
Bab 44
Selesai Ardian makan, giliran para karyawan yang makan. Mereka berhamburan memenuhi meja makan karena perut masing-masing sudah terasa lapar.
Ardian menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya di lantai 3. Tampaknya dia merasa kurang nyaman berbaur dengan para bawahannya.
Suara bising para karyawan yang makan sambil bercakap-cakap dan bersenda gurau di lantai 1 terdengar sampai di telinga Shella yang barusan bangun tidur di lantai 2.
Oh, sudah mulai malam rupanya, pikir Shella sambil melirik jam tangannya. Jarum jam bertengger di angka 7. Berarti dia tertidur sekitar 2 jam tadi. Lumayan segar juga setelah tidur sesaat, kata hati Shella sambil menguap.
Shella berjalan keluar dari kamar besar yang di lantai 2 villa itu. Dia melangkah menuju anak tangga lebar dan menapakinya hingga langkahnya sampai di lantai 1, dekat para karyawan cewek yang sedang makan di meja makan.
"Wah, Shella sudah bangun tuh," seorang karyawan cewek yang sedang menggosipi Ardian yang enggan berbaur dengan mereka menyikut lengan temannya.
Teman yang barusan disikut itu mengalihkan pandangannya dari atas meja yang berisi banyak lauk kepada Shella yang berjalan mendekati mereka.
"Huaaam... aku ketinggalan deh," Shella menguap. "Bakal makan lauk sisa," katanya dengan senyum kecut begitu mendapati lauk di atas meja sudah hampir habis disantap rekan-rekan kerjanya.
"Waduh, sori, Shel," seorang karyawan cewek berkata dengan nada menyesal. "Kamu sih pakai acara tidur segala, sampai-sampai kami lupa padamu. Haha."
"Ya sudahlah, nggak apa-apa," kata Shella lalu duduk di kursi kosong yang ada di samping seorang rekannya.
"Nasinya di situ," tunjuk rekannya itu ke arah keramik tempat menaruh rice cooker di samping bak cuci piring.
Shella menoleh ke arah yang ditunjuk. Rasanya dia malas sekali bangkit dari duduk atau berjalan ke arah yang ditunjuk buat mengambil nasi.
Mata Shella menangkap sosok Ayu yang sedang berdiri di situ, mencuci perkakas masak dan melapnya.
"Yu... Ayu!" panggil Shella dari tempatnya duduk.
Ayu yang sedang sibuk bekerja menoleh ke asal suara.
"Yu, tolong ambilkan sepiring nasi untukku ya," kata Shella dengan seulas senyum manis.
Tak mungkin menolak dan tak sopan rasanya membantah saat dirinya ditatap banyak orang, Ayu pun menjawab, "Iya, Kak Shella."
Rekan-rekan kerja Shella yang duduk di sampingnya saling memandang lalu pun kembali menekuni makanan mereka.
__ADS_1
Padahal mulut mereka sudah tak tahan hendak mewakili Ayu melontarkan cacian pada Shella. Masa ambil nasi saja harus suruh Ayu yang sedang sibuk? Padahal Ayu sendiri pun belum sempat makan, dari tadi sibuk membantu memasak dan mencuci piring. Sedangkan Shella begitu sampai di villa langsung enak-enakan tidur di kamar.
Rasanya sebentar lagi sehabis makan para karyawan cewek itu akan menggosipi Shella di belakang. Mentang-mentang sekretaris Ardian dan mamanya teman baik Bu Siska, pemilik perusahaan, jadinya suka-suka saja.
Tak lama kemudian Ayu pun datang menghampiri meja sambil membawa sepiring nasi. "Ini nasinya, Kak Shella," kata Ayu lalu meletakkan piring berisi nasi itu di hadapan Shella.
"Okey, Yu. Thanks ya," balas Shella sambil membuat tanda okey dengan jari telunjuk dan jari jempolnya.
"Sama-sama, Kak," Ayu membalikkan badan, berjalan kembali ke tempatnya semula.
Dengan segera Shella pun mulai mencicipi hidangan di atas meja. Dia makan dengan lahap tanpa peduli pandangan aneh rekan-rekan kerjanya. Padahal kalau diperhatikan, mereka diam-diam saling melempar pandang sambil menahan senyum masam. Bagaimana tidak, Shella mengambil lauk dengan sendoknya sendiri, bukan sendok yang tersedia di piring atau mangkuk masing-masing lauk. Untunglah mereka sudah siap makan dan sekarang hanya duduk di meja mengobrol.
