Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Pulang ke Rumah Makan Siang


__ADS_3

Bab 129


"Ohya, kamu nggak masakkah untuk makan siang Pak Ardian?" tanya Nia seperti sengaja memancing percakapan lagi dengan Ayu walaupun Ayu dari tadi tampak mengacuhkannya.


"Nggak Kak!" jawab Ayu. Ketus dan pendek.


"Kenapa?" tanya Nia penasaran.


Nia merasa, untuk mengenal Ayu lebih dekat atau supaya bisa membuktikan kecurigaannya, dia harus banyak bertanya. Namun semakin Nia ingin tahu tentang Ayu, semakin Ayu menghindarinya.


"Pak Ardian makan siang di kantor, Kak. Sore nanti baru masak untuk makan malam Pak Ardian," jawab Ayu.


"Ohya, tapi kita berdua harus makan siang juga kan, Yu?" balas Nia.


"Kan tadi aku sudah sarapan nasi goreng, Kak Nia, jadi nggak makan siang lagi," jawab Ayu dengan nada lugu, seolah kurang paham kalau maksud lawan bicaranya itu dia juga perlu makan siang, jadi Ayu harus memasak untuknya.


Nia mengurut dada. Butuh kesabaran ekstra menghadapi gadis muda ini, tahan hatinya. "Ya, nggak apa-apa, aku masak sendiri saja," senyum Nia selembut salju.


Ayu pun melanjutkan pekerjaannya melap meja dan kursi yang ada di kamar Ardian, sementara Nia berbalik keluar dari kamar. Maksudnya hendak memasak satu atau dua macam lauk untuk makan siang dia dan Ardian nanti. Siapa tahu Ardian pulang ke rumah makan.


Nia sudah sampai di dapur. Dia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa macam bahan untuk memasak, seperti bawang putih, jahe, dan tomat. Dia juga membuka freezer dan mengeluarkan ikan dalam kotak. Rencananya hendak mengukus ikan dalam panci. Lalu diambilnya juga beberapa butir telur ayam yang nantinya akan dia goreng juga sebagai teman si ikan. Rasanya cukup dua macam lauk dia masak untuk Ardian dan dirinya sendiri siang ini.

__ADS_1


Namun sebelum Nia mulai memasak lauk siang itu, dia mengambil baskom yang ada di dalam rice cooker dulu lalu ditaruhnya beras yang diambilnya dari tempat penampungan beras. Ditaksirnya kira-kira harus masak berapa mug supaya bisa cukup dimakan sampai malam nanti. Setidaknya untuk dia dan Ardian.


Sementara Ayu sibuk dengan pekerjaannya membersihkan lantai dan perabotan di villa Ardian, Nia sibuk dengan pekerjaannya memasak di dapur. Mereka berdua larut dalam aktivitasnya masing-masing hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul 12.30 tengah hari.


Mereka tak menyadari saat mobil yang dikendarai Ardian masuk ke halaman villa dan parkir di depan pintu utama. Bahkan saat Ardian keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki villa pun tidak disadari keduanya.


Ardian melangkahkan kakinya menuju ruang dapur karena berpikir pasti ada lauk makan siang yang dimasak untuknya siang ini. Apalagi Nia dan Ayu ada di rumah. Pastilah satu di antara mereka berdua memasak untuknya, pikir Ardian.


Biasanya memang Ardian makan siang di kantor atau di luar kantor, namun hari ini entah mengapa dia merasa kangen pulang ke rumah untuk makan siang. Seperti ada magnet yang menariknya kembali ke rumah walaupun jam kantor belum usai. Nia atau Ayukah yang menariknya untuk pulang sejenak? Yang pasti, Ardian ingin melihat bagaimana keadaan rumah saat dua gadis yang dia khawatirkan ditinggal berdua. Rukunkah mereka? Aman-aman sajakah? Atau malah mereka bertengkar?


Tentunya yang Ardian jumpai di dapur adalah Nia karena Nia sedang menyiapkan nasi dua piring dan lauk dua macam yang sudah selesai dimasaknya. Telur ayam yang digorengnya tadi dia siram dengan kuah tomat hasil racikannya. Kuah itu ada pedasnya juga. Sementara ikan yang dikukusnya dengan campuran berbagai rempah juga tercium harum wangi menggugah selera. Cocok untuk perut Ardian yang sedang lapar.


