk melihat orang yang suaranya dia rasa kenal. Sepertinya itu suara Non Nia, seru hatinya.


Wak Amat berjalan tergopoh-gopoh menyambut asal suara itu. Hatinya berdebar keras saat langkahnya sampai di dekat gerbang.


"Iya, Wak. Ini aku, Nia," balas Nia dengan senyum lebar yang dirasa Wak Amat sangat menyejukkan hatinya.


Nia datang di saat yang tepat. Saat Wak Amat merasa amat sepi dan nelangsa menjaga villa besar nan sunyi. Pak Wisnu dan Bu Siska sudah lama pindah tinggal ke luar negeri. Istrinya balik kampung lama tak kembali. Ditambah Nia pun sudah setahun meninggalkan rumah.


"Non Nia...!" seru Wak Amat dengan dada berguncang. Air matanya jatuh karena haru. Sudah setahun dia merindukan sosok lemah lembut yang baik budi itu.


"Buka gerbangnya dong, Wak," Nia tersenyum geli melihat reaksi Wak Amat yang demikian terharu menyambut kedatangannya.


Wak Amat bagai tersadar. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu gerbang dan mempersilakan Nia masuk.


"Non Nia mau datang kok nggak kabari dulu sampai Wawak kaget begini," kata Wak Amat sambil hendak membantu Nia mengangkat tas travel-nya.

__ADS_1


"Nggak usah, Wak, aku bisa sendiri," Nia menenteng tas travel-nya yang lumayan berat dan membawanya berjalan menuju pintu utama villa.


"Waduh, Non Nia ini kok masih segan-segan begini," Wak Amat terkekeh.


"Iyalah, Wak," Nia tersenyum lagi. "Gimana kabar Wak Amat?" tanya Nia pada orang tua itu yang berjalan di sisinya.


"Sepi, Non. Semenjak Pak Wisnu dan Bu Siska pindah tinggal ke luar negeri, rumah jadi sepi," jawab Wak Amat.


"Oh iya... tapi kan ada Bik Aini," kata Nia.


"Istri Wawak sudah lama balik kampung, Non. Belum kembali lagi," beri tahu Wak Amat.


"Ah, masa?" Nia seolah tak percaya.


"Iya, Non. Apalagi Non Nia juga waktu itu balik kampung halaman. Tapi syukurlah sekarang sudah kembali," senyum Wak Amat lega.


"Ardian mana, Wak?" tanya Nia saat mereka sampai di pintu villa dan tak melihat siapa pun di ruang tamu.


Wak Amat tersadar. Dia baru teringat Ardian tadi datang bersama seorang gadis belia yang sangat manis, cantik, dan montok. Seketika hatinya pun bergetar karena tak tahu harus menjawab apa.


"Ardian mana, Wak?" tanya Nia sekali lagi. Dia menoleh ke samping dan heran karena Wak Amat belum juga menjawab pertanyaannya.


"Dia... dia... Nak Ardian ada di dalam," jawab Wak Amat gugup dengan suara terpatah.


"Oh, aku akan mencarinya setelah meletakkan tasku di kamar," kata Nia sambil berjalan meninggalkan Wak Amat.


Wak Amat pun hanya bisa melongo memikirkan masalah yang bakal terjadi dalam hitungan menit begitu Nia selesai meletakkan tasnya di kamar dan menemukan Ardian di villa yang luas itu.


Orang tua itu tak tahu harus berbuat apa untuk mencegah masalah terjadi setelah Nia melihat Ardian bersama gadis lain di dalam villa.

__ADS_1


Entah di mana Ardian dan gadis belia yang dibawanya tadi berada, Wak Amat pun tak tahu. Semoga saja mereka bukan lagi di dalam kamar, cemas hati Wak Amat lalu dia pun berjalan balik ke taman.


* * *


__ADS_2