
Bab 99
Rekan kerjanya tersenyum. "Iya sih, Wil. Cuma jarang lho ada kesempatan baik kayak gini. Bayangkan, Santi putri tunggal Pak Johdy dan anak satu-satunya. Dia naksir kamu. Kalau kamu jadian dengan dia, bukan tak mungkin kamu akan menjadi menantu Pak Johdy yang mengurus panglong ini."
Willy terhenyak. "Sekarang kan aku sudah bekerja di sini dan dipercayakan mengurus banyak hal. Aku sudah cukup puas dengan kondisiku sekarang."
"Tapi... kamu akan begini-begini terus, Wil. Usaha panglong Pak Johdy ini lumayan besar dan sukses. Kalau kamu jadian dengan Santi tinggal meneruskan usaha ini. Sedangkan kalau kamu mau memulai bisnis sendiri, kamu harus memulai lagi dari awal dan pasti sangat sulit. Apalagi butuh banyak modal," rekan kerjanya memberi gambaran.
Willy tersenyum kecil dan menggeleng, "Nggaklah, aku nggak menginginkan semua itu. Aku hanya ingin berteman baik dengan Santi. Tak lebih," tegas Willy.
"Tapi Santi ingin kamu menjadi pasangannya," kata rekannya.
"Siapa bilang? Kamu mengada-ada. Santi hanya menganggapku teman."
"Aduh... masa kamu tak bisa melihat Santi sangat menyukaimu selama ini, Wil?"
"Nggak," Willy menggeleng. "Lagipula apa artinya aku bersama Santi kalau itu akan melukai Ayu?"
"Waduh, Willy... Willy... Ayu itu cantik sekali, Wil. Lepas darimu, dalam sekejap bakal ratusan kumbang mengejarnya," kata rekannya.
Willy menunduk.
"Laki-laki harus memikirkan masa depan, Wil. Masa depan cerah itu yang paling utama daripada wanita. Kalau kamu menolak kesempatan bagus ini, kamu bakal begini-begini saja terus ke depannya," rekannya menggeleng-gelengkan kepala.
Willy tak menanggapi kata-kata rekannya lagi. Walaupun semua yang dikatakan rekannya itu menarik dan masuk akal, namun Willy tak berminat mempertimbangkannya karena yang paling penting bagi Willy adalah Ayu. Gadis yang dipacarinya sejak SMP itu adalah impian masa depannya.
Gambaran yang ada di benak Willy, Ayu menjadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah, memasak, dan mengurus anak-anak mereka. Sedangkan dirinya akan bekerja mencari nafkah dan duit secukupnya saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia dan Ayu akan saling mengasihi dengan iringan tawa riang anak-anak mereka. Alangkah indah dan bahagianya gambaran masa depan yang ada di benak Willy.
Sementara itu di ruang kerja Pak Johdy, papanya Santi. Pak Johdy sedang melihat-lihat rekening koran yang didapatnya dari bank tadi. Di sana tercantum arus keluar masuk duitnya di bank. Ada yang berasal dari setoran tunai dan tarikan tunai, ada juga yang berasal dari setoran giro dan tarikan giro. Juga ada transfer duit dari bank lain dan berbagai biaya adminiatrasi bulanan.
Lumayan juga, saldo rekening di bank-nya bulan ini masih ada sisa 3 miliar rupiah.
Putrinya masuk ke ruang kerjanya saat Pak Johdy baru selesai memperhatikan rekening korannya.
__ADS_1
"Rekening koran ya, Pa," Santi berjalan mendekat sambil membawa satu blok giro yang harus ditandatangani papanya. Giro-giro itu sudah ditulisinya dengan angka dan huruf sekian juta atau puluhan juta rupiah. Papanya tinggal menandatanganinya supaya Santi bisa memberikannya atau membayarkannya ke langganan saat ditagih.
"Iya nih, San. Rekening koran bulan ini," kata papanya. "Kamu mau cek lagi seperti biasa?" papanya memandangnya sebelum menerima satu blok giro yang diserahkan Santi. Ditaruhnya giro yang sekian puluh lembar itu di atas meja.
"Iya, nanti aku cross cek lagi, Pa," jawab Santi sambil menerima kertas panjang alias kertas printer yang tercetak huruf-huruf dan angka-angka rupiah di atasnya.
Santi hendak balik lagi ke ruang kerjanya namun papanya menahannya. "San," panggilnya.
"Iya, Pa?" Santi berbalik.
