Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Nia yang Bimbang


__ADS_3

Bab 112


"Baguslah, Nia. Kuharap ibumu lekas sembuh supaya kamu bisa balik ke Medan melanjutkan kuliah," kata Bu Wenny.


"Iya, Bu Wenny. Makasih. Semoga begitu," balas Nia.


"Ibumu sedang tidurkah?" tanya Bu Wenny. Dia bangkit dari duduknya, membalikkan badan dan melongok ke dalam rumah.


"Di kamar lagi tiduran, Bu. Bu Wenny mau jumpa ibuku?" tanya Nia balik.


"Nggak, nggak usah. Aku mau balik rumah sekarang. Maksudku memang hanya menyampaikan berita tadi ke kamu soalnya kan nggak enak sudah berbulan-bulan nggak disampaikan," kata Bu Wenny.


"Iya, makasih sekali lagi, Bu," balas Nia tulus.


Gadis itu benar-benar lega mendengar berita yang disampaikan tetangganya. Dadanya terasa plong karena masalah yang membebani pikiran dan hatinya selama ini telah teratasi. Setidaknya Nia tahu Ardian pernah mencarinya ke Tanjungbalai. Itu sudah cukup mengurangi beban di hatinya.


"Okelah, Nia. Aku balik rumah sekarang ya. Semoga kamu bisa ke Medan lagi mencari Ardian kalau ibumu sudah sembuh nanti," kata Bu Wenny sambil bersiap-siap balik ke rumah.


"Iya, Bu. Semoga," Nia yang sudah berdiri dari duduknya menganggukkan kepala melihat Bu Wenny pergi.


Setelah Bu Wenny menghilang di balik pintu rumahnya sendiri, Nia pun masuk kembali. Hatinya sangat adem kini, bertolak belakang dibandingkan tadi.


Nia masuk ke dalam kamar melihat ibunya yang sedang tidur. Sebenarnya dia ingin segera memberi tahu ibunya kalau Ardian pernah mencarinya ke rumah tapi tak ketemu karena mereka tiada di rumah. Nia ingin ibunya tahu kalau Ardian ternyata masih mempedulikannya. Masih mengingatnya.


Setidaknya ibunya tak akan lagi berprasangka buruk pada Ardian. Karena Nia merasa tak enak bila ibunya berpikir Ardian menjadi sombong setelah memimpin perusahaan.


Melihat ibunya tidur, Nia pun bermaksud keluar lagi dari kamar dan bersiap-siap memasak di dapur.


Namun tiba-tiba ibunya membuka mata dan memandang ke arahnya. "Nia...!" panggilnya perlahan, menahan langkah putrinya itu yang hendak keluar kamar.


Nia menghentikan langkahnya yang sudah sampai di dekat pintu. Dia berbalik kembali dan berjalan mendekati ibunya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ada apa?" tanyanya.


Bu Rani bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang. "Ibu yang mau bertanya padamu, ada apa, Nia? Sepertinya ada yang mau kamu katakan pada Ibu?" selidik Bu Rani.


Nia tepekur. Dia heran dari mana ibunya bisa tahu kalau dia memang bermaksud mengatakan sesuatu pada dirinya.


"Mmm... Ibu merasa ada yang hendak kukatakan?" tanya Nia ragu.


Bu Rani tersenyum. "Iya, Ibu melihatmu masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa seperti hendak mengatakan sesuatu. Sebenarnya Ibu tidak tidur tadi, hanya memicingkan mata saja."


"Oh...," Nia pun mendesis.


"Ada apa, Nia? Sepertinya Ibu mendengar suara Bu Wenny tadi. Dia datang ke rumahkah?" tanya Bu Rani.


Ternyata ibunya juga mendengar suara Bu Wenny tadi, batin Nia. Lalu apakah ibu juga mendengar percakapan antara dirinya dengan Bu Wenny? Apakah ibunya sudah tahu Ardian pernah datang ke Tanjungbalai mencarinya beberapa waktu lalu?


"Iya, Bu. Memang tadi Bu Wenny datang sebentar bicara dengan Nia tapi kami duduk di luar rumah dekat pintu," beri tahu Nia.


Nia yang berdiri di depan ibunya melangkah duduk di tepi ranjang di samping ibunya. Dia membiarkan ibunya menggenggam tangannya dan menaruhnya di pangkuannya.


