
Bab 52
Pagi telah tiba. Jam di dinding kamar Ardian menunjukkan pukul 06.30 tapi Ardian dan Ayu masih terlelap di alam mimpi. Mereka berdua benar-benar tertidur nyenyak sampai tak menyadari ketika pintu kamar yang dibiarkan terbuka setengah dikuakkan seseorang.
Ketika orang itu berteriak keras, barulah Ardian dan Ayu melompat bangun dari ranjang masing-masing yang letaknya berjauhan dari ujung ke ujung.
"Ya ampuuun...!" suara Shella menggelegar di pagi yang tenang. Sepertinya bisa terdengar sampai ke lantai paling bawah atau bahkan sampai ke orang-orang yang sedang berada di halaman villa.
"Ada apa? Ada apa?" Ayu gelagapan duduk di tepi ranjang begitu terjaga dari tidur.
Sedangkan Ardian yang juga sudah terbangun tiba-tiba gara-gara suara teriakan Shella menatap ke asal suara dan ke arah Ayu secara bergantian. Tatapannya pun terkesan bingung dan kaget.
Butuh waktu belasan detik bagi Shella untuk menenangkan perasaannya yang tergoncang melihat pemandangan di depannya. Walaupun pemandangan itu hanyalah Ardian dan Ayu yang tidur dalam satu kamar tapi di ranjang yang berbeda bahkan berjauhan dari ujung ke ujung.
"Kenapa, Kak?" Ayu bertanya heran.
"Iya, kenapa, Shel?" Ardian pun bertanya tak kalah herannya.
"Aduh, Pak," Shella teringat sesuatu dan buru-buru menutup pintu kamar supaya suara percakapan mereka tidak terdengar sampai ke luar.
Ardian dan Ayu melihat Shella menutup pintu kamar lalu menunggu dia melanjutkan ucapannya.
"Kok bisa-bisanya kalian tidur dalam satu kamar?!" sentak Shella dengan suara tinggi.
Ardian dan Ayu saling memandang lalu sama-sama mengangkat bahu. "Iya, kok bisa-bisanya kita tidur sekamar, Yu?" tanya Ardian pada Ayu seolah bingung.
"Lho, Pak Ardian! Bukankah tadi Pak Ardian yang menyuruh aku tidur di kamar ini?" Ayu memandang Ardian dengan mata protes, dia tak percaya Ardian bisa lupa kronologis kejadian yang barusan terjadi beberapa jam lalu.
"Aku? Aku menyuruhmu tidur di kamarku?" Ardian menunjuk hidungnya sambil menatap Ayu bingung.
"Iya, Pak Ardian! Kalau bukan Pak Ardian yang mengizinkan aku tidur di kamar ini, aku mana berani begitu lancang tidur... tidur... di...," Ayu merasa ada aliran dingin yang mengaliri darahnya bahkan jantungnya berpacu cepat. Apakah mungkin tadi dia bermimpi Ardian menyuruhnya tidur di kamar ini?
"Bukan kamu yang menerobos masuk, Yu?" tanya Ardian menyelidik.
__ADS_1
"Pak Ardian!" Ayu hampir menangis. Apakah tadi semua itu hanya mimpi? pikir Ayu. Bermimpi ditawari pangeran tampan berkuda putih untuk tidur berdua di kamarnya? Mimpi seorang cleaning service yang begitu nyata? Ayu menggeleng-geleng. Tidak mungkin, kata hatinya. Kini dia mulai ragu. Air matanya menetes di pipi karena merasa malu dan kaget.
"Oh, jadi kamu menerobos masuk ke dalam kamar Pak Ardian ya, Yu?" tanya Shella dengan suara keras membahana.
"Aku... aku... rasa semua itu nyata. Tapi... entahlah... mungkin juga hanya mimpi," Ayu menunduk lalu sesunggukan di tepi ranjang.
"Beraninya kamu, Yu! Kamu tahu siapa dirimu? Kamu tahu siapa Pak Ardian? Kamu sengaja ya menerobos masuk ke kamar Pak Ardian supaya ada kesempatan menjadi Putri Cinderella nanti? Begitu ya, Yu?" berondong Shella dengan mata berapi-api.
"Bukan... bukan begitu, Kak. Shella. Aku... aku... Pak Ardian... ini...," Ayu tak tahu harus menjawab apa karena di luar dugaannya Ardian tak memberikan penjelasan kepada Shella. Seolah memungkiri dirinya yang menyuruh Ayu masuk ke dalam kamarnya untuk menumpang tidur karena kamar lantai 2 penuh dan Ayu terpaksa tidur di lantai di luar kamar Ardian sebelum cowok itu menyuruhnya masuk.
"Ya, kamu!" sentak Shella dengan suara kesal. "Aku menyesal mengajakmu ikut kalau tahu dirimu ternyata selicik ini, Yu! Kamu mencoba memikat Pak Ardian!"
