Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu yang Tak Bersahabat


__ADS_3

Bab 128


"Kamu sudah punya pacar, Yu?" tanya Nia tiba-tiba.


Spontan Ayu terperanjat mendengar pertanyaan itu.


"Untuk apa?" tanya Ayu balik.


"Maksudnya? Maksudnya untuk apa itu apa Yu?" Nia tak mengerti sambil matanya memicing memperhatikan wajah Ayu.


"Nggak," Ayu menggeleng lalu segera berjalan mendekati meja makan. Cuciannya di bak cuci piring sudah kelar dan dia bermaksud menghindari pertanyaan Nia yang enggan dijawabnya itu. Karena bisa-bisa nanti Nia cerita pada Ardian lalu terbongkarlah rahasia kebohongannya selama ini.


"Aku makan nasi goreng sisa ini saja ya, Kak Nia," kata Ayu sambil buru-buru duduk di kursi makan.


Ayu berpikir Nia pasti tak akan bertanya lagi bila melihatnya sedang makan.


"Iya, Yu,  makanlah," kata Nia.


Walau dalam hati Nia merasa Ayu sengaja menghindari pertanyaannya, tapi memang nggak sopan rasanya dia memaksa Ayu menjawab sekarang sementara Ayu sudah berkata hendak makan.


Ayu pun segera mencicipi nasi goreng yang dimasak Nia. Jelas rasa dan tampilannya beda dengan nasi goreng yang dimasaknya sendiri. Namun Ayu tidak begitu menghayatinya karena pikirannya terpecah ke hal yang ditanyakan Nia tadi. Kali ini dia bisa lolos menghindari pertanyaan itu, tapi lain kali bagaimana pula bila Nia terus menginterogasinya?


"Aku ke taman dulu ya, Yu, mau jalan-jalan menghirup udara pagi," kata Nia yang melihat Ayu seperti tak nyaman terhadap dirinya.

__ADS_1


Sikap Ayu yang jelas-jelas tak menyukainya membuat Nia semakin curiga dan penasaran. Dia tak merasa berbuat salah atau menyinggung Ayu. Bahkan dia  berusaha bersikap baik pada Ayu dengan mengajaknya bicara. Tapi


Ayu malah tampak kurang berkenan kepadanya bahkan seperti kurang senang dan berusaha menghindarinya. Kalimat-kalimat yang diucapkan Nia pun dibalas Ayu dengan ketus.


Lalu, kalau bukan karena Ayu ada sesuatu rahasia yang disimpannya bersama Ardian, apa lagi? Pastilah ada sesuatu antara Ayu dan Ardian. Pastilah ada hubungan spesial antara keduanya, tebak Nia dalam hati.


Ayu tak menjawab. Dia pura-pura tak mendengar kata-kata Nia dan sibuk dengan nasi gorengnya. Ayu makan nasi goreng buatan musuhnya itu dengan wajah masam. Baginya, nasi goreng yang sedang dimakannya itu tidak berasa apa-apa. Dia sangat benci memakannya tapi terpaksa dimakan juga. Kalau tidak, Nia pasti akan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Layaknya seorang detektif yang berkehendak menyelidiki siapa dirinya. Kalau dijawab, rahasianya terbongkar. Kalau tak dijawab, detektif itu pun curiga.


Melihat Ayu tak menggubrisnya, Nia pun berjalan keluar dari dapur dan menuju pintu utama untuk menghirup udara segar di taman. Dia ingat ayunan yang ada di taman itu yang sangat disukainya sebagai tempat bersantai saat senja menjelang matahari terbenam. Karena itu, Nia pun berjalan ke arah di mana terdapat ayunan itu. Namun sebelumnya, dia menyusuri sekeliling taman itu dulu yang dipenuhi oleh tanaman yang sedang berbunga, kolam ikan dan kolam renang.


Sejenak, Nia tersenyum menikmati suasana alam yang segar dan asri di taman villa dan melupakan ketidaknyamanannya bersama Ayu tadi.


Nia naik ke atas ayunan sesampainya dia di ayunan itu dan duduk di sana berayun dengan hati lapang dan sejuk. Disandarkannya punggungnya ke ayunan yang terbuat dari besi dan berbentuk kursi panjang yang saling berhadapan itu. Dipejamkannya matanya dan dihirupnya udara pagi yang masih segar hingga terasa memenuhi rongga dadanya dan membuatnya terbuai dengan kepala tersandar di kursi ayunan dan mata terpejam disapu angin pagi.