"Ada apa, Nia? Katakan pada Ibu. Pasti ada hal penting yang dikatakan Bu Wenny padamu. Katakanlah. Ibu ingin mendengarnya," Bu Rani menatap Nia lembut, seolah bisa merasakan hal yang hendak dikatakan putrinya itu adalah hal penting.


Melihat ibunya menunggu dengan rasa ingin tahu, Nia pun menceritakan kembali apa yang diceritakan Bu Wenny tadi.


"Bu Wenny bilang, Ardian pernah datang mencariku, Bu. Dia pernah ke rumah kita pada hari Minggu beberapa bulan lalu," tutur Nia.


Bu Rani ternganga. "Ardian pernah datang ke sini? Baru-baru inikah?" tanyanya seolah tak percaya.


Nia mengangguk. "Iya, Bu. Dia pernah ke rumah kita ini tapi pas hari Minggu jadi tak ada orang di rumah," jelas Nia.


Bu Rani tercengang. "Kalau begitu, berarti Ardian masih mengingatmu. Nia. Dia tak melupakanmu," kata Bu Rani perlahan.

__ADS_1


"Kurasa memang begitu," angguk Nia. "Ibu juga merasa kalau dia masih peduli padaku?" Nia meminta pendapat ibunya.


Bu Rani tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. "Rasanya memang iya. Kalau tidak, dia tak akan sengaja meluangkan waktu mencarimu atau datang ke Tanjungbalai. Karena katamu kan dia sangat sibuk setelah menggantikan tugas papanya mengurus perusahaan."


Nia menarik napas panjang dan mengembuskannya lega. Ternyata ibunya punya pemikiran yang sama dengannya.


"Pantas saja kamu terus menunggunya dengan sia-sia karena tak tahu dia pernah datang ke rumah mencarimu," kata Bu Rani. "Katamu beberapa bulan lalu ya? Kenapa baru sekarang Bu Wenny memberitahukannya padamu? Padahal rumahnya kan dekat saja dengan rumah kita."


"Karena Bu Wenny ke Kisaran dan tinggal di rumah adiknya selama beberapa bulan ini, Bu. Kemarin baru balik Tanjungbalai dan pas melihatku dia teringat pertemuannya dengan Ardian," beri tahu Nia.


"Oh... pantaslah," reaksi Bu Rani.


"Menurut Ibu, aku harus bagaimana?" Nia menatap ibunya.


Bu Rani tepekur. Putrinya sedang meminta pendapatnya tentang pria lain yang bukan Riko. Dia jelas tahu putrinya sangat mempedulikan dan mengharapkan Ardian, sahabat masa kecilnya itu. Sekarang Ardian sudah kembali setelah setahun pergi. Lalu apa yang harus diperbuat putrinya ini sesuai sarannya?


"Kamu hendak bagaimana, Nia?" tanya Bu Rani balik. Matanya menatap Nia ingin tahu. Apakah putrinya akan balik ke Medan mencari Ardian? Apakah berarti Nia akan menolak lamaran Riko dan kembali pada Ardian?


Oh, membayangkan pemuda yang selalu bersikap dingin dan cuek itu seketika membuat Bu Rani merinding. Bertolak belakang dengan Riko yang selalu bersikap hangat dan ramah terutama pada orang tua seperti dirinya.


Ardian sungguh tak sebanding dengan Riko dalam hal memperlakukan orang tua. Rikolah yang disukainya dan diinginkannya menjadi menantunya, bukan Ardian. Tapi yang dicintai dan diharapkan Nia adalah Ardian, bukan Riko. Jadi, bagaimana dia harus memberikan jawaban yang tepat selain meminta jawaban putrinya sendiri?


Nia menggeleng-geleng. "Aku tak tahu, Bu," ditundukkannya kepala sambil memandang jari-jari tangannya yang berada dalam genggaman ibunya.


"Kamu... ingin balik ke Medan-kah, Nia?" tanya ibunya hati-hati.


"Hah?" Nia mengangkat kepalanya, menatap ibunya dengan perasaan galau dan hati bimbang.


Ibunya sedang menunggu jawabannya, apakah dia akan balik ke Medan atau tidak? Jelasnya, apakah dia akan kembali ke Medan mencari Ardian? Dia yang harus memutuskan, bukan ibunya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2