
Bab 62
Shella melihat kedatangan Ayu lalu menyimpan cermin riasnya. "Ke sini, Yu," katanya.
Ayu berjalan ke meja Shella. Ruang kerja Shella lumayan besar dan mewah. Terasa sejuk karena AC yang terperangkap di dalamnya.
"Jadi begini, Yu," kata Shella saat Ayu sudah berdiri di depannya. Dipandanginya wajah Ayu yang polos tanpa polesan apa-apa namun tetap tampak sangat anggun dan menawan.
Diam-diam Shella iri pada kecantikan dan kemanisan wajah Ayu, ditambah tubuh moleknya yang tak kalah dari Shella. Apalagi Ayu tampak cantik manis alami dan anggun tanpa perlu riasan di wajah, baju mahal, atau minyak wangi seperti dirinya.
"Gimana, Kak Shel?" tanya Ayu saat melihat Shella seperti diam mematung memandangi dirinya. Entah apa yang dipikirkan Shella Ayu nggak tahu. Cuma Ayu merasa Shella sedang memperhatikannya dengan teliti. Padahal ini bukan kali pertama mereka berjumpa.
"Oh, jadi begini," Shella tersadar. "Biasanya di kantor ini ada 3 cleaning service. Satu di bagian toilet dan dapur membersihkan dan membereskan segala sesuatu di sana. Satu di bagian bersih-bersih ruangan kantor yang tugasnya nyapu, pel, buang sampah. Dan satu lagi di bagian lap semua kaca, jendela, meja kerja bos dan meja para karyawan."
"Oh...," reaksi Ayu. Dia belum melihat 2 temannya yang disebutkan Shella barusan. Sepertinya dari tadi dia tak melihat 2 cewek cleaning service lagi yang berseragam seperti dirinya.
"Tapi... aku belum melihat mereka datang, Kak," kata Ayu.
"Sudah," kata Shella. Yang satu dipindahtugaskan ke proyek luar kota menggantikan dirimu yang pindah ke sini. Satunya kalau jam segini sudah di dapur atau di toilet bersih-bersih. Barangkali waktu dia datang berpakaian biasa dan tukar seragam setelah sampai di kantor," jelas Shella.
"Oh...," reaksi Ayu. Dari tadi dia memang menyapu bagian-bagian yang jauh dari dapur jadi tak tahu kalau temannya sudah datang. Lalu yang satu lagi mana? pikir Ayu. Bukankah seharusnya sudah sibuk lap-lap kaca, jendela, dan meja?
"Ohya, sementara ini tinggal 2, karena satu lagi dipindahkan ke rumah Pak Ardian," beri tahu Shella.
Ayu menganga. Maksud Shella apa? Kok cleaning service dari kantor dipindahkan ke rumah Pak Ardian? pikirnya bingung.
__ADS_1
"Iya, karena ART yang biasa kerja di rumah Pak Ardian berencana ambil cuti pulang kampung jadi yang dari sini disuruh ke rumah Pak Ardian buat diajari masak makanan yang biasa dimakan Pak Ardian dan beres-beres."
"Oh...," reaksi Ayu lagi.
"Nah, karena sementara di sini tinggal 2 cleaning service, kamu, Yu," kata Shella," harus bekerja ekstra menggantikan tugas temanmu yang biasa lap-lap kaca, jendela, dan meja."
Ayu menghela napas menyadari ternyata tugasnya sangat banyak di kantor perusahaan yang besar ini. Bakal tak berhenti-berhenti dia bekerja nanti.
"Jam makan siang dan jam istirahat kamu pukul 12 tengah hari sampai pukul 1 siang. Setelah itu harus bergerak mulai kerja lagi. Ingat, nggak boleh malas-malasan. Setiap hari aku akan mencek apakah pekerjaanmu bersih atau tidak. Mengerti?" tanya Shella setelah menjelaskan panjang lebar.
"Iya, aku mengerti, Kak," jawab Ayu.
"Sanggup kamu?" tanya Shella lagi dengan mata menatap tajam pada Ayu yang berdiri mematung di depannya.
"Iya, Kak, Shel, sanggup," jawab Ayu.
"Maksud Kak Shel?" tanya Ayu tak mengerti.
"Iya, kalau tak sanggup ya kamu mengundurkan diri lebih awal daripada nanti dipecat karena kerjaan nggak beres-beres atau nggak selesai-selesai?" ingat Shella dengan nada seperti mengancam.