"Ardian!" seru Nia spontan saat melihat siapa yang datang. Wajahnya langsung tersenyum lega dan senang. Tidak sia-sia dia memasak enak siang ini karena Ardian ternyata pulang ke rumah makan.


"Hayo, Nia. Masak apa? Tercium wangi dan lezat," kata Ardian sambil berjalan mendekati Nia. Senyumnya juga mengembang seperti gadis itu. Disentuhnya pundak Nia setelah memandangnya sekejap lalu beralih ke lauk yang tersaji di atas meja.


"Masak yang sederhana saja, Ardi," jawab Nia. Padahal dia masak enak hari ini karena kuahnya sangat spesial hingga memerlukan waktu dua jam untuk memasak dua macam lauk itu.


"Ohya?" surprais Ardian. "Jadi tambah lapar nih," kata Ardian.


"Duduklah, Ardi," balas Nia. "Kita makan sama-sama. Nasinya barusan kusendok dari rice cooker. Ikan dan telurnya juga masih panas."

__ADS_1


Ardian duduk di kursi makan yang ditarikkan Nia untuknya. Sepertinya Nia menunjukkan sikap sebagai seorang calon istri yang baik.


"Ayolah kita makan," kata Ardian.


Nia mengambil tempat di depan Ardian dan duduk di sana. Dia tak sabar ingin mencicipi masakannya sendiri yang sebelumnya dia juga jarang memasak yang demikian enak saat di rumah. Biasanya di Tanjungbalai dia memasak lauk yang sederhana saja, tumis bayam atau goreng telur tanpa kuah tomat.


Sebelumnya selama tiga tahun menumpang di villa Ardian, Nia juga jarang sekali memasak untuk Ardian karena Bik Aini yang melakukan tugas itu. Semenjak Bik Aini pulang kampung dan belum balik-balik juga, temannya Ayu yang sama-sama cleaning service di kantor yang dipindahkan Shella ke villa menggantikan tugas sementara Bik Aini. Namun karena Nia tiba-tiba balik ke Medan dan memergoki Ardian sedang berduaan dengan Ayu di dapur dua hari lalu, terpaksalah Ardian menyusun skenario dengan berbohong kalau Ayu adalah pengganti sementara Bik Aini di villanya.


Itulah penjelasan yang paling gampang untuk menjawab keheranan Nia. Walaupun Nia menyimpan keraguan akan apa yang dikatakan Ardian, namun dia tak hendak mencurigai pemuda itu yang sudah sangat dipercayainya selama ini. Apalagi hubungan mereka juga sangat dekat selama tiga tahun terakhir sebelum tahun keempat Nia pulang ke Tanjungbalai untuk merawat ibunya yang sakit.


Ardian sudah menamatkan kuliahnya setahun lalu. Semestinya Nia juga menamatkan kuliahnya tahun ini. Namun karena terkendala kepulangannya ke Tanjungbalai meninggalkan villa Ardian sekaligus meninggalkan kampus mereka di Medan setahun lalu, jadinya Nia belum tamat juga. Masih harus mengejar ketinggalan dengan menyelesaikan mata kuliah di dua semester terakhir sebelum bisa menuntaskan semuanya. Menyusun skripsi dan menghadapi meja hijau lalu mengenakan baju dan toga sarjana seperti harapan dan impian ibunya selama ini.


Ardian dan Nia sama-sama mencicipi hidangan yang tersaji di atas meja. Nia memperhatikan reaksi Ardian dulu saat mencicipi masakannya sebelum dia makan sendiri. Dia ingin tahu apakah masakannya enak atau tidak di lidah pemuda itu.


"Enak Ardi?" tanya Nia dengan tatapan mata ingin tahu.


Ardian mengunyah nasi bersama lauk yang barusan dimasukkan ke mulutnya. Dia merasainya sejenak. Terdiam, seperti berpikir sebelum akhirnya dia mengangkat kepala dan melempar seulas senyum pada gadis itu.


"Gimana, Ardi?" tanya Nia lagi.


* * *

__ADS_1


__ADS_2