Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Rencana Wisata Bersama Akhir Tahun


__ADS_3

Bab 39


Shella mengetuk pintu ruang kerja Ardian, setelah itu melangkah masuk


membawa berkas-berkas di tangannya.


Seperti biasanya, dandanannya yang fashionable sangat pas dan selalu menarik perhatian siapa pun yang bersitatap dengannya.


Pakaian dan sepatunya yang modis, wajahnya yang penuh riasan, rambutnya yang selalu keluar masuk salon, sampai aksesoris yang melekat di tubuhnya dan wangi parfum yang tercium dari bajunya adalah ciri khas seorang Shella. Ditunjang perawatan kulit yang halus mulus dan kuku yang warna-warni, semakin menambah image seorang Shella di mata kaum pria. Seolah-olah dia adalah seorang wanita karier yang mapan dan luar biasa, padahal cuma seorang sekretaris perusahaan.


Shella meletakkan berkas-berkas yang dibawanya ke atas meja Ardian lalu dia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Ardian. Seperti biasa, tak segan-segan dia menyilangkan kaki saat menunggu Ardian membolak-balik berkas-berkas yang dibawanya dan menandatangani.


Sementara Ardian tampak sibuk melihat dan menandatangani berkas-berkas itu, Shella menaruh kedua tangannya ke atas meja kerja Ardian, memain-mainkan gelang di tangannya sambil kedua matanya menatap wajah Ardian.


Shella senyum-senyum sendiri, merasa senang setiap hari bisa berdekatan, berbicara, dan memandang wajah tampan Ardian. Seandainya saja Ardian menjadikannya pacar, maka tak ada lagi yang kurang di dunia ini.


Shella mulai mengkhayal Ardian menjadi pacarnya dan menemaninya ke mana-mana. Ke pesta high class para direktur perusahaan, ke mal belanja baju-baju mahal, sepatu-sepatu model baru, tas-tas mewah, sampai parfum-parfum merk ternama. Lalu makan di restoran hotel bintang 5, nonton premiere di bioskop paling beken, sampai naik pesawat terbang jalan-jalan ke luar negeri dan check in di hotel bintang 5.


Memikirkan semua itu senyum Shella semakin mengembang. Ardian betul-betul cowok incaran dan dambaan para gadis yang membuat hati meleleh. Ah, seandainya saja Ardian benar-benar jadi miliknya, harap Shella.


"Ini, sudah selesai," kata Ardian sambil menyorongkan berkas-berkas yang sudah dilihat dan ditandatanganinya.


"Oh... iya," Shella tersadar dari lamunannya dan menghentikan gerakannya memain-mainkan gelang di tangannya. Berkas-berkas yang disorongkan Ardian dipegangnya tapi belum juga ada tanda-tanda dia akan segera bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.


"Ada lagi, Shella?" tanya Ardian saat melihat Shella belum juga beranjak pergi.


Gadis itu sesukanya saja. Mentang-mentang mamanya sahabat baik Bu Siska atau istrinya papa Ardian alias pemilik perusahaan, seenaknya saja memperlakukan Ardian. Tiada sopan santunnya di depan anak boss, layaknya teman baik saja saat sedang berkomunikasi.

__ADS_1


"Eh, iya, Pak. Ini kan sudah mau akhir tahun," Shella mulai menjelaskan.


"Ya, jadi?" Ardian bertanya agak kurang sabar karena kerjaannya masih banyak.


"Jadi," Shella melanjutkan, "para karyawan di perusahaan ini akan diberikan libur 3 hari dengan melakukan perjalanan wisata bersama."


Ardian mengerutkan kening. "Ah, masa seperti itu?" tanyanya tak percaya. Kedua ortunya sama sekali tak berpesan soal ini. Mereka berdua tampaknya keasyikan berlibur ke luar negeri sampai lupa untuk kembali. Bahkan, sudah sebulan mereka tinggal di rumah yang ada di Singapura, setelah sebulan sebelumnya puas berjalan-jalan keliling dunia. Perusahaan, mumpung ada Ardian yang tangani, menggantikan tugas mereka.


"Iyalah, Pak. Masa Bapak nggak percaya? Kalau nggak percaya, boleh telepon tanya Pak Wisnu atau Bu Siska langsung," kata Shella menyebutkan nama kedua ortu Ardian.