"Aku... akan usahakan supaya semua tugas terlaksana dengan baik, Kak," kata Ayu dengan suara yang ditegaskan padahal sebenarnya hatinya ragu. Soalnya bagian kebersihan di proyek luar kota yang biasa ditanganinya tidak sebesar dan seluas kantor perusahaan ini.
"Oke. Jangan sampai kamu kelelahan ya, Yu. Kalau nggak sanggup jangan dipaksakan. Karena kalau ada apa-apa nanti aku yang disalahkan Pak Ardian," ingat Shella seperti menyindir.
Ayu terkesima. Sebenarnya hendak dia tanyakan pada Shella kenapa Ardian memindahkannya ke perusahaan padahal selama ini dia baik-baik kerja di proyek luar kota. Kerjaannya di sana selalu beres dan mendapat pujian dari mandor. Dia bahkan sangat disukai oleh kepala proyek dan para buruh di sana karena kerajinan dan keramahannya. Di sini, mulai hari ini dia harus belajar beradaptasi lagi.
__ADS_1
"Oke ya, Yu, ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Shella sambil menatap gadis belia di depannya yang lebih muda 6 tahun darinya.
"Jadi, begitu datang besok yang pertama harus aku bersihkan atau kerjakan adalah..."
"Ohya," potong Shella bagai teringat. "Yang pertama kamu harus sapu dan pel adalah ruangan Pak Ardian. Bersihkan sebelum dia datang. Lap semua perabotan yang ada di ruang kerjanya terutama meja dan kursinya. Ingat ya, harus kamu lap dan pel dengan bersih karena sedikit debu tertinggal saja Pak Ardian bisa tahu," kata Shella sambil mengingat kembali kejadian 3 hari lalu saat dia ditunjukkan Ardian sedikit debu yang menempel di tisu.
"Oh, ruang kerja Pak Ardian yang mana, Kak?" tanya Ayu.
"Di lantai 2 juga. Kamu cari saja ruangan yang di pintunya ada digantungkan plat direktur.
"Oh, iya, Kak," jawab Ayu.
"Peralatan kerja Pak Ardian juga harus kamu bersihkan dan rapikan. Tapi ingat jangan dipindah-pindahkan letaknya karena Pak Ardian bisa marah kalau cari alat yang mau dipakainya nggak ketemu entah ditaruh di mana atau dipindahkan ke mana."
"Siap, Kak!" jawab Ayu lagi.
"Oke, kurasa sementara begitu saja. Kamu boleh lanjutkan tugasmu sekarang," kata Shella.
Ayu mengangguk lalu berbalik dan berjalan pergi. Dibukanya pintu ruang kerja Shella sebelum keluar dari situ dan kembali ke tempatnya semula, tempat dia meletakkan sapu dan serokan sampah untuk sementara waktu.
Ketika sampai, Ayu mengambil sapunya dan mulai menyapu lagi. Dia teringat kata Shella tadi kalau ruang kerja Ardian harus dibersihkan paling dulu. Karena itu Ayu pun mengalihkan sapunya mencari di mana kiranya ruang kerja Pak Ardian.
Ayu mengedarkan pandangannya ke berbagai ruangan yang ada di situ. Ada ruangan besar yang tampak banyak karyawan di dalam sedang bekerja. Mereka tampak serius memandangi berkas-berkas di meja masing-masing, menulis, mencatat, dan melihat bolak-balik ke layar laptop atau ke atas meja.
Ayu bisa melihat mereka karena ruangan itu disekat kaca transparan yang tembus pandang. Namun ada juga ruangan yang kacanya agak hitam susah tembus pandang dan diisi oleh beberapa karyawan cewek. Ayu membaca tulisan di plakat yang tergantung di pintu masuk, "Accounting". Sedangkan yang tadi "Administration."
__ADS_1
Ayu terus berjalan sambil melihat-lihat nama ruangan besar yang kebanyakan disekat kaca tembus pandang. Ada ruangan-ruangan lain juga yang bertuliskan "Purchase" dan "Sales" yang letaknya berdampingan. Lalu sisanya beberapa ruangan besar yang diisi beberapa karyawan dan ruangan agak kecil yang barangkali untuk kepala pembelian atau kepala penjualan.
* * *