Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Perjalanan ke Berastagi dengan Bus Pariwisata


__ADS_3

Bab 41


Bus pariwisata yang memuat sekitar 50 orang itu memulai perjalanan dari Medan menuju Berastagi di sore yang cerah tanggal 31 Desember.


Para karyawan yang berkumpul di halaman gedung sejak siang tadi akhirnya bisa bernapas lega setelah bus itu melaju perlahan meninggalkan halaman gedung dengan para karyawan yang mengisi penuh tempat duduk di dalam bus ber-AC tersebut.


Di bangku depan adalah Ardian yang duduk di dekat supir, kemudian Shella duduk di samping Ardian.


Bus pariwisata itu tampak full penumpang. Para karyawan dari perusahaan Bu Siska berkumpul dalam satu alat transportasi menuju tempat wisata Berastagi yang ada di puncak.


Di sana terdapat beberapa gunung seperti gunung Sibayak dan gunung Sinabung. Lalu udara yang dingin juga menjadi ciri khas Berastagi yang merupakan tempat liburan akhir pekan keluarga. Sado, kuda, pasar buah dan sayur yang langsung dipetik dari kebun, juga adalah ciri khas tempat wisata favorit tersebut.


Perjalanan dari Medan ke Berastagi sekitar 2 jam dengan bus pariwisata. Ketika jarak sudah semakin dekat ke puncak, jalanan berkelok-kelok yang menanjak membuat supir harus berhati-hati karena di kiri kanan adalah jurang. Namun semakin dekat ke puncak semakin dingin udaranya dan semakin sejuk.


Ardian sudah sering ke Berastagi bersama teman-temannya dulu. Biasanya dia mengendarai mobil pribadi dan teman-temannya ikut nebeng. Mereka juga menginap gratis di villa besar milik keluarga Ardian.


Kali ini, karena banyaknya karyawan yang ikut, maka Ardian terpaksa membuka kunci pintu 3 villa milik keluarga yang ada di Berastagi yang letaknya bersebelahan. Dengan demikian semua karyawan bisa muat tertampung di dalam 5 kamar besar yang ada di 3 villa.


Khusus untuk Ardian yang merupakan pimpinan mereka, dia mendapat kamar sendiri yang memuat satu orang. Padahal kamar yang ditempati Ardian nanti juga sangat besar dan bisa menampung 10 orang.

__ADS_1


Untuk bersih-bersih dan beres-beres villa setelah pesta makan-makan yang mereka rencanakan dengan bergadang memanggang sate dan lain-lain, di dalam rombongan mereka sudah ada tiga cleaning service yang mana masing-masing satu cleaning service menangani satu villa. Ayu, termasuk satu di antaranya.


Semenjak siang tadi Ayu sudah datang ke perusahaan. Dia berkumpul bersama para karyawan di halaman gedung perusahaan. Karena banyaknya karyawan yang ikut yaitu sekitar 50 orang, maka agak susah bagi Ayu untuk menemukan sosok Shella maupun Ardian di tengah kerumunan. Hingga Ayu pun hanya duduk menunggu di sudut sampai diberi aba-aba semuanya naik ke atas bus barulah Ayu bangkit dari duduknya dan ikut naik bersama para karyawan dengan mengantre satu per satu.


Setelah para karyawan naik dan duduk di kursinya masing-masing, Shella baru menyusul paling akhir bersama Ardian. Mereka berdua duduk di kursi paling depan dekat supir.


Ayu yang duduk di kursi paling belakang akhirnya mengetahui Ardian dan Shella ikut juga setelah matanya memandang satu per satu para karyawan. Dia mengenali Ardian dan Shella yang duduk di kursi paling depan. Hatinya berdebar. Tak menyangka cowok yang pernah diselamatkannya itu ikut juga. Dikiranya para karyawan saja dan anak boss seperti Ardian tak mungkin ikhlas bergabung dengan rombongan mereka.