Walaupun Bu Siska hanya wanita singel tanpa anak yang dinikahi papanya Ardian belasan tahun lalu, namun dia memperlakukan Ardian seperti anak sendiri.


"Ya, nanti aku tanya," kata Ardian.


"Jadi?" Shella mengulang.


"Jadi kita rencananya jalan-jalan wisata ke mana akhir tahun itu, Pak?" tanya Shella.


Ardian mengerutkan kening lagi. "Ya mana kutahu? Kan kalian yang mau jalan-jalan, kok tanya sama aku?"


"Loh, Pak Ardian kan ikut juga," jelas Shella.


"Aku ikut juga?" Ardian menunjuk hidungnya.


"Ya iyalah, Pak. Ikut juga. Pak Ardian kan pemimpin perusahaan sementara ini. Jadi Pak Ardian harus ikut," kata Shella.


"Ah, malaslah," Ardian menyelutuk. "Masa aku harus ikut, Shel? Entar disuruh pula jadi ketua rombongan."

__ADS_1


"Ya memang harus," jawab Shella. Biasanya Bu Siska dan Pak Wisnu yang memimpin rombongan kami. ini sementara Pak Wisnu dan Bu Siska nggak ada, ya Pak Ardian menggantikan tugas mereka membawa kami berwisata."


"Aduh, aku malas sekali, Shel. Kalian sajalah yang pergi tanpa aku. Kamu kan sudah pernah berwisata sebelumnya bersama para karyawan, jadi kamu saja yang jadi ketua rombongan. Aku ikhlas kok," pinta Ardian.


"Nggak bisa begitu, Pak," kata Shella tegas. "Bapak harus ikut!"


Apa-apaan Shella ini? Masa aku pula yang diperintahnya macam aku ini karyawannya? Terbalik, ini ada karyawan yang berani memerintah boss, pikir Ardian.


"Aku mau istirahat di rumah. Mau tidur. Capek aku ngurusi perusahaan selama dua bulan ini nggak habis-habis," keluh Ardian mencari alasan yang masuk akal.


Ternyata bekerja itu sangat melelahkan, apalagi memegang tugas sebagai pemimpin perusahaan dan menggantikan tugas-tugasnya. Selama ini Ardian terbiasa menikmati hidup sebagai anak manja yang semuanya serba ada, serba mewah, serba gampang. Mau duit tinggal ambil di laci rumah, nggak perlu bekerja, hanya perlu menikmati segala fasilitas lengkap yang sudah disediakan kedua ortunya.


Shella hendak memerintah lagi, tapi membatalkan niatnya karena melihat raut wajah Ardian benar-benar tak bersemangat setelah diajak berwisata bersama para karyawan.


Tak pantas rasanya dia terus memaksa Ardian kalau cowok itu benar-benar nggak mau. Apalagi alasannya cukup masuk akal. Shella bisa menggantikan tugasnya memimpin rombongan, ditambah lagi dia bilang mau istirahat di rumah saja karena sudah dua bulan lelah mengurus perusahaan.


Shella diam selama beberapa menit di hadapan Ardian. Posisinya masih tetap duduk di depan meja Ardian alias berhadapan dengan Ardian. Sementara Ardian tak lagi bicara dan mulai menekuni kembali pekerjaannya, Shella masih belum juga pergi.


Bagaimana ya supaya Ardian mau ikut tanpa merasa terpaksa? Shella memutar-mutar otaknya sambil memandang Ardian.


Walaupun dia belum juga keluar dari ruangan Ardian, cowok itu tak juga mengusirnya atau menyuruhnya pergi. Biarkan saja Shella tetap di situ duduk melamun, yang penting jangan bersuara memaksanya ikut berwisata lagi. Ardian betul-betul enggan. Dia tak terbiasa berakrab-akraban dengan para karyawan yang baru dikenalnya dua bulan, kecuali teman-temannya sendiri yang sudah dikenalnya lama barulah bisa mereka jalan-jalan bareng.


Shella berpikir cukup lama mencari akal membujuk Ardian supaya mau ikut serta, sampai dia terpikirkan satu nama. Nama itu sangat mujarab, pasti sanggup mengubah pendirian Ardian dari tidak mau ikut menjadi mau.


Siapakah nama itu?


* * *

__ADS_1


__ADS_2