Sementara Nia di taman menghirup udara segar di atas ayunan, Ayu menghabiskan nasi gorengnya lalu mencuci piring. Setelah itu, Ayu mulai melakukan tugasnya membersihkan villa Ardian.


Setelah satu jam berada di taman, Nia balik lagi ke dalam villa. Dia berpikir untuk mengajak Ayu berbincang-bincang lagi karena walaupun dia sudah berusaha menghalau rasa penasarannya pada Ayu namun tak berhasil. Entah kenapa, Nia merasa harus tahu lebih banyak tentang Ayu. Dia merasa Ayu bukan orang yang sederhana melainkan penuh dengan tipu daya licik. Perasaannya memberitahunya seperti itu, walau Nia merasa tak adil jika harus mencurigai Ayu sedemikian rupa  sebelum mengenalnya lebih dekat. Nia ingin membuktikan perasaannya benar atau salah.


Ayu sedang mengepel kamar Ardian saat Nia balik lagi ke dalam villa. Setelah mencari-cari, Nia menemukan Ayu di sana.


Nia melihat Ayu sedang mengelus-elus bingkai foto Ardian dengan tangannya sementara kain lap yang seharusnya dia gunakan untuk mengelap bingkai foto itu tergeletak di atas meja kerja di mana terdapat bingkai foto itu.


Hati Nia spontan berdesir. Pemandangan yang dirasanya aneh yang semakin memperdalam rasa curiganya pada Ayu atau tepatnya pada hubungan antara Ayu dan Ardian. Ada apa sebenarnya antara Ardian dan Ayu?

__ADS_1


"Yu, kamu sedang ngapain?" tanya Nia yang kehadirannya di ambang pintu tak disadari oleh Ayu karena Ayu sedang tenggelam dalam lamunanannya sendiri.


Suara Nia yang sebenarnya cukup lembut itu terasa bagai petir yang menggelegak mengagetkan Ayu sedemikian rupa sehingga bingkai foto yang sedang dipegangnya itu nyaris terjatuh kalau saja


Ayu tidak secara refleks menahannya.


"Ya apa? Ya sedang ngepellah, Kak!" jawab Ayu dengan suara ketus. Hatinya benar-benar mangkel dikagetkan kemunculan Nia yang tiba-tiba. Apalagi Nia juga memergokinya sedang mengelus-elus foto Ardian.  Duh... terpaksalah Ayu menahan malu di hati yang membuat permukaan wajahnya terasa panas dan memerah.


"Oh, iyakah?" Nia berjalan mendekat.


Ayu berubah gugup saat langkah Nia yang memasuki kamar Ardian sampai di dekatnya. Nia berhenti melangkah saat jaraknya dengan Ayu tinggal setengah meter.


Ayu merasa gerah. Dia tak mengerti kenapa Nia suka sekali berjalan mendekatinya atau menghampirinya dan mengambil tempat yang sangat dekat dengannya.


Ayu merasa Nia seperti sengaja berbuat begitu supaya bisa menyelidikinya dari dekat. Nia pasti berusaha mengoyak-ngoyak topeng yang dikenakan Ayu di wajahnya. Bahkan Nia juga berniat mencakar-cakar hatinya untuk mencari tahu kebenaran apa yang tersimpan di situ. Memikirkan itu, Ayu pun bergidik.


"Itu fotonya Pak Ardian kan?" tanya Nia sambil memandang wajah Ayu.


Ayu tak menjawab. Dia buru-buru meletakkan kembali bingkai foto Ardian ke atas meja dan meraih kain lapnya yang tergeleletak di atas meja itu lalu berpura-pura sibuk kembali dengan pekerjaannya.


Bukan main yang namanya pengganti sementara Bik Aini di rumah ini, pikir Nia. Suka-suka dia mau menjawab atau tidak. Suka-suka dia mau memalingkan wajah atau membalas dengan tatapan gerah. Atau menjawab dengan suara ketus yang terdengar kurang sopan juga tak ada yang berani melarang. Pokoknya, semuanya terserah dia.


* * *

__ADS_1


__ADS_2