"Shel, Shel," panggil seorang rekan kerja Shella yang duduk di depannya.
Shella yang sedang asyik makan mengangkat kepala, melihat kepada rekan kerja yang memanggilnya.
"Apa?" tanyanya sambil menautkan alis, tampak sedikit terganggu karena sedang asyik makan diajak bicara.
"Boss kita. Maksudku, Pak Ardian, Shel."
Rekan yang bertanya berusaha menahan senyum melihat ekspresi lucu Shella mengunyah daging ayam. Tapi dia melanjutkan juga pertanyaannya.
"Menurutmu, apakah malam nanti Pak Ardian akan ikut kita merayakan old and new? Maksudku, apakah dia mau ikut kita bergadang alias tidak tidur sampai lewat tengah malam?"
"Wah," Shella melanjutkan mengunyah daging ayamnya sampai selesai sebelum menjawab, "Kayaknya sih nggak mau."
"Jiaaah... mana seru kalau Pak Ardian nggak ikut?" seru seorang di antara mereka.
"Iya, betul juga. Nggak seru kalau Pak Ardian nggak ikut kita bergadang," timpuk yang lain.
"Betul itu, sudah susah-susah diajak ikut rombongan kita masa cuma berondok di dalam kamar dari tadi. Buat apa? Kalau bukan disuruh turun buat makan pun nggak bakalan bisa lihat wajahnya tadi," cibir temannya.
"Pak Ardian kok gitu? Enggan bergabung dengan kita? Angkuh kali dia ya, Shel?" tanya yang satunya lagi.
"Padahal jauh-jauh hari kita ajak Pak Ardian supaya bisa lebih dekat dan saling mengenal dengan kita."
"Iya, di kantor pun Pak Ardian lebih banyak duduk di ruang kerjanya, kita jarang nampak. Hanya Shella yang beruntung tiap hari bisa dekat-dekat Pak Ardian."
__ADS_1
Satu jawaban singkat dari Shella tadi ternyata mengundang banyak komentar dari rekan-rekan kerjanya. Shella pun buru-buru menyelesaikan makannya supaya bisa leluasa meladeni pembicaraan mereka.
"Jadi maunya kalian gimana?" tanya Shella sambil memandang rekan kerjanya satu per satu. Kini dia sudah selesai makan.
Para rekan kerjanya.saling memandang, setelah itu satu di antara mereka mewakili bicara.
"Kami ingin Pak Ardian ikut kita bergadang. Tak ada alasan untuk menolak."
"Iya, aku setuju. Pak Ardian harus ikut nimbrung acara old and new kita."
"Setuju!"
"Setuju!"
"Setuju!"
Shella kelabakan membalas mereka satu per satu, karena itu dia hanya menjawab, "Okeylah, aku akan bicara dengan Pak Ardian sekarang. Aku ke kamarnya, kasih tahu keinginan kalian untuk memintanya bergabung."
Rekan-rekannya mengangguk. Mereka tersenyum senang karena sudah berhasil membuat Shella sibuk dengan tugas yang mereka berikan, yaitu membujuk Ardian.
Shella meninggalkan meja makan 5 menit kemudian, dia mencuci tangannya di bak cuci piring. Di sampingnya, Ayu berdiri menyusun piring-piring di rak piring yang melekat di dinding.
"Kamu sudah makan, Yu?" tanya Shella bagai teringat begitu melihat wajah Ayu yang agak lelah dan seperti sedang menahan lapar.
"Belum, Kak Shel," jawab Ayu jujur.
"Loh, kok belum? Pergi sana makan dulu baru kerja lagi. Lauknya sudah mau habis loh," kata Shella.
"Iya, Kak," jawab Ayu.
"Ayo ambil piring sendok nasi dan duduk di meja bareng mereka. Ada kursi kosong di situ. Tak usah segan, tak usah tunggu mereka pergi dari meja baru kamu duduk di sana. Duduk saja di sana sekarang, nggak apa-apa kok," kata Shella lagi seperti seorang teman yang sangat perhatian pada Ayu.
Lagi-lagi Ayu mengangguk, "Iya, Kak, aku makan sekarang," katanya lalu mengambil piring, menyendok nasi dari rice cooker, dan berjalan mendekati meja makan.
Ayu duduk di sana bersama rekan-rekan kerja Shella yang sudah selesai makan sejak tadi tapi belum juga mau meninggalkan meja makan. Seperti sebuah kebiasaan, sehabis makan mengobrol dululah.
* * *
__ADS_1