"Sebenarnya, ini lebih cocok dibicarakan di rumah, tapi Papa pengen tahu bagaimana pendapatmu soal Willy?"
""Willy?" Santi membelalakkan mata. "Maksud Papa? Ya baiklah dia, Pa. Jujur, pandai, rajin. Persis seperti yang Papa katakan tadi," jawab Santi.
Pak Johdy tersenyum. "Maksudku, kamu mau nggak kalau Papa jodohkan kamu sama dia?"
"Hah?" Santi terperangah.
"Jangan kaget gitu dong, San. Kan lumrah menjodohkanmu dengan Willy karena Papa melihatmu juga suka padanya selama ini. Iya, kan?"
"Ah, masa?" papanya tak percaya.
"Iya, Pa. Tadi waktu di dapur kami bicara soal pacarnya dan dia perlihatkan ke aku foto pacarnya," terang Santi.
"Sayang sekali," Pak Johdy tampak kecewa. "Padahal Willy menantu ideal di mata Papa. Ya sudahlah, mungkin kalian tidak berjodoh," pungkasnya.
Santi pun beranjak meninggalkan ruang kerja papanya dan kembali ke ruang kerjanya sendiri.
Hari beranjak sore. Para pegawai di panglong "Makmur" tempat Willy bekerja bersiap-siap pulang ke rumah. Mereka ke kamar mandi dan antre mencuci tangan dan kaki sebelum pulang. Begitu juga Willy.
"Pulang dulu, San," Willy pamit pada Santi yang kebetulan berpapasan dengannya di depan ruang kerja gadis itu.
"Iya, Wil, hati-hati di jalan," pesan Santi sambil melihat pemuda itu pergi. Terbayang olehnya Willy akan menjemput pacarnya sepulang dari sini. Betapa beruntungnya Ayu memiliki pacar sebaik dan setulus Willy, kata hati Santi.
__ADS_1
Mungkin benar kata Papa, Willy bukan jodohku. Kami hanya berjodoh sebagai teman. Berpikir demikian, Santi pun rela melupakan harapannya pada Willy. Dia bersiap-siap untuk pulang juga bersama papanya. Di rumah, makan malam pasti sudah disediakan Bu Risma yang bekerja pada keluarga mereka sejak Santi berusia 2 tahun.
Willy yang sudah pulang kerja dari panglong menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan Ardian tempat Ayu bekerja.
Hati Willy menahan rindu dan bersorak-sorai memikirkan kabar baik yang akan segera dikatakannya pada Ayu. Dia hendak sekali melihat reaksi gadis itu yang pasti akan sangat senang mendengar kabar kenaikan gaji Willy bulan depan. Wow! Dari 3 jutaan menjadi 4 jutaan. Sungguh luar biasa bagi Willy.
Seperti biasanya, Willy memberhentikan motornya di tempat biasa yang berjarak puluhan meter dari gerbang depan perusahaan tempat Ayu bekerja.
Dia menunggu gadis pujaan hatinya itu muncul sambil duduk di atas motornya. Beberapa puluh menit kemudian Ayu pun muncul di dekat Willy setelah berjalan puluhan meter dari gerbang depan.
Willy menyambutnya dengan senyum semangat yang bagi Ayu agak aneh.
"Kenapa? Kok senyummu aneh hari ini?" tanya Ayu sekadarnya.
"Aku ada kabar gembira untukmu, Yu," beri tahu Willy.
"Kabar gembira? Untukku?" Ayu mengerutkan kening.
"Iya, Yu," ucap Willy senang dengan mata berbinar.
"Apa?" tanya Ayu sambil bersiap-siap naik ke boncengan.
"Gajiku naik bulan depan!" seru Willy.
Ayu tak bereaksi. Hanya berkata, "Ohya? Berapa?"
"Naik 1 juta, Yu!" senang Willy. Dia menatap Ayu dalam-dalam, seolah ingin melihat reaksi gadis itu yang ikut senang mendengarnya.
Namun Ayu bukan saja tak menampakkan perubahan wajah menjadi gembira atau surprais, malahan mencibir dengan jengkel. "Halah, hanya naik gaji, kupikir apa tadi. Ayolah pulang, sudah hampir malam," kata Ayu memakai helm-nya dan naik ke boncengan Willy.
Willy menjalankan motornya dengan hati bimbang. Kenapa Ayu tak surprais atau ikut senang mendengar kabar baiknya? Malahan mencibirinya?
Merasa reaksi yang diberikan Ayu bertentangan dengan harapannya, Willy pun mendesah kecewa.
__ADS_1
* * *