Ayu merasa senang bisa melihat Ardian kembali walaupun hanya dari kejauhan. Cowok itu kelihatan sangat tampan dengan baju kaos dan celana jeans. Walaupun model pakaiannya sederhana, tapi berasal dari merk ternama.


Bus pariwisata itu melaju meninggalkan kota Medan menuju ke luar kota. Mereka sudah sampai di Padang Bulan dan perjalanan ke Berastagi akan semakin mulus jika sudah keluar dari kemacetan yang ada di dalam kota Medan.


"Capek, Pak?" tanya Shella.yang duduk di samping Ardian.


Ardian menggeleng. Sebenarnya dia tak merasa capek menempuh perjalanan jauh walaupun kini jalan yang dilalui bus mereka mulai berkelok-kelok dan menanjak. Hanya saja Ardian merasa suara-suara para karyawan di dalam bus cukup mengganggu ketenangannya. Apalagi sering terdengar suara tawa terbahak-bahak dan cekikian dari kursi-kursi di bagian tengah dan belakang. Juga suara mereka bernyanyi-nyanyi dan berbicara sahut-menyahut. Semua itu terasa bising di telinga Ardian.


Padahal karyawan-karyawan yang duduk di kursi-kursi depan yang di dekat Ardian, tak berani bicara keras-keras apalagi sampai ketawa-ketawa dan nyanyi-nyanyi. Sikap Ardian yang cool dan diam saja di sepanjang perjalanan membuat mereka pun tak berani berisik.


"Sebentar lagi kita sampai di villa, Pak," kata Shella saat bus yang sarat penumpang itu mulai memasuki area penginapan.

__ADS_1


"Iya," jawab Ardian pendek. Di benaknya dari sebelum berangkat tadi hanya satu, apakah Ayu ikut? Kenapa dia tak melihat sosok Ayu dari tadi saat dia mengawasi dari dalam gedung para karyawan yang naik ke atas bus?


Barangkali karena banyaknya yang mengantre, Ardian sampai tak bisa melihat Ayu naik ke atas bus bersama para karyawan. Hingga Ardian dan Shella menjadi orang terakhir yang naik ke atas bus setelah para karyawan duduk di kursinya masing-mssing. Walau penasaran, namun Ardian tak berani menoleh ke belakang. Kalau ketahuan pasti akan ditanya, "Cari siapa, Pak?" Bakal ketahuan rahasia hatinya yang ingin tahu Ayu jadi ikut atau tidak.


Bus pariwisata itu berbelok ke satu kompleks penginapan yang terdiri atas villa-villa. Supir bus diberitahu Shella lokasi tempat mereka berhenti nanti, yaitu di mana terdapat 3 villa besar yang berdampingan milik perusahaan.


"Itu, Pak. Itu, Pak! Berhenti di situ saja," tangan Shella menunjuk ke bangunan villa tempat bus harus berhenti di sana.


Supir pun mengikuti petunjuk Shella dan berhenti pas di halaman villa yang bangunannya dominan warna merah maroon dan kuning.


"Ayo, Pak, kita turun duluan," ajak Shella pada Ardian yang duduk di sampingnya.


Shella hendak menggandeng tangan Ardian tapi Ardian spontan mengibaskannya. Dipikirnya siapa Ardian itu? Bosnya atau pacarnya?


"Hah... leganya, akhirnya sampai juga," kata Shella saat kakinya sudah menginjak tanah. Dikembangkannya kedua tangannya ke samping dan ditariknya napas dalam-dalam, seolah membuang kesesakan dirinya selama dua jam di dalam bus sarat penumpang. Udara Berastagi yang dingin dan sejuk segera menyapa kulit, hidung, tenggorokan, dan paru-parunya. Bibirnya pun mengukir seulas senyum lebar.


Ardian yang barusan melompat turun dari dalam bus sudah berdiri di sampingnya. Kakinya menjejak tanah dan matanya memandang bangunan villa yang ada di depannya, kepada tiga villa besar milik keluarganya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2