Ayu tak ingin membela diri lagi. Dia hanya duduk menangis. Tak menyangka Ardian tak hendak memberikan penjelasan pada Shella sampai detik ini. Membiarkan Shella menuduhnya yang bukan-bukan. Membiarkan Shella salah menilainya. Dan membiarkan dirinya sendiri merasa seperti seorang wanita penggoda. Kenapa Ardian tak mau menjelaskan? Kenapa seolah dirinya yang bersalah? Tak mungkin kejadian beberapa jam lalu itu hanya mimpi. Itu sangat nyata! Benar-benar nyata!
"Ya sudahlah," Ardian akhirnya buka suara untuk menenangkan suasana yang sedang tegang di antara mereka bertiga terutama di antara Shella dan Ayu.
"Apanya sudah, Pak?" tanya Shella dengan suara tinggi dan nada marah.
"Ya sudah kataku," jawab Ardian dengan suara agak tinggi juga. Emosinya sedikit tersulut juga karena tadi lagi asyik-asyiknya tidur dibangunkan Shella dengan teriakan membahana, disusul dengan kemarahan Shella yang bertubi-tubi yang benar-benar sangat menjengkelkan dirinya.
"Hanya tidur berdua dalam satu kamar tapi di ranjang yang berjauhan, apa salahnya?" tanya Ardian. Matanya menatap Shella dan Ayu silih berganti.
Kali ini Shella tak berani lagi bersuara. Ayu pun hanya menunduk menenangkan sesunggukannya.
"Catat ya, Shel," Ardian mengingatkan. "Kejadian ini jangan sampai kauceritakan kepada siapa pun. Kalau ada orang lain yang tahu hal ini, aku anggap kamu yang membocorkan. Dan risikonya adalah pekerjaanmu," ancam Ardian.
"Bapak mengancamku?" Shella terkaget-kaget. Tapi suaranya sangat kecil dan rendah. Dia jadi sangat berhati-hati.
"Iya, ini peringatan dan ancaman," Ardian menatap Shella tajam.
Shella mengkeder, ngeri melihat tatapan Ardian. Ada bara api yang sedang menyala-nyala di bola mata cowok tampan itu.
"Iya, Pak, aku permisi," Shella menjawab pendek lalu berbalik dan keluar dari kamar Ardian.
__ADS_1
Tinggallah Ardian dan Ayu berdua lagi di dalam kamar. Suasana kembali hening sepeninggalnya Shella.
Setelah beberapa menit, "Maafkan aku, Yu," terdengar suara Ardian memecah keheningan.
Ayu terhenyak. Diangkatnya kepalanya dan ditatapnya Ardian tak mengerti.
"Maaf, Yu, tadi kamu tak bermimpi. Itu memang nyata aku yang menyuruhmu masuk ke dalam kamar," Ardian menjelaskan.
Ayu melebarkan matanya. Jadi ternyata benar dia tak sedang bermimpi tadi. Tapi kenapa Ardian pura-pura linglung tadi sewaktu ada Shella? Ayu menunggu Ardian menjelaskan lebih lanjut. Matanya menatap lurus Ardian.
"Ini akan lebih mudah bagimu melewatinya dan membuat Shella tak semakin mempersulitmu."
"Maksud Bapak?" Ayu tak mengerti.
"Menurutmu, Shella akan lebih marah kalau kamu yang menerobos masuk ke dalam kamar atau aku yang menyuruhmu tidur di dalam kamar?" tanya Ardian balik.
Ayu berpikir sejenak. Sesaat kemudian dia mulai mengerti maksud Ardian.
"Banyak cewek di perusahaan yang berusaha memikatku tapi aku tak pernah baik pada mereka. Dan hasilnya mereka masih tetap bisa bekerja di perusahaan. Kalau aku baik padamu seorang, bagaimana menurutmu? Apakah kamu masih bisa bekerja dengan tenang nanti?" jelas Ardian.
Kini Ayu sudah benar-benar mengerti. "Iya, Pak, aku mengerti sekarang," katanya sambil menyusut air matanya lalu tersenyum tipis.
"Iya, Yu, kembalilah bekerja seperti biasa. Anggap semua ini biasa saja," kata Ardian.
"Iya, Pak Ardian. Terima kasih sudah bermurah hati memberi aku tumpangan kamar selama beberapa jam. Aku tak akan cerita pada siapa-siapa," janji Ayu.
Ardian mengangguk lalu tersenyum tipis juga.
"Aku permisi, Pak," Ayu bangkit dari duduknya di tepi ranjang, membungkuk sedikit memberi hornat pada Ardian, setelah itu berjalan meninggalkan kamar.
Tinggallah Ardian seorang diri merenungi kejadian tadi. Apakah hatiku benar-benar sudah terisi olehnya? Kalau tidak, kenapa aku bisa begitu baik padanya?
Hanya pada Nia dan pada Ayu Ardian bisa begitu baik. Siapkah Ayu menggantikan posisi Nia di dalam hati Ardian? Hanya mereka berdua yang tahu.
__ADS_1
* * *